
"Kenapa rasanya hubunganku dengan Gea seperti tidak ada progress ya? Apa aku harus menyerah atau berusaha mendekati wanita lain? Tapi siapa aku? Aku sedang menyamar menjadi pria miskin. Siapa yang mau dekat denganku?" gumam Brian sembari merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Apa kau meminta bantuan noona, saja ya. Gea kan belum mengenal noona Belinda." Brian bergegas bangun dari tempat tidur dan malam itu berangkat menuju rumah Arthur.
-
''Jadi kedatanganmu kemari hanya untuk itu?'' kesal Belinda pada adik bungsunya. Istirahatnya dan waktu mesranya bersama Arthur terganggu.
''Hehehe, iya noona. Habisnya aku bingung bagaimana cara menalukkan Gea.''
''Memangnya Gea yang mana sih?'' tanya Arthur.
''Itu Kak, yang jual dessert box di area dreamland itu lho.''
''Oh jadi kamu menyukai gadis itu?''
''Lebih dari suka sih, Kak.''
''Hmmm masa iya seorang playboy kesulitan meluluhkan hati wanita.'' Sindir Arthur.
''Ya, posisiku saat ini kan sedang menyamar, Kak. Sudah pasti susah untuk merayunya. Apalagi dia memiliki trauma percintaan masa lalu.''
''Hmmm baru kali ini aku melihat seorang Brian dibuat resah dan gelisah oleh seorang wanita.'' Sambung Belinda sambil menggelengkan kepalanya.
''Ayolah Kak, kasih ide dan bantu aku.'' Rengek Brian.
''Memang dia ini wanita seperti apa sih? Sampai susah di taklukkan.''
''Ya, dia hampir mirip karakternya sama Mama lah.''
''Saranku, jauhi dia. Bersikaplah seolah kamu menyerah. Nanti dia akan penasaran. Dan disini harus ada pemeran pembantu yaitu noona mu ini.'' Saran Arthur.
''Aku tidak mau! Lebih baik aku melayanimu saja daripada harus membantunya sayang.''
''Ayolah noona. Noona disini akting sebagai atasan aku yang punya perhatian lebih padaku. Jadi noona harus nyamar juga, hehehe.''
''Kamu benar-benar merepotkan Brian.'' Ketus Belinda.
''Ya, tidak lama Kak. Aku ingin membuatnya merasa cemburu.''
''Astaga, satu keluarga kamu ajak bermain drama. Bagaimana kalau ketahuan? Gea pasti akan sangat kecewa. Bukan hanya denganmu tapi juga dengan kita semua. Dia pasti menganggap kalau kita mempermainkan dia.''
''Apa yang di katakan oleh noona mu benar juga, Brian. Sebaiknya kamu sudahi saja semuanya dan kejar dia dengan jati diri kamu yang sesungguhnya. Yang penting kamu tahu kalau dia adalah gadis baik-baik yang pantas untuk kamu. Kalau dia akhirnya jatuh cinta sama kamu dan kamu jujur padanya, itu akan lebih menyakitkan. Bisa jadi dia akan semakin membenci kamu dan keadaannya semakin rumit.'' Jelas Arthur. Brian terdiam sejenak, mencoba menelaah ucapan Arthur.
__ADS_1
''Apa yang kalian katakan ada benarnya juga. Tapi bagaimana caranya aku mengakhirinya?''
''Tidak usah basa-basi. Langsung bergabung di perusahaan sebagai putra generasi ke dua setelah Arsen. Karena kamu dan Arsen dua pria yang akan mengemban tanggung jawab besar ini.''
''Apa yang di ucapkan Kak Arthur benar, Brian. Aku sebagai wanita jika berada di posisi Gea terus semua penyamaranmu terbongkar, aku juga pasti akan marah dan kecewa. Dan saat itu juga aku akan pergi meninggalkan semuanya.''
''Yahh noona, ucapanmu malah membuatku takut kehilangan Gea.''
''Saat ini jujur lebih baik, Brian. Kembali lah ke rumah dan bantu hyung mu mengurus perusahaan. Dengan kamu menghilang, Gea akan bertanya-tanya. Ya, pokoknya atur sendiri terserah kamu lah. Aku jadi ikutan pusing memikirkannya.'' Kata Arthur sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
''Baiklah kalau begitu, besok aku akan menemui Papa dan Hyung.''
''Ya sudah, sekarang kamu pulang sana. Mengganggu pengantin baru saja.''
''Aku menginap disini ya Noona.''
''Tidak boleh! Pulang!" kata Belinda dengan tegas tanpa basa-basi.
''Huft, baiklah aku pulang. Terima kasih untuk semua sarannya.''
''Hati-hati Brian.'' Pesan Arthur.
''Iya Kak.'' Sekalipun sudah mendapatkan solusi tapi tetap saja wajah Brian murung. Ya, karena Gea masih belum memberikannya jawaban. Dan saat perjalanan pulang, hujan pun turun dengan lebatnya. Brian menerobos hujan dengan motor bututnya, sepertinya air hujan bisa sedikit membantunya menenangkan hati dan pikirannya yang sedang di landa kegundahan.
''Selamat pagi istriku sayang.'' Sapa Arsen dengan ramahnya. Membawa nampan berisi sarapan untuk Sheena. Sementara Sheena baru saja bangun dari tidurnya.
''Sayang, kamu kok sudah rapi. Kok tidak membangunkan aku? Jam berapa ini?'' kata Sheena sambil mengucek matanya. Ia kemudian bangun dan duduk.
''Jam 7 sayang. Sudah tidak apa-apa. Aku tidak tega membangunkanmu. Aku membawakan sandwich dan segelas susu ibu hamil untuk kamu.''
