
Setelah malam tadi diberi kejutan, pagi ini Naynay kembali disibukkan mengurus dua bayi beda gender dan generasi. Sesudah memandikan Araa, lanjut giliran Afif yang minta dimandikan. Tiba-tiba saja Silla datang mengetuk pintu kamar dan meminta izin untuk membawa Araa bermain ke bawah. Walaupun ragu, tapi Naynay tetap mengizinkan karena dia harus mengurus bayi besar yang sedang duduk di tepi tempat tidur.
"Kak, ayo!" ucap Naynay seraya berjalan menuju kamar mandi. Tapi ternyata suaminya itu tidak mengikutinya sama sekali, jadi Naynay keluar dari kamar mandi.
"Kakak nggak jadi mandi?" tanya Naynay setelah berdiri di depan Afif yang masih duduk di pinggir tempat tidur.
Afif menarik pinggang Naynay dan mendudukkannya di atas pahanya. "Sebentar lagi, tiba-tiba aku merasa malas untuk bekerja."
Tangan Naynay terangkat mengelus kepala Afif yang wajahnya tersembunyi di ceruk lehernya. "Kak, tadi malam Nay sempet lihat ada jadwal belanja Pak Hen hari ini."
"Lalu?" tanya Afif Afif singkat.
"Pak Hen langsung belanja sendiri?"
"Iya, dia yang memintanya agar tidak ada kesalahan dalam belanja bulanan." Bibir Afif mulai mencium leher Naynay.
"Nay boleh ikut nggak? Kayaknya seru pergi belanja sama Pak Hen," pinta Naynay sambil menahan geli akibat ulah bibir Afif.
Afif langsung menegakkan kepalanya dan menatap istrinya itu. "Kau tidak berniat selingkuh dengannya kan?"
Naynay terbatuk mendengar pertanyaan konyol Afif, ya kali dia selingkuh dengan kakek-kakek. "Nggak lah, Kak. Boleh, ya...." pinta Naynay sekali lagi dengan binar mata penuh harap.
Afif memicingkan matanya menatap Naynay. "Lebih baik kau menemaniku bekerja daripada pergi bersama Pak Hen."
Bibir Naynay mengerucut karena tidak mendapat izin pergi. Dia berniat turun dari pangkuan Afif, tapi pinggangnya dipeluk lebih erat pertanda Afif tidak mau dia pergi.
"Baiklah, aku izinkan. Tapi jangan sampai kau kelelahan!" Afif mengalah karena dia juga tidak mau Naynay tertekan karena terlalu dibatasi.
"Makasih," ujar Naynay dengan mencium pipi kanan Afif. "Kakak harus kerja, ayo mandi!"
Tangan Afif ditarik menuju kamar mandi. Naynay ingin cepat-cepat agar Pak Hen tidak keburu pergi. Bisa dipastikan kalau dia sedang mengidam sekarang, karena saat dilarang Afif tadi dia merasa sedih.
Sesudah memandikan dan membantu Afif berpakaian, Naynay menguncir rendah rambutnya. Setelah itu mereka turun ke bawah dengan Afif yang tangannya mrnggenggam erat tangan Naynay. Laki-laki itu selalu khawatir ketika Naynay naik-turun tangga. Walaupun ada lift di rumah ini, tapi sangat jarang digunakan. Biasanya hanya dipakai dalam keadaan darurat saja.
"Pak Hen, nanti Nay ikut belanja, ya!" ucap Naynay pada Pak Hen ketika mereka baru tiba di anak tangga paling bawah.
Pak Hen yang sudah mendapat persetujuan dari sorot mata Afif pun mengangguk. "Baik, Nona."
__ADS_1
Naynay tepuk tangan saking senengnya, entah kenapa dia begitu semangat untuk ikut bersama Pak Hen.
Setelah sarapan, Naynay mengantar Afif sampai masuk ke dalam mobil. Tak lupa mencium tangan Afif dengan bonus satu kecupan juga di pipi suaminya itu. Ketika mobil sudah keluar dari gerbang, Naynay masuk kembali ke dalam. Dia mencari keberadaan Silla yang tadi membawa Araa, pasalnya gadis itu dan Qiara sudah sarapan terlebih dahulu tadi.
Naynay sekarang berdiri di depan pintu kamar Qiara yang tidak tertutup sempurna. Di dalam sana dia melihat Araa sedang bermain dengan kedua gadis itu. Tawa bayi itu membuat Naynay tersenyum dan berjalan menjauh dari sana. Biarlah bayi itu bermain, pikir Naynay.
Naynay naik kembali menuju kamar, tapi berhenti sebentar di jendela kaca lebar yang memperlihatkan area depan rumah super mewah itu. Naynay memikirkan tentang ucapan Afif tadi malam yang membisikkan bahwa dia mencintai Naynay dalam bahasa Spanyol.
"Apa aku salah dengar, ya?" tanya Naynay pada dirinya sendiri.
*****
Naynay sedang dalam perjalanan menuju pusat perbelanjaan bersama Pak Hen dan beberapa pelayan wanita. Ada juga beberapa pengawal yang dibawa untuk menjaga keselamatan Naynay. Pak Hen tidak mau mengambil resiko karena takut istri majikannya itu dalam bahaya.
Araa juga ikut, dia berada di pangkuan Naynay dengan menggigit mainannya. Giginya yang belum tumbuh sempurna membuat dia semakin menggemaskan.
Setibanya di mall yang bisa dipastikan adalah milik Afif, mereka segera masuk. Naynay mengikuti langkah Pak Hen sambil mendorong stroller Araa. Mereka sedikit mencuri perhatian karena beberapa pengawal pria dan wanita yang berjalan di belakang Naynay yang menutupi wajahnya dengan masker.
