My Perfect Husband

My Perfect Husband
Penutup babymoon


__ADS_3

Hari terakhir di pulau pribadi yang begitu luas ini. Afif mengajak Naynay ke sisi lain pulau yang agak jauh, mereka menggunakan golf car untuk pergi ke sana. Mata Naynay berbinar melihat hamparan rumput hijau yang begitu rapi, itu adalah tempat bermain golf.


"Ajarin Nay mainnya!" ucap Naynay ketika mereka sudah turun dari golf car. Naynay sudah memegang satu stik golf di tangannya.


"Kau tidak bisa memainkannya?" tanya Afif tidak percaya. Tidak mungkin Hendrayan tidak mengajak anaknya bermain olahraga ini.


"Udah sering Nay coba, tapi gagal dan stiknya yang terbang." Tersenyum malu sambil menggoyang-goyangkan stik di tangannya.


Afif tergelak dan mengacak rambut istrinya itu. "Ayo."


Naynay mengikuti langkah Afif menuju teebox atau teeing ground di mana pukulan pertama dilakukan. Afif mengajari Naynay cara-cara memukul dan mengayunkan tangan. Tak lupa sebelumnya memasangkan sarung tangan pada tangan kiri istrinya itu.


Naynay sudah memasang kuda-kuda, dengan pasti, dia memukul bola golf yang berada di atas tee atau pasak kecil di depannya. Berhasil memang, tapi jarak bolanya bahkan begitu jauh dari hole pertama. Afif yang berdiri di depannya pun mengangkat jempol sebagai apresiasi untuk sang istri, setidaknya stik itu tidak terbang.


"Ayo," Afif membawa Naynay mendekati bola yang tadi dipukul itu.


"Usahakan bola masuk ke dalam hole dengan jumlah pukulan yang sedikit mungkin," ucap Afif mencontohkan memukul bola itu.


Mata Naynay mengikuti arah melesatnya bola yang dipukul Afif, sangat jauh dan mendarat begitu dekat dengan hole pertama.


"Nay yang pukul nanti," ucap Naynay sambil berjalan cepat menuju tempat bola mendarat.


Karena jarak bola dan hole begitu dekat, hanya perlu pukulan ringan dan bola masuk ke lubang tersebut. Walaupun bukan 100% dirinya yang membuat bola itu bisa masuk ke dalam lubang, tapi Naynay tetap senang.


"Kerja bagus, mau lanjut main?" tanya Afif sambil mengusap keringat Naynay dan mendapat anggukan semangat istrinya itu.


Akhirnya hari terakhir babymoon di pulau itupun mereka habiskan dengan bermain golf dan berfoto untuk dikenang saat mereka sudah tidak bisa bebas bepergian lagi. Karena tak lama lagi, malaikat kecil akan segera hadir menemani keseharian mereka.


*****


"Besok kita ketemu, Sayang!!" riang Naynay yang sedang video call dengan Araa yang ternyata sudah sampai di tempat yang disepakati. Qiara dan Silla akan sedikit terlambat karena Qiara harus mengurus masalah sekolahnya terlebih dahulu.


Araa yang sedang tengkurap di depan hp itupun tertawa ketika melihat wajah Naynay ada di layar. Tangan mungilnya berusaha meraih hp yang dipegang oleh Yasmin tersebut.

__ADS_1


"Halo, Anak Ayah!!" Afif merebut hp dari tangan Naynay dan berteriak keras ketika melihat wajah anaknya itu. Araa yang jauh di sana pun tertawa begitu keras, bahkan wajahnya sampai memerah.


"Jam berapa kalian akan berangkat besok?" tanya Yasmin yang mengarahkan kamera ke wajahnya.


"Jam dua siang, Mama Mertua," balas Afif.


Yasmin mengangguk dan kemudian mematikan panggilan video tersebut karena harus mengganti popok Araa yang sudah penuh. Afif melemparkan hp ke tepi ranjang dan menatap istrinya sambil tersenyum aneh.


"Apa?" tanya Naynay yang sedang mengelus lembut perutnya.


Afif mendekatkan tubuhnya dan memeluk perut Naynay, diciumnya perut buncit itu bertubi-tubi. Sebelah tangannya sudah masuk ke dalam baju tidur istrinya itu dan bergerak nakal di bagian yang dia elus.


"Mau jalan-jalan ke pantai?" tanya Afif mendongak menatap wajah istrinya.


"Mau, tapi awas dulu tangannya." Naynay mendorong tangan Afif yang masih berada di dalam bajunya.


