My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 233 Terjebak


__ADS_3

Dua jam sudah Gea pergi dan belum kembali. Brian mencoba menghubungi Gea, tersambung tapi tidak diangkat. Pesan masuk tapi tidak ada balasan. Brian semakin panik. Ia memutuskan untuk menelepon Arsen.


''Halo Hyung, sedang sibuk?''


''Ada apa Brian? Kamu sudah membaik? Maaf ya, aku sampai tidak sempat menanyakan kabarmu. Pekerjaan sangat padat. Ini saja aku masih di kantor.''


''Its okay, no problem. Aku sudah membaik dan demamku sudah reda. Aku mau minta bantuan Hyung.''


''Bantuan apa? Kehabisan uang?''


''Tidak Hyung. Tolong kirimkan beberapa anak buah untukku. Suruh mereka menemuiku di kontrakanku.''


''Ada masalah apa Brian?'' wajah Arsen tampak serius.


''Ini soal Gea. Pokoknya kirimkan Hyung. Aku khawatir padanya, sekarang.''


''Iya-iya. Aku akan kirimkan mereka. Butuh mobil?''


''Iya sudah pasti. Aku merasa ada yang tidak beres.''


''Ya sudah tenang dulu. Aku akan suruh mereka kesana.''


''Terima kasih Hyung.''


''Sama-sama. Hati-hati dan jangan membuat kekacauan.''


''Iya, tenang saja.'' Brian mengakhiri panggilannya.


''Hmmm anak itu. Sepertinya sudah cinta mati pada Gea.'' Gumam Arsen.


...****************...


Hari itu, Gea mendapat pesan dari Nando. Hari dimana Gea sedang sibuk merawat Brian yang sedang sakit.


Nando : Hai Gea. Gimana kabar elo? Masih mau lawan gue nggak?


Gea : Males. Elo kan pengecut!


Nando : Ya, gue emang pengecut. Tapi kali ini gue mau tanding sama elo, fair. Kita balap di sirkuit. Gimana? Anggap saja ini pertandingan permintaan maaf.

__ADS_1


Gea : Yakin?


Nando : Yakinlah! Kalau elo bisa ngalahin gue. Gue kasih 10 juta buat elo. Gue bakal main fair kok. Gue tunggu nanti jam 5 sore di arena sirkuit geng gue.


Gea : Oke. Gue bakal datang.


Nando : Oke. Gea. Gue tunggu kedatangan elo.


Setelah mendapati pesan dari Nando, adrenalin Gea terpacu untu membalas dendam pada Nando.


Kini Gea sudah berada di markas gengnya Nando. Sebuah bangunan tua seperti bangunan jaman belanda dari luarnya. Apalagi tertutup oleh pepohobab dan semak-semak yang lebat. Namun di dalamnya seperti rumah biasa yang memiliki ruang tamu, kamar tidur bahkan dapur. Tidak akan ada yang tahu markas persembunyian Nando disana. Karena semua orang yang melintasi tempat itu akan menganggap bahwa itu adalah rumah angker. Namun siapa sangka di halaman belakangnya terdapat arena balap ilegal yang kerap kali Nando gunakan untuk pertaruhan. Ya, disana ada sirkuit balap pribadi milik Nando. Tentunya sirkuit ilegal. Sejak dulu, Nando tidak pernah terima di kalahkan apalagi oleh seorang wanita. Berkali-kali bertanding dengan Gea, Nando selalu kalah. Nando tidak suka jika dirinya di kalahkan apalagi seorang perempuan. Sampai pada akhirnya malam itu Nando sengaja membuat Gea celaka.


"Selamat datang Nona Gea. Wah, nyali elo gede amat kesini sendirian. Mana temen elo yang cupu itu?" ucap Nando dengan tatapan angkuhnya.


"Sudahlah jangan banyak bicara. Kita langsung duel saja di sirkuit." Tantang Gea. Nando mendekati Gea dan merangkul Gea.


"Tenang Gea. Ayo duduk dulu! Minum-minum dulu kek." Gea langsung menepis kasar tangan Nando. Entah apa yang ada di kepala Gea berani pergi ke kandang macan Nando dan gengnya.


"Iya Ge, santai dulu. Ini minum dulu." Kata Bram, teman Nando yang membawa satu gelas jus untuk Gea.


"Udahlah jangan basa-basi. Kalau nggak jadi, gue balik aja. Gue kesini buat nerima tantangan kalian yang kemarin bersikap pengecut. Nggak malau apa kalian? Takut sama cewek sampai tega nyelakain dan ninggalin gitu. Pengecut kalian semua!" Mendengar ucapan Gea, Nando dan teman-temannya sangat geram. Ucapan Gea adalah sebuah hinaan yang menyakitkan.


