
''Selamat ya hyung! You're the best.'' Ucap Brian seraya memberikan pelukan untuk Kakaknya.
''Terima kasih, Brian.''
''Brian, melihat keberhasilan hyung mu, kamu harus lebih termotivasi dan lebih semangat untuk bekerja.'' Sambung Tuan Keenan.
''Iya Pah, tentu saja. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya bekerja keras dan mendapatkan uang dengan keringat sendiri. Awalnya terasa berat tapi sekarang aku mulai menikmatinya.''
''Menikmati karena ada Gea kan?'' celetuk Arsen.
''Gea? Siapa Gea?'' tanya Tuan Keenan penuh selidik.
''Tanyakan saja pada Brian, Pah.'' Ucap Arsen.
''Sepertinya kita perlu mengobrol ya, Brian. Papa belum dengar apapun dari kamu.''
''Apaan sih Pah? Cuma teman saja.'' Ucap Brian malu-malu.
''Sebaiknya sekarang kita ke rumah, Mama pasti merindukan kamu juga.''
''Baiklah Pah.''
''Sheena, Arsen, Papa langsung pulang ya. Sepertinya harus ada sidang hari ini.''
''Iya Pah. Papa dan Brian hati-hati ya.'' Ucap Sheena.
''Kalian juga ya.''
''Iya Pah.'' Jawab Arsen.
Setelah acara selesai, Arsen dan Sheena pun segera kembali ke rumah. Sedangkan Brian sudah siap disidang oleh kedua orang tuanya.
''Brian, siapa Gea?'' tanya Tuan Keenan tanpa banyak basa-basi.
''Gea? Gea siapa Pah?'' tanya Nyonya Dira yang begitu penasaran.
''Tanyakan saja pada Brian. Sepertinya Brian sudah menemukan belahan jiwanya.'' Kata Tuan Keenan.
''Pah-Mah, hubungan kami belum sejauh itu. Kita hanya berteman. Brian dan Gea berteman juga karena kita tetanggaan.'' Cerita Brian malu-malu.
''Memang dia seperti apa sih? Sampai membuat playboy kecil kita ini terpesona.'' Selidik Nyonya Dira.
''Dia gadis biasa yang sederhana dan pemberani, Mah. Dia bukan konglomerat atau seorang model. Tapi hanya dia yang mau berteman dengan Brian saat Brian dalam mode miskin, hehehe.''
''Pasti ada fotonya. Mama lihat dong!'' Rasa penasaran Nyonya Dira semakin menggebu. Brian kemudian membuka galeri foto di ponselnya.
''Ini Mah namanya Gea. Dia tomboy banget bukan seperti gadis pada umumnya.'' Ungkap Brian sambil menunjukkan foto Gea yang sedang berdiri dengan motor balapnya. Nyonya Dira dan Tuan Keenan, terkejut melihat selerea Brian yang berubah drastis. Biasanya Brian menyukai wanita yang seksi namun kali ini berbeda.
''Dia pembalap?'' tanya Keenan.
''Mmmm pembalap liar sih, Pah. Hehehe.'' Brian meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak tidak gatal itu.
''Wah, keren ya! Penampilannya mirip sekali dengan Mama kamu saat masih muda. Mama kamu juga tomboy abis. Pasti dia ini galak dan jago berantem, iya kan?'' tebak Tuan Keenan.
''Iya Pah. Dia karakter dan sikapnya hampir mirip sama Mama.''
__ADS_1
''Iya lho, melihat Gea, Mama jadi ingat saat masih muda dulu. Dia kerja atau kuliah Brian?''
''Dia kerja di mini market, Mah. Malamnya balap motor tapi dia habis kecelakaan jadi untuk sementara dia istirahat dulu karena kakinya mengalami keretakan.''
''Hah? Kok bisa?'' tanya Tuan Keenan.
''Ada yang mencuranginya, Pah.''
''Tapi dia masih punya orang tua kan?'' tanya Nyonya Dira.
''Masih kok Mah. Hanya saja orang tuanya di kampung. Dia disini merantau. Dia baik banget sama Brian, meskipun kadang galak. Disaat semua menolak Brian dengan slogan modal tampang doang, cuma Gea yang mau dekat sama Brian. Gadis-gadis yang biasa aku dekati pun menjauh, Mah.''
''Apa pendidikan terakhirnya Brian?'' tanya Tuan Keenan.
''Pendidikan terakhirnya SMA, Pah. Sebenarnya dia mendapat beasiswa tapi terkendala biaya hidup di luar negeri, Gea memilih merantau untuk bekerja saja. Karena dia tidak mau membebani keluarganya. Meskipun biaya pendidikan gratis tapi tidak untuk kebutuhan hidup kan Pah.''
''Brian, suruh dia berhenti balap. Ajak dia bekerja di perusahaan.'' Kata Tuan Keenan.
''Papa serius?''
''Iya. Dia kan perempuan, menjadi pembalap terlalu berisiko untuknya.'' Ucap Tuan Keenan.
''Benar kata Papa kamu, Brian. Apalagi dunia balap liar seperti itu seram ih. Kalau pembalapnya di sirkuit sih tidak masalah. Kasihan Gea, Brian. Apalagi dia seorang perempuan. Kalau dia kerja kantoran, dia bisa pulang sore dan malamnya bisa istirahat. Tidak usah juga kerja di mini market.'' Sambung Nyonya Dira.
''Terus Brian bilang gimana sama Gea Pah-Mah? Brian kan masih menyamar.''
''Kamu bilang saja kalau di kantor ada lowongan sebagai staf. Papa akan menempatkannya di staf marketing bersama kamu. Jadi kalian sama-sama memulainya dari nol.'' Ucap Tuan Keenan. Brian sangat bahagia memiliki orang tua yang begitu luar biasa. Brian kemudian memeluk papa dan Mamanya secara bergantian.
