
Silla dan Qiara berjalan keluar bandara dengan menyeret koper yang mereka bawa, tak lupa kacamata bening dan masker putih menutupi wajah cantik mereka. Walaupun tidak ada yang tahu hubungan mereka dengan Afif, tapi mereka sering masuk berita dengan beberapa foto bersama orang-orang Cavin Group yang diambil paparazi.
Mereka segera masuk ke dalam mobil hitam yang sudah menunggu di parkiran. Laki-laki yang duduk di kursi kemudi pun mulai melajukan mobil menuju rumah di mana Afif dan yang lainnya berada.
"Aku mengantuk, bangunkan aku kalau sudah sampai, ya!" ucap Silla pada Qiara yang duduk di sampingnya.
"Oke," balas Qiara yang yang tahu Silla kelelahan karena tidak tidur 24 jam untuk menyelesaikan semua urusannya sebelum berangkat. Silla yang seangkatan beda sekolah dengan Naynay, pastinya sibuk dengan urusan kampusnya. Ditambah lagi dia maba cantik yang pastinya mengalami hari-hari berat meladeni kating yang iri padanya.
Silla tidur dengan kepala yang bersandar di bahu Qiara. Ryan sesekali melihat wajah gadisnya itu dari spion tengah mobil. Tidak ada yang berubah dari gadis itu, kecuali hatinya yang dulu pernah ditempati seorang Ryan.
Mobil berhenti di depan pintu utama, Ryan keluar dan membukakan pintu mobil untuk Qiara.
"Tolong Qia," ucap Qiara pada Ryan sambil menunjuk Silla yang masih tidur anteng di sampingnya.
Ryan memutari mobil dan membuka pintu, dia menahan tubuh Silla agar Qiara bisa keluar. Ryan sangat tahu kalau Silla itu sangat susah dibangunkan jika sudah tidur. Dia menggendong gadis itu dan membawanya masuk menuju kamar gadis itu.
Ryan membaringkan tubuh Silla di atas tempat tidur, tak lupa membuka sepatu yang dipakai gadis itu juga. Ryan masih duduk di tepi ranjang, memandangi wajah cantik alami gadisnya yang masih lengah dengan mimpinya. Diusapnya kepala Silla sebelum dia beranjak keluar dari kamar itu.
Kaki panjang Ryan melangkah masuk ke dalam kamar yang memang khusus untuknya. Membuka jasnya, dia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan kasar dan menutup wajahnya dengan sebelah lengannya.
"Silla," gumamnya lirih. Dia memejamkan matanya karena merasa lelah. Ryan bisa tidur di kamar ini sekarang karena ada Silla di dekatnya, jika tidak, maka dia akan memutuskan untuk tidur di mobil.
Kecelakaan Silla dua tahun lalu membuat Ryan trauma, terutama dengan kamar. Malam itu Silla yang baru pulang les minta dijemput, kangen katanya. Dia menelepon Ryan puluhan kali, tapi tidak mendapat jawaban. Silla berpikir, mungkin kekasihnya itu sedang sibuk.
Silla memutuskan untuk naik taksi saja, kebetulan ada taksi yang lewat. Dia duduk dengan tenang di belakang sambil mengirim pesan pada Ryan bahwa dia sudah dalam perjalanan pulang.
__ADS_1
Baru saja pesan terkirim, bunyi klakson mobil yang memekakkan telinga terdengar. Silla bisa melihat ada truk besar dari arah berlawanan sebelum tubuhnya terhuyung dan kepalanya membentur kaca mobil begitu keras.
Taksi yang ditumpangi Silla menabrak pembatas jalan sebelum akhirnya terguling dan terbalik. Darah bercucuran dari kepala dan bagian tubuhnya yang lain. Dengan penglihatan yang mulai buram, dia dapat melihat banyak orang berpakaian hitam mendekat. Akhirnya gelap, Silla tidak sadarkan diri.
Sedangkan Ryan, laki-laki itu bangun dari tidurnya dengan peluh yang membasahi tubuhnya. Mimpi buruk kehilangan Silla dan pintu kamarnya yang digedor-gedor membuat dadanya berdebar keras. Ryan segera membuka pintu kamarnya dan melihat anak buahnya berdiri di depan pintu.
