My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 139 Happy Family


__ADS_3

Malam harinya, mereka mengadakan pesta barbeque dan api unggun di halaman belakang rumah. Sheena dan Queen tampak sibuk memanggang daging, sosis dan juga jagung. Sementara Belinda membantu Nyonya Dira menyiapkan minuman dan beberapa camilan diatas meja. Sedangkan para lelaki, sibuk membuat api.


“Sheena, aku masih tidak menyangka kalau adikku yang menggagap dirinya sempurna benar-benar mencintaimu.” Kata Queen yang membuka obrolan.


“Aku juga tidak tahu, Kak. Karena semua ini dia yang mengawalinya.”


“Wah, sepertinya Arsen kualat.”


“Kualat bagaimana maksud kakak?”


“Dulu kan dia tidak suka denganmu, bahkan setiap ada kamu, dia langsung bad mood.”


“Hehehe iya juga ya, Kak. Kalau mengingat dulu rasanya memang mustahil.”


“Itu namanya jodoh Sheena.”


“Kak, sampai detik ini aku tidak pernah melupakan semua kebaikan Kakak. Jujur saja saat aku tidak bisa bertemu dengan Kakak, aku sangat merasa kehilangan.”


“Sebelum aku pergi ke London, aku sempat ingin menemuimu untuk berpamitan tapi sayang saat itu kamu sudah pindah. Aku juga tidak menyangka kamu menghadapi hidup yang sangat pahit. Tapi sekarang kepahitan itu terbayar sudah.”


“Padahal dulu, aku hanya ingin merasakan kehangatan keluarga. Aku dulu juga berangan ingin sekali memiliki keluarga yang begitu hangat dan sekarang aku mendapatkannya. Meskipun banyak sekali ujian batin yang aku hadapi. Dan aku pun percaya bahwa semua akan indah pada waktunya.”


“Iya Sheena, kamu benar. Kamu memang sangat pantas dan layak mendapatkan semua ini. Ingatlah selalu ada pelangi setelah hujan.”


“Kakak, aku bahagia sekali bertemu denganmu.” Sheena memberikan pelukan pada Kakak iparnya itu.


“Begitu juga denganku. Kamu sudah seperti adik kandungku, Sheena.”


“Selamat malam semuanya!” sapa Arthur yang baru saja tiba disana.


“Arthur, ayo kemarilah!” ucap Tuan Keena yang menyambut Arthur dengan ramah.


“Mama mengundang dia?” tanya Belinda sinis. Belinda tidak suka dengan kedatangan Arhur.


“Memangnya kenapa? Arthur kan Kakaknya Sheena, Bel. Itu artinya dia juga bagian dari kita.” Jelas Nyonya Dira.


“Jangan bersikap kekanak-kanakan, Bel.” Timpal Tuan Keenan.


“Om-Tante, maaf ya aku terlambat. Aku bawa martabak telur, martabak manis, cakue da nada pizza juga.”


“Wah, terima kasih ya Arthur. Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot.” Ucap Nyonya Dira.


“Kamu sengaja ingin membuatku gendut ya?” sahut Belindda.


“Tidak, jangan ge-er. Aku memang sengaja membeli ini supaya kamu tidak memakannya. Karena ini khusus untuk menyambut kedatangan Kak Queen, Kak Raja dan Brian. Mmmmm sama Ran dan Rein juga.” Jelas Arthur.


“Dasar menyebalkan,” gerutu Belinda. Arthur kemudian menyapa Queen dan memberinya pelukan.


“Hai Kak, bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali kita tidak bertemu.”

__ADS_1


“Aku baik, Arthur. Bagaimana denganmu?”


“Aku juga selalu baik dan semakin baik saat aku bisa berkumpul dengan adikku ini.” Ucap Arthur seraya melepaskan pelukannya.


“Ternyata dunia itu sempit sekali ya. Padahal aku sudah mengenal Sheena sejak dia masih kecil.” Kata Queen.


“Sheena, sudah lama tidak melihatmu.” Arthur bergantian memeluk adiknya.


“Aku juga, Kak. Kakak sehat?”


“Seharusnya aku yang bertanya itu padamu. Apa lukanya masih perih?”


“Tidak, Kak. Aku sudah jauh lebih baik.”


“Syukurlah. Sebaiknya jaga pola mkakanmu ya.”


“Iya Kak, pasti. Arsen sudah menjaga pola makanku dengan baik.”


“Baguslah. Dia memang sangat peduli kalau soal urusan makanan. Aku akan menyapa Kak Raja dulu.”


“Iya Kak.”


Arthur kemudian menyapa Raja dan Brian. Tak ketinggalan menyapa Rania dan Reiner juga. Terakhir, ia menyapa Arsen.


“Apa yang sudah kamu lakukan pada adikku, Arsen?” bisik Arthur.


“Jangan pura-pura bodoh. Kamu pasti sudah mencintainya kan?”


