My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 205 Tanda-tanda Posesif


__ADS_3

''Sudah ya Mah, jangan membuat masalah lagi. Sudah bagus mereka tidak melaporkan Mama ke kantor polisi karena Mama secara tidak langsung sudah menganiaya Sheena.'' Fandi mencoba mengingatkan.


''Tapi kalau sampai Tuan Darwin tahu, habislah kita, Fandi. Bukan hanya masuk bui tapi reputasi keluarga dan perusahaan kita dipertaruhkan.'' Kata Tuan Ifan.


''Makanya Pah, sekarang Papa dan Mama tahu kan, betapa baiknya hati Sheena. Sekalipun dia sudah menjadi putri seorang konglomerat dia sama sekali tidak sombong dan tidak memanfaatkan kedudukannya untuk menjatuhkan kita. Padahal kalau Sheena mau, Sheena bisa dengan mudah membalaskan dendamnya pada kita. Apa Mama mau masuk buit?''


''Mama tidak mau lah, Fan. Kamu kenapa sih bicara seperti itu nakut-nakutin Mama saja. Makanya jaga sikap Mah. Mama seharusnya tahu siapa yang kita hadapi sekarang. Aku harap untuk kedepannya, Mama jangan ikut campur dalam urusan rumah tanggaku dengan Olivia. Setelah Olivia sembuh, aku akan pindah ke rumah Olivia.''


''Untuk urusan kamu dan Olivia, sudah jelas Mama tidak akan ikut campur karena dari awal Mama sudah memberikan restu. Jadi lakukan apa saja yang membuat kalian bahagia.'' Kata Nyonya Citra. Nyonya Citra pun menjadi khawatir jika suatau saat sikap buruknya pada Sheena terbongkar keluarganya. Bukan hanya takut miskin tapi ia tidak mau kedinginan dibalik jeruji besi.


Kini Arsen dan Sheena sedang dal perjalanan menuju kantor.


''Aku bangga sekali padamu sayang.'' Kata Arsen sambil membelai kepala istrinya.


''Bangga kenapa memangnya?''


''Hati kamu terbuat dari apa sih? Kenapa kamu bisa memaafkan orang tua Fandi dengan begitu mudahnya setelah apa yang sudah mereka lakukan padamu, terutama ibunya. Aku saja kesal sekali melihatnya, rasanya tidak ingin berlama-lama berada disana.''


''Ya sudah lah sayang, kita memang harus berdamai dengan keadaan. Toh buktinya sekarang kehidupan aku lebih bahagia. Ada kamu yang mencintaiku, aku punya Kakak yang sangat menyayangiku dan aku juga punya Mama-Papa yang selalu ada untukku. Semuanya sudah aku dapatkan meskipun sebelumnya aku harus melewati ujian yang menguras air mata. Apa yang aku dapat sekarang sudah cukup membuatku melupakan masa-masa sulit itu, sayang. Sudahlah, jangan membahas itu lagi. Kita harus segera sampai kantor bukan?''


''Ketulusan kamu, semakin membuatku mencintaimu kamu, sayang.''


''Ah masa sih?'' goda Sheena terkekeh.


''Dasar kamu!"


-


Sementara pagi itu, saat Belinda hendak pergi ke kantor, ia terkejut melihat Erick sudah berada di depan halaman kontrakannya. Belinda lalu menghampirinya.


''Erick? Kam-kamu disini?''


''Iya, sudah daritadi malah. Jadi, kamu tinggal disini?''


''Iya, aku tinggal disini. Aku anak perantauan.''


''Baiklah, bagaimana kalau aku antar kamu ke kantor? Karena aku dan Nona Grace juga akan ke kantor Tuan Arthur. Mau melihat hasil iklan kemarin.''


''Oke, aku menerima tawaranmu.'' Jawab Belinda dengan senang hati. Tentu saja Belinda sangat senang karena ia tidak perlu kepanasan naik motor atau berdesakan naik angkot. Tawaran dari Erick tentu saja tidak ia sia-siakan. Erick kemudian membukakan pintu mobil untuk Belinda. Setelah Belinda masuk, ia pun ikut masuk dan segera melajukan mobilnya.


''Oh ya Bel, do you have a boyfriend?''

__ADS_1


''No, im single. Why?''


''Tidak apa-apa. Setidaknya kalau kamu single, aku tidak khawatir mengajakmu jalan dan keluar.''


''Tentu saja tidak masalah, Erick. Oh ya kamu sendiri tinggal dimana?''


