My Perfect Husband

My Perfect Husband
Naynay sakit


__ADS_3

Sinar matahari masuk melalui jendela yang tirainya tidak tertutup. Mengusik salah satu penghuni kamar yang malam tadi melakukan olahraga panas untuk pertama kalinya setelah tiga bulan menikah.


Afif membuka matanya ketika cahaya matahari yang masuk menyorot langsung ke matanya. Yang pertama dia lihat adalah wajah Naynay yang begitu dekat dengan wajahnya. Mengingat apa yang terjadi tadi malam, Afif tersenyum dan mencium kening Naynay.


Kening Afif berkerut karena merasakan suhu tubuh Naynay panas. Afif menyentuh kening dan leher Naynay dengan punggung tangannya, Naynay demam. Afif langsung turun dari tempat tidur dan masuk ke ruang ganti untuk memakai baju.


Selesai memakai baju, Afif meraih hpnya dan menelepon Nathan untuk segera datang. Setelah menghubungi dokter tampan itu, Afif menghampiri Naynay kembali. Dia sudah membawakan baju untuk istrinya itu.


"Nay," panggil Afif sambil menepuk-nepuk lembut pipi Naynay. Butuh beberapa saat hingga akhirnya Naynay membuka matanya.


"Badanmu panas, pakai bajumu dulu!" Afif membantu Naynay duduk dan langsung memakaikan baju terusan selutut dengan lengan pendek pada istrinya itu.


Naynay mengernyitkan dahinya ketika melihat tubuhnya hanya ditutupi selimut saja. Sedetik kemudian dia tersadar dan segera sembunyi di dalam selimut setelah Afif selesai memakaikannya baju tanpa dalaman.


Di dalam selimut itu Naynay meringkuk seperti bayi sambil menggigit jari telunjuknya. Wajahnya sudah seperti tomat saking merahnya. Otaknya kembali memutar kejadian tadi malam hingga dia memukul pelan kepalanya.


'Apa aku benar-benar melakukannya tadi malam?'


'Suara sialan itu bukan suaraku, kan?'


'Astaga, apa yang harus aku lakukan?'


Afif yang melihat selimut bergerak-gerak karena ulah Naynay pun tersenyum. Tangannya dengan usil menyelinap ke bawah selimut dan memegang betis Naynay.


"Aaaaa!!!" Terdengar teriakan Naynay karena kaget.


"Keluar!" ucap Afif sambil menarik selimut di bagian kepala Naynay. Tapi Naynay menahan selimut hingga hanya hidung ke atas saja yang terlihat. Mata bumil itu mengerjap-ngerjap berharap Afif tidak membahas kejadian tadi malam.

__ADS_1


"Kenapa kau bersembunyi?" tanya Afif sambil merebahkan tubuhnya di samping Naynay yang masih terbungkus selimut.


"Hhmm... Nay cuma kedinginan aja," balas Naynay tergugup.


Afif menyibak selimut dan ikut masuk, kemudian memeluk Naynay. Dia tersenyum miring ketika melihat wajah Naynay yang masih memerah.


"Apa tubuhmu terasa sakit?" tanya Afif yang sebenarnya ingin menggoda Naynay.


"Nggak, Nay baik-baik aja." Bumil itu mengulas senyum masam dengan wajah yang makin memerah.


"Kalau begitu, ayo kita lakukan lagi!" ujar Afif dengan tangan yang sudah bergerak liar di paha Naynay. Susah payah menahan tawa karena melihat kening Naynay yang berkerut akibat panik.


"Nay, ayo!" Afif bergerak memposisikan tubuhnya di atas Naynay dan membuang selimut ke lantai.


Wajah mereka begitu dekat, Naynay segera memutar kepalanya ke samping agar tidak bersitatap dengan Afif.


Naynay memejamkan matanya ketika napas Afif menerpa lehernya, itu berarti laki-laki itu sudah menurunkan wajahnya hingga ke lehernya. Naynay sekarang bisa merasakan ada yang lembut dan basah sedang bergerak di lehernya.


Satu erangan lolos dari bibir Naynay, disusul suara lainnya walaupun sudah dia tahan agar tidak keluar. Afif semakin liar, tangannya sudah menyusup di dalam baju Naynay dan memainkan bagian dada Naynay.


"Tuan Muda, dokter sudah datang." Terdengar suara Pak Hen dari luar diiringi suara ketukan pintu.


