
Hari ke hari yang terus berjalan membuat banyak perubahan tentunya, tak terkecuali dengan sikap Afif yang sudah tidak terlalu acuh dan cuek lagi.
"Aku jatuh cinta pada Naynay." Begitulah yang Afif katakan kepada Ryan setelah mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
'Anda baru sadar?'
Ryan hanya mengangguk kecil tanpa menyahut karena dia juga tidak tahu apa yang akan dia katakan. Lagi pula Afif sudah mulai berbicara lagi.
"Apa aku katakan saja kalau aku yang menghamili dia?" tanya Afif sambil menyalakan komputer di depannya.
Ryan memperbaiki jasnya dan menarik napas pelan sebelum menjawab pertanyaan Afif. "Sebaiknya Anda konsultasi dengan dokter terlebih dahulu, Tuan Muda. Jika nona tidak dalam keadaan hamil, maka urusannya akan mudah. Tapi kenyataannya berbanding terbalik, nona sedang hamil dan dalam keadaan trauma. Anda bisa memprediksi apa yang akan terjadi jika Anda gegabah."
Afif menautkan kedua tangannya di depan wajahnya, kedua sikunya bertumpu di atas meja.
'Benar juga, aku tidak mau mentalnya semakin terganggu. Tidak ada yang menjamin kalau tidak ada kemungkinan lainnya yang akan terjadi.'
Afif dilanda bimbang yang luar biasa, semua yang dia rencanakan dulu sudah tidak berjalan sesuai mestinya. Awalnya Afif menikahi Naynay karena rasa bersalahnya memperkosa wanita itu. Tidak ada alasan lain mengapa dia menikahi Naynay selain itu. Tapi hanya dalam waktu satu bulan, Afif sudah jatuh cinta pada bumil menggemaskan itu.
Rencana berpisah setelah anak itu lahir juga sudah Afif hapus dari otaknya. Dia tidak ingin memaksa Naynay untuk terus bersamanya hanya karena anak itu, dia juga berhak bahagia dengan laki-laki yang dia cintai. Tapi itu dulu, karena sekarang Afif akan membuat Naynay selalu bersamanya.
Cerita malam itu bersama Papa mertua.....
"Apa kau tidak akan menerima anak itu?" Pertanyaan Hendrayan sukses membuat Afif terkejut. Pertanyaan itu langsung menghujam jantungnya hingga berdetak tidak normal, lebih cepat dari biasanya.
Hendrayan tertawa masam melihat reaksi tubuh Afif. Dia menyingkirkan papan catur di depannya dan mulai memasang mimik serius.
"Aku tahu kalau kau adalah laki-laki yang memperkosa Naynay," ujar Hendrayan sarkas. "Tidak sulit bagiku untuk mengetahui semuanya."
Sudah Afif duga, dari ucapan Hendrayan yang pertama tadi, dia sudah sadar kalau Hendrayan mengetahui sesuatu. Pertanyaan Hendrayan tentang anak yang dikandung Naynay terlalu mudah ditangkap maksudnya oleh Afif.
"Sepertinya ada kesalahpahaman, Papa Mertua!" ucap Afif tenang. "Aku tidak memperkosanya."
Hendrayan mengangguk kecil mendengarnya. "Jadi, bisa kau jelaskan? Aku ingin mendengar cerita versi dirimu sendiri."
Afif tertawa kecil sebelum wajah datarnya terpasang. "Itu semua sudah direncanakan dengan sangat baik. Seperti biasa, bisnis tidak pernah lepas dari persaingan. Mereka berniat menjatuhkan kita berdua lewat Naynay. Aku tidak sebodoh itu hingga bisa meminum minuman sialan itu, Ryan bisa lengah juga karena rencana mereka."
"Ryan berhasil menggagalkan mereka untuk mengunggah videoku dan Naynay malam itu. Kamarku yang keamanannya paling ketat pun dapat mereka akses, ditambah dengan adanya kamera kecil yang merekam semuanya."
Afif menghela napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya. "Tentang Naynay, aku sudah sepenuhnya dikuasai obat sialan itu hingga menidurinya. Pagi harinya, saat aku mandi, dia pergi dari hotel."
Hendrayan tak bereaksi apapun selain hanya diam mendengarkan. "Apa kau tahu kalau dia adalah anakku?" tanyanya.
Afif mengangguk kecil. "Sudah, dua jam setelah aku keluar dari hotel."
"Jadi itu alasan kau menempatkan beberapa orang mata-mata di sini?"
"Aaaa.. Ternyata Papa Mertua sudah mengetahuinya juga." Afif tersenyum lebar.
__ADS_1
"Kembali ke pertanyaanku tadi, apa kau tidak akan menerima anak itu?" tanya Hendrayan mengingatkan Afif tentang hasil tanam benih tidak disengaja malam itu.
"Mimpi Naynay sudah pupus sejak kejadian itu. Dia terlalu hebat bersandiwara hingga aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Berapa lama kau akan membuat Naynay menjadi istrimu?" tanya Hendrayan lagi.
Afif sendiri bingung. Apa yang harus dia lakukan nanti? Sampai kapan dia akan membuat Naynay menyandang gelar sebagai istrinya? Sampai anak itu lahir atauuu.......
"Lepaskan Naynay setelah anak itu lahir, aku tidak akan melarangmu untuk menemui mereka setelah berpisah nanti. Aku tidak bisa membiarkan anak dan cucuku hidup tanpa dikelilingi orang yang mencintai mereka." Hendrayan pergi setelah mengatakan itu. Meninggalkan Afif yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Dada Afif kembali berdebar tidak karuan mengingat apa yang dia bincangkan dengan Hendrayan dulu. Beruntung dia tidak menjawab apapun saat Hendrayan bertanya tentang berapa lama Naynay akan menjadi istrinya. Dia akan menyesal jika menjawab saat itu.