''Terima kasih suamiku. Kamu baik dan pengertian sekali. Kamu sudah sarapan?''
''Sudah sayang. Aku pagi justru sarapan nasi goreng kesukaan kamu. Selera makan kita benar-benar tertukar.'' Ucap Arsen seraya tertawa kecil.
''Iya ya, aneh memang.'' Kekeh Sheena. Pagi itu Arsen menemani Sheena sarapan. Tampak Sheena makan dengan begitu lahap. Dan itu membuat Arsen senang sekali.
''Habis ini kamu mandi ya.''
''Mandiin ya?'' pinta Sheena.
''Yang ada bukannya mandi tapi malah yang lain. Memangnya kamu lagi pingin ya sayang?''
''Iya. Semalam aku kan tidur duluan.''
__ADS_1
''Senang rasanya kalau istri minta duluan. Baiklah, aku akan melepaskan kembali pakaianku dan mandi pagi dua kali.'' Ucap Arsen dengan begitu semangat. Akhirnya sebelum berangkat ke kantor, Arsen menyempatkan waktu tiga puluh menit untuk bercumbu mesra dengan istrinya. Saling memuaskan dan melepas hasrat masing-masing.
Sementara itu Gea sudah siap berangkat ke kantor. Namun sebelum itu, ia terlebih dahulu menemui Brian. Memastikan saja ingin berangkat sendiri atau berangkat bersama.
''Brian! Kamu sudah bangun kan?'' panggil Gea sambil mengetuk pintu rumahnya. Namun Brian sama sekali tidak menyahut.
''Apa dia sudah berangkat ya? Tapi motornya masih di halaman.'' Gumamnya. Gea akhirnya mencoba membuka pintu dan ternyata tidak di kunci.
''Brian!" Gea memanggil Brian sembari melangkah masuk lebih dalam. Rumah tampak sepi. Akhirnya Gea memutuskan untuk membuka pintu kamar Brian. Dan Gea melihat Brian masih meringkuk di atas tempat tidur.
''Ya ampun Brian! Kamu kok masih molor sih.'' Kesal Gea. Gea kemudian mengguncang pelan tubuh Brian.
''Brian ayo bangun.'' Ucap Gea. Gea dengan kesal membuka selimut yang menutup seluruh tubuh Brian. Gea di buat terkejut karena wajah Brian pucat dan tampak menggigil di balik selimut.
"Brian, kamu kenapa?" Gea begitu khawatir , sementara Brian tidak bisa menjawab. Di sentuhnya kening Brian dan ternyata Brian demam.
"Ya ampun, kamu panas banget." Gea segera menuju dapur mengambil air dan handuk kecil untuk mengompres kening Brian.
"Brian, kenapa bisa begini? Kalau memang tidak enak badan, kenapa tidak memanggilku." Ucap Gea sembari mengompres kening Brian.
"Kamu sudah sarapan?" pertanyaan Gea hanya mendapat gelengan pelan dari Brian.
"Aku buatkan bubur untukmu ya." Gea pun bergegas menuju dapur membuatkan bubur dan teh hangat untuk Brian. Gea lalu mencari kotak obat dan ia merasa lega menemukan obat penurun demam. Tiga puluh menit kemudian, Gea kembali ke kamar Brian.
"Brian, ayo bangun. Aku sudah membuatkanmu bubur." Ucap Gea sembari membantu Brian bangun dari tidurnya. Gea lalu meletakkan bantal untuk mengganjal punggung Brian. Supaya Brian bisa bersandar dengan nyaman.
"Aaaaaa.... buka mulutmu." Perintah Gea dengan lembut. Brian menurut dan menerima suapan dari Gea.
"Kita ke dokter ya? Wajahmu pucat dan demam mu tinggi sekali."
"Tidak perlu. Aku istirahat saja," jawab Brian dengan lirih. Sembari menyuapi punggung tangan Gea sedari tadi tidak berhenti menyentuh wajah dan leher Brian. Berharap demam Brian segera turun. Membuat sepasang mata Brian menguncu titik wajah Gea. Jantungnya berdegup kencang.
"Sudah Ge," ucap Brian pelan.
"Baru juga beberapa suap. Ayo habiskan! Setelah ini minum obat ya." Gea kembali membujuk dan berhasil membuat Brian menghabiskan bubur buatannya. Gea kemudian membantu Brian untuk meminum obat.
"Kalau demam mu nanti siang belum turun, aku akan membawamu ke dokter." Ucapan Gea mendapat anggukan dari Brian. Gea lalu membantu Brian berbaring lagi. Saat Gea hendak beranjak, tiba-tiba tangan Brian menghentikannya.
"Ge, jangan kemana-kemana. Jangan tinggalkan aku." Kata Brian lirih dengan mata terpejam. Mendengar ucapan Brian yang menyentuh hatinya, membuat Gea urung beranjak dan kembali duduk di tepi ranjang. Brian memiringkan tubuhnya dan memeluk tangan Gea. Seperti seorang bocah yang takut ditinggal oleh Ibunya.
"Iya, aku akan disini menemanimu." Jawab Gea pelan. Dan hari itu, Gea pun mengambil cuti kerja demi menemani Brian.
"Tuhan, haruskah aku membuka hati untuknya? Dia pria yang baik dan melihatnya tidak berdaya seperti ini, membuatku takut kehilangan dia." Gumam Gea dalam hati.
__ADS_1
Halo....Aku kembali, maaf ya terlalu lama menggantung ceritanya, makasih ya udah suabarrrr banget buat nunggu, hehehe