My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 138 Big Family


__ADS_3

“Aku coba lihat Sheena dulu ya.” Ucap Arsen seraya berlalu menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, ia melihat Sheena baru saja keluar dari kamar mandi namun Sheena tampak pucat.


“Sheena, kamu baik-baik saja? Kenapa kamu pucat?” ucap Arsen dengan perasaan khawatir.


“Kepalaku pusing dan tubuh aku meriang rasanya.” Jawab Sheena dengan lirih. Arsen lalu menempelkan punggung tangannya pada kening Sheena.


“Badan kamu hangat Sheen. Apa karena dua minggu terakhir aku selalu mengajakmu lembur ya? Pasti kamu kecapekan karena itu. Dua minggu terakhir yang kita lakukan kan hanya itu.”


“Yang jelas iya. Kamu selalu minta tambah dan tambah. Kita selalu tidur jam 3 pagi dan hampir setiap hari. Belum lagi sebelum berangkat kerja kamu minta lagi. Pulang makan siang minta jatah lagi. Pulang kerja minta lagi sampai pagi. Kamu tidak capek apa?” kata Sheena dengan sedikit kesal. Arsen tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.


“Kamu sekarang tidak bisa meremahkan kejantananku kan Sheena. Kamu selalu menganggapku gay, selalu mengejekku dan sekarang kamu tahu rasanya. Itulah pentingnya makan-makanan sehat dan rajin olahraga. Atau kita ke dokter saja?”


“Aku sedang lemas begini masih saja menyombongkan diri. Tidak usah ke dokter. Aku malu, tubuhku merah-merah semua. Aku minum obat penurun demam saja. Giliran mau hilang kamu tambahan lagi. Aku sampai mengundur lagi jadwal fitting baju pengantin kita. Pokoknya jangan hisap aku lagi ya sampai resepsi pernikahan kita nanti.”


Arsen kemudian memeluk istrinya itu. “Maafkan aku ya Sheena, aku terlalu bersemangat. Setiap kali kita berhubungan, itu sungguh membuat imunku bertambah. Rasa lelah dan stress di kantor seketika hilang. Apa kamu tidak menikmatinya?”


“Aku tentu saja menikmatinya, hanya aja aku lelah dan kuwalahan apalagi aku juga baru selesai operasi. Sendi-sendiku baru terasa ngilu.”


“Baiklah untuk malam ini kamu tidur saja yang nyenyak ya, aku akan menahannya. Habis bagaimana, ini sungguh membuatku kecanduan Sheena. Entahlah aku begitu ingin selalu bersamamu. Kalau bisa ita rebahan saja diatas tempat tidur sambil telanjang.”


“Otakmu sekarang kotor sekali ya,” Sheena terkekeh.


“Iya dan yang membuatnya kotor itu adalah dirimu.” Ucap Arsen.


“Kenapa aku?”


“Lalu mau siapa lagi? Istriku kan kamu. Apa aku harus membayangkan wanita lain?”


“Awas saja kalau kamu sampai berfantasi dengan wanita lain, aku akan memotong kepala ularmu.”


Arsen tertawa mendengar celotehan istrinya itu. “Sudah jangan marah lagi. Melayani suami kamu juga dapat banyak pahala. Capek-capek enak kan? Kamu saja selalu bilang terus Arsen, lagi Arsen,” goda Arsen. Sheena mencubit perut Arsen kesal karena Arsen terus menggodanya.


“Sakit istriku! Sudah ayo turun. Kak Queen sudah dibawah.”


“Kamu serius? Kak Queen sudah sampai? Kenapa tidak bilang dari tadi sih?” kesal Sheena.


“Ya ampun aku ke kamar memang ingin memnggilmu tapi lihat kamu pucat dan capek, aku fokus dengan kondisimu dulu Sheena.”


“Huft, ya sudah, ayo kita kebawah.” Ajak Sheena dengan semangat.


“Iya ayo.” Arsen dan Sheena kemudian segera menuju ruang keluarga. Disana mereka semua sedang bersenda gurau.


“Kak Queen, Kak Raja,” sapa Sheena. Mendengar suara Sheena, mereka semua memalingkan pandangannya pada Sheena. Queen beranjak dari duduknya, melihat gadis kecil yang dulu sangat lusuh kini begitu cantik. Queen lalu mendekat kearah Sheena. Queen melihat Sheena lebih dekat lagi. Meraba wajah cantik Sheena yang kini ada dihadapannya.


“Ini sungguh kamu, Sheena?”

__ADS_1


“Iya Kak. Ini aku Sheena. Si gadis dekil penjual bunga dan kue di pinggir jalan.” Ucap Sheena dengan mata berkaca-kaca. Queen lalu memeluk Sheena.


“Sheena, kamu cantik sekali,” ucap Queen dengan haru. Air mata bahagia Queen pun tidak bisa ia bendung lagi.


“Kakak juga masih sama cantik. Senang sekali rasanya bisa bertemu dengan Kakak.”


“Dan yang lebih membuatku senang, kamu bisa menaklukkan manusia sombong itu.” Ucap Queen sembari melirik kearah Arsen. Queen lalu melepaskan pelukannya dan mengecup kening Sheena.


“Dia sekarang tidak akan bisa sombong lagi, Kak.” Ucap Sheena dengan senyum kecilnya.


“Dia memang harus di taklukan Sheena.”


“Kak, aku boleh memeluk Kak Raja?” tanya Sheena. Queen mengangguk dengan senyumnya.


“Kemarilah Sheena,” sahut Raja sambil merentangkan kedua tangannya. Sheena tersenyum lalu memeluk Raja.


