My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 200 Kabar Suka dan Duka


__ADS_3

''Iya Fandi. Biarlah semua itu menjadi kenangan. Aku sudah bahagia bersama suamiku, Arsen. Maaf jika ini melukai kamu. Sebaiknya kamu pulang dan kembali pada Nona Olivia. Dia sangat baik dan tulus padamu Fandi. Saat itu dia bahkan rela mundur supaya kita bersatu tapi aku mencegahnya. Karena aku tahu cinta Nona Olivia lebih besar dibandingkan cintaku padamu. Dia rela berkorban demi kita, Fan. Belajarlah membuka hati untuk Nona Olivia dan belajarlah mencintai Nona Olivia, Fan. Aku yakin kamu akan bahagia bersama dia. Aku juga mengucapkan terima kasih karena kamu sudah menyelamatkanku. Aku berhutang nyawa padamu, Fan.''


Fandi hanya bisa meneteskan bulir air mata saat mendengar apa yang Arsen dan Sheena ucapkan.


''Aku bahagia kalau kamu bahagia tapi rasanya ini berat sekali untukku, Sheena. Apa aku bisa melewatinya?''


Sheena kemudian mendekat kearah Fandi dan memberikan pelukan untuk Fandi. Arsen terkejut melihat sikap Sheena.


''Fan, kita masih bisa berteman. Aku tidak akan melupakan semua kebaikanmu. Bahagialah bersama Nona Olivia. Pilihan Mama kamu adalah pilihan yang terbaik. Lupakan aku dan lupakan semua kenangan tentang kita.'' Ucap Sheena. Berat bagi Sheena untuk mengucapkan semua kalimat itu. Fandi membalas pelukan Sheena dengan sangat erat. Ia benar-benar merindukan kekasihnya itu.


''Sheena, aku sangat merindukanmu. Aku merindukanmu Sheena. Merindukan semua tentangmu.'' Ucap Fandi. Melihat cara Fandi berlebihan memeluk Sheena, Arsen pun tersulut api cemburu. Arsen melepaskan paksa pelukan Fandi dan mendorong Fandi hingga tersungkur di tanah.


''Jaga sikapmu! Dia ini istriku! Bisa-bisanya kamu memeluk istriku seperti itu. Sebaiknya kamu pulang dan kembali pada istrimu. Istrimu menunggumu di rumah.'' Ucap Arsen dengan suara meninggi. Arsen lalu menyeret Sheena masuk ke dalam rumah.


''Kamu sengaja ya memeluk dia? Kamu juga merindukan dia? Bisa-bisanya kamu memeluk mantan kekasihmu di depan suamimu.'' Marah Arsen.


''Sayang, aku hanya memeluknya sebagai sahabat saja. Aku tidak mau mentalnya menjadi down dan ia justru melakukan hal aneh. Itu saja sayang. Aku mohon kamu jangan marah. Aku kasihan saja melihat Fandi. Nona Olivia dan Fandi adalah korban keegoisan Mama Fandi.''


''Mulai detik ini, kamu tidak boleh lagi berhubungan dengan Fandi. TITIK! Hapus dan blokir semua kontaknya termasuk istrinya. Aku tidak ingin rumah tangga kita dibayang-bayangi masa lalumu.'' Arsen begitu kesal dan sangat marah, ia kemudian berlalu begitu saja menuju kamar. Sheena menghela, ia merasa bersalah membuat Arsen marah.


''Sebaiknya aku biarkan Arsen tenang dulu. Aku hanya kasihan pada Fandi.'' Gumak Sheena.


Akhirnya Fandi meninggalkan rumah Sheena. Fandi kemudian melanjutkan perjalanannya. Bukannya pulang tapi ia justru pergi ke kantor pengadilan agama.


''Semua ini karena Mama. Aku lebih baik hidup sendiri daripada hidup dengan wanita yang tidak aku cintai.''


Setelah mendaftarkan perceraiannya, tiba-tiba saja ponsel Fandi berdering. Ada nama Mamanya di layar ponselnya. Fandi mendengus dan rasanya ingin sekali mengabaikan telepon dari Mamanya.

__ADS_1


''Mama pasti menyuruhku pulang karena Olivia yang mengadu.'' Gumamnya. Fandi lalu menerima panggilan dari Mamanya.


''Halo Fan, kamu dimana?'' terdengar suara Nyonya Citra panik diseberang sana.


''Ada apa Mah?''


''Fan, orang tua Olivia kecelakaan. Mereka kecelakaan di perjalanan setelah landing dari bandara dan kondisinya kritis. Kamu segera menyusul ke rumah sakit ya. Mama, Papa dan Olivia sekarang menuju kesana.''