''Sebenarnya aku asli Australia tapi karena kerja dengan Nona Grace, aku tinggal di Amerika. Tapi sebenarnya aku kerja apa saja sih yang penting itu menghasilkan uang dalam tanda kutip pekerjaan yang positif ya. Aku juga sering ke Indo.''


''Benarkah? Tempat mana yang sering kamu kunjungi?''


''Saat musim panas, aku selalu menghabiskan waktuku di Bali atau terkadang di Lombok.''


''Aku pikir, ini pertama kalinya kamu ke Indo. Lalu kekasihmu?''


''Aku juga single. Sedang ingin menikmati kesendirian dulu, Bel. Oh ya pulang kantor jam berapa?''


''Jam setengah 5 juga sudah pulang tapi kalau lembur ya, aku harus pulang malam.''


''Oke baiklah, nanti kamu kabari aku ya. Aku ingin mengajakmu makan malam. Kalaupun kamu lembur, aku yang akan datang ke kantor membawakanmu makan malam.''


''Erick, kita baru saja saling mengenal. Apakah itu tidak terlalu berlebihan?''


''Bukan itu maksudku, aku tidak mau merepotkanmu.''


''Aku sama sekali tidak repot, Belinda. Aku senang melakukannya. Oh ya kamu suka makanan apa?''


''Terserah kamu saja. Aku ini hanya gadis biasa yang tidak punya apa-apa Erick? Masih banyak wanita seksi dan jauh lebih baik dari aku.''


''Hei Belinda, kenapa kamu inscure? Kamu cantik, lucu dan menggemaskan. Wanita seksi itu sudah biasa dimataku, ya kamu tahu sendiri kan bule itu bagaimana?''


''Mmm iya juga sih. Ternyata kamu asyik juga ya. Aku malu lho duduk satu mobil dengan kamu seperti ini.''


''Kamu harus percaya diri dan tidak boleh rendah diri, Belinda. So, jadilah dirimu sendiri dan apa adanya saja.''


''Iya, terima kasih ya untuk motivasinya.''


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai juga di kantor. Disaat yang bersamaan, Arthur juga baru saja tiba. Ia terkejut melihat Belinda datang bersama Erick. Melihat Arthur, Erick dengan antusias menyapanya.


''Selamat pagi Tuan Arthur.''


''Pagi Erick.''

__ADS_1


''Pagi Tuan.'' Belinda pun ikut menyapa Arthur dengan senyum terramahnya. Entah kenapa Arthur menjadi kesal melihat Belinda bersama dengan Erick.


''Kalian berangkat bersama?'' tanya Arthur.


''Iya Tuan. Aku tadi menjemput Belinda di kontrakannya jadi sekalian saja kita berangkat bersama.''


''Kalian sudah sangat akrab sekali ya sepertinya?'' kata Arthur dengan mengeratkan rahangnya.


''Ya begitulah, Tuan. Belinda juga sangat humble dan sangat menyenangkan.'' Ucap Erick sambil menatap kearah Belinda.


''Belinda, ikut keruanganku sekarang! Dan kamu Erick, langusng menuju ruang editor.'' Perintah Arthur dengan nada suara yang tegas.


''Baik Tuan.'' Jawab Erick.


''Erick, aku masuk dulu ya. Terima kasih untuk tumpangannya.''


''Iya sama-sama. Jangan lupa kabari aku.''


''Oke.'' Belinda kemudian berjalan mengekor Arthur dari belakang.


Sesampainya di ruangan, Arthur mengambil tumpukan dokumen di mejanya lalu memindahkannya ke meja Belinda.


''Tuan, apa-apaan ini?'' protes Belinda.


''Apa-apaan bagaimana? Itu tugasmu. Jangan keluar sampai semuanya selesai.'' Ucap Arthur dengan suara meninggi.


''Aku kan mau lihat iklan yang sudah jadi, masa tidak boleh.''


''Kamu kan baru sembuh juga, jadi kamu cukup duduk diruangan dan selesaikan semua pekerjaanmu ini.''


''Apa aku tidak boleh makan siang?''


''Nanti aku akan membawakanmu makan siang. Jadi selama pekerjaanmu belum selesai, kamu dilarang keluar ruangan.''


''Kalau mau pipis? Masa iya harus ditahan?''


''Itu pengecualian. Yang jelas aku ingin, semua pekerjaan itu selesai hari ini tepat jam 3. Itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawabmu, paham!"


''I-iya. Baru juga masuk sudah di suruh kerja rodi,'' Belinda mendumel. Namun Arthur tidak peduli itu, ia ingin Belinda tetap diruangan dan tidak usah bertemu Erick.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2