"Nona Silla, dia kecelakaan."
Pupil mata Ryan membesar mendengarnya. Dia masuk kembali ke kamarnya untuk mengambil hp dan memakai bajunya. Dengan baju kaos dan celana pendek selutut, anak buahnya membawanya ke rumah sakit di mana Silla sedang ditangani.
"Kenapa bisa terjadi?" tanya Ryan menatap tajam anak buahnya yang sedang menyetir di sampingnya.
"Taksi yang ditimpangi Nona Silla menabrak pembatas jalan sebelum akhirnya terguling, itu karena menghindari truk dari arah berlawanan yang hilang kendali."
Ryan langsung turun dari mobil ketika sudah tiba di rumah sakit, dia berlari menuju UGD. Dia melihat beberapa orang dokter dan perawat keluar masuk ke dalam sana dengan mambawa banyak kantong darah.
Ryan menunggu di depan pintu dengan wajah cemas, susah payah menahan segala emosi yang seakan mau meledak. Dia menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi, apa yang terjadi pada Silla-nya.
Setelah menunggu lebih dari satu jam, akhirnya Silla dipindahkan ke ruang perawatan khusus. Dokter menjelaskan pada Ryan bahwa Silla mengalami benturan yang keras di kepalanya, kaki kiri dan beberapa tulang rusuknya patah. Ryan tidak bisa menahan setetes air matanya ketika dokter menyatakan kalau gadisnya koma. Ada kemungkinan untuk sadar, dan ada juga kemungkinan untuk tidur selamanya.
Di situlah trauma Ryan bermula, dia tidak bisa tidur di kamar manapun, kecuali kamarnya sendiri dan kamarnya di rumah Afif. Dan tidur di mobil, Ryan merasa tenang di sana karena dia merasa Silla yang dulu ada di sana. Andai saja dia tidak tidur, andai dia menjemput Silla waktu itu, maka semuanya mungkin tidak akan seperti ini. Mungkin sekarang Silla masih sering membuatkannya makanan dan mengusilinya.
Sekarang tidak ada lagi Silla yang memanggilnya dengan panggilan 'Kak Iyan', tidak ada lagi Silla yang merengek manja jika meminta sesuatu darinya. Ya, semuanya berubah. Dan Ryan masih menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi sampai sekarang. Kata 'andai' masih menguasai otaknya.
*****
__ADS_1
Di kamar utama rumah mewah ini, drama suami istri berlangsung. Naynay yang imut dan menggemaskan itu sedang menangis karena Afif menggigit lengannya hingga memerah. Jejak gigitan itu membekas jelas hingga bumil itu menangis kesal dan juga karena sakit.
Afif menggaruk kepalanya kesal, susah sekali menahan dirinya jika sudah berada di dekat istrinya itu. Tadi awalnya cuma cium-cium leher Naynay, namun karena gemas, dia pun menggigit lengan istrinya itu. Dan inilah akibatnya sekarang, dia harus menenangkan bumil yang menangis sesegukan sambil mengusap lengannya yang memerah.
"Maaf, Sayang. Cup... Cup.. Cup... Jangan nangis lagi, ya." Afif mengecup tiga kali bagian yang dia gigit tadi.
Naynay menggeser tubuhnya menjauh dari Afif, dia takut kena gigit vampir lokal itu lagi.
"Ada ice cream di bawah, mau?" tanya Afif setelah mengingat ada makanan manis penyelamatnya di dalam lemari pendingin.
Isakan Naynay langsung berhenti, dia menghapus air matanya dengan cepat dan menarik tangan Afif turun dari atas tempat tidur. "Ayo!"
Afif tertawa tanpa suara karena akhirnya istrinya tidak marah pagi padanya. Dia membawa istrinya ke dapur dan memberikan makanan dingin manis lumer itu.
.
.
Vote, ya, Kakak Onlen...
Naynay dan Afif nunggu masuk ranking voteðŸ˜ðŸ˜
.
.
__ADS_1