Fandi sangat syok mendengar kabar itu. Ia langsung memikirkan bagaimana nasib Olivia nanti.


''I-iya Mah, Fandi menyusul.'' Panggilan berakhir. Fandi pun segera meluncur menuju rumah sakit.


...****************...


Olivia sangat syok, melihat Mamanya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Sementara Papanya masih dalam kondisi kritis. Olivia menangis histeris sambil memeluk Mamanya yang sudah tidak bernyawa itu. Fandi yang baru saja tiba, sangat syok melihat ibu mertuanya sudah tidak bernafas lagi.


''Olivia.'' Gumam Fandi sambil berusaha menenangkan Olivia.


''Olivia, masih ada aku disini.'' Ucap Fandi dengan suara bergetar. Tuan Ifan dan Nyonya Citra tak bisa membendung rasa sedihnya. Mereka berdua sangat terpukul. Apalagi kedua orang tua Olivia adalah sahabat mereka berdua. Para perawat segera mengambil jenazah tubuh Mama Olivia untuk segera di bersihkan dan dimandika. Olivia semakin histeris saat para perawat itu mengambil jenazah Mamanya.


Olivia lalu beralih ke brankar Papanya yang juga dalam kondisi kritis.


''Pah, bangun Pah. Papa harus bangun. Olivia sendiran Pah. Papa harus kuat ya, Papa harus kuat demi Olivia.'' Tangis Olivia sambil memeluk Papanya. Tiba-tiba Papa Olivia tersadar.


''Olivia,'' panggil Tuan Hendra dengan lirih. Olivia sangat senang mendengar suara Papanya. Olivia lalu menggenggam dan menciumi punggung tangan Papanya.


''Papa! Papa harus kuat ya. Olivia yakin kalau Papa akan segera sembuh dan kita bisa bersama lagi.''

__ADS_1


''Nak, kamu sudah dewasa dan kamu sudah bersama laki-laki yang tepat.'' Ucap Tuan Hendra denga lirih.


''Seandainya Papa tahu kalau selama ini Olivia menderita,'' gumam Olivia dalam hati. Dengan sekuat tenaga, tangan Tuan Hendra meraih tangan Fandi.


''Nak Fandi, tolong jaga Olivia ya. Jangan pernah sakiti ataupun tinggalkan dia. Dia adalah hartaku satu-satunya.''


''Iya Pah. Fandi janji akan menjaga Olivia.''


Tuan Hendra tersenyum. ''Terima kasih nak Fandi.''


Pandangan Tuan Hendra lalu melihat kearah Tuan Ifan dan Nyonya Citra.


''Ifan, Citra, aku titip putriku. Aku mohon jaga dia untukku dan juga Prita.'' Ucap Tuan Hendra dengan nafas tersengal.


''Hendra, jangan bicara aneh-aneh. Kamu pasti kuat!" kata Tuan Ifan.


''Iya Pah. Papa pasti kuat dan kita akan bersama.'' Ucap Olivia dengan sesenggukan, dadanya sesak sekali. Tuan Hendra kemudian tersenyum dan perlahan ia memejamkan matanya, seperti orang tidur. Dan garis monitor berubah lurus.


''PAPA!" Olivia histeris. Ia mengguncang tubuh Papanya sekuat tenaga. Berharap Papanya akan bangun dan membuka matanya.


''Papa bangun! Bangun Pah!" Tangis dan jerit histeris Olivia memenuhi ruangan itu. Dokter pun datang lalu memeriksa untuk memastikan bahwa pasien memang sudah tidak bisa diselamatkan. Dan jam kematian pun telah ditetapkan oleh dokter. Kedua orang tua Olivia meninggal tepat dihari ulang tahunnya ke-25. Nyonya Citra dan Tuan Ifan tidak kuasa menahan kesedihan dan air matanya. Mereka sangat terpukul melihat kedua sahabatnya meninggal secepat itu.


''Papa jahat! Papa tega meninggalkan Olivia sendiri. Papa!" tiba-tiba Olivia pun pingsan.


''Olivia!" Fandi pun panik melihat Olivia pingsan.


''Olivia!" Nyonya Citra dan Tuan Ifan pun panik melihat Olivia pingsan.

__ADS_1


''Dokter!" teriak Fandi. Dan Olivia pun segera ditangani. Tentu saja Olivia syok dan ini pukulan berat bagi Olivia. Disisi lain ia bahagia bisa mengandung anak dari pria yang dicintainya namun Tuhan sekaligus memberikan duka yang sangat dalam bagi Olivia karena kehilangan orang tuanya.


Bersambung..... Lalu apakah Fandi masih tega melanjutkan perceraiannya dengan Olivia????


__ADS_2