
Setelah memesan nasi padang dengan membungkusnya, Brian memilih untuk makan di tempat. Sedangakn Arsen memilih untuk membungkusnya, tak lupa dengan es teh manisnya. Kemudian Arsen dan Sheena segera pergi menuju restoran wagyu.
Pesanan Sheena pun sudah tersaji dengan porsi double. Namun saat Arsen hendak membuka bungkus nasi padangnya, seorang pelayan menegur Arsen.
''Maaf Tuan, dilarang membawa makanan dari luar. Ini sudah peraturan dari restoran kami.''
''Tapi aku sudah membeli makananmu juga. Apa salahnya? Aku hanya ingin menemani istriku makan.'' Ucap Arsen dengan kesal.
''Tetap saja tidak boleh Tuan.''
''Aku akan membayar berapapun yang kamu minta, bahkan restoran ini bisa aku beli. Toh aku juga beli makanan disini, repot amat.''
''Nanti manajer bisa memarahi saya, Tuan.''
Arsen kemudian memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan pada pelayan itu. ''Ini ambil, anggap saja aku menyewa meja ini. Jangan banyak bicara dan pergi! Aku sudah berlangganan disini bahkan sejak aku masih kecil. Kamu pasti pelayan baru. Aku bisa saja meminta bos kamu untuk memecatmu. Kamu pikir aku tidak tahu siapa pemilik restoran ini? Sudah, pergi sana! Belum tahu saja siapa aku. Ambil uangnya dan jangan banyak bicara.'' Marah Arsen pada pelayan pria itu. Arsen lalu memasukkan paksa uang itu di saku pelayan itu. Nyali pelayan itu seketika menciut, ia lalu pergi begitu saja.
''Arsen, kamu tidak perlu marah-marah. Kenapa kamu jadi pemarah begini? Apa ada masalah di kantor?'' tanya Sheena sambli mengelus punggung tangan suaminya.
''Aku tidak senang saja kalau di usik. Aku hanya numpang makan, supaya kita bisa makan-makan disini. Tapi dia sudah merusak moodku.''
''Aku perhatikan akhir-akhir ini kamu jadi sensitif lho. Kamu jadi cepat marah dah mudah tersinggung. Kamu yakin tidak ada masalah yang menganggu pikiranmu?''
''Tidak ada Sheena, aku baik-baik saja. Sudah ya kita makan.'' Ucap Arsen sambil menghela nafasnya.
''Kamu makannya pakai tangan?''
''Iya. Kata kamu lebih nikmat kalau pakai tangan. Aku juga sudah mencuci tanganku.'' Kata Arsen.
''Oke baiklah, selamat makan sayang.''
''Iya sayang.''
''Hmmm Arsen tumben tidak cerewet dan merasa jijik makan pakai tangan. Tapi lucu juga melihatnya makan pakai tangan langsung begitu, sepertinya dia kesusahan,'' gumam Sheena dalam hati sambil menahan tawanya melihat cara makan Arsen yang menurutnya aneh. Namun Arsen justru menikmati makanan yang ada dihadapannya itu.
Setelah selesai menikmati makan siang bersama, Arsen dan Sheena lalu kembali ke kantor. Namun tiba-tiba di tengah jalan, Arsen menepi dan menghentikan mobilnya.
''Arsen, kok berhenti?'' tanya Sheena.
__ADS_1
''Sheena, itu es cendol disana.'' Kata Arsen sambil menunjuk kearah gerobak es cendol.
''Kamu tadi baru saja makan nasi padang sama es teh, itu kalorinya sudah banyak. Ditambah es cendol lagi, itu bisa 300 lebih kalorinya.'' Ucap Sheena.
''Iya tapi itu enak, seger. Sirup gula merah dan santan kentalnya itu menggugah selera. Kamu biasanya juga kan? Kamu mau juga? Aku bolehin kok.'' Ucap Arsen.
''Tidak Arsen sayang, perutku sudah kenyang.''
''Aku boleh beli kan?''
''Terserah kamu saja. Cuma ya agak aneh kamu suka yang manis-manis.''
''Ya nanti aku bisa bakar kalori langsung pas sampai rumah. Eh itu disampingnya ada penjual rujak buah, segera juga kayaknya. Kamu tunggu sini ya sayang.''
Sheena menghela. ''Iya sayang.'' Arsen dengan wajah seperti menemukan harta karun, turun dari mobil dan segera membeli es cendol juga rujak buah.
''Ini kenapa si Arsen? Biasanya makan pinggir jalan ogah-ogahan. Terus benar-benar menjaga makanan yang masuk ke perutnya, apalagi untuk yang manis-manis. Masa iya seleranya berubah gara-gara aku. Padahal aku sekarang sudah biasa mengikuti gaya hidupnya sejak aku selesai operasi, eh sekarang malah dia yang selingkuh dengan makanan-makanan itu. Ini sungguh keanehan yang luar biasa.'' Gumam Sheena yang menatap heran suaminya. Dari dalam mobil, mendadak penjual cendol itu, jualannya di kerumuni pembeli, begitu juga dengan penjual rujak buah. Kebanyakan pembeli itu adalah wanita. Tentu saja mereka terpesona dengan ketampanan Arsen. Beberapa dari mereka adalah gadis remaja, meminta foto Arsen. Sheena dari dalam mobil terbakar cemburu.
