My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 162 Broken Heart


__ADS_3

Setelah menutup pintu kamar tamu, Arthur kembali mendengar Belinda menangis meraung-raung. Arthur hanya bisa menghela melihat apa yang terjadi pada Belinda sekarang. Arthur pun pergi ke teras samping rumah, ia kemudian segera menelepon Tuan Keenan.


''Halo Om, selamat malam. ''


''Iya Arthur. Baru saja Om ingin menelepon mu. Kenapa Belinda belum pulang ya? Om dan Tante sangat cemas. ''


''Belinda baik-baik saja, Om. Tadi saya memintanya untuk lembur.''


''Lalu sekarang dia dimana? Apa dia sudah perjalanan pulang? Sejujurnya Om tidak tega juga membiarkan dia naik motor sendirian tapi ini juga untuk kebaikannya.''


''Om, sebenarnya baru saja terjadi sesuatu pada Belinda. Belinda memergoki Dave bersama wanita lain. Tadi sebelum pulang aku mengajaknya ke restoran. Kebetulan di seberang restoran ada sebuah diskotik dan Belinda memergoki Dave di sana. ''


''Oh syukurlah kalau Belinda sudah tahu. Padahal rencananya Om akan memberitahu Belinda sekarang. Itu lebih bagus Arthur. Kamu tahu kan kalau dia itu sangat keras kepala jadi kalau Belinda melihat dengan mata kepalanya sendiri dia akan puas.''


''Iya Om dan yang lebih mengejutkan pria itu mengakui keburukannya di hadapan Belinda. Dave juga mengaku bahwa dia pria sewaan untuk menemani wanita yang kesepian. Apalagi wanita yang bersama Dave sudah mengaku membayar Dave untuk melayaninya.''


''Sungguh brengsek pria seperti itu. Astaga bagaimana bisa putriku menemukan pria sampah seperti itu. Lalu dia dimana Arthur? Apa kamu membiarkannya pulang sendiri?''


''Dia berada di rumahku, Om. Sekarang dia sedang meraung-raung di dalam kamar. Menangisi pria itu. Maaf ya Om kalau aku membawa Belinda ke rumah. Belinda sendiri yang memilih untuk bermalam disini karena dia malu dan takut dengan Om.''


''Oh syukurlah kalau dia bersamamu Arthur. Biarkan dia tenang di sana Arthur, Om tidak masalah. Terima kasih ya kamu sudah menjaga Belinda dengan baik. Arsen juga sudah cerita tentang rencana mu yang berusaha menggagalkan pertemuan Belinda dan pria gila itu. Sekarang Om lega sekali karena mata Belinda sudah terbuka lebar dengan kebenaran ini. Tentu saja kalau dia pulang sekarang, Om akan memarahinya. Ya sudah kalau begitu Om titip Belinda ya, tolong hibur dia. Sekali lagi terima kasih dan maaf harus merepotkan kamu. ''


''Tidak apa-apa Om. Aku sangat mengerti kekhawatiran Om sebagai seorang Ayah. Baiklah Om kalau begitu, aku hanya ingin menyampaikan hal itu saja supaya Om tidak terlalu khawatir. Selamat malam Om.''


''Iya Arthur, selamat malam. '' Tuan Keenan mengakhiri panggilannya. Setelah memberi kabar Tuan Keenan, Arthur kemudian memberi kabar pada Arsen.


''Bagaimana Arthur?'' tanya Arsen diseberang sana.


''Di luar dugaan Arsen. Belinda tahun lebih cepat. ''


''Maksudmu?''


''Iya tadi setelah lembur, aku membawanya makan di sebuah restoran. Lalu......,'' Arthur menceritakan semuanya pada Arsen dengan sangat detail.


''Wah, sungguh pria yang brengsek dan menjijikkan.'' Ucap Arsen dengan kesal.


''Iya dia pantas disandingkan dengan mantan kekasihmu. Kamu dan Belinda ini pintar, IQ di atas rata-rata tapi kenapa urusan cinta kalian berdua ini sangat bodoh. ''


''Terus saja meledekku, Arthur.''

__ADS_1


Arthur terkekeh. ''Bukan meledek Arsen tapi memang kenyataan. ''


''Ya terserahlah, aku menyangkal pun percuma. Lalu dimana Belinda sekarang?''


''Dia tidak mau pulang dan dia memilih bermalam di rumahku. Tuh dia masih menangis sambil meraung-raung di kamar. ''


''Sudah pasti kalau dia pulang, Papa tidak akan memberi ampun. Tapi awas ya jangan macam-macam padanya apalagi memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. ''


''Arsen, aku bukan pria brengsek. Jadi aku tidak mungkin melakukan hal rendahan seperti itu. ''


''Ya sudah kalau begitu, biarkan dia tenang disana. Besok biar Sheena ke rumah mu untuk menemani Sheena. ''


''Oke tapi besok suruh Sheena membuatkan nasi goreng untukku ya dan telur dadarnya sekalian. ''


''Enak saja. Dia istriku jadi tugasnya hanya melayanimu sekalian kamu adalah kakaknya. Bye! " Arsen menutup teleponnya begitu saja.


