My Perfect Husband

My Perfect Husband
Afif ingin jujur


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Naynay merengek ingin pulang ke rumah Hendrayan. Afif yang masih bergelung di dalam selimut sama sekali tidak bisa menolak permintaan istrinya. Dia segera mandi dan dibantu berpakaian sebelum turun untuk sarapan.


"Kita pindah ke kamar bawah saja, aku khawatir jika kau naik-turun tangga sendirian." Sambil menggandeng tangan istrinya menuruni satu per satu anak tangga besar yang melingkar itu.


Naynay membalas dengan mengangguk pertanda setuju. Dia akan selalu mengikuti perkataan Afif karena ia tahu bahwa apa yang Afif lakukan adalah yang terbaik untuknya.


Di meja makan, Qiara dan Silla sudah duduk menunggu mereka berdua. Sejak Naynay dan Qiara baikan, hubungan Afif dengan adiknya itu juga membaik. Mereka sudah berkomunikasi seperti kakak adik pada umumnya.


Setelah sarapan, mereka langsung berangkat menuju rumah Hendrayan. Rumah mewah itu terlihat sedikit sepi karena setengah pelayan sedang diliburkan.


"Kakak langsung ke kantor?" tanya Naynay sebelum ia turun dari mobil.


"Kalau kau keberatan, maka dengan senang hati aku akan menemanimu seharian." Mata tajam Afif mengerling menggoda Naynay.


"Kalau Kakak sibuk, lebih baik pergi ke kantor aja." Naynay tersenyum sambil meraih tangan suaminya itu untuk dia cium. Jika Afif tidak pergi bekerja, maka seharian dia hanya akan di dalam kamar saja.


Afif tertawa kecil setelah Naynay mencium tangannya, istrinya itu turun dan melambaikan tangan padanya.


Setelah mobil Afif sudah keluar dari gerbang, Naynay segera masuk ke dalam mencari keberadaan anak perempuannya. Ternyata Hendrayan belum berangkat ke kantor, mereka sedang sarapan di meja makan.


"Kebiasaan nggak ngabarin kalo ke sini," ujar Hendrayan ketika Naynay mencium tangannya.


"Mau cepet-cepet ketemu sama anaknya Nay, jadi nggak sempat ngabarin." Naynay tersenyum lebar sambil mendudukkan tubuhnya di kursi samping Araa.


Naynay menciumi pipi Araa yang gembul itu sampai empunya pipi tertawa karena geli. Bibir Araa yang belepotan karena bubur bayi ikut menempel di pipi Naynay.


Hendrayan dan Yasmin sama-sama memperhatikan perut Naynay yang buncit itu. Kurang dari tiga bulan lagi dan cucu mereka akan lahir. Bahagia dan sedih bercampur jadi satu mengingat semua yang dialami anak mereka itu.


"Kamu udah sarapan?" tanya Yasmin sambil menyuapkan Araa bubur bayi. Mulut kecil bayi itu terbuka menerima suapan Yasmin.


"Udah, Ma. Papa nggak kerja?" Naynay menatap Hendrayan yang sedang menyesap kopinya, dia baru menyadari kalau papanya itu hanya memakai baju rumahan biasa.


"Afif belum bilang kalau perusahaan Papa dia yang handle?" tanya Hendrayan menatap Naynay.


"Udah, tapi kenapa?"

__ADS_1


"Papa tetap pergi ke kantor kok, Nay, tapi cuma dua hari sekali. Katanya sih biar punya waktu banyak buat keluarga, tapi kan kamu udah nggak tinggal di sini." Yasmin yang menjawab membuat Naynay menggigit jarinya.


"Hhmm... Kalau Nay tinggal di sini lagi, gimana?" tanya Naynay yang merasa rindu dengan suasana sebelum dia menikah dulu.


Di mana dia berlarian turun tangga karena ingin jogging di pagi hari, tapi ditinggal oleh Hendrayan dan Yasmin. Ada juga saat di mana dia dengan Rosi dan Rania berkemah di halaman belakang rumah ini, mereka sering berkemah di sana di saat akhir pekan.


Naynay merindukan semuanya, semua hal yang bebas dia lakukan dulu. Tapi sekarang, dia sudah menjadi seorang istri yang harus bisa menjaga sikap. Dan dalam keadaan hamil seperti sekarang juga dia tidak bisa lagi bergerak bebas.


Yasmin yang begitu paham dengan pemikiran Naynay langsung berpindah tempat duduk di samping Naynay, dia menyerahkan mangkuk bubur Araa ke Hendrayan sebelumnya.


"Kamu kan bisa kapan aja ke sini, nggak ada yang larang kok. Yang penting kamu itu pergi selalu minta izin terlebih dahulu sama suami kamu. Mama kan udah sering bilang, jangan pikirin apa yang seharusnya nggak kamu pikirin. Kamu mau kalau dedeknya sedih di dalam sini?" tunjuk Yasmin ke perut Naynay.


