
Karena kehamilan Naynay yang sudah menginjak usia empat bulan, memasuki trimester kedua lebih tepatnya, jadi dia sudah bisa mengikuti yoga ibu hamil. Yoga khusus ibu hamil memang lebih baik dilakukan saat kandungan sudah memasuki trimester kedua. Instruktur profesional didatangkan ke rumah oleh Afif karena dia tidak mau Naynay sering keluar rumah.
Instruktur yoga yang ramah dan sabar membuat Naynay semangat. Dia mempraktikkan semua gerakan yang dilakukan instruktur itu dengan sempurna. Senyum manis tak luntur dari wajah imutnya walaupun sedikit basah oleh keringat. Yoga ini menjadi hiburan tersendiri bagi Naynay karena Afif sudah mempersingkat waktu untuknya keluar rumah.
"Anda melakukannya dengan sangat baik, Nona. Kita sudahi dulu sampai di sini, ya." Instruktur wanita yang seumuran Yasmin itu tersenyum pada Naynay. Suatu keberuntungan baginya terpilih untuk menjadi instruktur pribadi istri dari Afif Cavin Alvarendra.
Setelah instruktur yoga itu pergi, Naynay pun pergi menuju kamar, tapi lagi-lagi dia bertemu dengan Qiara. Syukurlah Silla tidak ada di sampingnya, Naynay tahu dari Pak Hen kalau gadis itu sedang pergi.
"Ibu hamil baru selesai yoga, mudah-mudahan bayinya sehat, jangan sampe nanti pas lahir cacat!" sarkas Qiara membuat hati Naynay panas. Bagaimana tidak? Gadis itu secara tidak langsung mendoakan yang tidak baik untuk anaknya.
"Apa kau tidak lelah menggangguku terus? Lebih baik kerjakan PR-mu agar tidak terkena masalah besok pagi!" balas Naynay yang enggan membalas dengan mambawa-bawa malaikat kecilnya.
Qiara benar-benar tak habis pikir. Apakah ucapannya tadi itu tidak membuat Naynay sakit hati? Kenapa dia terlihat begitu tenang?
"Kau berjanji akan pergi beberapa bulan lagi, silakan ambil harta itu dan tepat janjimu!" ujar Qiara yang marah mengingat ucapan Naynay mengenai separuh harta Afif sudah berpindah nama atas namanya.
"Kapan aku berjanji? Kalaupun iya, aku juga tidak akan pergi karena harta kakakmu membuatku merasa senang." Naynay tersenyum mengejek, mengejek dirinya sendiri yang sekarang terlihat seperti wanita matre.
"Wanita tidak tahu malu!" bentak Qiara marah. Jika bukan karena mengingat peringatan dari Silla, dia mungkin sudah menjambak rambut Naynay.
"Qiara, jiwamu akan melemah jika kau berbicara padaku. Apa kau tidak takut wajahmu itu keriput?" tanya Naynay yang kembali mengejek. Orang keras juga harus dibalas keras.
"Kau tidak akan bisa menjadi istri kakakku selamanya, Hanaya. Ada perempuan yang lebih pantas darimu untuk mendampingi kakakku!" ucap Qiara sambil menyunggingkan senyum miring.
Naynay mengangguk kecil, masih dengan wajah tenangnya. "Terserah, yang jelas istrin kakakmu sekarang itu adalah aku."
Qiara mengepalkan kedua tangannya kesal. Kenapa ucapannya tidak bisa membuat Naynay marah sedikitpun? Dengan wajah memerah marah, dia pergi meninggalkan Naynay.
__ADS_1
Naynay segera menaiki tangga untuk menuju kamar. Ada sesuatu yang memaksa ingin keluar. Setelah menutup pintu kamar, dia berjalan gontai menuju sofa. Setelah tubuhnya mendapat kenyamanan di sana, Naynay mengusap kepalanya yang terasa sedikit sakit.
Ada sesuatu yang mengalir dari ujung mata Naynay dan membasahi pipinya. Bohong jika dia tidak marah dan sedih mendengar ucapan tajam Qiara yang menohok jantung itu.
