
Arsen sungguh tidak bisa menahan rasa gelisahnya. Ia yang biasa tenangpun untuk kali ini tidak bisa menahan rasa gelisah dan khawatirnya. Duduk, berdiri, mondar- mandir dan itu membuat Arthur menjadi kesal. Arthur lalu menarik tangan Arsen dan memintanya duduk.
“Duduklah! Aku lelah melihatmu mondar-mandir seperti itu.”
“Aku tidak bisa tenang.” Kata Arsen.
“Memangnya kamu saja. Lihatlah kami semua juga tidak tenang dan khawatir. Sebaiknya duduk dan berdoalah.” Ujar Arthur.
Arsen lalu mencoba untuk tenang dan terus berdoa untuk kelancaran operasi Sheena. Setelah menunggu kurang lebih satu jam, lampu pada ruang operasi pun akhirya padam juga. Tak lama kemudian, dokter pun keluar.
“Bagaimana dokter keadaan istri saya?”
“Operasinya berjalan lancar Tuan. Pasien akan segera dipindahkan keruang rawat inap.”
Semua pun bersyukur dan merasa lega mendengar apa yang dokter katakan.
“Syukurlah, terima kasih dokter sudah melakukan yang terbaik untuk istri saya.”
“Sama-sama Tuan. Kalau begitu saya permisi.”
“Iya dokter silahkan.” Ucap Arsen.
Arsen dan Arthur reflek saling berpelukan. “Aku lega sekali mendengarnya Arthur.”
“Iya, Arsen. Syukurlah kalau Sheena baik-baik saja.” Ucap Arthur.
Sore harinya, Sheena sudah tersadar pasca operasi. Perlahan Sheena mengerjapkan matanya. Sheena menyunggingkan senyumnya, melihat semua orang berkumpul di ruangannya.
“Hai Eonni, maaf ya baru datang.” Sapa Belinda dengan senyum manisnya. Belindalah yang pertama kali menyapa Sheena dengan wajah cerianya.
“Tidak apa-apa, Bel. Terima kasih ya sudah mau menjengukku.”
“Sama-sama Eonni. Eonni cepat sembuh ya. Aku bawakan eonni buah. Eonni harus makan yang sehat-sehat supaya segera pulih.”
“Iya terima kasih, Bel.” Ucap Sheena.
“Ayah lega sekali karena semuanya berjalan lancar, Nak.”
“Iya Ayah. Semua ini berkat doa kalian semua. Sheena bahagia sekali memilik kalian semua. Aku merasa sangat disayangi.”
Nyonya Sofi lalu memeluk putrinya dan mengecup wajah Sheena. “Sayang, Mama lega sekali kamu bisa melewati ini semua. Mama sangat khawatir karena kamu harus berjuang sendiri di dalam.”
“Tapi semua itu sudah terlewati, Mah. Sheena akan sembuh dengan cepat karena ada kalian semua disini.”
“Iya sayang.”
Arsen kemudian meminta mereka semua untuk pulang karna hari sudah mulai petang. Kini tinggalah mereka berdua di alam ruangan.
“Sudah waktunya makan malam Sheena jadi makanlah. Aku akan menyuapimu.”
“Tapi katanya masakan rumah sakit itu tidak enak.”
__ADS_1
“Bukan tidak enak tapi ini makanan sehat tanpa msg dan pengawet. Sudah jangan cerewet, kalau ingin cepat sembuh makanlah makanan yang sehat.”
“Mulai deh cerewetnya,” gumam Sheena.
“Ayo buka mulutmu!” ucap Arsen. Sheena pun menurut dan makan dari suapan Arsen. Selama tiga hari dirumah sakit, Arsen begitu intens merawat Sheena. Semua pekerjaan ia pasrahkan pada Soni dan Mega, sekretarisnya. Ia hanya ingin fokus pada kesembuhan Sheena.
-
Setelah tiga hari dirawat dirumah sakit, akhirnya Sheena di perbolehkan untuk pulang. Sheena sangat senang akhirnya bisa kembali ke rumah. Tiga hari di rumah sakit benar-benar membuatnya jenuh.
“Jangan banyak gerak dulu ya. Tidak usah memikirkan rumah atau memasak untukku. Lukamu masih dalam masa penyembuhan.”
“Iya aku mengerti. Arsen, kalau kamu mau ke kantor berangkatlah.”
“Aku akan meminta Belinda kesini selama aku kerja. Tapi besok saja aku akan ke kantor. Istirahatlah, aku keruang kerjaku dulu.”
“Iya baiklah.”
Saaat Arsen hendak menuju ruang kerjanya, ia mendengar bel pintu rumahnya berbunyi. Arsen pun bergegas menuju pintu utama.
“Selamat siang Tuan.” Sapa Lila, sahabat Sheena.
“Lila! Masuklah.”
“Maaf Tuan mengganggu. Saya datang kemari ingin menjenguk Sheena.”
“Sheena ada di kamar. Mari aku antar.” Ucap Arsen.
“Terima kasih Tuan.”
“Sheena, ada yang mencarimu.” Ucap Arsen saat membuka pintu kamarnya.
“Lila!” seru Sheena saat melihat sahabatnya itu. Lila lalu mendekat dan memeluk sahabatnya. Arsen kemudian berlalu menuju ruang kerjanya dan membiarka kedua sahabat itu berbincang-bincang.
“Lila, elo kemana aja? Kenapa nggak pernah hubungin gue?”
“Sheen, elo kan istri bos gue, mana berani gue. Lagian gue juga habis ambil cuti.”
