
Mobil hitam mewah berhenti di pelataran rumah dan sang Tuan Muda turun dari mobil dengan aura dingin yang memancar kuat. Kaki panjangnya melangkah memasuki rumah, raut wajahnya terlihat begitu menyeramkan.
"Pastikan tuan muda tidak berbuat kasar!" ucap Ryan pada Pak Hen yang bingung melihat ekspresi marah Afif.
"Ada apa sebenarnya?"
"Anda tidak perlu tahu, tapi pastikan saja antar nona Naynay ke atas dan jangan biarkan tuan muda bersikap kasar!" ucap Ryan sebelum masuk kembali ke dalam mobil dan pergi.
Pak Hen mengerti, Afif dan Naynay pasti bermasalah sekarang ini. Nona muda itu beserta Qiara dan Silla masih belum pulang. Naynay mengatakan pada Afif sebelumnya bahwa mereka bertiga pergi ke rumah Hendrayan terlebih dahulu untuk mengantar Araa. Bayi itu akan dibawa Yasmin ke acara reuni SMA nya esok hari.
Tak lama setelah itu, akhirnya tiga orang itu pulang. Pak Hen yang masih berada di sana untuk menunggu mereka pun segera membukakan pintu untuk Naynay.
"Kak Afif udah pulang, Pak Hen?" tanya Naynay setelah keluar dari mobil.
"Baru saja, Nona."
Naynay mengerutkan keningnya mendengar Afif baru saja pulang. Ini sudah lewat jam makan malam dan dia baru pulang? Naynay dan kedua adik iparnya sudah makan malam di rumah Hendrayan tadi, tentu sudah mendapat izin dari Afif.
"Mari, Nona Muda." Pak Hen menggerakkan tangannya sebagai kode agar Naynay berjalan terlebih dahulu.
Naynay segera masuk dan menaiki tangga menuju kamar. Dibukanya pintu dan hanya melihat pakaian Afif yang berserakan di atas ranjang, sedangkan orangnya tak terlihat.
Pak Hen sendiri tetap berdiri di depan kamar walaupun pintunya sudah dia tutup setelah Naynay masuk.
Naynay membawa pakaian Afif yang berserakan di atas ranjang tadi ke ruang ganti dan memasukkannya ke keranjang baju kotor di sana. Dia bisa mendengar dengan jelas suara gemericik air sebelum masuk ke ruang ganti tadi. Sebelum keluar, Naynay tidak lupa menyiapkan piyama untuk suaminya yang sedang mandi tersebut.
Naynay duduk di tepi ranjang sembari menunggu Afif selesai mandi. Tapi baru saja dia duduk, dia mendengar suara pintu yang dibanting dari dalam kamar mandi. Naynay merasa ada yang tidak beres dan berjalan menuju kamar mandi. Dibukanya pintu tetapi Afif tidak ada di sana. Naynay memutuskan untuk mandi terlebih dahulu karena sudah tidak nyaman.
Setelah mandi dan melilitkan handuk di tubuhnya, Naynay membuka pintu menuju ruang ganti dan terkejut melihat Afif berdiri tepat di depannya dengan masih menggunakan handuk. Wajah Afif terlihat seperti awal menikah dulu, datar dan sedikit menyeramkan.
"Astaga!" pekik Naynay ketika matanya melihat tangan Afif terluka dan berdarah.
Naynay segera menarik tangan Afif keluar dari ruangan itu dan dengan paniknya mencari kotak P3K. Setelah dapat, dia menghampiri Afif yang duduk di pinggir tempat tidur dan segera mengobati tangan suaminya itu.
"Kenapa sampe gini? Kakak ngapain tadi?" tanya Naynay khawatir sambil memperban tangan Afif yang sudah dia obati. Afif terlihat seperti baru saja memukul sesuatu yang keras hingga tangannya bisa seperti ini.
Afif hanya diam, tapi tatapannya tetap pada Naynay. Tatapannya berubah-ubah, ada cinta, marah, dan kecewa juga di sana.
__ADS_1
"Kakak kenapa?" tanya Naynay lagi setelah meletakkan kotak P3K di atas nakas.
"Kau mengkhawatirkanku?" tanya Afif dingin membuat Naynay semakin merasa ada yang tidak beres. Pasalnya pas dia meminta izin untuk pergi ke rumah Hendrayan tadi siang pun Afif juga terkesan dingin dan cuek.
"Kakak itu suami Nay, gimana Nay nggak khawatir?" balas Naynay logis dengan menyebut status Afif sebagai suaminya.
Tangan Afif yang sudah diperban itu terangkat dan memegang tengkuk Naynay. Dia mendekatkan wajahnya hingga hidungnya bersentuhan dengan hidung Naynay.
"Lalu, apa kau mencintaiku?" tanya Afif sambil menarik tengkuk Naynay hingga bibir mereka bertemu. Dia bertanya tapi malah membungkam bibir bibir Naynay dengan ciuman lembut.
Jantung Naynay berdebar begitu cepat ketika mendengar pertanyaan Afif. Ditambah dengan ciuman itu membuat napasnya seolah terhenti.
"Jawab!" ujar Afif dingin setelah melepas ciumannya.
Naynay hanya diam, tidak mau menjawab pertanyaan Afif. Dia membiarkan Afif memeluknya dengan erat.
