
Keesokan harinya, Sheena dan Arsen pergi mengunjungi rumah baru Pak Damar.
''Ayah senang sekali kamu akhirnya pulang dengan selamat, Nak.'' Ucap Pak Damar seraya melepaskan pelukan putrinya.
''Ayah, bagaimana kabar Ayah?''
''Ayah baik nak Arsen. Ayo masuk!" Pak Damar kemudian mengajak Sheena dan Arsen menuju ruang tengah.
''Oh ya Sinta dan Ibu mana?''
''Nak, kamu tahu kan bagaimana tingkah Ibu dan adikmu itu? Mereka hampir setiap hari belanja. Dan sejak pindah ke rumah ini, mereka sering sekali membawa tamu ke rumah. Itulah alasan Ayah tidak mau menerima apa yang kalian berikan.''
''Ayah, biarkan saja mereka. Mungkin Ibu dan Sinta terlalu bahagia dengan keadaan yang sekarang. Sheena juga tidak mungkin bahagia sendiri tanpa kalian.''
''Kamu memang anak Ayah yang paling baik tapi mereka terlalu boros sekali. Oh ya Ayah buatkan minum dulu ya.''
''Eh tidak usah repot-repot Ayah. Kami tidak bisa lama-lama karena Arsen harus ke kantor juga.''
''Iya Ayah, tidak usah repot-repot. Sekalian kami membawa sedikit oleh-oleh dari Macau.'' Kata Arsen sambil memberikan paprbag berukuran besar pada Pak Damar.
''Nak Arsen, kamu ini repot-repot segala. Kalian pulang dengan selamat saja, Ayah sudah sangat bahagia.''
''Tidak apa-apa Ayah.'' Jawab Arsen.
''Oh ya Ayah jangan lupa datang ke pesta pernikahan kami ya.''
''Pasti Nak. Ayah tidak akan lupa. Bahkan Ayah sudah membuat alarm pengingat di ponsel Ayah.''
Setelah banyak mengobrol, Sheena dan Arsen pun akhirnya pamit. Arsen mengantar Sheena ke rumah Nyonya Dira, sementara Arsen segera pergi ke kantor.
Sesampainya di kantor, Arsen segera menuju ruangannya dan kembali bekerja seperti biasa. Tumpukan dokumen sudah memenuhi mejanya. Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
Tok tok tok tok tok!
''Masuk!" sahut Arsen.
''Hai Hyung!" sapa Brian dengan senyum lebarnya.
''Brian! Untuk apa disini?''
''Hehehe ini hyung, aku mau minta tanda tangan. Hyung belum tahu kalau aku mulai bekerja disini.''
''Serius kamu bekerja? Bagian apa?''
''Papa menempatkan aku sebagai staf biasa. Lebih tepatnya aku disuruh menyamar untuk mendapatkan gadis yang tulus mencintaiku.'' Kata Brian.
''Baguslah kalau kamu sudah mulai terlibat dalam perusahan. Jadi untuk menemukan gadis yang tulus, panggil aku Tuan ya selama di kantor.''
''Apa? Hyung jahat sekali. Papa juga begitu. Kenapa kalian semua tega sekali?'' protes Brian.
''Ini untuk kebaikanmu supaya kamu tidak tertipu seperti hyung mu ini.''
''Hyung, aku mau minta uang boleh? Papa hanya memberiku uang transport dan makan saja. Uang untuk foya-foya tidak ada hyung. Seketika pamorku sebagai casanova hilang begitu saja.''
''Nah, sudah jelas kan mereka menyukaimu hanya karena uangmu. Kamu harus belajar mengatur keuangan mulai sekarang Brian. Tahun depan usiamu 21 tahun, sudah saatnya belajar mandiri. Aku mendukung semua keputusan Papa.''
Brian mendengus kesal. ''Lalu apa tidak ada oleh-oleh untukku?''
__ADS_1
''Sudah aku antar ke rumah semuanya.''