Naynay segera turun dari tempat tidur dan mencari cardigan di dalam lemari. Masih ada beberapa helai pakaian yang belum masuk ke dalam koper. Setelah itu mereka pergi ke luar.


"Memangnya kita mau ke mana lagi, Kak? Nggak harus naik helikoper lagi, 'kan?" tanya Naynay sambil merapikan rambutnya yang terasa menusuk mata. Dia begitu kepo ke mana tujuan mereka selanjutnya.


"Tidak akan jadi kejutan jika aku memberitahumu,dan kau tenang saja karena kita tidak akan naik helikoper lagi." Afif menghentikan langkahnya dan menangkup kedua pipi istrinya.


"Kau tidak berniat memberiku sesuatu?" tanya Afif pelan dan mengusap pipi Naynay dengan ibu jarinya.


"Ada sih, tapi nanti!" balas Naynay santai membuat Afif sedikit penasaran.


"Apa?" tanyanya.


"Ya rahasia, nanti Kakak juga bakalan tahu." Naynay membalikkan perkataan Afif tadi dan melanjutkan langkah kakinya menyusuri pantai.


Afif mengikuti langkah Naynay dan kembali menggenggam jemari istrinya itu. Setengah jam mereka habiskan untuk berjalan-jalan malam di pantai tersebut. Setelah itu mereka kembali ke villa.


Afif menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi terlentang, matanya terpejam. Dia tidak sadar kalau Naynay sudah berdiri di samping tempat tidur dengan wajah gugup. Ingin memberikan pelayanan terbaik, tapi ragu untuk melakukannya.

__ADS_1


Naynay menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kemudian dia naik ke tempat tidur dengan posisi duduk di bagian atas paha Afif. Ketahuilah, dia sebenarnya malu melakukan ini. Apalagi ketika Afif membuka matanya dengan ekspresi terkejut.


"Nay, kau..."


"Jangan bicara dulu, Nay malu!" ujar bumil itu memotong perkataan Afif.


Afif tersenyum lebar setelah mengetahui apa yang akan dilakukan istrinya. Namun dia tetap diam agar Naynay tidak semakin malu dan berubah pikiran. Afif mana mau rugi, ya, 'kan?


Naynay bergerak mendekati wajah Afif dengan pelan, dadanya berdegup kencang ketika bibir mereka bertemu. Ini memang pertama kali bagi Naynay yang memulai permainan, pernah mencoba memimpin dulu, tapi dia kesusahan. Namun hari ini, di hari terakhir babymoon mereka, Naynay memberanikan dirinya.


Tangan Naynay membuka celana pendek yang dipakai Afif sambil menahan malu yang sudah di ubun-ubun. Tapi dia sudah bertekad akan melakukannya dengan maksimal hari ini. Dengan masih mencium Afif, Naynay membuka piyama tipis yang dia pakai dan melemparnya ke lantai.


"Kakak tutup mata dulu!" titah Naynay setelah melepas ciumannya. Afif langsung menuruti keinginan istrinya itu tanpa protes.


Naynay segera meraih selimut untuk menutupi tubuh mereka. Dengan perlahan, dia mulai menyatukan tubuh mereka di bawah selimut itu. Setelah masuk sempurna, Naynay kembali mencium Afif hingga mata suaminya itu terbuka dan membalas ciumannya.


Tangan kekar Afif memegang pinggang Naynay dan sebelah lagi bermain di bagian dada istrinya itu. Desahan mereka saling bersahutan mengisi keheningan kamar itu. Naynay langsung ambruk setelah mencapai puncaknya.


"Nay emang nggak punya bakat memimpin, Kakak aja yang nerusin!" ucapnya pada Afif dengan wajah sayu yang sedikit tertutupi helaian rambutnya.


Dan, ya begitulah. Naynay tetaplah Naynay yang sama sekali tidak berbakat memimpin permainan. Sekuat apapun tekadnya, dia tetap menyerah dan memercayakan semuanya pada Afif yang dengan senang hati mengabulkan permintaan sang istri.


Malam terakhir babymoon mereka habiskan dengan berpacu mengarungi surga kenikmatan di tempat tidur. Suara laknat, cakaran, dan keringat yang dihasilkan pergulatan itu membuat nafsu keduanya semakin menggebu. Hingga dini hari, pergulatan itu baru selesai dengan Afif yang menjadi pemenang. Sedangkan Naynay terkapar dengan napas memburu.


.


.


Aku kepanasan pas nulis bab yang enak-enak kayak gini 🔥


.


.

__ADS_1


__ADS_2