My Perfect Husband

My Perfect Husband
Rania menggila


__ADS_3

"Tuan Afif dan Tuan Ryan?" gumam bapak itu tidak percaya. Tubuhnya menggigil bertemu langsung dengan kedua orang berpengaruh ini.


"Tenang saja, saya ke sini untuk menemani istri saya makan." Afif menatap datar pada bapak itu, senyumnya hanya untuk Naynay saja. Sungguh, bapak penjual nasi goreng itu tidak menduga akan bertemu dan disapa oleh owner kerajaan bisnis paling TOP ini. Terkejut juga karena ternyata pelanggan setianya adalah istri dari CEO itu.


"Kak, bantuin biar jualannya laku." Naynay berbisik di telinga Afif, dia sudah kembali tenang.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Afif bingung, bagaimana cara membantunya.


"Kakak foto di depan gerobaknya, abis itu posting di sosmed." Naynay berdiri dan menarik tangan Afif menuju ke depan gerobak bapak itu.


"Buka jaket sama topinya dulu!" ucap Naynay membuka jaket dan topi suaminya yang pasrah saja mengikuti apa yang dia lakukan.


Naynay mengambil hp dari saku jaket Afif dan berdiri tidak jauh di depan Afif. "Angkat kedua jempolnya, kasih senyum paling tampan!"


Afif mengangkat kedua jempolnya dan tersenyum lebar, mengikuti instruksi istrinya. Hidungnya kembang kempis karena dibilang tampan.


"Udah, Kakak pake lagi jaket sama topinya!" ucap Naynay sambil membantu memakaikan jaket suaminya.


Naynay kemudian kembali duduk di tempatnya tadi dan melihat hasil jepretan yang modelnya adalah suaminya. "Postingnya besok aja, sekarang kita panggil sales marketing andalan keluarga Wijaya."


Naynay tersenyum sambil mengetik nomor seseorang di hp Afif, dia tidak membawa hpnya karena lupa. Kemudian menempelkan benda pipih itu hingga terdengar suara orang menguap.


"Ran, ke sini sekarang! Aku kirim lokasinya, cepet, ya!" Naynay langsung mematikan panggilan tanpa mendengar balasan dari Rania yang pastinya sedang ngomel-ngomel. Shareloc memalui pesan singkat.


"Nah, kita tunggu Rania datang dulu." Naynay memberikan hp tadi ke Afif.


"Untuk apa kau menyuruhnya datang?" tanya Afif sambil memasukkan hpnya ke dalam saku jaketnya.


"Buat bantu bapak ini jualan, Rania itu udah kayak anak kecil kalo ketemu sama bapak ini."


"Kita makan duluan, ya." Naynay menatap kedua laki-laki yang duduk saling berdampingan di sampingnya. Afif dan Ryan mengangguk setuju. Walaupun belum pernah memakan makanan yang dijual di pinggir jalan, tapi mereka setuju. Ralat, Afif sering karena mencomot makanan Naynay ketika istrinya itu ngidam.


"Pak, buatin nasi goreng tiga, ya. Makan di sini."

__ADS_1


"Baik, Nona." Bapak itu berdiri dan mulai berkutat dengan alat masaknya. Mata Naynay memperhatikan setiap gerakan luwes bapak itu memasak pesanannya. Takjub juga dengan cara bapak itu bersikap walaupun anaknya mengalami kejadian tidak mengenakkan.


Setelah beberapa menit, bapak itu menghidangkan tiga piring nasi goreng di atas meja. Kemudian dia pamit sebentar untuk ke toilet umum yang tak jauh dari sana.


"Ngapain suruh aku ke sini, Nay??"


Rania yang baru datang duduk dan merebahkan kepalanya di atas meja kayu. Piyama dengan gambar Olaf yang dia pakai ditutupi dengan hoodie putih. Rambut panjangnya yang biasanya terurai itu sekarang dicepol tinggi asal-asalan.


"Kaget aku, Rann!!" Naynay mengusap-usap dadanya karena kaget dengan kedatangan Rania.


Naynay meminum air putih mineral yang ada di sana. "Ran, kamu tahu gerobak ini milik siapa, kan?"


Rania mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang. "Ini punya bapak yang biasanya jualan di kompleks rumah kamu, kan? Kok di sini? Nana ikut nggak?"