''Arsen, sejak kapan jadi ramah dengan wanita? Kok mau di ajak foto. Kenapa jadi ramah? Katanya hanya dekat denganku saja. Ini kenapa malah kesenengan di kerubutin cewek-cewek.'' Kesal Sheena. Karena kebetulan di depan mereka adalah sebuah kampus. Sheena kemudian turun dari mobil.
''Sebentar sayang,'' sahut Arsen. Sheena lalu mendekati Arsen dan menyibak kerumunan. Ia langsung memeluk lengan suaminya.
''Maaf ya mbak-mbak, suami saya ini bukan artis jadi jangan minta foto ya. Dia sudah ada pawangnya.'' Ucap Sheena. Sheena dengan marahnya memgambil satu persatu ponsel mereka untuk menghapus foto Arsen.
''Hanya saya yang boleh menyimpan fotonya. Sudah sana, kalian pergi? Mau es cendol dan rujak juga? Beli saja, saya yang bayarin. Asal jangan goda suami saya ini. Karena suami saya bukan untuk konsumsi publik.'' Kata Sheena dengan menahan marah dan juga cemburunya. Sheena lalu mengusir kerumunan dan membawa suaminya masuk ke dalam mobil.
''Kamu didalam saja. Biar aku yang ambil es cendol dan rujak kamu, PAHAM!"
''I-iya.'' Jawab Arsen tergagap melihat istrinya yang galak dan tidak seperti biasanya. Sheena lalu kembali ke penjual es dan rujak.
''Ini Non, es cendol dan rujak buahnya.''
''Ini Bang uangnya. Kembaliannya ambil saja ya sekalian buat si Ibu penjual rujak.''
''Iya Non terima kasih. Eh si Non juga sangat cantik, serasi saka Tuan yang tadi.''
''Iyalah Bang. Kita kan memang couple sparkle diamond alias pasangan serbuk berlian.'' Ucap Sheena seraya berlalu begitu saja. Si abang penjual cendol hanya bisa meringis, tidak mengerti dengan ucapan Sheena.
__ADS_1
''Ini es cendol dan rujaknya. Biar aku yang menyetir. Kamu habiskan di mobil ya.'' Ketus Sheena.
''Kamu marah ya?'' tanya Arsen.
''Iya aku marah! Habis kamu genit sih. Katanya tidak mau dekat dengan perempuan lain tapi tadi malah sok-sok ramah.'' Ketus Sheena. Kali ini Sheena yang menyetir mobil untuk kembali ke kantor. Sementara Arsen dengan asyiknya menikmati es cendol dan rujak buahnya.
''Maaf sayang, masa iya aku tiba-tiba mau ketus. Yang ada aku di maki mereka semua.'' Arsen mencoba melakukan pembelaan.
''Pokoknya kalau di jalanan begitu, kamu pakai topi dan masker deh. Kamu sudah janji ya sama aku. Awas saja kalau kamu genit-genit! Kamu biasanya juga cuek.''
''Iya-iya maaf. Kamu jangan marah ya.''
''Kamu harus di hukum!" ucap Sheena dengan tegasnya.
''Dihukum? Di hukum bagaimana?''
''Kita tidak usah kembali ke kantor tapi kita pulang saja. Aku sudah badmood karena kamu. Jadi kamu harus mengembalikan moodku.'' Kesal Sheena.
''Oke sayang, apapun hukumannya akan aku terima. Supaya istriku tidak marah lagi.''
''Ya sudah kamu habiskan es sama rujaknya. Jangan sampai belepotan di mobil ya. Ini ada tisu basah dan tisu kering. Jangan lupa pakai handsinitizer! Terus sampahnya jadikan satu di plastik, nanti dibuang di rumah saja. Jangan dibuang di jalanan.''
''Iya-iya. Istriku ini kenapa sih? Kok tumben bawelnya seperti aku.''
''Habis kamu nyebelin.''
''Maaf ya sayang.'' Sheena mengelus kepala istrinya lalu mengecup kening istrinya.
''Sayang, tangan kamu kotor. Nanti kepalaku bau bumbu rujak.''
''Ya ampun sayang, masa begitu saja marah. Biasanya kamu kan bersahabat dengan kuman, bakteri dan aroma-aroma aneh.'' Ucap Arsen yang heran dengan istrinya.
''Sudahlah kamu diam saja dan habiskan makanannya. Aku sudah badmood karena kamu.''
Arsen menghela. ''Iya maaf sayang. Aku janji tidak begitu lagi, maaf ya.'' Ucap Arsen dengan memelas. Sheena hanya diam sambil terus fokus menyetir mobil.
Bersambung.... Yukkk like, komen dan votenya ya, makasih 🙏❤️
__ADS_1