"Kau tidak mau menjawabnya?" tanya Afif lagi seraya menarik lilitan handuk Naynay yang berada dalam pelukannya.
Afif mengangkat tubuh Naynay dan membaringkannya di tengah ranjang, tapi sebelum itu dia sudah membuang handuk Naynay ke lantai dan menutupi setengah tubuhnya yang berada di atas Naynay dengan selimut.
"Kak..." Naynay sudah panik dan berusaha keluar dari kungkungan Afif, tapi percuma jika kekuatannya tidak sebanding.
"Nay, aku suamimu, bukan?" Afif mengusap pelipis Naynay yang berkeringat. Naynay membalas dengan anggukan kecil walau sedang dilanda ketakutan.
"Kau percaya padaku, kan?" tanya Afif lagi dengan mengecup bibir Naynay sekilas. Tapi kali ini Naynay sama sekali tidak menjawab.
"Biarkan aku yang menjadi ayah dari anak yang sekarang kau kandung, lupakan ketakutanmu. Jangan pikirkan apa pun selain kau adalah istriku dan akan selalu seperti itu."
Setelah itu Afif mencium bibir Naynay dengan lembut sambil membuka kaki Naynay dengan perlahan. Afif mulai memposisikan tubuhnya di antara paha Naynay.
"Kau istriku dan aku suamimu, jangan pikirkan yang lain!" bisik Afif sebelum mencium Naynay kembali dan bersiap memasuki Naynay.
Naynay memejamkan matanya saat Afif mengatakan itu, dia berusaha membuang pemikiran buruk yang menari-nari di otaknya. Hingga saat dia merasakan sesuatu berusaha masuk ke area bawahnya, Naynay tersentak kaget.
Terdengar lenguhan dari bibir Naynay yang dicium Afif, Naynay mencengkram sprei dengan begitu kuat hingga kusut. Bagian bawahnya terasa sesak karena penyatuan itu.
Afif melepas ciumannya setelah bagian sensitif mereka menyatu sempurna. Dia memindahkan tangan Naynay yang mencengkram sprei ke punggungnya.
__ADS_1
"Kau boleh mencakarku," bisik Afif dan mencium kening Naynay penuh sayang.
Afif mulai menggerakkan pinggulnya dengan perlahan sambil mengusap air mata Naynay yang tiba-tiba mengalir. Berkali-kali dia membisikkan semuanya baik-baik saja pada Naynay.
Mendapati Naynay sudah tenang, Afif memacu tubuhnya sedikit lebih cepat. Erangan dan desahan Naynay membuat nafsunya semakin meningkat. Tapi Afif menahan diri agar tidak bermain kasar, mengingat Naynay sedang dalam keadaan hamil. Dia tidak mau anaknya di dalam sana kenapa-kenapa.
"Aku mencintaimu." Berulang kali Afif mengatakan itu di sela-sela desahannya. Dia mencium bibir dan dada Naynay sesuka hatinya. Pipi Naynay pun mendapat gigitan gemas darinya.
Desahan-desahan keduanya mengisi keheningan kamar yang kedap suara itu. Kuku-kuku Naynay yang mencetak lukisan merah dan terasa perih di punggungnya membuat Afif tersenyum.
Kulit mereka yang berkeringat saling bergesekan di bawah selimut. Mata Naynay terpejam merasakan sensasi yang ditimbulkan oleh penyatuan mereka. Perlakuan lembut Afif membuatnya tidak bisa menahan suara-suara laknat yang meluncur begitu saja dari bibirnya.
Hingga setelah mencapai puncaknya, Afif mencium lama kening Naynay yang sudah tertidur karena lelah. Dia melepas penyatuan mereka dan menjatuhkan tubuhnya di samping Naynay. Afif membawa tubuh Naynay ke dalam pelukannya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
Afif tersenyum lebar sambil mengelus perut Naynay di bawah selimut, kemudian mengecup semua bagian wajah Naynay. Hatinya begitu bahagia karena akhirnya Naynay sudah terbebas dari trauma yang menjeratnya selama beberapa bulan ini.
"Hilangkan pemikiranmu tentang berpisah denganku, kau akan tetap menjadi istriku."
Afif begitu marah saat mendengar rekaman percakapan Naynay dengan Qiara dan Silla di restoran tadi siang yang dikirim oleh orang suruhannya. Dia tidak menyangka bahwa Naynay sudah bertekad kuat ingin berpisah darinya. Tapi terlepas dari itu semua, Afif juga merasa senang ketika mengetahui Naynay juga mencintainya.
Afif memeluk Naynay lebih erat. "Aku benar-benar mencintaimu, Hanaya."
Untuk mengakui bahwa anak yang dikandung Naynay adalah anaknya, Afif memutuskan untuk menunda mengatakannya. Terkesan pengecut memang, tapi sudah memikirkannya matang-matang.
Pak Hen yang masih berdiri di depan pintu kamar akhirnya memutuskan untuk pergi karena tidak mendengar suara benda-benda pecah dari dalam. Sebentar lagi tengah malam dan dia butuh istirahat setelah bekerja begitu keras hari ini.
.
.
.
.
.
Aku nggak berbakat emang bikin adegan Hot, jadi mohon maap yaa...
__ADS_1
Besok udah hari raya aja... Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan. Aku minta maaf jika ada kata-kata yang rasanya melukai hati ada di karya-karyaku... Mohon maaf lahir dan batin 🖤