"Aku akan menunggunya untuk menghilangkan traumanya." Afif kemudian menyibukkan dirinya dengan berkas yang tersusun di meja.
"Saya permisi, Tuan Muda."
*****
"Kak, Nay nggak nyaman." Bumil merengek sambil memilin ujung gaun tidurnya yang sangat pendek. Gaun tidurnya tidak lagi berbentuk piyama, tapi lebih ke lingerie.
Afif meletakkan laptop yang ada di pangkuannya ke atas meja dan berjalan mendekati Naynay yang manyun di samping tempat tidur.
"Cantik lho, Nay." Afif memegang pinggang Naynay dan merapatkan tubuh mereka.
"Nay nggak mau pakai baju ini," rengek Naynay sambil mendongakkan kepalanya hingga napas hangat Afif menerpa wajahnya.
"Pakai ini atau tidak sama sekali?!" Afif mengeluarkan ancaman yang sama-sama merugikan Naynay.
Afif ikut masuk ke dalam selimut dan memeluk Naynay dari belakang. Bibirnya mendarat di pundak Naynay yang terbuka.
"Tidak lama lagi kau akan lulus, sudah punya rencana setelahnya?" tanya Afif di sela-sela mengabsen bagian pundak Naynay dengan bibirnya.
Rencana? Naynay sudah punya semuanya. Lulus dengan nilai terbaik, kuliah di luar negeri, memimpin perusahaan karena Hendrayan sudah tidak muda lagi, dan barulah memikirkan tentang menikah. Tapi semuanya hancur ketika dia hamil. Ya, semuanya. Ketika anak ini lahir, Naynay akan disibukkan dengan mengurus bayi kecil nantinya.
"Nay ngantuk, Kak."
Afif sadar kalau Naynay sedang menghindari pembicaraan mengenai rencananya di masa depan. Dia membalikkan tubuh Naynay hingga bisa melihat wajah imut itu.
"Aku belum mengizinkanmu untuk tidur." Afif menggigit pipi Naynay yang pura-pura tidur itu.
"Ihhh, sakitt!"
Afif tertawa melihat bagaimana Naynay merengek sambil mengusap-usap pipinya yang tadi digigit. Membuat Naynay kesal adalah kebiasaan baru Afif, dia sangat suka melihat segala ekspresi yang terpatri di wajah imut istrinya itu.
"Panggil aku sayang!!" ucap Afif tiba-tiba membuat Naynay terkejut sampai mulutnya terbuka.
Melihat Naynay yang hanya diam, Afif menendang selimut hingga menyingkir dari tubuh Naynay. Tubuhnya sekarang sudah berada di atas tubuh mungil Naynay.
"Kau tidak mau?" Nada bicara itu sudah mulai dingin dan mengandung ancaman tak terlihat.
__ADS_1
Aaaaa... Jantung Naynay menggila ketika tangan dingin Afif menyentuh pahanya. Tubuh Naynay merinding seketika dibuatnya.
Lidah Naynay terasa kaku ketika mencoba menyebut kata "Sayang". Tapi kalau dia hanya diam saja, Afif bisa-bisa membuka bajunya.
"Sa-sayang," ucap Naynay dengan suara lirih.
"Aku tidak dengar." Tangannya sudah naik sedikit.
Naynay menggigit bibir bawahnya menahan geli dan ketakutan. "Sayang!!" ucapnya dengan suara keras.
"Aku tidak menyuruhmu sampai berteriak begitu, tapi aku suka." Hatinya sudah senang dan langsung menyambar bibir Naynay.
Afif agak agresif, ganasnya ciuman yang dia lakukan membuat Naynay ketakutan. Karena insiden dua bulan lalu itu, di dalam ingatan Naynay tertanam berbagai adegan yang tercipta karena rasa takutnya sendiri. Seakan saat kejadian itu Naynay dalam keadaan sadar dan mengingat semuanya.
Menyadari dia sudah kelepasan, Afif melepas ciumannya. Dibawanya tubuh mungil yang mulai bergetar itu ke dalam pelukannya. Afif mengumpat dalam hati, bisa-bisanya dia mencium Naynay seperti tadi hingga istrinya itu ketakutan.
"Jangan sentuh Naynay!!" Naynay berteriak dan memberontak dalam pelukan Afif. Wajahnya sudah dibasahi air mata.
"Ini aku, suamimu." Afif panik mendapati Naynay histeris seperti itu.
Tangisan Naynay mengeras membuat Afif semakin panik. Dia benar-benar tidak menyangka Naynay akan menjadi seperti ini.
"Nay, ini aku. Jangan takut," ucap Afif dengan suara lembut dan menatap manik mata Naynay yang masih tergenang air mata.
"Hiks... Nay takut...." Membalas pelukan Afif dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang itu.
"Aku siapamu?" tanya Afif sembari menciumi pucuk kepala istrinya itu.
"Suaminya Nay." kepala Naynay mendongak menatap Afif. Dia terisak, tapi masih bisa menjawab pertanyaan Afif.
"Iya, aku suamimu. Tenanglah," bisik Afif tepat di depan wajah Naynay.
"Jangan tinggalin Nay."
"Tidak akan, Sayang."
.
.
.
.
.
Makasih udah mau nungguin aku up. Otakku juga lagi blank karena lagi kurang sehat.
__ADS_1