Naynay menggeleng dengan mata berkaca-kaca." Tapi Nay kangen bisa bebas kayak dulu."


"Nay, kalau kamu ngomong gitu berarti kamu nggak sayang sama anak kamu. Secara tidak langsung, kamu itu mengeluh karena kehadirannya membuat kamu nggak bebas lagi." Yasmin mengelus perut anaknya itu dan mendapat respon tendangan sang cucu.


Naynay menggeleng cepat, menyesali perkataannya sebelumnya. Secara tidak langsung, dia memang mengeluhkan keadaannya yang sedang hamil.


"Udah, sekarang lebih baik kamu bawa Araa main. Dia pasti kangen juga tuh," ucap Yasmin mengalihkan pemikiran buruk Naynay.


*****


Afif memasuki kamar Naynay setelah sebelumnya mengobrol sebentar dengan Yasmin di bawah. Dia melihat Naynay sedang berbaring di karpet bulu bersama Araa yang sedang tengkurap.


"Cium Bubu," ucap Afif sambil berlutut dan membungkukkan tubuhnya untuk mencium Naynay.


"Sekarang anak Ayah." Afif berlarih mencium Araa yang sudah terlentang kembali.


Naynay duduk dan menjepit rambutnya yang terlihat lebih panjang sekarang, Afif melarangnya memotong rambut dengan alasan tidak masuk akal. Suaminya itu mengatakan kalau dia memotong rambut, maka anak mereka akan gundul nantinya.


Naynay berniat untuk memberikan Araa kepada Yasmin, tapi mamanya itu ternyata baru saja ingin mengetuk pintu kamar. Yasmin segera mengambil Araa dan membawanya ke bawah.


"Bantu aku mandi!" Afif menarik tangan Naynay setelah membuka semua kancing bajunya.


Naynay sama sekali tidak menolak karena Afif tidak pernah macam-macam di dalam kamar mandi, mesum Afif hanya kumat jika berhubungan dengan tempat tidur dan baju yang dipakai Naynay.

__ADS_1


Setelah selesai mengurus bayi besar sampai berpakaian, Naynay mengganti bajunya yang sedikit basah dengan piyama lengan panjang yang langsung ditatap tidak suka oleh Afif.


"Nay lapar, ayo turun!" Naynay memeluk pinggang Afif dengan sebelah tangannya dan menariknya keluar kamar. Afif yang tadinya cemberut sekarang jadi tersenyum lagi.


Selama makan malam berlangsung, Hendrayan menatap jengah melihat sikap manis Afif yang terlalu lebay menurutnya. Mulai dari disuapi makan, sampai curi-curi ciuman di pipi Naynay.


"Aku perlu bicara padamu, di ruang kerjaku!"ujar Hendrayan tiba-tiba setelah mereka semua selesai makan. Ucapannya ditujukan kepada Afif yang menatap santai padanya. Setelah itu Hendrayan pergi menaiki tangga menuju ruang kerjanya.


"Aku ke atas dulu." Mencium jidat Naynay sebelum pergi menyusul mertuanya.


Afif segera masuk tanpa mengetuk pintu, dia duduk di depan Hendrayan yang duduk di sofa single. Afif tersenyum mengejek melihat tatapan tidak bersahabat dari papa mertuanya.


"Ada apa, Papa Mertua? Hal penting apa yang akan kita bicarakan?" tanya Afif santai sambil melipat kedua kakinya.


"Aku hanya ingin bertanya soal Naynay, kapan kau akan jujur padanya?" tanya Hendrayan sambil melirik kalender yang ada di atas meja. Memberi kode pada Afif bahwa sebentar lagi anaknya akan lahir.


"Tidak tahu, mungkin saja aku tidak akan pernah memberitahu Naynay kalau anak yang dia kandung adalah anakku." Ekspresi Afif masih santai, tapi berbanding terbalik dengan hatinya yang tiba-tiba berfirasat tidak baik.


"Kurang dari tiga bulan lagi dan Naynay akan melahirkan. Aku memaksamu untuk segera jujur, tidak baik jika ini ditutupi lebih lama." Mata Hendrayan menajam menatap Afif.


"Aku akan mengatakannya nanti, saat ini aku hanya perlu memikirkan kata-kata yang akan aku ucapkan." Afif dengan tidak sopannya pergi meninggalkan Hendrayan yang sakit kepala melihat tingkah menantu durhakannya itu.


Afif membuka pintu kamar dan tidak mendapati Naynay ada di dalam. Dia juga mengecek kamar mandi dan ruang ganti, tapi istrinya itu juga tidak ada. Afif kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Mungkin Naynay masih di bawah bersama Yasmin dan Araa, pikirnya.


Dan di bawah sana, ada mobil yang baru saja keluar dari gerbang.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Apa yang terjadi selanjutnya.....


__ADS_2