Terkadang Naynay merasa hidupnya tidak adil. Entah apa kesalahan yang dia perbuat hingga diberi kehidupan seperti ini. Tapi secepat mungkin dia menghilangkan pemikiran bodoh itu dengan cara mengelus perutnya. Malaikat kecilnya yang masih di dalam perut itu adalah obat penenang baginya.
"Kita berjuang sama-sama, ya, Sayang. Setelah kamu lahir nanti kita bakalan pergi dan akan Mama pastikan kamu itu mendapat kasih sayang yang besar dari orang-orang di sekeliling kita."
Malaikat kecil di dalam sana merespon dengan menggerakkan tubuhnya. Tampaknya dia sedang menyemangati mamanya yang sedang bersedih, ya walaupun Naynay belum merasakan gerakan itu karena usia kandungan yang masih muda.
"Yang sehat di dalam sana, Kesayangan Mama." Naynay tersenyum sambil berjalan menuju kamar mandi dengan masih mengelus perutnya.
Hanya itu yang bisa dilakukan Naynay, bersikap tenang dan kalem menghadapi orang-orang yang membencinya. Tapi di belakang itu, dia akan menangis sebagai luapan emosi karena sudah dicaci dan dikatai.
Hanya ada satu orang yang membuat Naynay tidak bisa bersikap sok tegar, dialah Afif. Suaminya itu seolah memiliki magnet yang membuat segala bentuk emosi dari dalam dirinya tertarik keluar. Itulah mengapa Naynay selalu gampang menangis jika bersama Afif, dia langsung berubah menjadi wanita cengeng.
Di gedung tinggi yang merupakan perusahaan induk Cavin Group, di ruangan CEO lebih tepatnya, sang pemilik sedang melihat layar iPad yang dipegangnya. Sesekali tangannya bergerak mengambil kismis di dalam toples yang ada di atas mejanya.
"Apa kau tidak lelah menggangguku terus? Lebih baik kerjakan PR-mu agar tidak terkena masalah besok pagi."
Afif tersenyum tipis kala rekaman CCTV yang tersambung di iPad-nya menampilkan Naynay yang sedang menatap malas pada Qiara yang mengganggunya. Perkataan Naynay itu pun sontak membuat Qiara semakin kesal.
"Qiara, jiwamu akan melemah jika kau berbicara padaku. Apa kau tidak takut wajahmu itu keriput?" Istrinya itu masih terlihat tenang membalas perkataan Qiara.
Afif kembali tersenyum, tapi senyuman yang terlihat menyeramkan ketika mendengar ucapan Qiara. Dan Naynay, ada saja balasan nyelenehnya yang membuat Qiara terdiam. Adiknya itu menahan kesal karena tidak bisa melawan Naynay yang selalu saja tidak terpengaruh dengan ucapannya.
"Kau tidak akan bisa menjadi istri kakakku selamanya, Hanaya. Ada perempuan yang lebih pantas darimu untuk mendampingi kakakku!"
__ADS_1
Prangg
Bertepatan dengan itu, toples kaca yang masih berisi kismis itu melayang dan berbenturan dengan tembok hingga pecah. Butiran kismis itu berserakan di lantai karena wadahnya sudah hancur tak berbentuk.
"Terserah, yang jelas istri kakakmu sekarang itu adalah aku."
Walaupun Naynay tersenyum, tapi Afif tahu bahwa istrinya berkata seperti itu untuk menyemangati dirinya sendiri. Setelah itu Qiara pergi meninggalkan Naynay.
Afif meletakkan benda lebar pipih itu ke atas mejanya dengan kasar dan memakai jasnya yang dia lepas. Dia berjalan dengan langkah besar keluar dari ruangannya diikuti oleh Ryan yang sejak tadi berdiri di sampingnya.
Melewati staff khusus sesaat setelah keluar, Ryan memberikan kode mata untuk membersihkan ruangan Afif yang berantakan.
Ryan yang juga melihat rekaman CCTV tadi juga merasa marah. Pasalnya Afif sudah memberi peringatan kepada Qiara, tapi gadis itu masih tetap mencari masalah. Bahkan sampai meminta bantuan dari Silla.
'Anda sudah keterlaluan, Nona.'
.
.
.
.
.
Qiara bakalan diapain, ya....
__ADS_1
Woi, itu part Silla kok likenya dikit kaliii???