My Perfect Husband

My Perfect Husband
Extra Part 2


__ADS_3

Malam hari di hotel, keluarga besar berkumpul di restoran hotel. Hanya Rania dan Ezriel yang ikut berkumpul, Rosi dan Joan tidak bisa ikut karena anak mereka, Gio yang masih berumur 2,5 tahun itu tiba-tiba demam. Anak mereka sepasang, Gio dan Gia yang begitu imut.


"Ran mau ngasih ini," ujar Rania sambil meletakkan sebuah undangan mewah di atas meja. Afif segera mengambilnya dan membukanya.


"Beneran? Ihh... Kok nggak ngasih tahu?!" pekik Naynay kesal melihat nama Rania dan Ezriel yang ada di undangan itu.


"Biar surprise gitu, Nay." Rania nyengir imut yang membuat Ezriel gemas.


Ya, Rania dan Ezriel akan menikah minggu depan. Setelah move-on dari Naynay, Ezriel lalu dekat dengan Rania. Dia sering menjemput Rania dengan alasan minta ditemani makan. Padahal dia ingin menghabiskan waktu bersama gadis itu.


Ezriel harus berjuang untuk membuat Rania jatuh cinta padanya dulu, mungkin sekitar lima bulanan. Dan setelah dua setengah tahun menjalin hubungan, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.


"Kamu nggak ngundang aku pas lamaran," ucap Naynay sedih dengan mata berkaca-kaca.


"Bukannya nggak mau ngundang, tapi dia yang ngelamar tiba-tiba tanpa pemberitahuan!" balas Rania sambil menunjuk Ezriel yang duduk di sampingnya. Laki-laki itu melamarnya pada saat tengah malam, dan kedua orang tua Rania langsung setuju.


Para orang tua dan pengantin baru hanya tersenyum, mereka mendapat hiburan wajah lucu Naynay yang sedang sedih dan Rania yang panik kalau Naynay ngambek.


Naynay mengalihkan pandangannya dari Rania, dia masih kesal. Sedangkan si gadis perawan itu bingung harus berbuat apa.


"Sudah, mari makan!" ujar Hendrayan yang sejak tadi menahan lapar. Naynay kalau ngambek, nggak bakalan lama. Dia sebagai cinta pertama Naynay, tentu tahu semua tentang putrinya itu.


Naynay menolak ketika Afif ingin menyuapinya, malu jika di hadapan keluarga besar seperti ini. Gamaliel saja sudah bisa makan sendiri, masa dia yang udah besar masih disuapi. Tapi itu hanya berlaku di depan keluarga saja, kalau makan biasa di rumah, beda cerita.


Setelah makan, mereka kembali ke kamar yang sudah disiapkan. Rania dan Ezriel juga akan menginap, Afif sudah menyiapkan kamar juga untuk mereka. Namun beda dengan Afif dan Naynay, mereka punya kamar khusus di lantai paling atas.


Pengantin baru tentu mendapat kamar yang begitu spesial, semua sisi dipenuhi dengan kelopak mawar merah. Tadi siang, mereka berdua ditempatkan di kamar lain. Jadi bisa dibilang kalau ini adalah kejutan.


Tercipta kecanggungan, Silla gugup dan Ryan yang tidak kalah gugup. Mereka berdiri di samping ranjang ber-seprei putih yang ditaburi kelopak bunga mawar merah itu.


"Aku ke kamar mandi sebentar," ucap Ryan dan segera menuju kamar mandi.

__ADS_1


Sedangkan Silla memilih masuk ke walk-in closet, dia harus mengganti dress selutut yang sekarang dia pakai. Namun matanya terbelalak saat membuka lemari, isinya lingerie semua. Hp yang dia pegang berbunyi tanda pesan masuk.


Kau suka dengan gaun tidurnya? Hehe...


Begitulah pesan dari Naynay yang membuat Silla tercengang. Jadi ini adalah ulah kakak iparnya itu? Silla mengacak rambutnya dan memandang kesal baju-baju haram itu. Tidak mungkin dia akan tidur memakai dress, tidak nyaman pasti.


Silla keluar dan mendapati Ryan sudah berada di samping ranjang, laki-laki itu sedang menyingkirkan semua kelopak bunga mawar dari atas ranjang.


"Kenapa?" tanya Ryan yang melihat Silla terlihat gelisah. Dia memperbaiki selimut yang sempat dia kibaskan.


"Hhmm... Nggak ada." Silla mengurungkan niatnya untuk memberitahu Ryan tentang baju tidur yang disiapkan Naynay.


"Ayo, tidur!" ajak Silla sambil naik ke atas tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Dia memilih membelakangi Ryan yang juga sudah berbaring.


