
Malam hari di kontrakan Brian....
"Taraaaaa!" Seru Brian dengan membawa sebuah cake coklat dan juga buket bunga untuk Gea.
"Ya ampun jadi kamu lama hanya untuk ini." Gea tersenyum haru.
"Iya. Kita harus merayakan hari jadi kita."
"Hmmm kamu berlebihan Brian."
"Sudahlah, ayo kita tiup lilinnya. Eh tapi tulis dulu di ponselmu hari dan tanggal jadian kita. Supaya setiap tahunnya kita tidak pernah lupa."
"Lebay banget kayak abg aja."
"Ayolah Gea! Romantis dikit." Paksa Brian.
"Iya-iya, baiklah." Mereka berdua lalu menuliskan hari jadian mereka diponsel masing-masing. Keduanya lalu berdoa sebelum lilin itu ditiup.
"Tuhan, jadikan Gea milikku seutuhnya dan selamanya." Doa Brian dalam hati.
"Tuhan, terima kasih telah mengirimkan seorang pria yang begitu tulus dan sangat baik padaku. Ijinkan aku untuk selalu bersamanya dan buatlah dia supaya selalu mencintaiku." Doa Gea dalam hatinya. HUH! Keduanya kompak meniup lilin itu. Brian lalu memotong kue untuk dirinya dan juga Gea. Mereka lalu saling menyuapi.
"Oh ya, simpan bunga ini ya."
"Bagaimana kalau layu?"
"Kalau layu dan mengering, kamu simpan dan bingkai dengan indah. Gea, doakan aku supaya aku bisa sukses dan aku akan segera melamarmu."
"Memang sudah siap menikah dengan ku? Kamu belum tahu siapa keluargaku begitu juga dengan ku. Sebaiknya kita jalani saja dulu, Brian."
"Baiklah." Singkat Brian. Ada rasa sedikit kecewa dalam hatinya saat mendengar jawaban Gea.
_
Dua hari kemudian, Brian dan Gea sudah kembali masuk kerja. Keduanya berangkat bersama berboncengan. Brian meminta Gea melingkarkan tangannya di pinggangnya. Gea menurut dan itu sangat membuat Brian merasa bahagia.
"Pah, itu kan Brian!" seru Nyonya Dira pada suaminya. Ya, mereka sama-sama berhenti di lampu merah. Tuan Keenan menjulurkan kepalanya kearah sebelah kiri.
"Oh iya Mah. Ya sudah, biarkan saja."
"Tapi itu siapa Pah?"
"Itu Gea, Mah. Sepertinya gayung bersambut."
"Oh ternyata itu calon mantu Mama ya. Ya ampun, anak-anak Mama udah pada gede. Habis ini mantu lagi Pah." Kekeh Nyonya Dira.
"Tinggal mereka saja Mah bagaimana. Yang jelas Gea berbeda dengan gadis lain, Mah. Mama kan tahu Brian akhir-akhir ini berjuang mati-matian untuk mendapatkan Gea. Dan sepertinya mereka sudah bersama, Mah. Lihat saja sudah pelukan begitu."
"Oh iya waktu itu Papa pernah cerita kalau Gea mengalami trauma. Hmmm kasihan dia."
"Iya memang begitu, Mah. Apalagi kan Brian masih menyamar begini." Tuan Keenan kembali melajukan mobilnya karena lampu sudah berwarna hijau.
"Eh Pah, Mama jadi khawatir."
"Khawatir bagaimana Mah?"
__ADS_1
"Mereka kan tinggal deketan nih. Mama jadi khawatir kalau mereka berdua kebablasan."
Tuan Keenan terdiam sejenak. "Iya juga. Apa kita suruh Brian balik ke rumah ya?"
"Sebaiknya nanti jam makan siang kita ajak ngobrol Brian diruangan Papa, gimana?"
"Ide bagus, Mah. Anak-anak harus selamet semua, Mah. Duh, Papa jadi ketar-ketir sama Brian nih. Apalagi dia ini badboy sekaligus playboy."
_
"Mama!" seru Brian seraya memeluk sang Ibu.
"Aduh, anak bontot Mama makin jelek." Ledek Nyonya Dira.
"Ih Mama. Jelek bagaimana? Sekalipun nyamar jadi miskin, tetap ganteng tahu."
"Duduk Brian." Perintah Tuan Keenan. Brian lalu duduk berhadapan dengan Papa dan Mamanya. Wajah keduanya tampak serius, membuat Brian khawatir kalau kedua orang tuanya tahu masalah beberapa hari lalu.
"Ada apa Pah-Mah?"
"Kita makan siang dulu sambil ngobrol." Ajak Tuan Keenan.
"Tuh lihat, mejanya penuh makanan kesukaan kamu. Kamu kurusan deh, sayang." Kata Nyonya Dira menatap iba putra bungsunya.
"Ah tidak masalah, yang penting tetep ganteng kan Mah." Celetuk Brian dengan tawa kecilnya.
"Dasar kamu ini. Bibit narsis Papa memang sudah melekat dalam diri anak-anak Tuan Keenan."