“Bukan urusanmu juga,” ketus Arsen.


“Masih saja sinis. Masa iya cemburu dengan kakak iparmu sendiri.” Ucap Arthur.


“Jangan banyak bicara, sebaiknya bantu menyalakan api ini.” Kata Arsen yang berusaha mengalihkan perhatian Arthur. Arthur tersenyum kecil melihat Arsen yang salah tingkah.


“Hyung Arthur, apa hyung sudah memiliki kekasih?” tanya Brian.


“Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”


“Secara Noona Sheena sudah menikah, masa iya hyung di salip sih?”


“Brian, Hyung dan Noona Belinda, mereka itu sudah kami jodohkan.” Sahut Tuan Keenan.


“Wah-wah good idea Pah. Aku tidak suka kalau noona pacaran sama si Dave itu. Dave itu super badbody.” Jelas Brian.


“Come on, Pah! Jangan menjodohkan kami. Aku tidak mau dengan dia. Dan Brian, tahu apa kamu soal Dave.” Kesal Belinda.


“Dibilangin nggak percaya,” kesal Brian.


“Jangan seperti itu Bel, nanti kalau kalian benar-benar jatuh cinta seperti oppa Arsen dan eonni Sheena, baru tahu rasa. Memang ada apa dengan Arthur? Dia tampan, baik, smart, bisa bermain musik bahkan punya sekolah music.” Sambung Queen yang berusaha meyakinkan adiknya itu.

__ADS_1


Arthur menghela mendengar Belinda menggerutu. Ia lalu beranjak mendekat kearah Belinda. Ia lalu merangkul bahu Belinda. “Watch out, you’ll fall in love with me.” Goda Arthur.


“Hhhh tidak akan!” ketus Belinda sambil menyingkirkan tangan Arthur dari bahunya.


“Belinda, jaga sikapmu!” kata Tuan Keena dengan suara meninggi.


“Sudah-sudah, jangan membahas perjodohan Arthur dan Belinda disini, sebaiknya kita makan dulu yuk.” Sahut Nyonya Dira yang berusaha mencairkan suasana. Nyonya Dira tidak ingin sikap moodyan Belinda mengganggu acara keluarga malam itu.


“Adults are hard to understand,” bisik Reiner pada Rania, Kakaknya.


“You’re right Rein, they can be childish sometimes.” Sahut Rania. Mereka berdua kesal melihat perdebatan Arthur dan Belinda.


“Noona, act mature!” sahut Reiner. Belinda mengernyitkan dahinya, mendengar keponakannya itu menegurnya.


“Rein darling, you don’t understand adult’s problem yet.” Ucap Belinda.


“Noona, at least learn to control your anger and it will make you more beautiful.” Imbuh Reiner.


“Oh, you are so sweet, Rein. Kamu paling bisa merayu. Oke baiklah, aku akan berusaha mengontrol amarahku karena itu akan membuatku menjadi semakin tua.”


“Nah that’s right.” Jawab Reiner sambil memberikkan finger love pada tantenya itu.


“Rein, you make me fall in love with you. You’re so cute.” Sahut Sheena sambil mengelus kepala Reiner. Sheena gemas sekali melihat cara bicara Reiner.


“Thanks aunty.  I’m in love with you too.” Ucap Reiner.


“Kak, mereka sungguh menggemaskan.” Kata Sheena pada Queen.


“Ya, begitulah mereka. Mereka selalu menjadi penengah antara Belinda dan Brian.” Jawab Queen dengan senyum lebarnya. Sheena kemudian mendekat kearah Arsen dan memeluk lengannya.


“Arsen, aku ingin punya anak seperti Rania dan Reiner. Mereka sangat menggemaskan.” Ucapan Sheena membuat semuanya merasa terkekeh, sementara pipi Arsen tampak memerah menahan malu.


“I-iya, nanti kita buat.” Jawab Arsen malu-malu.


“Buat apa, oppa? Adonan ya?” sahut Brian dengan senyum meledek.


“Anak kecil, diam kau!” ketus Arsen.


“Semoga kalian punya baby twins ya. Apalagi Sheena dan Arthur kembar, siapa tahu bisa ikutan punya twins juga.” Sambung Queen.


“Sedikasihnya saja lah, Kak. Apalagi Sheena juga baru pulih.” Ucap Arsen.


“Iya Kakak mengerti namanya juga berharap, siapa tahu itu menjadi doa dan di ijabah, iya kan?”


“Amin. Kita amin kan semuanya.” Sahut Raja. Semuanya pun turut mengaminkan. Malam itupun menjadi malam panjang untuk keluarga Nyonya Dira. Mereka saling bercengkrama, menyanyi bersama dan games truth or dear yang mampu memecah suasana. Sheena juga bahagia sekali menjadi bagian dari keluarga Nyonya Dira. Dan Arthur, perlahan mulai bisa melepaskan perasaannya pada Sheena.


 


 Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2