''Terima kasih ya Pah-Mah. Kalian memang yang terbaik. I love you full.'' Kata Brian dengan begitu semangat.
''Ya sudah, kamu hati-hati ya sayang.'' Ucap Nyonya Keira seraya memberikan kecupan di kening putranya.
''Iya Mama ku sayang.''
''Kamu tidak ingin meminta uang Papa?''
''Tidak Pah! Uang ku masih cukup kok. Sebentar lagi juga gajian. Brian pergi dulu ya.''
''Ya sudah, hati-hati ya. Ingat ya, Papa masih tetap memantau kamu.''
''Siap Pah! " Brian dengan penuh semangat segera kembali ke kontrakan dengan motor bututnya.
''Sepertinya Brian sudah berubah, Pah.''
''Iya Mah. Perubahannya sangat drastis. Dia lebih dewasa dari sebelumnya. Sekarang dia mengerti apa yang namanya sebuah tanggung jawab.''
''Benar sekali Pah. Ya semoga Gea memang yang terbaik. Apa perlu kita menguji ketulusan Gea, Pah?''
''Tentu saja, Mah. Mama saja lah yang merancang skenarionya. Mama kan sutradara yang paling hebat. Papa jadi produsernya saja.'' Ucap Tuan Keenan terkekeh.
''Papa ini bisa saja. Kita ini semakin tua, Pah. Yang Mama inginkan saat ini adalah melihat anak-anak kita bahagia bersama dengan orang-orang yang tepat. Mama bersyukur Queen bersama Raja. Lalu Arsen dengan Sheena. Sekarang kita harus menyatukan Arhur dan Belinda. Dan tugas baru lagi yaitu memastikan Gea benar-benar sosok yang tepat untuk Brian.''
''Apa yang Mama katakan benar sekali. Melihat anak-anak bersama orang yang tepat adalah kebahagiaan kita. Kalau mereka semua sudah memiliki pasangan, rasanya tugas kita sebagai orang tua sudah selesai Mah.''
''Iya Pah. Kita tinggal menikmati masa-masa tua kita bersama sampai maut memisahkan kita.'' Ucap Nyonya Dira sambil menggenggam tangan suaminya.
__ADS_1
''Iya Mah, itu pasti. Baiklah Mah, sudah waktunya makan malam. Aku ingin Mama masak untuk Papa.''
''Baiklah, Papa mandi dulu sana. Mama akan menyiapkan makan malam untuk kita. ''
''Oke Mah. Terima kasih ya, Mah. ''
''Sama-sama Papa.''
-
Begitu sampai di kontrakan, Brian segera mandi dan mengganti pakaian yang bagus dengan pakaian sederhana. Supaya Gea tidak curiga padanya. Selesai mandi, ia bergegas pergi ke rumah Gea.
''Gea! " panggil Brian sambil mengetuk. pintu.
''Masuk Brian! Tidak aku kunci.'' Sahut Gea yang sedang menikmati semangkok mie instannya.
''Oh lagi makan rupanya. Padahal aku membawakan mu ayam goreng.''
''Wah kebetulan sekali, aku sebenarnya dari tadi membayangkan ayam goreng dengan sambal lalapan. Mau menelepon dan nitip, takut menganggu. Jadi aku urungkan niatku.''
''Seperti kode alam ya. Berasa telepati. Eh tapi tumben pakai aku-kamu. Biasanya juga gue-elo.''
''Karena kita sudah menjadi teman dan kamu orang yang baik jadi sekarang pakai aku-kamu aja deh.''
''Aku senang mendengarnya. Baiklah, aku ambil piring dulu ya.'' Kata Brian.
''Iya. Maaf ya Brian aku merepotkanmu.''
''Tidak masalah, Gea. Oh ya besok waktunya kontrol ya. Sekalian melepas gips di kakimu.''
''Tapi Brian, aku sudah tidak uang. Aku mau menjual motorku saja. Lagi pula kemampuan ku juga pasti berkurang setelah cedera seperti ini. Jadi tunggu sampai motorku laku ya baru periksa lagi.''
''Jangan pikirkan itu, Gea. Uang pinjaman kemarin masih nyisa kok.''
''Hutangku makin numpuk sama kamu.''
''Kamu bisa mencicilnya, Gea. Mmmm setelah ini mau kerja apa?''
''Belum tahu juga. Mungkin di mini market saja.''
''Oh ya kebetulan di kantor ada lowongan di bagian staf marketing. Posisinya sama denganku. Kalau kamu mau kita bisa satu kantor dan satu ruangan.''
''Tapi aku cuma lulusan SMA saja Brian. Mana laku ijazahku.''
''Sudahlah coba saja. Siapa tahu rezeki kamu, Ge. Gimana?''
''Boleh deh. Meskipun aku tidak yakin.'
''Jadi kalau sewaktu-waktu orang tuamu datang kemari, kamu tidak usah pusing-pusing berbohong.''
''Sepertinya aku kualat, Brian. Karena selama ini aku sudah membohongi orang tuaku.''
''Apa yang sudah terjadi ambil hikmahnya saja. Yang penting sekarang kita makan! "
''Sekali lagi terima kasih, Brian. Aku beruntung sekali ada kamu disaat seperti ini.'' Kata Gea seraya memeluk gemas Brian. Lagi-lagi Brian hanya bisa mematung sambil berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang semakin tak beraturan.
__ADS_1
...Bersambung... Yukkk like, komen dan votenya ya, hadiahnya juga boleh banget, makasih 🙏🥰...