My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 176 Aku Lemah???


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Sheena lalu pergi menuju kamar. Arsen mengekor dari belakang.


''Sayang, ayo kamu mandi!'' perintah Sheena.


''Mandi? Ini kan masih siang.''


''Iya tapi tadi kamu bersentuhan dengan gadis-gadis di luara sana. Belum lagi debu dan polusi yang menempel di pakaian kamu karena terlalu lama mengantre di pinggir jalan.''


''Astaga sayang, begitu saja menyuruhku mandi. Aku masih bersih dan wangi lho.''


''Pokoknya kamu harus mandi dan harus wangi lagi. Aku tidak mau mencium bau matahari di tubuh kamu. Jadi itu hukumannya.''


''Mandiin ya sayang?'' rayu Arsen.


''Tidak mau! Aku mau tidur. Aku masih kesal dengan mu.'' Ketus Sheena. Sheena lalu naik ke atas tempat ranjang dan ia benar-benar memilih untuk tidur. Sedangkan Arsen, menuruti perintah Sheena untuk mandi.


''Sheena ini kenapa sih aneh banget. Masa iya hanya karena itu aku disuruh mandi. Kalau dia ngambek, alamat tidak dapat jatah malam ini. Jadi sebaiknya aku mandi saja.'' Arsen kemudian menuju kamar mandi. Hampir setengah jam Arsen berada di kamar mandi. Setelah selesai mandi dan memakai parfum, Arsen mendekat kearah Sheena yang tampak tertidur pulas. Arsen tersenyum sambil membelai wajah Sheena.


''Kamu hari ini kenapa sih? Kenapa sensitif dan mudah marah? Kamu biasanya cuek tapi kali ini tidak. Walaupun begitu, aku tetap mencintaimu dan sikapmu ini sungguh menggemaskan. Maafkan aku ya sayang, sudah membuatmu marah. Tidur yang nyenyak ya, aku sebaiknya melanjutkan pekerjaanku di rumah saja.'' Arsen lalu mengecup kening Sheena sebelum beranjak menuju ruang kerjanya.


-


''Yeay asyik! Makan siang gratis lagi. Memang paling asyik jadi sekretaris, diajak makan melulu. Kliennya pinter nih ngajakin meeting sambil makan,'' gumam Belinda dalam hati. Bagi Belinda, mendapat makan gratis seperti mendapat kupon berhadiah jutaan rupiah.


''Terima kasih atas jamuannya Tuan Arthur. Senang sekali bisa bekerja sama dengan anda.''


''Sama-sama Tuan. Saya harap kerja sama ini tetus terjalin sampai kapanpun.'' Ucap Arthur


''Tentu saja Tuan. Baiklah kalau begitu saya permisi.''


''Iya Tuan, silahkan. Hati-hati di jalan Tuan.''


''Iya Tuan, terima kasih.'' Arthur dan kliennya lalu berjabat tangan. Belinda juga melakukan hal yang sama.


Arthur menghela nafas lega saat kliennya sudah pergi.


''Aku perhatikan mulutmu tidak berhenti mengunyah. Bahkan saat aku bicara dengan Tuan Yuda, kamu diam-diam memasukkan makanan ke dalam mulutmu.''


''Hehehe namanya juga lapar. Jadwalmu hari ini kan sangat padat. Jadi sudah pasti aku lelah, haus dan lapar. Biasanya aku hanya rebahan saja tapi kali ini aku harus kerja.''


''Makanya sekarang kamu tahu kan bekerja itu selelah apa? Menghabiskan uanganya mudah tapi mencarinya, butuh usaha dan kerja keras.''


''Iya Tuan muda Arthur. Oh ya aku boleh membungkus satu prosi lagi?''


''Untuk siapa?''


''Untukku makan malam nanti. Aku tidak bisa memasak. Apalagi selang tabung gas ku belum terpasang.''


''Kalau begitu nanti aku akan ke rumah kontrakanmu. Aku akan mengajarimu memasak. Kalau makan terus nebeng, dimana keinginanmu untuk mandiri? Hah?''

__ADS_1


''Galak banget sih,'' kesal Belinda.


''Sudah habiskan makananmu. Aku tidak mau membelikanmu satu porsi lagi. Enak saja, dikasih hati malah minta jantung. Sarapan dan mandi gratis, makan siang gratis, eh makan malam masih minta gratisan lagi. Sungguh T.E.R.L.A.L.U!"


''Nyebelin.'' Kesal Belinda sambil mengerutkan hidungnya.


''Biarin!" sahut Arthur menirukan gaya Belinda.


...****************...


Sepulang kantor, Arthur menyempatkab untuk mampir ke kontrakan Belinda.


''Oh jadi ini tempat tinggal barumu.'' Ucap Arthur dengan pandangan mengedar, menelusup setiap sudut rumah kontrakan Belinda itu.


''Iya, memang kenapa?'' ketus Belinda. Arthur lalu melepas tawanya. Bhuaahhahaha!!!!


''Bel, kamu serius tinggal disini? Memangnya kamu bisa? Ah, pasti tadi numpang mandi hanya karena ini kan?''


Belinda hanya meringis mendengar ucapan Arthur.


''Haduh, anak manja mana bisa hidup ditempat seperti ini.''


''Memang kenapa kalau tidak bisa? Aku tidak terbiasa melakukan semua ini. Bagaimana aku bisa mandi kalau kamar mandinya seperti itu. Aku tersiksa disini. Kak, biarkan aku menginap dirumah mu ya.'' Rengek Belinda sambil menarik-narik lengan jaket Arthur.