"Kenapa memakai baju itu ketika tidur?" tanya Ryan.


"Cilla lupa bawa baju tidur."


"Bukan itu maksudku, tapi lebih baik kau tidak usah memakainya." Ryan tersenyum tipis dan melingkarkan tangannya di pinggang Silla.


Perlahan, Ryan membalikkan tubuh Silla hingga terlentang dan dia mengukung tubuh mungil itu. Sekarang bibir Ryan beralih ke bibir Silla yang tampak begitu menggoda. Dia langsung menyecap rasa manis bibir yang belum pernah dia cicipi itu. Ryan menjaga Silla dengan baik, bahkan berciuman saja tidak pernah mereka lakukan selama pacaran. Inilah pertama kalinya.


Sebelah tangan Ryan sudah bertengger di bagian dada Silla, bagian yang selalu menggodanya ketika mereka berpelukan. Lalu tangan itu perlahan turun menelusup ke dalam dress dan mengusap paha mulus itu.


"Bisakah kita melakukannya.... Sekarang?" tanya Ryan dengan napas memburu dan suara berat.


Silla mengangguk pelan dan melingkarkan kedua tangannya di leher Ryan. Dia kembali menerima serangan Ryan di bibirnya. Ciuman itu semakin membangkitkan gairah mereka. Hingga sekarang tubuh mereka tidak lagi ditutupi apa-apa. Pakaian mereka sudah berserakan di lantai, bersama ratusan kelopak bunga yang tadi disingkirkan Ryan.


"Akhh... Pelan-pelan...." desis Silla saat Ryan berusaha menyatukan tubuh mereka. Laki-laki itu mendorong tubuhnya dengan pelan hingga akhirnya tubuh mereka menyatu sempurna. Jeritan Silla membuatnya tidak tega dan berniat melanjutkannya esok hari saja.


"Cilla nggak apa-apa," ucap Silla tersenyum dan mengelus rahang Ryan.

__ADS_1


"Kau yakin?" tanya Ryan tidak yakin. Namun Silla mengangguk dan lebih dahulu menciumnya.


Ryan mulai menggerakkan tubuhnya dengan perlahan. Suara-suara aneh mulai terdengar dan memenuhi kamar. Lampu yang masih menyala itu membuat mereka bisa melihat tubuh satu sama lain.


Demikian juga di kamar lain di lantai teratas. Afif dan Naynay juga sedang bergulat mencari kenikmatan di atas ranjang. Afif yang semakin liar membuat Naynay menggelinjang hebat.


Gamaliel yang dibawa tidur oleh Hendrayan dan Yasmin, tentu membuat Afif senang. Sudah seminggu dia tidak bisa menyentuh Naynay karena Gamaliel yang ikut tidur bersama mereka. Apalagi anaknya itu memeluk Naynay begitu erat hingga dia tidak bisa memeluk istrinya itu.


"Aku belum memperbolehkanmu tidur," ujar Afif sambil mempercepat gerakan tubuhnya. Naynay yang sudah kelelahan pun tidak jadi menutup mata karenanya. Afif sekarang lebih suka bermain agak kasar, dan itu menyebabkan tubuh Naynay akan sakit keesokan harinya.


"Huaaa.... Nay capek!!" rengek Naynay ketika Afif kembali menggerakkan tubuhnya, padahal baru saja laki-laki itu cum.


"Kita tidak akan tidur malam ini, Sayang." Afif tersenyum dan mencium bibir Naynay.


Naynay mencengkram lengan Afif saat gerakan Afif semakin cepat hingga tubuhnya berguncang hebat. Tubuh mereka yang sudah dibasahi keringat itu bergesekan hingga menciptakan suara erotis.


Tubuh Afif melemas dan ambruk di atas tubuh Naynay. Namun dia tidak berdiam diri, malahan mengemut ujung dada Naynay dengan rakusnya. Tubuh mereka masih menyatu di bawah sana.


"Udah, ya. Nay capek banget," ujar Naynay lirih dan mulai menutup matanya. Sumpah, dia lelah sekali.


Afif mengangkat kepalanya dan menciumi wajah Naynay yang memang terlihat begitu lelah. Dia berguling ke samping Naynay dan memiringkan tubuh istrinya yang sudah tertidur itu. Nafsu Afif masih tinggi, dia menyalurkannya dengan kembali menjadi bayi besar yang sibuk menyusu.


Lebih Hot permainan senior ternyata😂😂


.


.


Mungkin ini extra part yang terakhir, ya...


Sampai jumpa di kisah-kisah bucin selanjutnya.. Jangan lupain aku, please...

__ADS_1


.


.


__ADS_2