My Perfect Husband

My Perfect Husband
Dream catcher


__ADS_3

Pagi yang cerah di kota yang baru saja Naynay datangi malam tadi, hangat cahaya matahari terasa begitu lembut mengenai kulit. Di kamar, Naynay telah selesai mandi pagi dan pastinya juga sudah selesai mengurus bayi besar yang manjanya kelewat batas. Sarapan saja harus disuapi tadi.


Dengan langkah pelan, Naynay menuruni tangga untuk menuju ruang tamu. Dari sini saja dia sudah mendengar gelak tawa dari anak perempuannya. Setelah sampai di sana, Naynay mendudukan tubuhnya di samping Araa yang duduk di atas pangkuan Yasmin.


"Ihh.. Kangen banget sama anak pintar Bubu!" Naynay menghadiahi ciuman bertubi-tubi di pipi gembul Araa.


"Sapa dedek dulu, Sayang." Naynay membawa tangan kecil Araa dan menempelkannya ke perutnya. Saat tendangan terasa di telapak tangannya, Araa tertawa riang memamerkan giginya yang mulai tumbuh lagi.


"Gimana babymoonnya?" tanya Yasmin sambil ikut mengelus perut Naynay.


"Seneng banget, tapi ini anak nggak ikut, jadi kurang seru." Mencubit pipi Araa lembut.


"Kalian juga butuh waktu liburan berdua, puas-puasin sebelum dedeknya lahir!" ucap Yasmin. Naynay mengangguk dan lanjut bermain dengan Araa.


Hingga dua gadis lainnya datang dan bergabung dengan mereka. Qiara dan Silla kemudian mangajak Naynay dan Araa pergi ke taman di belakang rumah. Bunga mawar merah dan putih bermekaran di sana, Naynay girang melihatnya.


"Oh, jam berapa kalian tiba semalam?" tanya Naynay ketika mereka telah duduk di kursi yang ada di sana. Araa berada di pangkuan Qiara.


"Mungkin lewat tengah malam, aku langsung tidur setibanya di sini." Qiara yang menjawab.


Naynay beralih menatap Silla yang bengong menatap bunga berwarna biru yang batangnya menjalar di sebuah pilar di dekat mereka.


"Qiara, bisa jaga Araa sebentar? Aku ada perlu dengan Silla," tanya Naynay pada Qiara.


"Oke. Nanti kalau dia rewel, aku panggil tante Yasmin." Gadis itu menyanggupi untuk menjaga Araa.


"Ayo!" ujar Naynay dan menarik tangan Silla kembali memasuki rumah.


Naynay membawa Silla ke kamarnya dan menyuruh gadis itu duduk di sofa. Bumil itu pergi ke tempat tidur dan mengambil kotak yang terletak di atas nakas. Kemudian membawanya menuju Silla.


"Aku membuat ini beberapa hari yang lalu untukmu. Kau suka?" Naynay memberikan dream catcher berwarna biru yang dia buat dulu bersama Pak Hen dan Afif.


Silla menerima benda cantik itu dengan mata berbinar. Dia memeluk Naynay karena senang mendapatkan dream catcher seindah itu." Aku suka! Terima kasih, Kakak Ipar."


Naynay tersenyum dan mengangguk. Dia ikut tersenyum ketika melihat Silla begitu menyukai kerajinan yang dia buat itu.


"Hhmm... Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Naynay ragu membuat Silla menatap bingung padanya.


"Apa?" tanya Silla.

__ADS_1


"Apa kau merasa melupakan sesuatu atau seseorang yang kau sayangi? Pacar, mungkin?" tanya Naynay hati-hati.


Silla meletakkan dream catcher itu di atas meja dengan hati-hati, takut jika hadiah dari kakak iparnya itu rusak. Dia menatap Naynay dengan tatapan yang tidak seperti biasanya.


"Bukan merasa, tapi aku benar-benar kehilangan seseorang yang aku sayangi. Laki-laki kaku yang merupakan cinta pertamaku, aku kehilangan dia." Silla menatap sendu mata Naynay yang membelalak.


"Silla, kau mengingatnya? Ingatanmu sudah kembali?" tanya Naynay tidak percaya, mulutnya terbuka saking terkejutnya tadi.


"Hhmm, aku mengingatnya. Sekitar satu tahun lalu kepalaku begitu sakit ketika melihat lukisan laut dengan sepasang kekasih yang sedang duduk di atas mobil. Saat sakit itu mendera, aku bisa melihat banyak kilasan ingatanku yang hilang."


"Lalu, kenapa kau tidak jujur pada kak Iyan?" tanya Naynay heran.


"Kakak Ipar, aku ingin jujur tentang ingatanku yang sudah kembali. Tapi ketika melihat dia bersikap santai seolah tidak ada apa-apa antara kita, aku sedih. Otakku tidak benar-benar melupakannya dulu, aku sering melihat kilasan tentang apa yang kami lakukan walaupun hanya bayangan saja." Silla menangis dan Naynay langsung memeluknya. Diusapnya punggung adik iparnya itu dengan lembut agar tenang.


"Apa dia tidak mencintaiku lagi? Aku sakit setiap melihatnya bersikap acuh padaku. Dia bohong tentang ucapannya yang mengatakan kalau dia mencintaiku!" Tangisan Silla mengeras, mengingat kisah percintaannya membuat hatinya kembali terluka.