"Iya, ini punya bapak itu. Dia diusir dari kompleks dan Nana dirawat di RSJ."


Mulut Rania menganga lebar. "Kenapa?"


"Diperkosa," ucap Naynay dengan suara kecil.


"Ran, itu bakalan diurus besok. Tapi sekarang, kamu bantuin bapaknya jualan dulu. Kasihan belum ada pembeli, kami nih yang perdana." Naynay menunjuk gerobak dengan bibirnya.


Rania menggulung lengan hoodie yang dia pakai hingga siku, setelah itu berteriak kencang sampai suasana ramai jadi hening seketika." Yang beli nasgor di sini bakalan dapat bonus foto sama saya! Tahu saya, kan?!!!"


Ya siapa yang nggak kenal sama dia. Wajah Rania itu udah sering banget wara-wiri di tv atau majalah-majalah remaja. Begitupun dengan Naynay, tapi bumil itu selalu tampil misterius hingga tidak banyak orang yang tahu kalau dia anak Hendrayan.


Tak butuh waktu lama, orang-orang mulai mengerubungi gerobak itu. Rania dengan cekatan mulai memasak nasi goreng, bolak-balik melangkah mengambil bahan-bahan yang sudah tersedia.


Beberapa meter dari sana, bapak Nana itu tertegun melihat aksi Rania. Dia bersyukur karena walaupun hidup dalam kemiskinan, tapi masih ada orang yang sangat peduli padanya. Dia mendekat setelah menghapus air matanya yang sempat menetes.


"Pak, bantu Rania dong." Rania memelas dengan tangan yang masih sibuk mengaduk sebakul nasi putih yang sudah diberi kecap di dalam wajan.


"Pasti, Nona." Bapak itu mengambil alih pekerjaan Rania dan meminta Rania untuk membantu membungkus pesanan saja. Sekalian setelah membayar, pelanggan itu akan meminta foto dengan anak pengusaha terkenal itu. Rania mengatakan kalau nasgornya hanya bisa dibungkus. Dia tidak ingin kalau keberadaan tiga orang yang sedang makan di sana diketahui.

__ADS_1


Naynay tersenyum sambil memotret Rania menggunakan hp Afif kembali. Niatnya tadi mau ikut bantu, tapi dilarang Afif karena takut istrinya kelelahan. Afif dan Ryan masih santai memakan nasgor mereka, topi juga sudah diturunkan hingga menutupi mata agar tidak dikenali.


Rania tersenyum ketika melihat bahan-bahan nasgornya sudah habis, dia mengambil dua piring dan meletakkan nasi goreng yang tersisa di dalam wajah di atas piring itu. Kemudian membawa bapak itu duduk di meja Naynay yang sudah menghabiskan nasgornya.


"Sekarang giliran kita yang makan, Pak." Rania menyodorkan sepiring nasgor tadi ke depan bapak itu.


Naynay membukakan dua tutup botol air mineral dan menyodorkannya ke depan dua orang yang yang sedang menyantap nasgor. "Kamu hebat banget, Ran."


Rania tak membalas, dia hanya mengangkat satu jempolnya. Ternyata membantu jualan tadi membuatnya lapar.


"Besok bapak nggak usah jualan di sini lagi, pake ruko yang sempat kita bilang dulu!" ucap Rania setelah makanannya habis. "Nggak boleh nolak lagi!"


"Terima kasih, Nona berdua begitu baik." Bapak itu menempelkan kedua tangannya di depan dada, matanya berkaca-kaca.


"Soal Nana, Bapak tenang aja, ya." Naynay memberikan senyum terbaiknya untuk menyemangati bapak itu.


Setelah menunggu bapak itu tutup, mereka segera pulang. Bapak itu diantar oleh Rania ke rumahnya.


"Tidur, Nay!" ucap Afif sambil mengusap kepala Naynay yang menempel di dadanya.


"Nanti Nay tambah gendut kalau abis makan langsung tidur," ucap Naynay sambil mendusel di dada Afif yang hangat itu.


"Aku suka kau jadi gendut, puas aku cubit."


Balasan Afif membuat Naynay tertawa, sebelum akhirnya tidur di dada bidang itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Maaf, ya, nggak UP beberapa hari ini. Aku itu sedang di dalam fase lagi rebahan aja capek, malas lebih tepatnya.


__ADS_2