“Kamu sudah dewasa ya Sheena. Kamu juga sangat cantik.” Puji Raja.


“Kakak juga selalu tampan dan hangat.”


“Lihatlah Arsen, gadis kecil yang dekil ini ternyata bisa membuatmu jatuh cinta.” Kata Raja sambil melirik kearah Arsen.


“Aku sudah menyiapkan mental ku hari ini untuk mendapat bullyan dari kalian berdua,” ucap Arsen dengan senyum kecilnya. Raja melepaskan pelukannya dan mengecup kening Queen.


“Iya Kak.”


Tiba-tiba Brian menyerobot memeluk Sheena. “Oh Kakak iparku cantik sekali. Aku Brian. Senang sekali bertemu denganmu, Kakak ipar.” Brian melepaskan pelukannya lalu mencium kening, pipi kanan dan kiri Sheena. Sheena tercengang dengan sikap Brian yang begitu spontan dan ekspresif.


“Brian! Jaga sikapmu. Enak saja mencium istriku seenaknya,” sahut Arsen sambil mendorong kening Brian.


“Hanya Kak Raja yang boleh. Kamu masuk dalam blacklistku.” Ketus Arsen sambil menjauhkan Sheena dari Brian.


“Aku hanya ingin kenalan saja. Aku juga ingin dekat dengan Kakak iparku, Hyung.” Kata Berian dengan bibirnya yang sudah mengerucut.


“Arsen, ternyata ada yang lebih tampan darimu.” Ucap Sheena. Arsen menaikkan alisnya mendengar ucapan Sheena.


“Tentu saja Kakak ipar. Aku adalah si bontot yang super, duper, tampan. Karena aku adalah generasi terakhir keluarga ini dengan tingkat ketampanan dan kecerdasan diatas rata-rata penakluk hati para wanita. Semua wanita bertekuk lutut dihadapanku.” Cerocos Brian dengan gaya tengilnya.


“Aku jijik mendengar bualanmu, Brian. Menjauh darimu membuatku tenang, kenapa kamu harus ikut kemari?” sahut Belinda sambil membekap mulut adik bungsunya itu.


“Lepaskan Noona!” kata Brian dengan mulut yang masih dibekap oleh Belinda.


“Belinda-Brian, hentikan! Kalian ini seperti Tom and Jerry saja,” tegur Nyonya Dira. Belinda dengan kesal melepaskan tangannya dari mulut Brian.


“Begitulah Mah, keseharian mereka disana. Aku sungguh pusing melihat mereka yang selalu bertengkar. Maafkan mereka ya Sheena, mereka memang tidak bisa akur.”

__ADS_1


Sheena justru tertawa melihat tingkah kocak Belinda dan Brian itu. “Tidak apa-apa Kak. Justru itulah keseruan memiliki saudara. Oh ya ini anak-anak Kakak?” tanya Sheena.


“Oh ya aku hampir lupa mengenalkan mereka. Ran-Rein, kiss your aunt’s hand.” Perintah Queen pada kedua anaknya.


“Hai aunty, I can hug you??” ucap Rania.


“Yes, of course. What’s your name?” tanya Sheena seraya memberikan pelukannya pada Rania.


“My name is Rania, aunty. I’m usually called Ran, aunty.”


“Oke, nice to meet you, Ran.” Sheena lalu memberikan kecupan di kening dan kedua pipi Rania.


“Nice to meet you too, aunty.”


“And you?” tanya Sheena sambil mengarahkan padangannya pada Reiner.


“I’m Reiner, aunty. I’m usually called Rein. I also want to get a hug from aunty.”


“Of course, Rein.” Ucap Sheena. Sheena lalu memberikan pelukan pada Reiner dan juga ciuman kening juga pipi. Reiner lalu membalas memberikan ciuman di kening dan juga pipi Sheena.


“Aunty is very beautiful. Aunty is also very fragrant. And I also like aunty.”


“Oh thank you, Rein. I like you too. You’re so handsome and your smile is so beautiful.”


“Yes, I know. Everyone says like that.” Jawab Reiner dengan penuh percaya diri.


Sheena tersenyum kecil mendengar ucapan Reiner. “Arsen, sepertinya Reiner mewarisi sifatmu ya dan dia pandai merayu seperti Brian.” Ucap Sheena sambil melirik kearah Arsen dan Brian secara bergantian. Arsen dan Brian kompak tersenyum kecil sambil mengangkat bahunya.


“Sheena, kamu lupa ya kalau bibitnya kan ada sama Papa.” Sahut Nyonya Dira.


Sheena tersenyum lalu menghampiri Ayah mertuanya dan memeluk lengannya dengan manja. “Iya Mah dan semua bibit Papa itu berkualitas. Lebih tepatnya perpaduan antara Papa dan Mama itu sungguh luar biasa. Papa memang sangat hebat.”


“Tentu saja menantuku. Kalau tidak hebat, mana mungkin ada mereka yang semuanya good looking.” Ucap Tuan Keenan.


“Yes of course. Papa memang terbaik, begitu juga dengan Mama.”


“Terima kasih sayang,” ucap Tuan Keenan seraya memberikan kecupan di pucuk kepala Sheena.


“Baiklah kalau begitu, ayo kita makan. Mama sudah masak banyak untuk kalian semua.”


“Oke lets go, Mom! Aku sangat merindukan masakan Mama.” Ucap Brian sambil merangkul bahu Mamanya.


“Mama juga merindukanmu, sayang.” Kata Nyonya Dira sambil mengecup pipi Brian.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2