My Perfect Husband

My Perfect Husband
Babymoon (5)


__ADS_3

Pagi itu langit terlihat masih gelap dengan hembusan angin yang kencang. Malam tadi, tepatnya sebelum fajar, terjadi badai tak jauh dari kawasan pulau milik Afif. Hujan lebat dan suara petir yang menggelegar saat itu membuat Naynay tak berani membuka matanya. Dia hanya diam dengan rasa takut sambil memeluk Afif dengan erat.


Hingga sekarang, Naynay masih berada dalam pelukan Afif. Dia tertidur kembali saat Afif menepuk-nepuk kecil punggungnya. Afif merapatkan selimut pada tubuh mereka agar istrinya itu tidak kedinginan.


Afif melihat ke arah dinding kaca yang tirainya tidak ditutup, cahaya matahari mulai terlihat dari celah-celah awan yang gelap. Angin juga mulai berhembus pelan, tidak sekencang tadi. Itu berarti cuaca akan kembali normal.


Afif menggeser tubuhnya ke bawah agar bisa melihat wajah istrinya yang masih tidur. Wajah tenang Naynay itu membuatnya tersenyum dan memperbaiki selimut yang sedikit melorot dari tubuh istrinya.


Afif mengecup hidung mancung nun mungil Naynay sebelum beralih ke bibirnya. Mengganggu Naynay tidur memang kebiasaan Afif, dia suka ketika melihat Naynay kesal dan merengek lucu.


"Aaaa... Nay masih ngantuk, Kak!" ucap Naynay dengan suara khas bangun tidur dan mendorong kepala Afif agar menjauh dari wajahnya.


Afif masih belum berhenti mengganggu Nay, dia mendusel di dada Naynay yang terasa lembut dan hangat. Naynay merengek kesal karena tidurnya diganggu oleh suami mesumnya ini. Tangan Naynay mencubit pinggang Afif lumayan keras hingga aktivitas bibir Afif di dadanya terhenti.


"Awas, Nay mau ke kamar mandi!" ucap Naynay sambil berusaha duduk. Dia mau buang air kecil, tapi suaminya masih menempel di tubuhnya.


"Nay udah nggak tahan, awas dulu!" Langsung mendorong tubuh Afif menjauh dan melilitkan selimut di tubuhnya, Naynay segera menuju kamar mandi.


Afif yang ditinggal pun berbaring telungkup di atas tempat tidur dengan tubuh polosnya karena selimut dibawa oleh Naynay. Dia memejamkan matanya ketika cahaya matahari yang masuk melalui dinding kacar itu menyorot matanya.


Sedangkan Naynay memutuskan untuk mandi sekalian. Dia segera keluar setelah memakai jubah handuk dan membawa selimut tadi keluar kembali. Matanya terbelalak melihat suaminya yang berbaring santai dengan tubuh polosnya. Dengan cepat, Naynay berjalan mendekat dan menutupi seluruh tubuh suaminya itu dengan selimut tadi.


Setelah itu Naynay mengambil bajunya di lemari dan masuk kembali ke kamar mandi. Setelah selesai, dia menyiapkan air mandi Afif dan keluar setelahnya. Dan ternyata suaminya masih tidur dengan yang posisi yang sama.


"Nay ke bawah dulu," bisik Naynay di telinga Afif dan mencium pipi suaminya itu sebelum keluar dari kamar. Dia membawa sesuatu di tangannya.


Di lantai dasar, Naynay celingukan mencari Pak Hen. Dia pergi ke dapur dan ternyata pria tua itu ada di sana, dia sedang mengawasi koki memasak. Melihat kehadiran Naynay, dia mendekat.

__ADS_1


"Pak Hen, Nay mau minta tolong." Bumil itu menunjukkan barang yang dia bawa. Pak Hen memandang bingung pada kotak di tangan Naynay.


"Tolong ajarin Nay bikin dream catcher dari ini," imbuh Naynay sambil membuka kotak kecil itu dan menampilkan cangkang kerang yang dia dapatkan kemaren.


Pak Hen mengangguk, Afif sudah mengatakannya kemaren sore. "Tapi lebih baik Anda sarapan dulu, Nona."


"Pak, tolong buatin avocado toast, ya. Tolong anterin juga ke ruang depan nanti!"pinta Naynay pada koki yang tersenyum padanya.