''Oh ya hyung, kalau sesekali aku numpang makan atau tidur di rumah hyung boleh kan?'' Brian mencoba merayu kakaknya.
''Kalau hanya untuk itu boleh tapi aku tidak akan memberikanmu uang.''
Brian kemudian mendekat dan memeluk Kakaknya. ''Terima kasih hyung.''
''Sudah lepaskan pelukanmu! Sana kembali kerja. Aku akan memantaumu dan tidak segan untuk memarahi mu.''
''Iya-iya, galak sekali. Aku permisi ya Tuan Arsen.'' Kata Brian seraya berlalu meninggalkan ruangan. Arsen hanya bisa menggeleng melihat sikap adiknya itu.
...****************...
''Tuan Arthur yang baik hati dan tidak sombong, aku sudah menyelesaikan proposalnya. Silahkan di cek.'' Kata Belinda sambil memberikan proposalnya pada Arthur. Arthur menerimanya dan segera mengeceknya.
''Sumpah baru kali ini, wajahnya menyeramkan. Dia bisa galak juga ternyata.''
''Buat ulang!" kata Arthur sambil melemparnya di atas meja.
''Ap-apa? Buat ulang? Ini sudah yang kedua kalianya.'' Bantah Belinda.
''Tapi ini masih banyak yang salah, Bel. Bisa kerja apa tidak sih?'' bentak Arthur.
''Galak amat sih! Bisa kan ngomongnya pelan?''
''Tidak bisa! Kita sudah di kerjar dead line tapi pekerjaanmu sama sekali tidak beres.''
''Perasaan udah bener deh. Oh dia pasti sengaja bersikap seperti ini untuk menyiksaku.'' Gumam Belinda dalam hati.
''Kalau begitu kita meeting sekarang.''
''Meeting? Tapi di schedule tidak ada meeting.'' Kata Belinda mencoba membantah ucapan Arthur.
''Iya jadwal meeting besok di ubah hari ini. Tadi Tuan Irwan mengirim pesan untukku kakau ada perubahan mendadak. Lebih baik siapkan dokumennya dan kita berangkat ke restoran untuk meeting.''
''Ini pasti akal-akalanmu Kak Arthur. Oke, aku akan mengikuti permainanmu.'' Kata Belinda dalam hati.
Sesampainya di restoran, Belinda celingak-celinguk menunggu klien yang tak kunjung datang. Sementara Arthur justru makan dengan nikmatnya.
''Mana kliennya?'' tanya Belinda.
''Makan saja dulu, keburu dingin.'' Kata Arthur dengan mulut penuh makanan.
''Melihatmu makan, aku sudah kenyang,'' ketus Belinda.
''Aku yang membayar makanan ini jadi lebih baik kamu makan mumpung gratis. Ingat ya kalau Om Keenan membatasi keuanganmu. Lumayan kan bisa hemat uang. Kamu pun harus memikirkan uang bensin untuk motormu itu. Belum lagi skin care mu, yakin uang itu bisa membeli skin caremu?''
Belinda terdiam mendengar ucapan Arthur dan apa yang dikatakan Arthur ada benarnya. Namun Belinda tetap bertahan dengan gengsinya.
''Ayo makanlah! Bukankah itu makanan kesukaanmu.'' Ucap Arthur. Tiba-tiba terdengar bunyi perut Belinda. Belinda lalu memegangi perutnya, sementara Arthur tertawa kecil mendengar suara cacing bernyanyi di perut Belinda.
''Cacing di perutmu sudah demo jadi cepat makan. Tidak usah gengsilah apalagi sok cantik.'' Ucap Arthur.
''Siapa juga yang gengsi? Aku hanya memastikan kalau makanan itu aman dan tidak beracun.''
''Kalau memang aku meracunimu, sudah pasti aku yang menjadi tersangka utamanya. Jangan banyak bicara dan makanlah.''