Naynay hanya diam, dia memberikan kesempatan untuk Silla mengungkapkan beban di hatinya yang sudah lama dia tahan.


"Aku merindukannya, biasanya dia yang selalu memelukku ketika aku sedih. Aku merindukan saat-saat di mana dia mengomeliku karena aku jajan sembarangan.. Hiks..." ucap Silla di sela tangisan yang membuat tubuhnya bergetar.


"Kenapa dia tidak berusaha membuatku kembali menerimanya saat itu? Dia jahat!! Aku tersiksa tidak bisa tidur karena penasaran bayang-bayang milik siapa yang selalu menghampiri mimpiku setiap malam saat itu...."


Naynay menatap gorden yang sedikit bergoyang, dua orang laki-laki keluar dari sana dan berjalan mendekatinya. "Bawa ke kamarnya aja, Kak Iyan."


Dengan hati-hati, Ryan menggendong Silla dan membawanya ke kamarnya. Dia tersenyum ketika mengingat semua yang gadis itu katakan pada Naynay tadi. Ryan membaringkan tubuh Silla di atas tempat tidur, sedangkan dia tidak duduk di tepinya.


"Aku tidak pernah berbohong padamu, apalagi tentang aku mencintaimu. Semuanya jujur, Silla." Ryan mengusap pipi Silla yang basah karena air mata tersebut.


Ryan harus mengucapkan terima kasih pada Naynay. Karena Nona mudanya itulah dia bisa mengetahui bahwa Silla sudah mengingatnya. Pagi-pagi sekali, Afif memintanya untuk datang ke kamarnya. Dan ternyata itu adalah rencana Naynay yang ingin membantu Silla mendapatkan ingatannya kembali. Tapi siapa yang menyangka kalau Silla ternyata sudah mengingat semuanya sejak satu tahun lalu.


Ryan dengan sabarnya menunggu gadisnya itu bangun tidur. Dia akan menjelaskan semuanya pada Silla. Hingga mata cantik itu mulai terbuka dengan pelan, Ryan tersenyum tipis.


Silla terkejut mendapati Ryan ada di kamarnya, duduk di sampingnya yang masih berbaring. Silla duduk dengan pelan dan mengusap wajahnya yang kusut.


"Apa Anda butuh sesuatu?" tanya Silla menggunakan bahasa formal pada Ryan yang menatap intens padanya.


"Iya, saya butuh pelukan Anda, Nona!" balasan Ryan santai yang membuat Silla terkejut.


Silla meringsut mundur saat Ryan bergerak mendekatinya. Hingga ketika punggungnya membentur head board tempat tidur, Ryan langsung memeluknya.

__ADS_1


"Aku merindukanmu, Cilla," bisik Ryan di telinga Silla yang tubuhnya menengang mendengar panggilan Ryan padanya.


Mata Silla berkaca-kaca saat Ryan kembali mengatakan kalimat yang sama. Dia membalas pelukan itu dengan erat seperti orang yang begitu takut kehilangan untuk kedua kalinya.


Ryan mengecup puncak kepala Silla bertubi-tubi, tangannya mengusap bagian belakang kepala gadisnya itu. Berulang kali Ryan mengatakan kalau dia sangat merindukan Silla.


"Cilla itu tidak cengeng," ucap Ryan setelah melepaskan pelukannya dari Silla. Dia mengusap air mata di pipi gadisnya itu.


Silla tidak tahu harus bilang apa, dia masih sesegukan dengan mata yang masih berair. Dia kembali menghambur ke dalam pelukan Ryan.


"Kak Iyan jahat," ucapnya pelan sebelum tangisnya mengeras.


"Maaf," balas Ryan singkat. Dia menunggu Silla tenang dulu, baru dia akan berbicara panjang lebar nantinya.


Silla melepas pelukannya dan menghapus kasar air mata dan ingusnya. "Kak Iyan nggak sayang sama Cilla!" ucapnya marah.


"Aku menyayangimu," ucap Ryan memegang kedua tangan Silla. "Aku hanya tidak mau memaksamu untuk mengingat semuanya. Aku tidak ingin gadisku ini tambah sakit jika aku melakukannya."


Silla hanya diam, tapi isakannya masih terdengar lirih.


"Cilla, aku menyesal karena tidak menjemputmu waktu itu. Andai saja aku tidak tidur, maka ini semua tidak terjadi. Aku minta maaf," ucap Ryan dengan rasa bersalah yang masih begitu besar terhadap apa yang terjadi pada gadisnya.


"Ini yang nggak Cilla suka dari Kak Iyan, hoby nyalahin diri sendiri!" ujar Silla kesal dan memukul lengan kekar Ryan. "Itu bukan salah Kakak, jangan bicara kayak gitu lagi!"


Silla memang dasarnya galak dan kasar, tapi itu yang membuat Ryan jatuh cinta padanya. Gadis yang dia panggil Cilla itu tidak pernah membohingi dirinya sendiri. Dia akan melakukan apa yang dia suka, dan akan berterus terang jika tidak menyukai sesuatu.


"Kakak harus ganti waktu dua tahun yang terbuang," ucap Silla kemudian yang membuat Ryan tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya.


.


.


Vote, yaaaaaaa..... Plissssssss...


Kalau kalian mulai bosan dengan ceritanya, aku bakalan tamatin dan fokus nonton ahh hyung nantinya... Bye


.


.

__ADS_1


__ADS_2