Setelah itu Naynay dan Pak Hen pergi ke ruang depan, pria tua itu juga mengambil alat-alat yang kemaren Afif katakan untuk membuat dream catcher.


Naynay sudah duduk di atas karpet dengan alat-alat seperti benang berbagai warna dan cangkang kerang yang di depannya. Pak Hen yang duduk di depan Naynay pun mulai mengajari istri Tuan Mudanya itu untuk membuat kerajinan tangan tersebut.


Naynay begitu fokus melilitkan benang biru pada besi yang berbentuk lingkaran di tangannya, hingga tidak sadar bahwa Afif sudah berada di sampingnya dengan piring berisi sarapan di tangannya.


"Boom!"


"Aaaa..." teriak Naynay karena terkejut dan refleks memukul jidat Afif dengan besi yang belum terlilit sempurna dengan benang. Laki-laki itu meringis sakit sambil mengusap jidatnya yang langsung memerah.


Pak Hen hanya tersenyum kecil melihat tingkah pasutri itu. Dia tetap melanjutkan kegiatannya untuk melilitkan benang.


"Aku tidak apa-apa, makan sarapanmu dulu!" ujar Afif memegang tangan Naynay dan meletakkan piring di atasnya.


"Suapin," pintanya manja yang membuat Afif gemas. Laki-laki mengangguk dan menyuapi istrinya itu. Sedangkan Naynay melanjutkan aktivitasnya di sela mengunyah sarapannya.


Afif tersenyum melihat Naynay yang begitu serius mengikat benang itu agar membentuk pola. Bahkan tanpa sadar istrinya itu sampai menggigit bibir bawahnya saking seriusnya.


"Biar saya lubangi kerangnya dulu, Nona. Anda bisa memasang bulu hiasannya terlebih dahulu." Pak Hen membawa tumpukan kerang ke depannya dan melubanginya dengan bor kecil.

__ADS_1


Naynay mengikuti arahan Pak Hen, dia mengambil benang berwarna putih dan mengikatkan bulu sintetis berwarna biru di sana.


"Aku mau membuatnya juga," ucap Afif sambil mengambil benang dan besi lingkaran yang masih ada di sana. Dia melakukan seperti apa yang dia lihat dari Naynay dan Pak Hen tadi. Naynay mencubiti pipi Afif karena gemas melihat wajah serius suaminya itu.


"Ini, Nona." Pak Hen meletakkan kerang yang sudah dia lubangi di depan Naynay.


Naynay mulai merangkai kerang itu, selang-seling dengan manik-manik berwarna pink pucat. Dia melakukannya dengan baik, karena ini akan dia berikan pada seseorang. Setelah selesai merangkai lima benang panjang dengan kerang dan manik-manik, Naynay mulai mengikatkannya pada besi lingkaran yang sudah dililit benang sebelumnya.


"Selesai!!" pekik Naynay senang dan menatap puas pada hasil karyanya.


"Makasih, Pak Hen, udah bantuin Naynay." Bumil itu tersenyum lebar pada pria tua yang dengan sabar selalu menuruti keinginannya.


"Sama-sama, Nona. Kalau begitu, saya permisi dulu." Pak Hen kemudian pergi ke arah dapur, meninggalkan Naynay dan Afif yang masih sibuk menjalin benang agar membentuk pola bintang di besi lingkaran itu.


Naynay meletakkan dream catcher buatannya di samping dream catcher hasil karya Pak Hen. Setelah itu dia menggeser semua kerang yang masih tersisa ke hadapan Afif. "Nay mau bantu, boleh?" tanyanya pada suaminya.


"Tentu, lakukan apa yang kau suka," balas Afif dan mengusap kepala istrinya itu sebentar sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya.


Naynay dengan semangat merangkai kerang-kerang itu seperti yang sebelumnya dia lakukan. Afif juga sesekali mengusili Naynay dengan menggelitik pinggang bagian belakang istrinya itu.


Hingga dream catcher Afif selesai, laki-laki itu meminta Naynay untuk menemaninya sarapan. Ketiga dream catcher itu disimpan di dalam kotak yang juga telah Afif persiapkan sebelumnya karena dia sudah tahu kalau istrinya akan membuat kerajinan itu.


.


.


Vote, ya, Kakak-kakak onlen🍀

__ADS_1


.


.


__ADS_2