My Perfect Husband

My Perfect Husband
Detak jantungnya...


__ADS_3

Genap sudah delapan minggu usia kandungan Naynay. Sejak dia pingsan seminggu yang lalu, Afif tidak pernah lagi memasang wajah dinginnya pada Naynay. Kecuali kalau sedang kesal karena Naynay yang tidak pernah peka terhadap apa yang dia mau.


Seharusnya hari ini Naynay pergi sekolah, tapi dia harus cek kandungan ke dokter. Semua sudah diatur oleh Ryan sesuai perintah dari Afif, memangnya siapa yang punya hak memerintah laki-laki itu selain Afif seorang?


"Aku tidak bisa menemanimu untuk periksa," ucap Afif setelah dibantu Naynay memakaikan das.


"Nggak apa-apa kok, Kak. Nay bisa pergi sama mama." Naynay mengambil jas hitam yang sudah dipilihnya dan memakaikannya ke tubuh kekar Afif.


Afif menahan tangan Naynay yang hendak melangkah menuju ranjang. Istrinya itu belum cuci muka, apalagi mandi. Lagi malas, katanya. Rambut kusut dan wajah bantal itu tidak membuat keimutan Naynay berkurang sedikit pun. Naynay layaknya Jennie BLACKPINK yang tetap cantik dalam keadaan apapun.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak! Aku tidak bisa menemanimu karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda." Afif khawatir jika nantinya Naynay berpikir kalau dia sama sekali tidak menyukai anak itu.


"Nay nggak berpikir yang macam-macam, lebih baik sekarang Kakak berangkat." Senyum manis yang dipaksakan terukir di bibir Naynay. Jangan pikir Afif tidak menyadari hal itu. Manusia tampan yang satu ini punya kepekaan yang tinggi, tapi hanya menyangkut Naynay saja.


"Kau tidak ikut turun? Kenapa?" tanya Afif dengan telapak tangan menangkup pipi tembem Naynay.


"Nay pengin tidur lagi," jawabnya dengan mata yang berair karena menahan kantuk.


"Baiklah, aku akan meminta Pak Hen untuk mengantarkan sarapanmu."


Naynay mengangguk pelan, meraih tangan kanan Afif dan menciumnya. Rutinitas wajib setiap pagi sebelum Afif berangkat bekerja.


"Nay, cium dulu dong. Apa aku harus mengingatkanmu setiap pagi?" Afif sudah mencondongkan wajahnya dengan bibir yang sudah maju beberapa senti.


Naynay mengerjap-ngerjapkan matanya polos sebelum akhirnya menempelkan bibirnya di bibir Afif. Suaminya itu tidak akan puas sebelum ciuman yang dia maksud sudah Naynay berikan. Jadi dengan sedikit kaku, Naynay menyesap bibir atas dan bawah Afif bergantian selama beberapa menit.


'Ya ampun, aku kelepasan.'


Naynay melepaskan ciumannya dan mengumpati dirinya yang bisa-bisanya bertindak agresif seperti itu. Aaaaa.... Dia malu!!! Wajah merona kembaran kepiting rebus itu sudah membuktikan rasa malunya.


"Tiba-tiba aku merasa tidak enak badan, rasanya tidak sanggup bekerja." Laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memegangi kepalanya, bersandiwara seolah-olah ia beneran sakit. Tapi Naynay tidak percaya sama sekali. Sebulan menikah sudah membuat Naynay tahu sedikit banyaknya perangai suaminya ini.


"Tapi Kakak kan punya pekerjaan yang nggak bisa ditunda. Kak Ryan pasti sudah ada di bawah sekarang." Naynay mencoba untuk membuat Afif pergi bekerja, kalau tidak, maka habislah dia.


"Dia akan pergi ke kantor jika aku tidak turun sepuluh menit lagi." Afif berguling-guling di atas ranjang sambil membuka sepatunya menggunakan kakinya.


Sepuluh menit? Naynay tidak punya ide agar Afif bisa turun hanya dalam waktu sesingkat itu.

__ADS_1


"Tapi...."


"Apa kau sedang memaksaku agar tetap bekerja dalam keadaan sakit? Tenang, Sayang. Uangku tidak akan habis jika aku tidak bekerja sekalipun."


Ck, Naynay benci nada songong itu. Percuma juga memikirkan rencana bagaimana agar Afif pergi bekerja. Dia tidak bisa menahan kantuknya lagi sekarang. Naynay membaringkan tubuhnya di samping Afif dengan posisi setengah menyamping.


"Nay..."


"Kak, Nay ngantuk...." rengek Naynay tanpa membuka matanya. Tak lama setelah itu, dia sudah tidur dengan mengeluarkan dengkuran halus.