"Lho, jelass dong Mah. Aku, Papanya." Ketiganya lalu tertawa bersama. Sembari makan siang, mereka melanjutkan obrolan.
"Hehehe, padahal Brian belum go public lho."
"Mama dan Papa sudah tahu. Saking mesranya kamu sampai tidak tahu kalau mobil Papa ada disamping kamu." Kata Nyonya Dira.
"Hehehe maaf Mah. Baru jadian dua hari lalu Mah. Kalaupun tahu, Brian juga nggak akan berani nyapa. Soalnya dalam mode penyamaran."
"Kamu sudah tahu jelas latar belakangnya sayang?" tanya Nyonya Dira memastikan.
"Dia gadis desa biasa Mah, yang merantau ke kota. Hanya itu yang Brian tahu."
"Lalu, kapan kamu akan jujur pada Gea?" sahut Tuan Keenan.
Brian terdiam sejenak. Kini Brian takut untuk bicara jujur. Takut kalau Gea membencinya.
"Belum tahu, Pah."
"Brian, kamu harus jujur pada Gea yang sebenarnya. Apa kamu sudah mengenal orang tuanya?"
"Belum Mah."
"Kamu ini punya pacar tapi tidak tahu rumahnya. Bagaimana toh kamu ini?" Nyonya Dira merasa gemas dengan putra bungsunya itu.
"Ya habis gimana Mah? Brian takut di tolak. Apalagi Brian dalam mode gembel begini." Ucapnya dengan wajah yang tampak lesu.
"Saran Papa, kamu harus tahu rumahnya dimana. Kenalan sama orang tuanya dan secepatnya katakan pada Gea siapa kamu yang sebenarnya."
__ADS_1
"Iya Pah, Brian mengerti."
"Dan sebaiknya kamu kembali ke rumah." Ucap Nyonya Dira.
"Apa Mah? Kembali ke rumah?" Brian terkejut.
"Iyalah. Bahaya untuk kalian yang sedang di mabuk cinta selalu bersama." Jawab Nyonya Dira.
"Tapi Mah, Gea sendirian dong? Brian khawatir. Brian bisa jaga diri kok. Brian janji nggak macam-macam sama Gea."
"Mama dan Papa pernah muda jadi gejolak anak muda itu menakutkan. Semua yang dilarang, pasti dicoba."
"Pah-Mah, Brian sudah lama lho tinggal di London. Tapi Brian tetap bisa jaga diri kok. Sekalipun pacar Brian banyak, Brian nggak pernah tidur sama mereka kok."
"Iya itu karena kamu masih suka main-main. Kalau sama Gea, beda cerita. Kalian menggunakan hati, cinta dan naf..su itu pasti." Terjadilah perbedaan pendapat antara Ibu dan anak.
"Brian, apa yang dikatakan Mama benar." Sahut Tuan Keenan.
"Iya tapi Brian pakai alasan apa Pah? Terus Gea bagaimana? Brian tidak bisa meninggalkan Gea sendiri."
"Aduh Pah, daripada pusing-pusing, nikahin aja si Brian. Biar deh tugas kita selesai Pah kalau udah pada nikah. Memang menurun kita, semuanya pada nikah muda. Kita tinggal ngemong cucu." Cerocos Nyonya Dira dengan kesal.
"Nah, ide bagus Mah." Celetuk Brian. Nyonya Dira terdiam sambil memijit keningnya.
"Daripada Papa dan Mama khawatir sama Brian, iya kan?" sambung Brian.
Tuan Keenan menghela nafas panjang. "Sudah, habiskan saja makananmu. Nanti kita bicarakan lagi."
"Iya-iya Pah."
"Dan pastikan temui orang tua Gea dulu." Pesan Tuan Keenan.
"Iya Pah, siap! Dengan senang hati."
Selesai makan siang dan diskusi yang tidak mendapatkan hasil, Brian kembali keruangannya. Tampak Gea sibuk dengan setumpuk pekerjaannya.
"Gea, kamu kok belum istirahat? Dan ini pekerjaanmu banyak sekali." Kata Brian yang melihat tumpukan berkas diatas meja Gea.
"Oh ini si Fani minta tolong buat ngerjain."
"Minta tolong banyak banget."
"Tidak apalah. Disini pendidikannya yang lebih rendah kan aku jadi tidak apa."
"Tetap saja aku tidak suka dengan caranya. Kamu sudah makan siang?"
"Belum, masih sibuk." Kata Gea tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.
"Letakkan saja pekerjaanmu dan kita makan."
"Maaf Brian, aku sibuk. Tolong jangan ganggu aku ya. Hitung-hitung ini buat tambah ilmu untuk aku juga, iya kan?"
"Ya sudah, kalau begitu aku belikan kamu burger dan ice cappucino mau?"
"Boleh, setidaknya bisa mengganjal perutku."
__ADS_1
"Oke. Sepuluh menit lagi aku kembali baby." Bisik Brian. Gea tersenyum geli mendengar kata 'Baby'.