My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 194 Khawatir


__ADS_3

''Setelah ini aku akan ke kantor. Kamu baik-baik ya di rumah. Atau aku minta Sheena ke rumah?''


''Tidak usah. Eonni sedang hamil, biar eonni istirahat. Aku tidak apa-apa, berangkatlah!"


''Oke baiklah, aku akan berangkat . Kalau ada apa-apa segera hubungi aku.'' Ucap Arthur sambil mengelus kepala Belinda.


''Iya.''


''Sebentar, minum dulu obatmu.'' Pinta Arthur.


''Iya, nanti aku minum.'' Kata Belinda.


''Minum sekarang, supaya aku tidak khawatir.''


''Kamu sungguh mengkhawatirkan aku?''


''Huft, masih saja bisa bertanya. Sudah cepat minum obatnya.''


''Iya-iya.'' Belinda lalu meminum obat yang sudah Arthur siapkan. Arthur pun merasa lega.


''Baiklah sekarang aku berangkat.''


''Oke.''


Arthur kemudian berangkat ke kantor, sesampainya di kantor, Arthur mempersiapkan segala keperluan untuk syuting. Setelah semuanya siap, Arthur bersama beberapa karyawannya segera menuju lokasi. Rupanya Grace dan timnya sudah berada disana.


''Hai Grace, sudah daritadi?'' sapa Arthur sambil memberikan pelukan.


''Baru juga sampai.''


''Aku selalu suka denganmu yang selalu on time.'' Ucap Arthur dengan senyumnya.


''Oh ya Tuan Arthur, Belinda dimana? Aku tidak melihatnya.'' Tanya Erick.


''Dia sedang sakit.''


''Apa? Sakit? Dia sakit apa, Tuan? Lalu bagaimana keadaannya?'' tanya Erick dengan perasaan cemasnya.


''Dia sakit lambung. Dia hanya butuh istirahat.'' Jelas Arthur.


''Nona Grace, apa setelah syuting aku boleh menjenguk Belinda?'' tanya Erick pada Grace.


''Tentu saja boleh.'' Jawab Grace dengan senang hati.


''Ee... sebaiknya jangan dulu. Aku memintanya untuk istirahat total dan melarangnya menerima tamu, supaya dia lekas pulih.'' Sahut Arthur.


''Ummm, iya juga ya. Kalau begitu apa aku boleh minta nomor ponselnya? Aku lupa kemarin belum sempat meminta nomor ponselnya.''


''Ini orang ngapain sih minta nomornya Belinda segala. Mau apa coba?'' gerutu Arthur dalam hati.

__ADS_1


''Kamu bisa memintanya pada Grace.'' Kata Arthur.


''Tenang Erick, aku akan memberimu nomor Nona Belinda. Maafkan Erick ya, Arthur. Sepertinya dia memang menaruh hati pada sekretarismu.'' Ucap Grace. Arthur hanya menarik sudut bibirnya.


''Baiklah, ayo kita mulai!" seru Arthur. Sepanjang syuting berjalan, Arthur mencoba terus fokus tapi entah kenapa Belinda selalu ada di pikirannya, Arthur merasa khawatir apalagi Belinda di rumah sendiri.


Disela-sela syuting, Arthur mengirimkan pesan pada Belinda.


Arthur : Apa kamu baik-baik saja?''


Belinda sendiri sedang di dapur, ia mengambil buah sebagai camilan. Sedangkan ponselnya berada di dalam kamar.


"Kenapa belum di balas ya?" gumam Arthur dalam hati. Arthur berusaha tetap tenang sambil kembali memantau proses syuting. Dan syuting pun selesai sampai jam 2 siang.


"Oke, thank you untuk kerja samanya ya. Kita bisa menyelesaikannnya hanya dalam waktu sehari saja. Kalau begitu aku akan mentraktir kalian semua makan." Ucap Arthur penuh semangat. Semua tim bersorak karena merasa senang memiliki bos yang begitu pengertian.


Arthur kemudian mengajak mereka semua menuju restoran.


"Kalian bebas memesan apaoun yang kalian suka. Restoran ini sudah aku booking untuk kita hari ini." Ucap Arthur yang disambut tepuk tangan semuanya.


"Grace, terima kasih ya untuk semuanya. Kamu dan tim mu sungguh luar biasa."


"Sama-sama Arthur. Aku juga senang bisa bekerja sama denganmu. Dan kamu tidak pernah berubah, selalu royal seperti ini."


"Ya, apa salahnya menyenangkan hati orang banyak. Apalagi mereka semua sudah bekerja keras. Tapi maaf aku tidak bisa ikut makan bersama kalian karena aku ada keperluan lain."


"Ada apa? Kamu terlihat gelisah."


"Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati."


"Perhatian semuanya! Maaf karena aku tidak bisa ikut makan bersama kalian tapi kalian tenang saja karena semuanya sudah aku bayar. Aku ada keperluan lain jadi sekali lagi aku minta maaf."