"Pak Hen, kenapa nggak minta diantar ke rumah aja belanjaannya?" tanya Naynay.
"Saya tidak mau ada kesalahan sedikit pun dalam hal yang bersangkutan dengan orang rumah, Nona. Dan saya juga menganggap ini sebagai liburan singkat," jawab Pak Hen yang sibuk memilih sayuran.
*****
Qiara dan Silla memasuki restoran di dalam mall dan mengedarkan pandangan mereka untuk mencari seseorang. Setelah melihat orang tersebut, mereka segera mendekat dan ikut duduk di seberang orang tersebut.
"Kakak Ipar, kenapa nggak ikut pulang sama Pak Hen?" tanya Silla sambil mencomot cookies yang ada di atas meja.
Tadi Afif menghubungi mereka berdua dan menyuruh untuk menjemput Naynay ke sana. Naynay sendiri menolak pulang tadi karena ingin makan dulu. Dia juga memaksa Pak Hen dan antek-anteknya pulang terlebih dahulu. Awalnya pria tua itu tidak mau dan menelepon Afif, tapi Afif mengatakan untuk selalu mengikuti perkataan Naynay. Seorang Afif tidak akan membiarkan istrinya dalam bahaya, itulah mengapa dia selalu mengutus pengawal untuk mengawasi Naynay tanpa diketahui istrinya itu.
"Kenapa kalian ada di sini?" tanya Naynay tanpa menjawab pertanyaan Silla tadi.
"Disuruh kak Afif, katanya istrinya tidak mau pulang ke rumah bersama Pak Hen!" jawab Silla santai sambil mengunyah cookies yang tadi dia ambil.
Naynay mengangguk mengerti. "Kalian nggak pesen makan?"
Silla menatap Qiara sebentar dan melihat gadis itu menggeleng. "Nggak, kami ngemil yang ini aja."
__ADS_1
Silla meminta agar Araa dia yang memangku, dan Naynay menyetujuinya. Dia dan Qiara sibuk mencubiti pelan pipi gembul Araa hingga bayi itu tertawa. Tapi kemudian tawa Qiara berhenti dan beralih menatap Naynay yang memperhatikan mereka sambil tersenyum.
"Kau masih marah padaku?" tanya Qiara yang sontak membuat Silla menoleh padanya.
"Aku tidak pernah marah padamu, hanya sedikit kecewa saja. Ya itu wajar karena kau tidak menyukaiku," jawab Naynay tenang dan terkesan santai.
"Aku minta maaf," ucap Qiara membuat Naynay sedikit terkejut.
"Santai saja, aku juga tidak marah kepadamu."
"Emm, apa kau masih berpikiran untuk pergi?" tanya Qiara lagi membuat Naynay tersenyum masam.
"Kau masih mengingatnya, ya. Tenang saja, aku tetap akan pergi. Dan tentang harta itu, aku hanya memanas-manasimu saja. Mana mungkin kakakmu mau memberikan separuh hartanya untuk wanita seperti aku." Naynay tetap tersenyum walaupun hatinya terasa nyeri.
"Qiara, kau sebenarnya tidak perlu takut ketika aku menjadi istri kakakmu. Dari awal pernikahan ini tidak ada cinta sama sekali, lalu bagaimana cara mempertahankannya? Aku hanya bisa bersyukur karena anak yang aku kandung ini dan Araa setidaknya bisa merasakan disayang oleh sosok ayah, walau hanya sebentar. Tunggu sampai anakku lahir dan aku akan pergi." Naynay patut diberi hadiah atas akting terbaik yang dia lakukan. Masih bisa tersenyum walau matanya berkaca-kaca.
Qiara memaki dirinya sendiri di dalam hati. Dia benar-benar bodoh sampai tidak menyadari bahwa wanita di depannya ini begitu mirip dengan mamanya. Sosok wanita begitu kuat, pantas Afif sangat mencintainya.
"Apa kau tidak mencintai kakakku?" Qiara menatap dalam mata teduh Naynay.
Naynay tersenyum dan menurunkan pandangannya ke arah tangannya yang bertaut di atas meja. "Percuma saja jika aku mencintainya sedangkan dia tidak mencintaiku. Untuk sekarang aku hanya berharap agar beberapa bulan ke depan rasa yang mungkin bisa disebut cinta itu tidak bertambah besar. Aku bersyukur karena kakakmu masih mau menikahiku yang sedang hamil anak orang yang bahkan tidak aku ketahui." Naynay mengusap dengan cepat air matanya.
Berpisah dari Afif, rasanya berat sekali hanya sekedar memikirkannya. Tapi sifat Naynay yang tidak peka itu membuatnya sama sekali tidak menyadari betapa besarnya cinta Afif padanya. Dia terlalu fokus pada dirinya yang sedang hamil di luar nikah sehingga tidak bisa berpikir jernih. Naynay selalu berpikiran bahwa dia wanita kotor karena tidak bisa menjaga kehormatannya. Padahal itu bukanlah salahnya.
Qiara sendiri merasa sangat bersalah atas sikapnya selama ini pada Naynay. Dia bahkan ingin Naynay menjadi kakak iparnya selamanya, tapi dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia juga tidak bisa mengatakan pada Naynay bahwa anak itu adalah anak Afif karena sudah mendapat ancaman.
Silla sendiri lebih memilih bermain dengan Araa. Dia sama seperti Qiara yang mengharapkan agar Naynay tetap menjadi kakak ipar mereka, tapi tidak tahu harus berbuat apa.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Aku perlu kesiapan mental untuk menulis episode selanjutnya... 🥲