My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 193 Merawat Belinda


__ADS_3

Arthur melihat dari kaca spionnya, Belinda semakin jauh dari pandangannya namun akhirnya Arthur berputar arah. Ia tidak tega meninggalkan Belinda. Karena jika terjadi sesuatu, sudah pasti ia akan merasa bersalah. Belum lagi dengan Tuan Keenan dan juga Arsen. Mereka juga pasti akan sangat marah.


Belinda terkejut namun dalam sudut hatinya ada rasa senang karena Arthur akhirnya kembali. Arthur menghentikan mobilnya tepat di depan Belinda. Ia lalu turun dari mobil.


''Ayo naik!"


''Aku tidak mau!" ketus Belinda.


''Sudah, jangan membangkang! Belajarlah jadi istri yang penurut.''


Belinda lalu tertawa. ''Apa? Istri? Siapa yang mau jadi istrimu?''


''Siapapun itu, belajarlah jadi istri penurut jangan pembangkang.''


''Pulang sana! Aku bisa pulang sendiri.''


''Daerah sini susah mencari taksi.''


Belinda lalu mendorong Arthur. ''Minggir sana!'' Belinda kemudian berlalu.


''Anak ini benar-benar keras kepala.'' Gumam Arthur. Arthur lalu menyudul Belinda. Arthur menggendong paksa Belinda.


''Arthur, lepaskan aku!'' Belinda meronta berusaha melepaskan diri dari gendongan Arthur.


''Diam!" Arthur lalu memasukkan Belinda ke dalam mobil. Arthur juga memakaikan sabuk pengaman pada tubuh Belinda. Setelah itu ia kembali melajukan mobilnya. Selama dalam perjalanan, keduanya hanya saling diam. Karena hari juga sudah sore, Arthur memilih mengajak Belinda untuk pulang.


Belinda terkejut karena Arthur membawanya pulang ke rumah Arthur.


''Kok di rumah kamu. Antar aku pulang ke kontrakkan.''


''Sudah ya, aku tidak mau berdebat. Sekarang cepat masuk atau aku telepon Om Keenan.''


''Wah, sudah berani mengancam ya kamu.''


''Sekarang tugasku mengawasimu. Kamu tahu sendiri Papa dan Mama kita sedang pergi liburan. Jadi aku hanya memastikan kalau kamu tidak membuat masalah.'' Ucap Arthur dengan tegas. Belinda hanya bisa terdiam dengan ancaman Arthur itu.


Malam harinya, seperti biasa, Arthur menyiapkan makan malam. Sementara Belinda masih berada di kamarnya. Entah kenapa ia merasa tubuhnya seperti demam.


''Dasar gadis pemalas, bukannya membantu tapi malah di kamar terus.'' Gumam Arthur dengan kesal. Setelah makan malam siap, Arthur menuju kamar Belinda.


''Bel, waktunya makan malam.'' Panggil Arthur sambil mengetuk pintu kamar Belinda.

__ADS_1


''Iya, sebentar.'' Sahut Belinda. Tubuh Belinda terasa sangat lemas. Ia perlahan turun dari tempat tidur lalu membuka pintu. Saat melihat Belinda, Arthur terkejut karena wajah Belinda tampak pucat.


''Bel, kamu baik-baik saja? Kenapa pucat sekali?''


''Ah sudahlah, aku tidak apa-apa.'' Ucap Belinda berjalan begitu saja melewati Arthur. Namun tiba-tiba pandangan Belinda serasa kabur. Langkahnya terasa berat. Dan akhirnya Belinda pingsang. Untung saja Arthir sigap, sehingga ia bisa menangkap tubuh Belinda.


''Bel, kamu kenapa Bel?'' Arthur sangat panik, ia lalu menyentuh kening Belinda.


''Ya ampun, demam begini bilang tidak apa-apa. Dasar keras kepala '' Arthur kemudian menggendong Belinda dan membawanya ke kamar. Malam itu juga Arthur memanggil dokter keluarga untuk memeriksa kondisi Belinda.


''Bagaimana dokter?''


''Tekanan darah Nona Belinda sangat rendah Tuan, dibawah normal. Demamnya hanya faktor kecapekan saja. Saya akan memberikan obat penurun demam, vitamin dan obat untuk tekanan darahnya supaya stabil kembali. Sebaiknya Nona Belinda lebih harus menjaga pola hidup sehatnya. Istirahat yang cukup, olahraga teratur, kelola stress dengan baik. Perbanyak konsumsi air putih. Makan teratur dengan porsi lebih kecil tetapi sering. Hindari minuman yang mengandung kafein dan alkohol. Tambahkan sedikit garam pada makanan. Hindari berdiri terlalu lama. Hindari gerakan tiba-tiba. Jika ingin bangun dari posisi tidur / duduk, lakukan dengan perlahan.'' Jelas Dokter panjang lebar.


