My Perfect Husband

My Perfect Husband
Mencari Naynay


__ADS_3

"Bapak tunggu di sini aja, Nay cuma mau beli nasi goreng di ujung itu aja!" ucap Naynay kepada supir sebelum turun dari mobil.


Naynay segera berbaur dengan orang-orang yang berlalu-lalang di sekitaran gerobak para pedagang kaki lima di sana. Setelah beberapa meter, dia segera masuk ke dalam taksi yang kebetulan mangkal di sana.


"Jalan aja dulu, Pak!" ujar bumil itu ketika supir itu bertanya ke mana tujuannya.


Naynay menghela napas perlahan agar tidak menangis, tapi dia tidak sanggup. Air matanya langsung membanjiri pipinya disertai isakan kecil yang membuat supir di depan merasa bingung.


"Nggak baik ibu hamil nangis, Nona. Yang di dalam perut pasti juga ikut sedih," ucap supir itu sambil memberikan kotak tisu pada Naynay.


Naynay juga tidak ingin menangis, tapi mengingat apa yang dia dengar tadi benar-benar membuatnya hancur. Afif mengatakan kalau anak yang ada di dalam perutnya adalah anaknya. Itu berarti yang memperkosanya saat itu adalah Afif.


Naynay mendengar pembicaraan Afif dan Hendrayan tadi. Dia ingin menyerahkan hp Afif karena ada yang menelepon. Tapi tak disangka, dia malah mendengar fakta yang begitu mengejutkan.


Naynay kecewa dan marah. Dia tidak menyangka bahwa orang tuanya tahu dan merahasiakannya darinya. Kenapa mereka mendukung laki-laki yang telah memerkosanya? Apa karena ancaman Afif dulu? Itu yang membuat Naynay kecewa. Dan lagi, dia bahkan sudah mencintai laki-laki brengsek itu.


Di dalam otaknya, Naynay berpikiran bahwa Afif itu orang jahat. Dia mengingat saat diculik dulu dan tiba-tiba sudah ada di dalam kamar hotel dalam keadaan menyedihkan. Menyimpulkan bahwa Afif adalah laki-laki brengsek yang sengaja berbuat demikian kepadanya. Pokoknya otak Naynay itu sudah dipenuhi dengan kesimpulan yang tidak benar.


Jangan salahkan Naynay, dia yang sedang hamil sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Afif adalah laki-laki jahat yang memerkosanya, hanya itu yang dia tahu sekarang. Naynay masih menangis bahkan ketika mobil sudah melaju selama setengah jam lebih.


"Saya antar Anda ke hotel saja, Nona. Bahaya jika Anda saya turunkan di tempat lain!" ucap supir itu sambil memutar stir memasuki kawasan hotel yang terlihat begitu mewah dan berhenti di depan lobi.


Naynay menghapus air matanya dan membayar ongkos taksi tersebut. "Makasih, Pak."


Naynay keluar dan berjalan memasuki lobi tanpa melihat logo besar yang ada di bagian atas gedung. Belum terlalu malam, jadi hotel terlihat ramai. Naynay yang hanya mengenakan piyama menutupi perut buncitnya itu menjadi pusat perhatian, apalagi dengan mata sembab dengan jejak air mata di pipi. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang, Naynay segera menuju resepsionis.


"Saya mau kamar dengan fasilitas terbaik," ucap Naynay dengan suara kecil sambil menyerahkan black card miliknya ke arah resepsionis itu. Untungnya dia sempat mengambil dompetnya sebelum pergi, itu bukan kartu yang diberikan Afif dulu kepadanya.

__ADS_1


Resepsionis itu dengan cepat memproses data KTP Naynay dan memberikan access card kamar. Dia juga mengantar Naynay langsung karena iba melihat kondisi Naynay yang terlihat tidak baik.


"Selamat istirahat, Nona. Kami siap melayani Anda 24 jam." Resepsionis itu tersenyum manis kepada Naynay setelah pintu kamar terbuka. Sedikit terpesona melihat wanita berwajah imut yang sedang bunting itu.


"Makasih, Kak." Naynay juga tersenyum dan segera masuk ke dalam. Dia ingin mengistirahatkan tubuhnya yang terasa begitu lelah karena menangis lumayan lama.


Setelah merebahkan tubuhnya dengan posisi menyamping ke kiri, Naynay mengelus perutnya. "Kalau memang benar dia adalah papa kamu, apa tujuannya menikahi Mama? Sayang, kamu nggak akan pergi ninggalin Mama, kan?"


