My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 232 Meyakinkan Gea


__ADS_3

''Hai sayang,'' sapa Sheena begitu sampai di ruangan Arsen.


''Sayang, kamu kok kesini sih? Bukannya istirahat.''


''Aku bosan di rumah terus, sayang. Jadi aku kesini bawa makan siang untuk kamu.'' Ucap Sheena seraya duduk di sofa. Arsen juga beranjak dari duduknya dan beralih duduk di sofa bersama Sheena.


''Kamu bawa makanan apa?''


''Sayur lodeh sama ikan kakap goreng dan tahu tempe sama telur dadar sayang.''


''Kamu kok tahu sih apa yang aku pikirkan?''


''Karena selera kita tertukar. Jadi aku inisiatif memasak makanan ini. Aku kan suka banget masakan seperti ini tapi semenjak hamil jadi eneg gitu lihatinnya.''


''Memang begitu ya bawaan baby,'' ucap Arsen sambil mengelus perut Sheena.


''Oh ya panggil Brian sekalian, sayang. Kita ajak makan siang sama-sama.''


''Brian tidak masuk hari ini.''


''Lho, kenapa?''


''Dia ijin sakit. Dan Gea juga ikutan tidak masuk.''


''Kenapa juga dengan Gea?''


''Feeling aku, Gea pasti merawat Brian. Barusan saja Arthur meneleponku. Semalam Brian kerumahnya. Ya, menceritakan semua kegundahannya karena Gea belum menerima cintanya. Di tambah, semalam kan hujan jadi dia pasti kehujanan pas pulang.''


''Ya ampun, kasihan sekali Brian. Aku akan menjenguknya kalau begitu. Sekalian membawakan dia makanan.''


''Tidak usah sayang. Dia sudah dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri. Kamu disini saja temani aku.''


''Tapi kasihan dia, sayang.''


''Biarkan Gea yang merawatnya. Aku yakin saat ini Gea sudah merawat Brian. Kamu tidak usah khawatir ya. Biarkan mereka berdua.''


''Baiklah kalau begitu.''


''Baru kali ini aku lihat seorang playboy gundah karena cintanya belum diterima,'' kekeh Arsen.


''Biasanya kalau sikap playboy seperti itu, sudah di jamin dia serius. Pasti cuma Gea yang membuat jantung Brian berdebar kencang.''


''Hmmmm sudahlah, jangan bahas mereka. Sebaiknya kita membicarakan tentang kita saja.''


''Kamu ini ya.'' Sheena mencubit gemas pipi Arsen.


-


''Syukurlah demamnya sudah reda.'' Gumam Gea. Gea kemudian menuju dapur, bersiap membuat makan siang untuk Brian yang masih tertidur. Gea memasak bahan yang ada di kulkas, hingga akhirnya Gea memutuskan untuk memasak sup ayam. Selesai memasak, Gea membantu membersihkan rumah Brian yang tampak berantakan. Bahkan beberapa pakaian Brian tergeletak sembarangan. Gea meletakkan semua pakaian kotor ke dalam keranjang pakaian kotor. Ia juga menyapu bahkan mengepel lantai rumah Brian.


''Gea!" panggil Brian dengan suara lirih. Mendengar Brian memanggil, Gea bergegas menuju kamar.


''Syukurlah kamu sudah bangun. Aku sudah masak makan siang untukmu.'' Kata Gea.


''Tapi aku masih kenyang.''

__ADS_1


''Kamu harus makan, Brian. Setelah itu minum obat lagi.''


''Kamu tidak kerja?''


''Tidak. Aku tidak tega meninggalkanmu.'' Brian tersenyum mendengar ucapan Gea. Diraihnya tangan Gea lalu di genggammnya.


''Terima kasih sudah menjaga dan merawatku.''


''Iya sama-sama. Kamu sudah bisa bangun kan?''


''Aku akan mencobanya, kepalaku berat sekali rasanya.''


''Ya sudah, sini aku bantu.'' Gea meraih lengan Brian, lalu membantunya duduk.


''Aku mau ke kamar mandi dulu. Tapi bantu aku ya.''


''Iya.'' Gea lalu memapah Brian dan membawanya ke kamar mandi.


''Aku tunggu di luar ya.''


''Di dalam juga boleh kok, Ge.'' Celetuk Brian. Pletak! Gea menjitak kepala Brian.


''Sakit Gea. Lagi sakit malah di jitak.'' Ucap Brian sambil mengusap kepalanya.


''Makanya udah tahu sakit jangan aneh-aneh.''


''Hehehe maaf, bercanda.'' Brian lalu menutup pintu kamar mandi dan Gea menunggunya di depan. Beberapa menit kemudian Brian keluar.


''Kok lama? Sakit perut?'' tanya Gea khawatir.