"Lima kali putaran yang elo gagalin beberapa waktu lalu."


"Oke! Sekalipun elo kalah, gue tetep bakal kasih elo duit kok. Santai saja Gea."


"Dan jangan sengaja ngalah juga dari gue. Tunjukkin kalau elo bukan pengecut." Ucap Gea penuh penekanan.


"No problem. Gue bakal tunjukkin semua kemampuan gue. Ayo kita ke belakang!" ajak Nando. Gea lalu mengikuti langkah kaki Nando. Dan kini keduanya sudah berada diatas motor. Sudah siap untuk bertanding di arena sirkuit.


GO! Seru Bram memberi tanda pertandingan di mulai. Gea mulai memacu kecepatan motornya, Nando berusaha mengimbangi. Di akui Nando, Gea adalah gadis yang hebat. Namun pertandingan yang Nando lakukan kali ini bukan sekedar permintaan maaf tapi juga ia sudah merencanakan sesuatu yang tidak akan pernah Gea lupakan. Dan setelah lima kali putaran ternyata Gea kalah. Gea sangat marah dan tidak terima.


"Gimana? Gue bukan pengecut kan? Gue sama sekali nggak main curang, Ge. Ya waktu itu gue sengaja nyelakain elo biar elo nggak malu."


"Gue masih nggak terima. Tambah lima putaran lagi."


"Yakin?" Nando menatap merendahkan.


"Yakin. Berani nggak?"

__ADS_1


"Berani lah. Oke, lima kali lagi, Bram."


"Siap Bos!" sahut Bram. Dan Bram memberi aba-aba lagi. Setelah itu keduanya melaju kembali.


"Kali ini gue nggak boleh kalah. Gue nggak pernah kalah selama ini main sama Nando. Apa karena kaki gue ini? Kaki gue yang retak ini? Gue harus bisa balas dendam. Please kaki, berjuanglah untuk terakhir kali." Gumam Gea dalam hati. Karena ia mulai merasakan kaki bekas kecelakaannya sakit. Belum juga lewat enam bulan penyembuhan kakinya tapi Gea malah nekat balapan lagi.


Gea tersenyum penuh kemenangan saat ia berhasil sampai duluan di garis finish.


"Yes!" seru Gea dalam hati. Motor berhenti sejajar. Nando melepas helmnya seraya turun dari motor. Nando kemudian mengulurkan tangannya pada Gea. Gea melepas helmnya dan tersenyum penuh kemenangan. Ia lalu membalas uluran tangan dari Nando.


"Ya, elo hebat. Gue akuin itu. Sorry kalau gue curang."


"Gitu baru gentle. Mana duitnya?"


"Masuk dulu lah. Uangnya juga di dalam."


"Oke." Nando dan Gea kembali masuk ke dalam rumah tua itu.


"Jadi kita damai nih?" tanya Nando memastikan.


''Dengan sangat terpaksa." Ucap Gea.


"Kita makan dulu aja deh. Bram gue suruh buat beli makanan.''


''Oke. Tapi tumben kok markas elo sepi?''


''Biasalah, mereka lagi cari spare part motor terus ada yang cek lokasi arena balap." Jelas Nando. Namun Gea merasakan sesuatu yang aneh. Gea melihat ponselnya, melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari Brian dan juga pesan dari Brian. Gea segera membalasnya.


Gea : Sorry Brian. Aku harus menyelesaikan masalah ku yang sempat tertunda.


"Minum dulu jusnya, Ge." Kata Nando. Gea yang haus, langsung menenggak minuman itu sampai habis.


"Gue ambil uangnya dulu. Gue pastikan kalau gue nepatin omongan gue."


"Ya udah ambil sana." Ketus Gea. Nando kemudian beranjak dari duduknya berjalan menuju kamar.


"Gea, aku sudah tidak sabar merasakan tubuhmu." Gumam Nando dalam hati. Nando sengaja berlama-lama di kamar. Ingin melihat reaksi Gea setelah meminum jus yang ia beri obat perangsang dengan dosis cukup tinggi. Gea yang masih duduk diruang tengah, tiba-tiba merasa gerah.


"Huft kenapa panas gini ya?" batin Gea. Gea merasakan ada yang aneh dengan dirinya. Sedangkan Nando yang sedari tadi mengintip dari balik pintu kamar, tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2