My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 234 Menyelamatkan Gea


__ADS_3

''Ini uangnya Ge. Urusan kita selesai ya.'' Ucap Nando seraya memberikan amplop coklat pada Gea.


''Oke, thanks. Gue cabut ya.'' Gea lalu beranjak dari duduknya. Namun tiba-tiba Nando menarik tangan Gea.


''Jangan pergi dulu Ge.''


''Gue harus pergi. Ini udah malam juga, Nan.''


''Bram masih beli makanan. Kita makan malam aja dulu.'' Nando berusaha menahan Gea.


''Aduh, kenapa makin gerah gini ya? Aduh kenapa sih gue?'' batin Gea.


''Gue manta minum Nan.''


''Oh oke, sebentar gue ambilin.'' Ucap Nando seraya menuju dapur. Gea kembali duduk. Gea merasa semakin gelisah. Seperti menahan sesuatu.


''Ini Ge, minumnya.'' Kata Nando. Dengan tangan gemetar, Gea menerima minuman dari Nando. Minuman bening seperti air itu langsung di tenggak oleh Gea.


''Nan, ini kenapa pahit banget?''


''Masa sih? Ini cuma air biasa.'' Nando berbohong. Itu adalah minuman beralkohol. Dan sebentar lagi saat yang di nantikan oleh Nando sudah di depan mata. Kepala Gea mendadak pusing, namun ia berusaha bertahan.


''Ya udah, gue pulang dulu.''


''Oke, hati-hati.'' Kata Nando. Gea lalu beranjak dari duduknya. Tubuhnya terasa ringan dan ingin terjatuh saja. Kepalanya semakin berat dan tubuhnya semakin terasa panas di dalam. Baru juga berjalan beberapa langkah, Gea terjatuh namun Nando dengan sigap menangkapnya.


''Gea, elo kenapa?''


''Nan, elo kasih gue minuman apa? Hah?'' Gea menatap curiga Nando.


''Minuman apa sih? Jus tadi juga Bram yang buat. Dan tadi cuma air putih biasa.''


''Bohong! Brengsek elo, Nan!" umpat Gea. Gea dengan sekuat tenaga berusaha melepaskan diri dan berlari keluar namun Nando langsung menangkapnya.


''Lepasin gue Nando!" bentak Gea.


''Gea, gimana kalau kita seneng-seneng bentar? Hah?'' Nando menatap Gea penuh dengan gairah. Cuih! Gea meludahi wajah Nando. Nando langsung naik pitam dan menampar Gea begitu kerasnya. Tubuh yang sudah lunglai itu pun terjatuh di lantai karena tamparan Nando yang sangat keras. Membuat ujung bibir Gea berdarah.

__ADS_1


''Gue udah baikin elo tapi elo malah ngludahin gue. Dasar brengsek!" Nando dengan kemarahannya menyeret Gea dengan kejam menuju kamarnya. Begitu sampai kamar, Nando langsung mengunci pintu kamarnya.


''Elo mau ngapain Nan?''


''Kan gue udah bilang. Kita happy-happy Gea. Jadi nikmati aja. Gue bakal bikin elo terbang ke awan dan menjerit nikmat.'' Ucap Nando dengan sorot mata seolah ingin menerkam. Gea berusaha bangkit dan berusaha membuka pintu namun Nando menghalangi. Nando semakin geram dan melempar Gea keatas tempat tidur dengan kasar.


''Ya Tuhan apa yang akan terjadi? Aku sudah tidak kuat.'' Batin Gea. Membuat Gea teringat akan kejadian masa lalunya. Masa lalu yang membuatnya trauma bertahun-tahun. Nando melepas paksa jaket jeans milik Gea. Gea sekuat tenaga mempertahankan jaketnya.


''Jangan Nando! Jangan!" air mata keluar dari sudut mata Gea. Gea lalu menendang ******** Nando sampai Nando kesakitan.


''SIAL!Kamu akan merasakan serangan rudalku Gea. Berani-beraninya kamu menendangnya.'' Kemarahan Nando tak bisa dibendung lagi. Nando lalu melayangkan tamparan berkali-kali ke wajah Gea. Membuat Gea semakin lemas dan kehilangan tenaga. Obat perangsang itu kini membuat Gea menggeliat diatas ranjang. Nando tersenyum penuh kemenangan. Nando kembali membuka jaket Gea, kali ini Gea menurut. Campuran alkohol dan obat perangsang membuat Gea berada di puncak kesadaran up normal. Nando naik keatas tubuh Gea. Dibelainya wajah yang mulai berkeringat itu.


''Kami cantik juga ya Gea.'' Nando membelai lembut wajah Gea. Membuat Gea tiba-tiba mendesah tanpa sadar. Nando menyeringai.


''Nan, please jangan lakukan.'' Mohon Gea. Nando pria tampan bermata sipit namun kelakuannya sangat bertolak belakang dengan wajahnya. Nando mengecup bibir Gea.


''Bibirmu manis, Ge.''


''Jangan Nando!'' Gea berusaha mengumpulkan tenaga untuk mendorong Nando.