''Tidak bisa! Aku akan menelepon Om Keenan.'' Ucap Arthur dengan nada mengancam.


''Yah, jangan dong Kak. Sumpah, aku stres tinggal disini. Ini terlalu sempit!''


''Kamu sudah seperti Papa dan Mama yang hobinya ceramah. Pusing aku kebanyakan ceramah.''


''Ya sudah, mending sekarang masak saja. Aku akan mengajarimu membuat omlete dan juga masai nasi.'' Arthur menarik tangan Belinda mengajaknya menuju dapur.


''Lihat caraku membersihkan beras ini. Supaya kamu tidak melulu beli dan menumpang makan di rumahku.''


''Kak, bisa kan mencatat petunjuknya untukku? Kalau hanya melihat, aku tidak bisa melakukannya.''


''Bukankah IPK mu cumlaude? Kenapa IQ-mu tidak berfungsi sama sekali?''


''Terus saja menghinaku. Ini tidak ada hubungannya dengan memasak. Aku tidak bisa melakukannya karena belum terbiasa. Nanti kalau sudah terbiasa juga aku bisa.'' Belinda sangat kesak karena Arthur dengan mudah melontarkan kata-kata kasar. Antara jujur dan menghina.


''Iya anak manja. Nanti aku tuliskan. Sekarang perhatikan aku.''


''Iya-iya, galak!"


Malam itu Arthur mengajari Belinda untuk memasakn nasi dan membuat omlete. Arthur juga mengajari Belinda membuat tumis sayur. Setidaknya menu itu mudah dan cepat untuk memasaknya.


''Nah sudah jadi kan? Simple, cepat dan praktis. Semua makanan ini sudah mengandung karbo, lemak dan protein yang pas. Sesuai dengan kalori yang kamu makan setiap hari. Mau makan saja ribet kalori.''


''Memangnya kenapa? Toh itu juga bagis untuk kesehatan kita. Aku sama sekali tidak ribet.''

__ADS_1


''Ya, ya, ya, lebih baik sekarang kita makan daripada kita terlalu banyak berdebat.'' Arthur mulai lelah berdebat karena Belinda selalu saja menjawab setiap nasihatnya.


''Bagaimana? Enak kan?'' Arthur penasaran dengan komentar Belinda.


''Bad!" Belinda membalikkan jempolnya ke bawah.


''Masa sih?'' Arthur tidak percaya dengan reaksi Belinda. Ia kemudian mencicipinya sendiri.


''Wah, enak begini dibilang bad. Kamu pasti terkejut dengan rasa masakanku yang selalu enak. Iya kan?''


''Iya sih, masakan Kak Arthur memang selalu enak. Tapi dia besar kepala kalau banyak di puji.'' Gumam Belinda dalam hati.


''Bagiku tetap ada yang kurang.''


''Ya sudah, jangan di makan. Biar aku yang memakannya.''


''Eh jangan dong, aku kan lapar.'' Belinda menjadi panik saat Arthur berusaha melarangnya. Arthur tersenyum kecil, melihat Belinda yang makan dengan lahapnya.


''Jangan lupa, setelan makan cuci semua piringnya dan bekas ku masak tadi.''


''Enak saja, Kakak yang makan kenapa aku yang mencucinya? Kamu kan yang mengotorinya.''


''Hei, dasar tidak tahu terima kasih. Sudah di masakin, diajarin, makan tinggal makan, masih saja ya milih hidup enak tidak mau susah sedikit.''


''Iya-iya ih, nyebelin banget.''


''Nah, gitu dong. Nanti aku salin catatannya di kertas. Dan aku akan menempelkan di kulkas, supaya kamu mengingatnya.''


''Hmmmm,'' singkat Belinda. Setelah selesai makan, Belinda menjalankan apa yang diperintahkan Arthur. Sedangkan Arthur menuliskan resep masakan yang mudah untuk Belinda lakukan, sekaligus bagaimana cara memasak nasi. Setelah sudah tertulis dengan rapi, Arthur menempelkannya dengan rapi di kulkas.


''Sudah selesai, baiklah sekarang aku pulang. Semuanya sudah aku tempel di kulkas.'' Pamit Arthur. Namun Belinda tiba-tiba menghentikan langkah Arthur. Ia menarik ujung jaket Arthur. Belinda memasang wajah belas kasihan.


''Ada apa lagi, Bel?'' Arthur mengehela nafas panjangnya.


''Mmmm aku tidak berani tidur sendirian. Aku menginap di rumah Kakak ya?''


''Tidak bisa!"


''Kak, aku mohon. Aku tidak biasa tinggal sendirian di rumah. Aku perempuan, bagaimana kalau ada maling, terus mereka tiba-tiba masuk dan menyerangku? Aku takut. Aku semalam saja tidak bisa tidur. Kakak tahu kan wajahku sangat cantik, tentu saja banyak yang mengincarku. Bagaimana kalau aku di culik terus di perkos.....''


''Aku yang akan menginap disini.'' Sela Arthur. Sejujurnya Arthur tidak tega juga meninggalkan Belinda. Ia juga khawatir dengan Belinda. Apalagi dia yang hidupnya serba ada mendadak harus mandiri seperti ini.


''Apa? Menginap?'' Mata Belinda membulat tidak percaya. Arthur hanya mengangguk.


''Aduh, kenapa aku jadi lemah dan tidak tega begini?'' gumam Arthur dalam hati.


''Tapi cuma malam ini saja. Jangan ge-er juga! Aku akan tidur di kursi.''


''Hah? Demi apa Kak Arthur menginap?'' batin Belinda.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2