__ADS_1
Belinda dengan ragu-ragu lalu memakannya. Arthur tersenyum melihat tingkah Belinda yang menyebalkan namun juga menggemaskan.
''Makanannya sudah habis tapi mana kliennya?'' tanya Belinda.
''Sebentar aku telepon dulu.'' Arthur lalu beranjak dari duduknya, menjauh dari Belinda untuk menelepon kliennya. Padahal sebenarnya Arthur melakukan itu untuk menjauhkan Belinda dari Dave. Beberapa saat kemudian, Arthur kembali ke mejanya.
''Bagaimana?'' tanya Belinda. Arthur menghela nafas kesal dan menunjukkan ekspresi kesalnya.
''Meeting tetap besok. Tiba-tiba Tuan Irwan ada kendala saat akan berangkat menemui kita. Jadi setelah ini kita langsung kembali ke kantor.''
''Apa? Tidak jadi?''
''Iya Bel. Ini juga di luar dugaan kita.''
''Kamu sengaja melakukan ini untuk menindasku kan? Mentang-mentang aku ini bawahanmu dan Papa mendukungmu, kamu jadi seenaknya denganku.'' Marah Belinda.
''Menindasmu? Untuk apa? Kalau aku menindasmu, untuk apa aku memberimu makan. Apa pernah aku bersikap kasar padamu? Aku memperlakukanmu dengan layak seperti sekretarisku yang dulu.'' Arthur berakting kesal dengan membantah ucapan Belinda. Tiba-tiba ponsel Belinda berdering, ada nama Dave disana.
''Halo Bel, kita tidak jadi makan siang?''
''Maafkan aku Dave, aku ada meeting mendadak. Jadi aku terpaksa membatalkannya.'' Bohong Belinda.
''Itu bukan alasan untuk menghindari aku yang sudah tidak punya apa-apa lagi kan, Bel?''
''Tentu saja tidak, Dave. Kamu jangan berprasangka buruk padaku. Mmmm kalau begitu kita ganti makan malam bagaimana? Untuk menebus waktu makan siang kita yang batal.''
''Oke baiklah. Nanti aku akan menjemputmu.''
''Tidak usah Dave. Kita bertemu di restoran kemarin saja ya.''
''Oke baiklah sayang, aku tunggu kamu ya. I love you and have a nice day.''
''I love you too, Dave.'' Panggilan berakhir.
''Masih saja berhubungan dengan pria itu?'' tanya Arthur dengan ketus.
''Iya lah, memang kenapa?''
''Dia itu bukan pria baik-baik, Bel.''
''Apapun yang kamu katakan, aku tidak akan percaya. Aku tahu semua orang menentang hubunganku dengan Dave. Jadi kalian semua pasti sedang berusaha menjatuhkan Dave supaya aku meninggalkannya. Tapi aku tidak akan terpengaruh sekalipun itu orang tua aku.'' Ucap Belinda penuh penekanan.
''Bel, kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan itu? Kamu bahkan menentang orang tua kamu.''
''Aku sadar! Aku sudah dewasa dan aku berhak memilih kebahagiaanku sendiri.'' Belinda lalu beranjak dari duduknya daj pergi begitu saja.
''Astaga Bel, kamu benar-benar sudah dibutakan cinta. Tidak masalah kalau pria itu baik tapi kalau brengsek seperti itu, kamu yang rugi.'' Gumam Arthur dalam hati. Arthur lalu mengejar Belinda dan menyeret Belinda ke dalam mobil.
''Kamu akan menyesal nanti Bel.'' Kata Arthur.
''Menyesal atau tidak, itu bukan urusanmu.''
Arthur hanya bisa menghela mendengar apa yang Belinda ucapkan.
''Dia lebih keras kepala dari yang aku bayangkan. Sepertinya bukti yang aku dapatkan akan sia-sia dengan mendengar apa yang Belinda ucapkan tadi.'' Ucap Arthur dalam hati sambil terus fokus melajukan mobilnya.
Bersambung....
__ADS_1