
Melihat Sheena lebih memilih Arsen, hati Fandi sangat sakit. Apalagi Sheena sudah menghilang dari pandangannya bersama Arsen. Fandi bersimpuh sembari menangis sesenggukan. Olivia yang dari kejauhan melihat Fandi pun sangat terluka melihat Fandi seperti itu. Fandi tiba-tiba mendapat serangan hebat di kepalanya, semua kenangan masa lalunya perlahan muncul meskipun hanya sekelebat. Melihat Fandi kesakitan, Olivia segera mendekatinya.
“Fandi, kamu kenapa?”
“Kepalaku sakit. Aku melihat Sheena dalam kepalaku,” ucapnya sambil menahan sakit. Olivia kemudian membantu Fandi berdiri dan segera membawanya masuk kedalam mobil.
“Fan, kita kerumah sakit ya?”
“Aku tidak mau, Liv. Aku tidak sakit.” Ucapnya sambil memegangi kepalanya.
“Baiklah kalau begitu kita pulang saja.”
“Aku tidak mau pulang.”
“Lalu kita kemana, Fan?”
“Ke apartemen saja.” Pinta Fandi.
“Ba-baiklah kalau begitu.” Akhirnya Olivia menuruti keinginan Fandi. Olivia menambah laju kecepatan mobilnya, suapaya ia segera sampai. Olivia tidak tega melihat Fandi menahan rasa sakit.
Sedangkan Arsen dan Sheena sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Sedari tadi keduanya saling diam. Arsen mencoba memahami perasaan Sheena dan ia membiarkan Sheena untuk tenang dulu. Arsen lalu mengambil beberapa helai tisu untuk menghapus air mata Sheena.
“Arsen, apakah aku ini sangat jahat?”
“Jahat bagaimana maksudmu, Sheena?”
“Aku mengakhiri hubunganku secara sepihak. Aku merasa menjadi orang yang sangat kejam di dunia ini. Aku yang membuat hati Fandi hancur hingga akhirnya ia kecelakaan dan hilang ingatan. Semua ini adalah aku penyebabnya, Arsen. Aku harus bagaimana?” tangis Sheena kembali pecah mengingat semua itu. Arsen merasa kecewa dengan semua ucapan Sheena mungkin karena perasaannya pada Shena semakin dalam.
__ADS_1
“Apa kamu masih mencintainya? Sedangkan kamu sendiri sudah tahu bahwa keputusanmu mengajaknya berpisah karena kedua orang tuanya tidak merestuimu. Mereka terlalu memandang status sosial mu. Kamu tidak ingat bagaimana mereka mencaci maki dirimu, bahkan saat sudah tahu kamu putri seorang Darwin Winata, mereka masih melontarkan ucapan yang menyakitkan. Jika kalian tetap bersama, kamu yakin akan bahagia sampai akhir, Sheena? Pernikahan yang kamu jalani tidak akan tenang karena berjalan tanpa restu. Bisa jadi kalian akan menikah tapi orang tua Fandi akan mempengaruhi Fandi untuk menceraikanmu. Dari awal mereka sudah tidak menyukaimu, bahkan tidak ada ruang di hati mereka untukmu. Ketika kamu sudah mengihklaskan, kamu harus melepaskan. Jangan salahkan dirimu untuk kecelakaan itu Sheena. Semua itu musibah, salah dia sendiri tidak hati-hati.” Jelas Arsen panjang lebar sambil menahan amarahnya.
“Iya dia tidak hati-hati karena aku melukai perasaannya, dia pasti melamun sampai akhirnya kecelakaan itu terjadi.”
Mendengar ucapan Sheena, Arsen mendadak menghentikan mobilnya. Ia lalu menatap wajah wanita yang dicintainya itu yang tampak sembab.
“Sheena, kalau kamu masih mencintainya, aku akan mengantarkanmu padanya dan kita batalakn pernikahan kita. Sebelum semuanya terlambat. Sebelum pernikahan kita dicacat oleh Negara jadi akan sangat mudah untuk kita berpisah.” Ucap Arsen dengan lantang meskipun kalimat itu sangat berat untuk ia ucapkan. Sheena lalu menatap nanar kearah Arsen, Sheena tidak menyangka Arsen akan mengucapkan kalimat itu.
“Arsen, apa yang kamu katakan?”
“Lalu apa yang kamu katakan tadi? Kamu tidak sadar kalau aku ini suamimu. Kamu pikir aku tidak sakit hati melihatmu masih memikirkannya? Bahkan kamu menangis untuknya. Kamu tidak memikirkan bagaimana perasaaanku?”
Sheena terdiam mendegarkan luapan amarah Arsen. Ia merasa bersalah dengan sikapnya yang berlebihan itu.
“Ma-maafkan aku Arsen. Aku hanya merasa bersalah dengan semua ini. Maafkan aku.”
“Aku akan mengantarmu pulang dan aku akan ke kantor.” Ucapnya dengan ketus. Arsen lalu melanjutkan kembali laju mobilnya. Hanya ada keheningan didalam mobil selama perjalanan. Bahkan sesampainya dirumah, Arsen menurunkan Sheena begitu saja tanpa pamit dan langsung melajukan kembali mobilnya. Kali ini Arsen marah dan kecewa dengan Sheena.
Sesampainya di kantor, Arsen bersikap tidak ramah pada semua karyawannya. Ia bahkan melempar berkas di depan wajah salah satu karyawannya karena pekerjaannya tidak beres. Arsen hari ini benar-benar menjadi pemarah dan menakutkan.
