
Luma..tan yang Gea berikan membuat Brian tidak bisa menolak semua itu. Sebagai pria normal, tentu saja Brian tak kuasa menahan semua itu. Apalagi Brian melakukannya juga dengan hati. Brian membalas luma...tan Gea dengan hasrat yang sudah lama ia pendam sebagai Brian dalam mode penyamaran. Jantung Brian berdetak semakin cepat. Meskipun ciuman yang di lakukan Gea di bawah sadar tapi tetap saja Brian menikmatinya.
''Sadar Brian! Ingat trauma Gea!" batin Brian langsung memberontak. Brian sadar, perlahan ia memundurkan tubuh Gea untuk melepaskan pagutannya.
''Kenapa Brian?'' tanya Gea dengan tatapan sayu.
''Ge-Gea, kamu sedang dalam pengaruh obat dan minuman alkohol.''
''Iya aku tahu. Tapi aku tidak tahan Brian.'' Ucap Gea dengan tatapan memohon. Gea ingin sekali merasakan lebih dari ciuman.
''Jangan Gea! Aku tidak mau melukaimu.''
''Tidak Brian! Aku tidak akan menyalahkanmu. Aku sebenarnya mencintaimu tapi aku takut.'' Ucap Gea dengan setengah sadar. Brian terkejut dengan pernyataan cinta dadakan dari Gea.
''Aku lebih baik menyerahkan tubuhku untuk pria yang aku cintai daripada si brengsek Nando.'' Brian membeku. Tidak tahu harus bagaimana. Ia takut jika itu terjadi Gea akan pergi meninggalkannya.
''Brian, akhhh...,'' Gea mende..sah tanpa sebab sambil memeluk dirinya sendiri.
''Kamu istirahat saja ya. Nanti juga baikan.'' Brian beranjak dari tempat tidur namun Gea menahannya.
''Kamu tidak mencintaiku lagi? Kamu lelah dengan sikapku?''
''Gea, jangan pancing aku! Aku bisa hilang kendali.'' Brian memberontak dalam hati.
''Gea, aku mencintaimu. Tapi aku ingin menjagamu.'' Ucap Brian tanpa mau menatap Gea. Takut pertahanannya akan runtuh sebagai seorang pria. Tiba-tiba ponsel Brian berdering. Brian menghela nafas lega, setidaknya suara telepon itu menyelamatkannya.
''Aku angkat telepon dulu ya. Kamu istirahat.'' Brian melepaskan cengkraman tangan Gea di pergelangan tangannya. Gea mengangguk. Wajahnya benar-benar merah. Gea kembali meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. Menahan hasrat menggelora karena obat itu. Brian berjalan keluar rumah, menerima telepon dari Arsen.
''Brian, kamu baik-baik saja? Bagaimana Gea?''
''Aku baik-baik saja hyung. Gea hampir saja di perkosa. Mereka mencampur obat perangsang dan alkohol untuk Gea.''
''Lalu dimana kalian?''
''Aku kembali ke kontrakan. Hyung tolong urus di Nando itu ya. Anak buah yang hyung kirimkan sudah aku suruh untuk menangkap mereka. Tapi jangan libatkan Gea dan aku ya. Kasihan Gea kalau sampai berita ini muncul ke publik.''
''Kamu tenang saja. Mereka sudah ditangkap bahkan rumah itu sudah di grebek. Mereka ternyata bandar narkoba dan penadah barang curanmor. Keberadaan mereka sudah lama diendus oleh polisi.''
''Oh syukurlah kalau begitu. Terima kasih hyung. Hyung memang terbaik.''
''Oh ya, jangan macam-macam sama Gea ya. Jangan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Kamu tahu resikonya kan?''
''I-iya hyung. Aku tidak akan macam-macam pada Gea.'' Ucapan Arsen membuat Brian seolah-olah seperti dirinya sedang di pantau langsung oleh kakaknya itu.
''Ya sudah, sebaiknya kamu istirahat.''