''Terima kasih Dokter. Saya akan lebih memperhatikannya.''


''Sebagai calon suami, anda tentu harus lebih memprihatikannya, Tuan. Kalau begitu saya permisi.'' Ucap Dokter dengan senyumnya.


''Iya Dokter. Mari saya antar kedepan.'' Ucap Arthur. Setelah mengatar dokter, Arthur segera mengambil handuk kecil untuk mengompres kening Belinda. Tak lupa ia juga menyiapkan bubur, jaga-jaga jika Belinda nanti terbangun.


''Bel, bangun! Ayo makan dan minum obat.'' Ucap Arthur sambil membelai wajah Belinda.


''Kalau tidur begini, telingaku rasanya tenang karena tidak ada yang berisik. Tapi aku juga merasa kesepian karena tidak ada si cerewet ini.'' Gumam Arthur dalam hati.


''Mama...,'' Belinda merintih.


''Belinda, ada aku disini.'' Kata Arthur sambil menggenggam tangan Belinda.


''Mama....,'' rintih Belinda sambil memanggil Mamanya. Ya, saat sakit seperti itu tentu saja Mamanya yang ia sebut.


''Belinda, bangun!'' Arthur terus berusaha menyadarkan Belinda. Dan perlahan Belinda pun terbangun. Saat membuka mata terlihat samar wajah Arthur, sampai akhirnya wajah pria yang tampak khawatir itu terlihat jelas di mata Belinda.


''Syukurlah kamu sadar.''


''Aku dimana?'' tanya Belinda lirih.


''Di kamarku. Tadi kamu pingsan. Dokter baru saja selesai memeriksamu.''


''Aku ingin Mama,'' rengek Belinda dan tiba-tiba ia menangis.


''Ssstttt cup, cup, cup! Kamu ini sudah dewasa, masa iya merengek memanggil Mama.'' Arthur mencoba menenangkan sambil mengelus kepala Belinda.

__ADS_1


''Aku hanya mau Mama. Kamu galak dan jahat!" kata Belinda sambil menangis sesenggukan.


''Oke, maafkan aku. Aku tidak akan begitu lagi. Sekarang kamu makan ya.''


''Aku tidak mau!"


''Aku suapin kamu, oke.'' Arthur kemudian membantu Belinda untuk bangun dan bersandar pada dipan.


''Panasmu tinggi sekali, Bel. Kata dokter tekanan darahmu juga sangat rendah. Kalau kamu masih tidak enak, kita ke rumah sakit saja ya.''


''Tidak! Aku mau di rumah saja.''


''Ya sudah, kalau begitu sekarang makan. Aku sudah membuatkanmu bubur.'' Dan Arthur lalu menyuapi Belinda. Belinda pun menurut tanpa banyak bicara. Begitulah kalau Belinda sedang sakit. Ia bisa seperti seorang balita saat sakit.


''Aku sudah kenyang.'' Ucapnya sambil mendorong pelan tangan Arthur yang hendak menyuapinya.


''Tapi baru beberapa suap, Bel.''


''Jangan paksa aku, Arthur. Perutku rasanya mual dan ingin muntah.''


''Oke-oke, aku tidak akan memaksanya. Sekarang minumlah semua obat ini ya.'' Pinta Arthur. Belinda hanya mengangguk.


''Karena kamu sudah meminum obat, sekarang istirahatlah.''


''Iya tapi jangan kemana-kemana ya.''


''Iya-iya. Aku akan disini saja. Sebaiknya besok kamu tidak usah bekerja. Apalagi besok kita kerjanya di lapangan lagi. Besok ada syuting di pantai juga dan angin laut tidak bagus untuk kesehatanmu.''


''Di pantai? Kenapa tidak di tempat lain?''


''Ya memang konsep yang aku dan Grace sepakati seperti itu. Jadi untuk sementara jangan pikirkan pekerjaan dulu ya.''


''Iya baiklah.''


''Oh ya satu lagi, jangan memanggilku dengan sebutan nama saja sekalipun kamu sedang marah padaku. Jadi tetap panggil aku Kak Arthur.'' Tegas Arthur.


''Ya, tergantung mood.'' Jawabnya memelan.


''Tapi aku tidak rela kalau Kak Arthur bersama wanita itu. Apa benar aku cemburu? Apa benar aku mulai menyukainya? Biasanya aku cuek dia dekat dengan siapa saja. Aduh, aku ini kenapa sih? Jantungku akhir-akhir ini sepertinya juga sedang tidak aman.'' Gumam Belinda dalam hati.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2