Naynay kembali menangis. Dia mulai memikirkan alasan Afif menikahinya jika benar ini anaknya. Naynay mulai meragukan ribuan untaian kata cinta yang Afif ucapkan padanya, mengira hanya omong kosong belaka.


"Mama nggak akan biarin dia ngambil kamu dari Mama!" ucap Naynay sambil menggelengkan kepalanya dengan masih menangis. Otaknya mulai menanamkan pemikiran baru jika Afif menikahinya agar bisa mengambil anaknya jika sudah lahir nanti.


Lelah menangis, akhirnya Naynay tertidur dalam keadaan begitu menyedihkan. Matanya yang bengkak dan pipi yang masih basah oleh air mata.


Sedangkan di rumah Hendrayan, semua orang panik setelah mendapatkan kabar dari supir yang mengantar Naynay bahwa bumil itu hilang. Yang paling panik di sini adalah Afif, dia bahkan tidak bisa fokus hingga berulang kali salah memencet kontak yang ingin dia hubungi.


"Tadi Naynay bilang dia mau beli nasi goreng di tempat bapaknya Nana." Yasmin menangis sambil meremas jemari Hendrayan yang menenangkannya.


Sedangkan Afif sudah berhasil menghubungi nomor Ryan. "Perintahkan semua orang-orangmu untuk mencari istriku sampai ketemu, aku beri kalian waktu satu jam. Jika tidak dapat, habis kau!" ancam Afif dingin dan langsung mematikan panggilan.


Tanpa bicara sepatah kata pun, Afif berjalan cepat keluar dan memasuki mobil Naynay yang ada di garasi. Kunci mobil istrinya itu selalu ada di dalam sana, jadi dia langsung tancap gas ikut mencari istrinya.


Ryan yang sudah memerintahkan ratusan orangnya untuk mencari Naynay, sedang memantau puluhan layar yang merupakan rekaman cctv seluruh ibu kota. Matanya dengan jeli mengikuti pergerakan mobil yang membawa Naynay ke tempat pedagang kaki lima. Setelah itu dia tidak bisa melihat plat taksi yang dinaiki Naynay karena terhalang pot bunga.


Jika saja hp Naynay aktif, maka semua akan lebih mudah. Tapi bumil itu mematikan hpnya karena dia tahu bahwa ke keberadaannya akan diketahui oleh orang-orang Afif dan Hendrayan.


Hp di dalam sakunya berdering, Ryan segera mengangkatnya dan bernapas lega. Anak buahnya berhasil menemukan keberadaan Naynay di salah satu hotel yang merupakan salah satu aset Afif juga. Hotel di mana Afif merenggut kesucian Naynay dulunya.

__ADS_1


"Tuan Muda, nona berada di hotel itu. Pressident suit 235." Ryan langsung saja menghubungi Afif agar segera menuju hotel bersejarah bagi mereka itu.


Afif melajukan mobil dengan begitu cepat menuju hotel yang paling dia hindari itu. Dia juga sudah mendapat kabar dari Hendrayan kalau Naynay terekam cctv mendengar percakapan mereka di ruang kerja tadi.


Sesampainya di hotel, Afif langsung disambut sepuluh bodyguard dan salah satu dari mereka menyerahkan accsess card kamar Naynay. Kedatangannya membuat suasana menjadi tegang karena raut wajahnya yang begitu menakutkan.


Afif memasuki lift khusus yang hanya boleh digunakan oleh dirinya saja menuju lantai di mana kamar Naynay berada. Dia tidak tahu bagaimana menghadapi Naynay nantinya, tapi dia akan jujur.


Setelah lift terbuka, Afif segera keluar diikuti oleh sepuluh bodyguard tadi di belakangnya.


"Jaga di sini secara bergantian!" ucap Afif sebelum masuk ke dalam kamar.


Afif menyusuri setiap ruangan dan akhirnya menemukan istrinya yang sedang tidur disertai isakan yang rupanya belum hilang. Afif menghembuskan napas lega melihat istrinya baik-baik saja, dia mendekat dan naik ke atas tempat tidur.


"Jadi kau sudah tahu, hhmm?" tanya Afif sambil mengelus pipi chubby Naynay yang dipenuhi jejak air mata yang mengering.


"Maafkan aku, ketidakjujuranku pasti membuatmu salah paham." Beralih ke perut buncit Naynay. "Bantu Papa supaya mama nggak marah, ya, Sayang."


Afif kemudian merebahkan tubuhnya dan membawa Naynay ke pelukannya. Dia takut jika ketika bangun nanti Naynay kembali kabur. Tak lupa ciuman hangat penuh cinta dia berikan di jidat istrinya itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Ayo... Afif harus tanggung jawab


__ADS_2