“Ya ampun, Lil. Kita ini tetap teman dan sahabat. Memang iya sih, sejak nikah gue nggak pernah kemana-mana. Kita nggak bisa seintens dulu.”
“Gue mau main kerumah elo juga nggak enak, Sheen. Apalagi setelah tahu ternyata orang tua kandung elo Tuan Darwin Winata. Udah deh, gue semakin nggak enak mau telepon atau ngajakin elo nongkrong kayak dulu. Gue juga ikut sedih yak arena sakit elo ini. Gue aja baru denger dari Pak Soni. Jadi gue nekat kesini.”
“Gue nggak apa-apa kok, Lil.”
“Sheena, gue bahagia banget karena akhirnya elo ngedapetin kebahagiaan yang berlipat ganda seperti ini. Suami yang luar biasa dan yang paling penting, elo akhirnya ketemu sama keluarga kandung elo.”
“Iya, Lil. Gue sama sekali nggak nyangka dengan ini semua. Dan Kak Arthur ternyata Kakak gue.”
“Gue yakin tuh nyokapnya di Fandi pasti nyesel udah ngehina elo. Terus kabar si Fandi gimana?”
“Biarin lah, Lil. Nyonya Citra memang dari awal nggak suka sama gue, sekalipun gue anaknya siapa, itu juga nggak penting buat dia. Kalau soal Fandi, dia masih amnesia, Lil. Dan gue berharap dia amnesia selamanya.”
__ADS_1
“Sheena, elo doanya jelek banget.”
“Gue takut kalau Fandi ingat semua, dia bakal nyariin gue dan dia akan semakin terluka, Lil. Elo tahu sendirikan, sebelum kecelakaan itu, dia ke kontrakan gue buat ngelamar gue dan disana kita sepakat untuk mengakhirinya. Meskipun gue tahu kalau Fandi nggak menerima semua itu. Saat itupun gue sangat terluka tapi gue nggak mau egois dan melawan restu, Lil.”
“Iya juga sih, Sheen. Gue tahu Fandi itu cinta banget sama elo. Gue juga nggak bisa bayangin deh kalau sampai dia ingat, terus nyariin elo. Gue nggak bisa bayangin reaksinya Fandi tahu kalau elo udah nikah. Intinya semua ini karena keegoisan orang tuanya sih.”
“Iya Lil, gue juga nggak bisa bayangin semua itu.”
“Ya udahlah Sheen, jangan mikirin hal itu terlalu jauh. Mending elo sekarang fokus sama kesehatan elo dan Tuan serbuk berlian. Gimana rasanya malam pertama sama Tuan serbuk berlian? Apakah dia juga menyemburkan berlian?” goda Lila.
“Apanya yang disembur, Lil? Dari awal menikah sampai detik ini kita belum nglakuin itu.”
“Hah? Elo serius? Kok elo bisa tahan sih?” ceplos Lila terkekeh.
“Maksud elo? Gue masih waras kali. Elo kan tahu dari awal hubungan kita kayak gimana, Lil.”
“Hehehe iya juga sih. Terus sekarang gimana? Ada perkembangan?” tanya Lila dengan sejuta rasa penasaran.
“Kita udah jadian dan saling menyatakan cinta.”
Mendengar ucapan Sheena, Lila bersorak bahagia. “Aaaaa Sheena, selamat. Akhirnya kalian saling jatuh cinta.”
“Pada akhirnya gue bisa lihat sisi lain dari Arsen yang sok bersih itu. Dia juga yang semangat bantuin gue, buat nyari orang tua kandung gue disaat gue udah putus asa.”
“Ya ampun Tuan Arsen so sweet juga ternyata. Terus-terus gimana lagi, Sheen? Kita udah lama nggak ngobrol nih, gue jadi penasaran.”
“Seperti yang elo lihat sekarang, dia udah ngajakin gue tidur satu kamar. Walaupun kita belum pernah ngapa-ngapain. Ya elo tahu sendiri dia itu manusia yang otaknya nggak pernah kotor. Gue ajakin nonton film panas aja, dia tangannya diam aja Lil. Itupun film dari Mama Dira. Kalau itu bukan Arsen, ya elo tahu tangannya cowok lari kemana.”
“Gila, kuat iman juga Tuan Arsen.”
“Antara kuat iman dan jijik, Lil. Nggak heran sih Nona Flora menyebarkan rumor itu karena memang gitu kenyataannya.”
“Tapi Tuan Arsen normal kan?” selidik Lila.
“Ya normal lah, Lil. Dia sejak kecil kan emang udah gitu, Lil.”
“Kayaknya emang cuma elo yang bisa buat Tuan Arsen nyaman deh, Sheen. Itu artinya kalian emang jodoh karena kalian saling melengkapi.”
“Terus kehidupan cinta elo gimana sama Mas Yoga itu?”
“Mmmm sejauh ini masih baik, Sheen.”
“Terus kapan nikah? Udah tiga tahun lho kalian sama-sama.”
“Dia lagi nyari duit ke luar kota buat biaya nikah.”
“Cieee udah mau nikah juga. Jangan lupa undangannya ya?”
“Kayaknya duluan elo deh, Sheen.”
“Apapun itu semoga kita selalu bahagia ya, Lil. Dan sampai kapanpun elo sahabat terbaik gue. Jangan sungkan lagi ya, Lil.”
__ADS_1
“Iya Sheena.” Sheena dan Lila kemudian saling berpelukan.
Bersambung....