"Iya Tuan Arthur. Terima kasih untuk traktirannya.'' Sahut salah satu dari mereka.


''Iya sama-sama. Enjoy ya!" Arthur kemudian meninggalkan restoran dan segera pulang. Arthur khawatir karena Belinda tidak membalas pesannya dan hanya membaca pesannya saja.


Sesampainya dirumah, Arthur pun langsung masuk menuju kamarnya. Rasa khawatirnya mereda saat melihat Belinda tengah terlelap sambil memegang ponselnya. Arthur lalu mendekat kearah ranjang, ia meletakkan telunjuknya tepat di lubang hidung Belinda. Memastikan bahwa Belinda masih bernafas.


''Oh syukurlah ia baik-baik saja. Aku terlalu khawatir. Ini juga ponsel di pegang kenapa dia tidak membalas pesanku.'' Gumam Arthur. Arthur lalu mengambil ponsel Belinda yang ada dalam genggamannya. Arthur terkejut saat melihat Belinda chat dengan Erick.


''Apa? Erick? Wah, secepat itu Erick bertindak. Belinda sungguh keterlaluan, dia mengabaikan pesanku dan memilih membalas pesan Erick.'' Arthur menjadi gusar melihat chat antara Erick dan Belinda.


''Arthur, kenapa kamu marah? Apa kamu cemburu?'' batin Arthur bertanya pada dirinya.


''Oh, tidak mungkin aku cemburu. Aku pasti hanya kesal saja karena dia membuatku khawatir dan mengabaikan pesanku. Pasti hanya itu.'' Jawabnya sendiri.


Dan akhirnya Belinda pun terbangun. Ia terkejut saat membuka mata sudah ada Arthur dihadapannya. Belinda melonjak kaget, ditambah ia melihat Arthur memegang ponselnya.


''Kak Arthur! Sud-sudah pulang?''

__ADS_1


''Iya, aku baru saja pulang. Kenapa kamu tidak membalas pesanku? Dan malah membalas pesan Erick.'' Cerocos Arthur. Belinda lalu berebut ponselnya dari tangan Arthur.


''Ihhh ini privasi tahu. Kamu melihat isinya ya?''


''Tidak sengaja melihat. Kamu dengan mudahnya akrab dengan Erick ya. Kenapa tidak membalas pesanku?''


''Maaf, aku lupa. Tadinya mau aku balas tapi pesanmu masuk bersamaan dengan Erick jadinya aku lupa. Apa kamu yang memberikan nomorku pada Erick?''


''Bukan aku tapi Grace yang memberinya.''


Belinda lalu berdiri diatas ranjang sambil bertolak pinggang.


''Ah, jangan-jangan kamu cemburu ya? Apa kamu mulai menyukaiku?'' goda Belinda.


Arthur tertawa. ''Hahahaha siapa yang cemburu, dasar ge-er.''


''Yakin tidak cemburu? Bilang saja kalau cemburu.''


''Sebaiknya turun dari ranjang, kita makan siang dibawah.'' Ucap Arthur seraya berlalu. Namun saat Arthur berbalik, tiba-tiba Belinda naik ke punggung Arthur. Arthur terkejut dan hampir saja terjatuh.


''Belinda! Kita hampir saja jatuh. Ayo turun!" kata Arthur dengan suara meninggi.


''Tidak mau! Ayo kita kebawah dan gendong aku.''


''Turun tidak?''


''Tidak mau! Kamu cemburu kan? Kamu menyukai ku kan?'' Belinda terus saja menggoda Arthur.


''Aku malas membahas ini. Sebaiknya turun, atau aku akan melemparmu.''


''Memangnya berani? Apa kamu tega denganku? Ayo turun kebawah! Kepalaku pusing.'' Ucao Belinda yang tiba-tiba menyandarkan kepalanya di punggung Arthur. Arthur menghela, ia lalu menaikkan Belinda yang hampir melorot di punggungnya. Dan akhirnya Arthur membiarkan Belinda berada di punggungnya.


''Kamu sama sekali belum makan siang?'' tanya Arthur.


''Belum. Aku hanya makan buah tadi. Aku menunggumu pulang. Mau belik makan, uangku sudah menipis, aku juga belum gajian.'' Suara Belinda memelas dan memelan.


''Jadi kamu juga belum minum obat?''


''Belum. Mau masak juga tidak bisa. Badanku masih lemas jadi aku makan buah saja tadi.''


Arthur kemudian mendudukkan Belinda di kursi ruang makan.


''Duduk disini, aku akan memasak untukmu.''


''Iya. Oh ya bagaimana syutingnya? Apa sudah selesai?''


''Syutingnya lancar dan selesai dengan tepat waktu.''


''Syukurlah. Kamu sendiri sudah makan?''

__ADS_1


''Belum. Aku bahkan meninggalkan tim ku dan tim Grace di restoran. Aku khawatir saja denganmu. Kalau sampai ada apa-apa nanti aku juga yang di salahkan.'' Jelas Arthur sembari memotong daging.


__ADS_2