''Masih saja cemburu padaku, '' gumam Arthur terkekeh. Arthur pun segera kembali ke kamarnya untuk mandi dan menyegarkan diri. Selesai mandi, Arthur membuatkan coklat hangat untuk Belinda.


Tok tok tok tok! Arthur mengetuk pintu kamar Belinda. Belinda pun masih duduk diatas tempat tidur sambil memeluk kakinya, meratapi perasaannya yang hancur berkeping-keping.


''Masuk! " sahut Belinda.


''Astaga, kamu belum mandi juga. Ini aku buatkan minuman coklat hangat untukmu. ''


''Mau aku pinjami piyamaku?''


''Tidak mau! Aku tidak bisa memakai bekas orang.'' Jawabnya dengan suara paraunya.


''Ini baru, Bel. Aku sama sekali belum memakainya. Aku siapkan air hangat untukmu ya dan aku ambilkan pakaian baru untukmu. Bukankah kamu begitu alergi dengan kuman dan sangat menjaga kebersihan, apa tidak jijik?''


''Biarkan aku di makan belatung sekalian. Gadis bodoh sepertiku ini memang pantas dimakan belatung.'' Belinda pun kembali menangis dengan raungannya yang memekakkan telinga Arthur.


''Aduh Bel, masih saja menangis. Matamu sudah bengkak.''


''Biarin,'' jawabnya ketus sambil terus menangis. Arthur hanya bisa menggeleng melihat Belinda. Ia lalu menyiapkan air hangat dan mengambilkan baju ganti untuk Belinda.


''Ini piyamanya tapi jelas kebesaran. Daripada tubuhmu gatal-gatal. Air hangatnya sudah siap jadi mandilah.''


''Ya sudah, keluar sana! " perintah Belinda.

__ADS_1


''Siapa juga yang mau disini. '' Gumam Arthur seraya berlalu.


...****************...


''Kasihan sekali Belinda, dia pasti sedih sekali.''


''Dia juga terlalu keras kepala, Sheena. Kamu besok kerumah Arthur, hibur dia ya. Sama itu si Arthur minta di buatkan nasi goreng.''


''Ya sudah besok sebelum ke kantor, kamu antar aku ke rumah Kak Arthur ya.''


''Iya sayangku.''


''Tapi aku heran kenapa Belinda dengan mudahnya tertipu ya? Begitu juga dengan kamu. Padahal Kak Queen saja tidak pernah salah memilih pasangan hidup.''


''Kamu sama Arthur ternyata sama saja, malah meledekku.''


''Hehehe bukannya meledek, Arsen. Tapi memang kenyataan.''


''Tuh kan ucapanmu sama dengan yang Arthur katakan tadi. ''


''Namanya juga anak kembar jadi wajarlah kalau sama. Jangan bilang kamu masih cemburu?''


''Masih tapi sedikit. ''


''Dasar kamu. Oh ya kamu sebenarnya mendukung perjodohan antara Belinda dan Kak Arthur apa tidak sih?''


''Aku sudah memberikan restuku pada Arthur, Sheena. Meskipun aku tahu keduanya masih belum saling cinta. Tapi siapa tahu dengan masalah ini mereka menjadi semakin dekat. Dan aku sadar kalau Arthur pria yang pas untuk Belinda. Bukan hanya pas tapi tepat untuk Belinda. Belinda yang manja harus mendapat pasangan yang tegas dan ceplas-ceplos seperti Arthur. Bagaimana denganmu?''


''Aku sih tidak masalah juga. Dengan siapapun Kak Arthur, asalkan dia bahagia, bagiku itu sudah cukup Arsen. Toh nanti cinta antara Belinda dan Kak Arthur akan ada seiring berjalannya waktu seperti kita dulu. Aku saja tidak menyangka seorang Arsen bisa jatuh cinta pada Sheena. ''


''Iya kamu benar sekali. Aku memang bodoh sekali, kenapa bisa bertekuk lutut di hadapanmu?''


''Oh, ternyata mencintaiku sebuah kebodohan bagimu?''


''Tidak bukan seperti itu maksudku Sheena. Pokoknya aku mencintaimu, sangat mencintaimu Sheena. '' Arsen melayangkan ciuman bertubi-tubi di bibir Sheena. Arsen kemudian menggendong Sheena dan membawanya ke kamar.


''Sudah waktunya kita bercinta.'' Kata Arsen dengan senyum nakalnya.


''Kalau urusan itu gercep. ''

__ADS_1


''Tentu saja sayang. '' Jawab Arsen.


Bersambung....


__ADS_2