Afif berdecak kesal dan turun dari tempat tidur. Dia memungut selimut yang sempat dia buang tadi dan menutupi tubuh Naynay hingga dada. Setelah itu dia berjalan membukakan pintu dan menyuruh dokter masuk.


"Selamat pagi, Tuan Muda. Saya diminta Dokter Nathan untuk datang memeriksa nona Nay," ucap Dokter Melisa sopan. Percuma saja jika Nathan sendiri yang datang, toh ujung-ujungnya dia juga tidak bisa menyentuh Naynay sedikit pun. Afif hanya membalas dengan anggukan dan memberi kode agar segera memeriksa Naynay.


"Selamat pagi, Nona Nay." Dokter Melisa menyapa Naynay dengan senyum manisnya dan mulai mengeluarkan peralatannya.

__ADS_1


"Baik, Dokter." Naynay tersenyum membalas sapaan dokter muda tersebut.


Dokter Melisa mulai memeriksa Naynay. Karena Naynay adalah pasien khusus, jadi dia harus memeriksa melakukannya seteliti mungkin agar diagnosanya tidak salah nantinya.


"Nona Nay hanya demam biasa, sepertinya Nona mengalami shock hingga tubuhnya memberi reaksi demam. Saya tidak meresepkan obat, Nona hanya perlu dikompres saja hingga panasnya turun." Dokter Melisa menjelaskan keadaan Naynay sambil mengemasi peralatannya kembali.


Setelah dokter muda berhijab itu pamit, Afif ikut pergi ke luar kamar. Tak lama kemudian, dia kembali dengan membawa baskom kecil berisi air hangat dan handuk kecil di pundaknya. Dia duduk di pinggir tempat tidur dan mulai membasahi handuk dengan air hangat itu.


"Masa cuma karena kejadian itu saja kau sampai demam," ujar Afif sambil meletakkan handuk yang sudah dia peras di kening Naynay.


Naynay demam memang karena kejadian tadi malam, dia terkejut sampai tubuhnya bereaksi demikian. Dia masih tidak menyangka bahwa mereka melakukannya tadi malam, sebenarnya dia malu mengingatnya. Tapi Naynay tidak munafik, rasanya memang enak.


Afif naik ke atas tempat tidur setelah meletakkan baskom di atas nakas. Dia merebahkan tubuhnya dengan kepala bersandar di sandaran tempat tidur.


"Kau masih berpikiran untuk berpisah dariku?" tanya Afif sambil mengusap rambut Naynay.


Naynay tiba-tiba memucat mendengar pertanyaan Afif. Kenapa dia bisa tahu tentang rencana bercerai itu? Pikir Naynay gelisah.


"Aku tidak akan melepaskanmu, tidak akan pernah ada yang namanya perceraian!" ujar Afif dengan mimik wajah serius yang sontak membuat Naynay menoleh padanya.


"Tapi..."


"Jangan pikirkan tentang itu, sekarang dia adalah anakku. Aku adalah papanya, dan tidak ada yang berhak selain aku." Afif memotong perkataan Naynay yang pastinya akan membahas tentang anak itu. Terselip sebuah fakta pada ucapannya itu bahwa dia adalah papa malaikat kecil di perut Naynay itu.


Afif menurunkan tubuhnya hingga berbaring sempurna dan membawa Naynay ke dalam pelukannya."Aku mencintamu, anak di dalam kandunganmu, Araa, semua yang menyangkut dirimu. Sedikit pun kau sama sekali tidak memiliki celah untuk pergi dariku, aku bisa berbuat kasar jika itu bisa membuatmu tetap menjadi milikku!" ujar Afif serius dan mengecup puncak kepala Naynay.


Naynay terdiam, dia tidak bisa berkata apa pun sekarang. Mendengar bahwa Afif mencintainya dan semua yang menyangkut tentangnya membuat Naynay terkejut namun juga senang. Dia membalas pelukan Afif sambil memasukkan tangannya di dalam kaos Afif hingga menyentuh punggung suaminya itu.

__ADS_1


Ancaman Afif tidak main-main, dia akan melakukan semuanya agar Naynay selalu menjadi istrinya, walau berbuat kasar sekalipun. Dia mencintai Naynay bukan karena wanita itu mengandung anaknya, tapi memang karena hatinya benar-benar terpaut pada hati Naynay. Cinta yang begitu besar dia persembahan hanya untuk Naynay, Afif bisa menjamin bahwa tidak akan pernah ada yang namanya wanita lain di hidupnya. Hanya Naynay dan akan selamanya Naynay.


__ADS_2