''Minggir brengsek!" Gea berhasil menggulingkan Nando. Namun Nando justru tertawa licik.


''Brian,'' batin dan pikiran Gea teringat oleh Brian.


''Seharusnya aku menurut apa katamu Brian. Brian, tolong aku! Aku tidak kuat Brian! Aku tidak mungkin menyerahkan tubuhku pada pria brengsek ini. Brian, tolong aku! Aku mohon. Lebih baik tubuh ini aku berikan padamu daripada pria brengsek ini.'' Ucap Gea dalam hati. Nando lalu melepas celana jeans dan kaos Gea dengan kasar. Tinggalah bra dan celana segitiga di tubuh Gea.


''Wow! Kamu seksi sekali Gea. Tubuhmu sangat indah. Oh Gea, mari kita bersenang-senang.'' Ucap Nando sembari melucuti pakaiannya sendiri.


''Tolong! Brian tolong aku!" Gea berusaha kerasa untuk berteriak. Berharap ada yang mendengar dan menolongnya di detik terakhir.


''Tidak akan ada yang menolongmu Gea. Jadi kita nikmati malam ini.'' Tangan Nando mulai membelai Gea dari ujung kaki sampai keujung kepala, melewati area sensitifnya dengan sengaja.


''Mmmhhhh,'' desah Gea dalam pengaruh obat rangsang.


''Brian! Tolong aku! Hiks... hiks... hiks....'' Gea menangis. Gea pasrah, pasrah menyerahkan tubuhnya pada pria biadab ini.


''GEA!" Suara itu membuat Gea menemukan secercah harapan.

__ADS_1


''Brian!" teriak Gea.


''****! Siapa yang datang?'' umpat Nando.


''Brian, aku disini! Tolong aku!" teriak Gea sekuat tenaga. Lagi, Nando menampar Gea sampai membuat Gea pingsan.


''Buka pintunya brengsek!" umpat Brian sambil menggedor pintu kamar Nando. Nando segera memakai pakaiannya dan berusaha kabur lewat jendela. Brian yang lalu mendobrak pintu itu. Dan ia sangat terkejut melihat Gea pingsan diatas tempat tidur hanya mengenakan bra dan cd.


''Gea!" seru Brian. Brian segera mengambil selimut dan menutup rapat tubuh Gea


''Cepat tangkap pria brengsek itu.'' Teriak Brian kesetanan pada anak buahnya. Karena Brian melihat jendela terbuka.


''Baik Tuan.'' Jawab salah satu dari mereka. Brian langsung mendekap Gea sambil menangis. Sakit sekali melihat kondisi Gea seperti ini.


''Gea, bangun Ge. Ini aku, Brian. Aku datang. Kenapa bisa begini Gea?'' hati Brian semakin sakit saat melihat luka dibibir dan pipi Gea. Brian dengan perasaan terluka, memungut pakaian Gea. Brian lalu membawa Gea pergi kembali ke kontrakannya.


Sesampainya di kontrakan, Brian langsung membawa Gea ke kamarnya. Brian mencium bau alkohol yang sangat pekat.


''Brian, tolong aku.'' Gea meracau dengan mata terpejam.


''Gea, aku disini.'' Lirih Brian sambil menggenggam tangan Gea.


''Brian, aku tidak kuat.'' Gea masih meracau sambil menggeliat seperti cacing kepanasan.


''Sepertinya mereka memberikan Gea obat perangsang yang di campur alkohol. Benar-benar brengsek.'' Gumam Brian dalam hati. Brian lalu menuju dapur mengambil susu dan kompres untuk Gea.


''Gea, ini aku. Kamu sudah aman ya.'' Brian membelai wajah Gea yang sayu. Gea perlahan membuka matanya karena matanya sedari tadi terasa sangat berat.


''Brian, ini kamu? Aku tidak mengigau?''


''Iya ini aku. Kamu sudah aman, kita sudah di kontrakan ku.'' Ucap Brian. Gea lalu menangis.


''Ge, jangan menangis lagi. Ada aku disini. Kamu baik-baik saja.'' Gea lalu menarik tubuh Brian dan memeluknya dengan erat. Brian terkejut!


''Brian, maafkan aku.''


''Gea, kamu tidak salah. Tenangkan dirimu ya. Sekarang minumlah susu ini untuk membuang efek obat dan alkohol.'' Brian lalu melepaskan diri dari pelukan Gea. Gea mengangguk. Ia lalu membantu Gea untuk bangun dan duduk. Gea langsung meminumnya sampai habis. Tapi tubuh Gea masih terasa panas. Brian tersenyum lalu mengelus kepala Gea. Gea lalu menangkup wajah Brian dan melahap bibir Brian. Brian terkejut, membelalakkan matanya. Namun Brian sadar, apa yang di lakukan Gea karena pengaruh obat itu. Namun ciuman Gea yang semakin dalam dan intens, membuat pertahanan Brian sebagai seorang pria yang mencintai Gea tumbang. Terlebih Gea saat itu hanya mengenakan bra saja.

__ADS_1


Bersambung... Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah akan berakhir dengan making love atau.....???


__ADS_2