Afif mengirim pesan singkat kepada Ryan dan mengatakan bahwa dia sedang tidak enak badan. Gengsi juga mengakui bahwa tidak jadi ke kantor karena mendapat ciuman lembut dari Naynay.


"Gengsi tidak akan membuat anda kenyang, tuan muda." Ryan mendumel kesal setelah membaca pesan itu.


Ryan paham sekali tidak enak badan yang dimaksud Afif itu. Apa susahnya sih berkata jujur kalau tidak mau berangkat ke kantor karena ingin berduaan dengan istri?! Aaakkhhh.... Ryan kesal bukan main. Dia keluar dari rumah itu sambil menghentak-hentakkan kakinya. Sudah seperti anak ABG yang tidak mendapatkan izin pergi ngumpul bareng temennya.


*****


Naynay dan Afif sedang sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit di mana Dokter Melisa praktik, rumah sakit milik Hendrayan. Awalnya Afif sudah menyiapkan dokter obgyn khusus untuk Naynay, tapi koala bunting itu menolak dengan alasan sudah nyaman dengan Dokter Melisa, dokter yang pertama kali menanganinya.


Karena Afif tidak jadi berangkat bekerja, jadi dia yang mengantarkan Naynay periksa. Di dalam hati kecilnya, dia tidak ingin melewatkan perkembangan malaikat kecilnya.


"Sudah delapan minggu, ya. Mari kita USG dulu," ucap dokter Melisa setelah melihat catatan khusus milik Naynay.


Ini adalah pengalaman pertama Afif melihat proses USG. Perut Naynay mulai dibaluri gel dan Dokter Melisa mulai menggerakkan alatnya di sana.


"Panjangnya sekitar 2,8 cm. Wajahnya sudah mulai terlihat jelas, bisa dilihat dari bibir, telinga, dan ujung hidungnya. Hidungnya mancung banget, nih."


Afif begitu takjub melihat wajah darah dagingnya itu. Hidung mancung itu benar-benar perpaduan antara dirinya dan Naynay.


"Kita dengarkan detak jantungnya, ya."


Deg


Deg


Deg

__ADS_1


Deg


Deg


Air mata Naynay tumpah seketika mendengar detak jantung malaikat kecilnya. Begitupun dengan Afif, dia terpaku ketika mendengar detak jantung makhluk kecil yang berada di dalam perut Naynay itu. Jantung Afif berdetak seirama dengan detak jantung milik makhluk kecil yang terpampang di monitor itu.


Dokter Melisa memberi kode kepada suster di sana untuk membersihkan gel di perut Naynay. Setelah itu mereka kembali duduk di tempat sebelumnya.


"Apa ada keluhan lain, Nona?" tanya Dokter Melisa setelah mencatat perkembangan janin kecil tadi.


"Dada Nay kadang nyeri, dan juga itu...." Naynay menggerakkan kedua telunjuknya membentuk lingkaran besar karena malu dengan Afif yang menatap bingung padanya.


"Itu wajar, Nona. Payudara juga akan terasa berat karena lobulus yang memproduksi ASI mulai membesar. Jika nanti Anda mengalami kram, bisa diatasi dengan berbaring dan atur napas."


Naynay mendengarkan dengan serius penjelasan dari Dokter Melisa. Sedangkan suaminya, dia sibuk memperhatikan wajah serius Naynay yang menurutnya menggemaskan. Apalagi mulut bumil itu sesekali terbuka.


Setelah selesai dengan segala keluhan selama sebulan terakhir, mereka memutuskan untuk langsung pulang. Di dalam mobil, Afif tidur di pangkuan Naynay dengan kepala mengarah ke perut Naynay. Senyum tampannya tak pernah surut sejak keluar dari ruangan Dokter Melisa tadi.


"Geli, Kak!" keluh Naynay ketika Afif menciumi perutnya yang dilapisi dress hitam selutut itu.


"Bangunkan aku kalau sudah sampai!" ucap Afif seraya memeluk pinggang Naynay dan memejamkan matanya.


Sopir jomlo yang menyetir hanya bisa elus dada. Sudah disuruh kerja sendirian, rapat sendirian, sekarang disuruh untuk menjadi obat nyamuk pulak. Ryan, lelaki itu memutar spion tengah mobil hingga memantulkan wajah tampannya sendiri.


.


.


.


.


.


Maaf, besok nggak up dulu. Aku mau liburan dulu, Gaesss!!!


Akhirnya setelah sekian lama cuma rebahan sambil ngemil ketiwaw, aku bisa liburan jugaaa. Yaa walaupun cuma sehari ini.

__ADS_1


Yokkkk, Pesisir Selatan yokkkk


Byeeee, aku sayang kalian ♡ ♡ ♡ ♡


__ADS_2