Sementara itu Sheena sedang memasuki ruang kerja Arsen. Tentu saja diruang kerja itu banyak sekali piala, plakat serta piagam penghargaan yang diraih oleh Arsen baik dalam hal sekolah maupun perusahaan. Sheena kemudian duduk di kursi kebesaran Arsen.
“Dia memang sangat hebat, bahkan sejak dulu. Aku benar-benar telah melukai perasaannya. Aku mengatakan cinta padanya dan memberikan tubuhku padanya tapi aku justru menangisi masa laluku. Aku sungguh keterlaluan.” Sheena berbicara pada dirinya sendiri. Sheena kemudian membuka laci meja kerja Arsen. Sheena terkejut melihat foto masa kecilnya bersama Arsen, yang ternyata Arsen masih menyimpannya. Bahkan plester luka yang ia berikan pada Arsen dulu masih tersimpan rapi.
“Aku tidak menyangka diam-diam dia menyimpan foto ini. Tuhan, apa yang aku lakukan padanya.” Sheena benar-benar merasa bersalah pada Arsen.
__ADS_1
...****************...
“Fandi cukup! Sampai kapan kamu akan minum seperti ini?” Olivia merebut gelas berisi minuman alcohol dari tangan Fandi.
“Aku akan minum sampai ingatanku pulih. Hatiku sakit Liv. Aku belum mengingat Sheena tapi hatiku sakit sekali dengan semua sikapnya padaku.” Fandi pun menangis dan meracau, ia sudah benar-benar mabuk. Olivia lalu mendekap Fandi.
“Fan, menangislah, marahlah dan luapkan semua kekecewaanmu.” Ucap Olivia sambil mengusap punggung Fandi.
“Kenapa takdir seolah mempermainkan aku, Liv. Yang aku ingat saat ini, aku sangat mencintai Sheena. Aku ingin memilikinya dan memeluknya seperti saat ini. Aku harus merebutnya kembali, aku yakin Sheena tidak sungguh-sungguh mencintai pria itu.” Fandi lalu melepaskan tubuhnya dari dekapan Olivia. Ia menyeringai dan tertawa seperti orang gila. Fandi langsung mengambil botol minuman alcohol di hadapannya dan menenggaknya dengan brutal. Olivia hanya bisa menangis melihat sikap Fandi yang tampak begitu frustasi. Olivia terluka bukan hanya Fandi yang tidak dapat ia miliki tapi juga terluka karena Fandi memilih menyiksa dirinya sendiri. Wajah Fandi sudah memerah karena terlalu banyak minum alcohol. Olivia lalu memapah Fandi dan membawanya ke tempat tidur. Namun saat melihat Olivia, tiba-tiba Fandi melihat Sheena.
“Sheena,” gumam Fandi. Olivia mengernyitkan dahinya melihat sikap Fandi.
“Aku Olivia, bukan Sheena, Fan.” Bantah Olivia. Fandi lalu berusaha berdiri tegap dan menatap wajah Olivia.
“Sheena, kamu disini? Aku sangat merindukanmu.” Kata Fandi seraya memeluk Olivia dengan sangat erat.
“Sadar Fan, aku Olivia!” Kata Olivia dengan tegas seraya memberontak. Namun semakin Olivia memberontak, Fandi semakin mempererat pelukannya.
“Sheena, ijinkan aku memelukmu. Kalu kamu terus memberontak, aku akan melompat dari gedung ini. Setidaknya habiskan hari ini bersamaku, aku mohon.” Ucap Fandi dengan mengiba. Olivia pun menyerah, ia membiarkan Fandi memeluknya.
“Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan, Fan. Aku siap membantumu.” Ucap Olivia dengan deraian air mata yang membasahi pipinya. Fandi kemudian melepaskan pelukannya. Ia membelai wajah Olivia yang ia anggap Sheena.
“Kamu sangat cantik dan semakin cantik.” Ucap Fandi. Fandi kemudian mendaratkan bibirnya pada bibir Olivia. Olivia menyerah kala ia mendapatkan ciuman pertama dari Fandi, ciuman pertama dan sentuhan pertama yang ia inginkan dari Fandi. Sekalipun ciuman itu sebenarnya untuk Sheena bukan untuk dirinya. Kali ini Olivia membiarkan Fandi melakukannya, meskipun ia harus merasakan kenikmatan dengan deraian air mata. Fandi sudah benar-benar menganggap Olivia sebagai Sheena. Dan hari itu, Fandi merenggut mahkota kesucian Olivia. Olivia bahagia tapi juga sedih karena disetiap de..sahan yang lolos dari bibir Fandi, ada nama Sheena di dalamnya. Olivia tidak kuasa menolak karena Fandi benar-benar menganggapnya adalah Sheena. Olivia tidak ingin membuat Fandi terluka dengan bersikeras mengatakan bahwa ia bukan Sheena. Sebagai seorang istri dan wanita normal tentu saja Olivia sudah sangat menantikan saat-saat bercinta dengan Fandi. Setelah berhasil memecah kesucian Olivia, Fandi pun terkapar tak sadarkan diri. Olivia pun merasa lelah dan ia pun tertidur tanpa mengenakan busana begitu pula dengan Fandi. Pakaian keduanya bahkan tercecer sembarangan karena panasnya bercinta hari itu. Namun dalam hati Olivia, ia hanya bisa pasrah menerima kemarahan Fandi dengan semua ini jika Fandi nanti sadar.
__ADS_1
Bersambung.....