''Iya hyung terima kasih. I love you hyung, kamu terbaik.''
''Ish, apaan ah jijik. Bye.'' Arsen mengakhiri panggilannya. Brian terkekeh dengan reaksi kakaknya.
__ADS_1
Huek... huek... huek... Terdengar suara Gea muntah daru dalam kamar. Brian segera menyusul ke kamar.
''Gea, kamu baik-baik saja?''
''Aku mual, kepalaku pusing jadinya muntah. Maaf ya.''
''Tidak apa-apa. Aku ambil pel dulu.'' Brian lalu membersihkan kotoran muntahan Gea di lantai. Setelah itu Brian membersihkan bibir Gea dengan tisu.
''Ini baju kamu tadi Gea, kamu pakai dulu ya.''
''Iya,'' jawabnya lemas. Brian lalu keluar, membiarkan Gea memakai bajunya.
''Brian!" panggil Gea. Brian lalu masuk lagi ke dalam kamar.
''Iya ada apa Ge?''
''Jangan tinggalkan aku ya. Temani aku disini.''
''Iya, sekarang istirahatlah. Sudah baikan?''
''Habis muntah tadi sedikit enakan. Badanku tidak panas lagi. Tapi masih pusing.'' Brian lalu membantu Gea berbaring. Ia mulai mengompres wajah Gea yang memerah. Gea hanya diam sambil memandangi wajah pria tampan di hadapannya itu. Setelah itu Brian memberikan salep gel pada bibir Gea. Brian merasa kasihan dan juga sakit melihat kondisi Gea.
''Maafkan aku ya. Maaf karena aku tidak menurut ucapanmu.''
''Tidak apa. Aku harap kamu jangan melakukan hal bodoh dan berhenti ikut balapan liar.'' Gea mengangguk mendengar ucapan Brian.
''Tapi darimana kamu tahu aku disana?''
''Maaf.'' Hanya kata itu yang terucap dari bibir Gea. Gea meraih tangan Brian lalu menggenggamnya.
''Kini aku tahu perasaanku padamu, Brian. Terima kasih sudah banyak berkorban untukku. Aku menerima perasaanmu.''
''Kamu serius? Tidak sedang mabuk kan?''
''Tidak.'' Gea tersenyum lalu ia pun terlelap. Matanya sangat berat dan tak tertahan lagi. Brian sangat senang mendapat pengakuan dari Gea. Namun Brian tidak mau berharap, ia khawatir jika esok hari Gea terbangun, Gea akan lupa segalanya.
Keesokan harinya, kepala Gea masih terasa sakit. Perlahan ia mengerjapkan matanya sambil memijit keningnya. Pandangannya mengedar ke setiap sudut ruangan. Kamar itu bukanlah kamarnya. Gea berusaha mengingat apa yang terjadi semalaman. Gea ingat saat ia bersama Nando. Saat Nando ingin memperkosanya dan setelah itu dirinya pingsan. Dan saat sadar, Gea melihat Brian di hadapannya. Gea juga mengingat apa saja yang ia katakan pada Brian. Bahkan saat dirinya dengan agresif menangkup wajah serta mencium bibir Brian. Gea langsung terperanjat sambil menutup bibirnya.
''Astaga, apa yang aku lakukan pada Brian? Ya ampun Gea, elo gila!" Gea merutuk dalam hati.
Ceklek! Pintu kamar terbuka.
''Sudah bangun Ge?'' sapa Brian dengan membawa semangkok sup ayam untuk Gea. Gea mengangguk, ia memalingkan wajahnya, merasa malu pada Brian. Brian lalu duduk di tepi ranjang.
''Aku membuat sup ayam. Makanlah.''
''Brian, apa semalam terjadi sesuatu?'' Gea mencoba bertanya.
''Tidak ada. Hanya saja tiba-tiba kamu mencium ku dengan sangat panas.'' Aku Brian dengan jujur.