''Kenapa dada kamu, Brian? Apa jantung kamu bermasalah? Kita ke dokter ya?''


''Tidak usah, Gea. Aku cuma butuh kamu. Kamu bisa merasakan jantung ku berdebar sangat cepat.'' Kata Brian yang masih menahan tangan Gea di dadanya. Wajah Gea memerah, ia langsung melepaskan tangannya.


''Lagi sakit sempat-sempatnya merayu. Mau aku jitak lagi?'' ketus Gea.


''Eh jangan! Kepalaku masih pusing masa mau kamu tambahin lagi. Aku mau makan, Ge.''


''Makanya jangan aneh-aneh. Ya sudah, langsung ke ruang makan saja.'' Gea lalu memapah Brian lagi dan membawanya ke ruang makan.


''Suapin ya, Ge. Tanganku gemetar.'' Ucap Brian yang memanfaatkan sakitnya untuk mendapat perhatian lebih dari Gea.


''Hmmmm,'' singkat Gea. Gea dengan telaten menyuapi Brian.


''Jangan melihatku seperti itu, Brian.''


''Memangnya kenapa? Aku suka melihatmu. Ge, bawa aku menemui kedua orang tuamu.''


''Un-untuk apa?'' Gea terkejut sekaligus salah tingkah.


''Aku mau melamarmu untuk menjadi istriku.''


''Jangan main-main, Brian. Usia kita masih terlalu muda untuk menikah.''


''Memangnga kenapa? Ibu ku menikah saat usianya masih 21 tahun. Apa kamu tidak mencintaiku?''

__ADS_1


''Menikah bukan semata soal cinta, Brian. Tapi kesiapan mental juga sangat penting.''


''Sekarang aku tanya dan jawab dengan jujur. Apa kamu mencintaiku?'' pertanyaan Brian membuat tangan Gea berhenti, ia meletakkan sendok sup begitu saja.


''Gea, tatap mata aku. Lihat aku! Kamu akan menemukan jawabannya.'' Kata Brian. Namun Gea tidak berani menatap mata Brian.


''Maaf Brian, aku belum bisa menjawabnya.'' Lagi, Brian merasa kecewa mendengar jawaban Gea. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.


''Apa yang membuatmu ragu, Gea? Aku aku kurang kaya atau aku miskin?''


''Bukan keduanya Brian. Tapi aku ragu dengan diriku sendiri. Aku masih takut dan ragu untuk memulainya.'' Ucap Gea dengan gugup. Brian lalu menggenggam tangan Gea.


''Gea, aku serius mencintai kamu. Ini pertama kalinya jantung aku berdegup kencang saat bersama seorang wanita dan itu kamu, Gea. Kamu bisa merasakan sendiri kan debaran jantungku? Aku pastikan kamu akan bahagia bersama ku. Kalau di pertengahan jalan kamu tidak bahagia, kamu boleh berhenti dan menyerah. Aku tidak mau banyak janji tapi aku akan membuktikannya.''


''Brian, kamu tidak tahu apa yang aku rasakan. Sebaiknya kita jangan membicarakan ini lagi. Kamu harus sembuh.''


''Lebih baik aku mati saja.'' Celetuk Brian. Pletak! Jitakan mendarat di kepala Brian.


''Sakit Gea!"


''Makanya jangan bicara aneh-aneh. Maafkan aku ya.''


''Baiklah, aku akan membuatmu lebih yakin lagi.''


''Kalau begitu aku pergi dulu ya. Kamu kan sudah membaik.''


''Kamu mau kemana Ge?''


''Aku ada janji sama temanku, Brian. Ini sudah jam 3 dan aku janji jam 5 nanti. Aku mau siap-siap.''


''Teman yang mana?''


''Mmmm teman kerja di mini market dulu.''


''Apa kamu akan pergi lama?''


''Tidak. Memangnya kenapa?''


''Aku butuh kamu, Gea. Jangan lama-lama. Kalau sampai jam 7 kamu tidak datang, aku benar-benar akan mogok akan. Atau kamu tidak akan melihatku besok.''


''Husss! Jangan ngomong aneh-aneh. Kalau urusanku selesai, aku akan segera pulang. Cepat minum obatnya. Kalau kamu sembuh, aku akan memberikan jawabannya.''


''Kamu serius?'' Mata Brian seketika berbinar.


''Iya. Aku pergi ya, kalau ada apa-apa hubungi aku.''


''Iya. Hati-hati ya Gea.''


''Iya, tenang saja.''


Tapi entah kenapa firasat Brian tidak enak pada Gea.


Bersambung....


Apakah yang akan di lakukan Gea sebenarnya? Dan kira-kira apakah yang akan terjadi?

__ADS_1


__ADS_2