__ADS_1
''Bodoh!" Gea memukuli kepalanya sendiri. Brian tersenyum dan menghentikan tangan Gea yang memukul kepalanya.
''Memangnya kenapa? Ciuman mu sangat hebat?''
''Ihhh resek!" Gea memukul dada Brian.
''Kamu pasti mengambil kesempatan dalam kesempitan kan?'' tuduh Gea. Seperti dugaan Brian sebelumnya. Itulah kenapa Brian sekuat tenaga menahan diri dari godaan Gea.
''Lihat saja dirimu. Pakaianmu utuh kan?'' Gea lalu mengecek dirinya sendiri dan pakaiannya utuh semua.
''Aku malu. Kamu semalam pasti melihat semuanya. Aku jijik dengan diriku sendiri.''
''Iya aku melihat bra warna merah dan celana segitiga warna merah juga.''
''Brian! Jangan membuatku mengingat kejadian semalam. Sebaiknya kamu pergi dan kita tidak usah bertemu lagi. Aku kotor Brian! Aku... aku hampir di nodai.'' Gea menangis. Untuk kedua kalinya ia hampir di perkosa oleh pria biadab.
''Gea, semalam tidak terjadi sesuatu. Saat aku tiba disana, Nando kabur. Dan sekarang polisi sudah menangkapnya. Apa kamu mau memperkarakan kasus ini juga? Karena dia selama ini memang menjadi target incaran polisi. Dia bandar narkoba dan juga penadah barang curanmor.''
''Ja-jangan. Aku malu, aku takut Brian! Bagaimana kalau Ayah dan Ibu tahu? Kejadian yang dulu saja, aku setengah mati menghindarinya. Aku tidak mau Brian.''
Grep! Brian lalu memeluk Gea yang mulai gemetar.
''Aku disini, Gea. Jangan merasa dirimu kotor! Aku saksinya. Aku tidak melihat Nando melakukan hal itu karena aku datang tepat waktu. Aku langsung menyelimuti tubuhmu dan membawamu kesini. Yang aku lakukan hanyalah membalas ciuman mu.''
''Kenapa kamu tidak menolaknya?'' marah Gea yang masih dalam dekapan Brian.
''Aku sudah menolak. Kamu bahkan ingin mengajakku melakukan itu.''
''Itu apa?'' selidik Gea.
''Berhubungan badan.'' Celetuk Brian. Sontak Gea melepaskan tubuhnya dari dekapan Brian.
''Tidak mungkin! Apa aku serendah itu dimatamu?''
''Hei, bukan begitu. Aku tahu kamu sedang di alam bawah sadar kamu, Gea. Nando memberikanmu obat perangsang dan alkohol. Siapa yang tidak terbang diberi minuman itu? Kita bisa visum kalau memang kamu tidak percaya.'' Brian mencoba meyakinkan Gea.
''Gea, perasaan ku tulus jadi aku akan menjagamu. Hanya saja ciuman itu terbayang-bayang sampai sekarang, hehehehe.''
''Jangan menggodaku!" kesal Gea sambil memukul dada Brian. Brian hanya cengengesan melihat wajah Gea yang memerah.
''Kamu juga bilang kalau kamu mencintai aku, Ge. Kamu ingat kan?''
''Masa sih?'' Gea pura-pura lupa.
''Ya sudah kalau kamu tidak ingat. Sebaiknya makan saja dulu. Aku mau mandi.'' Brian beranjak dari duduknya namun ucapan Gea menghentikan langkahnya.
''Iya aku ingat. Ya sudah mandi sana.'' Ucap Gea malu-malu.
''Beneran ingat?'' ucap Brian seraya memegang kedua bahu Gea. Gea mengangguk dengan senyumnya. Sungguh Brian sangat bahagia mendengar ucapan Gea. Dan CUP! Brian refleks mengecup sekilas bibir Gea. Setelah itu Brian kabur.
__ADS_1
''BRIAN!" Seru Gea merasa kecolongan.