
Sedangkan malam itu, Arsen dan Sheena baru selesai makan malam dan nonton bersama di bioskop. Namun tiba-tiba pandangan Sheena tertuju dengan sosok yang tidak asing. Seseorang yang berjalan seorang diri, dengan pandangan kosong dan penampilan acak-acakan.
“Sayang, itu bukannya Brian.” Seru Sheena.
“Iya, itu Brian. Ngapain dia dijalanan.”
“Berhenti sayang, kita samperin dia.”
“Iya sayang.” Arsen lalu menepikan mobilnya. Arsen dan Sheena keluar dari mobil.
“Brian!” panggil Arsen. Namun Brian bergeming.
“Brian!” kali ini Sheena ikut memanggil tapi Brian terus berjalan tidak menghiraukan suara yang memanggilnya.
“Budek apa ya dia?” kesal Arsen.
“Kamu kejar, sayang. Sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja.”
“Ya sudah, kamu tunggu di mobil saja ya.”
“Iya sayang.” Jawab Sheena. Arsen lalu mengejar Brian dan berhasil menghadang jalannya.
“Brian, apa yang kamu lakukan disini?” tanya Arsen.
“Hyung,” lirihnya.
“Ngapain disini? Hah?” tanya Arsen sambil menyentuh kedua bahu Brian. Brian lalu memeluk Kakaknya.
“Hyung.” Hiks hiks hiks. Menangis. Arsen bingung tapi ia juga merasa kasihan pada adiknya itu. Ia lalu membalas pelukan adiknya sambil mengelus punggung Brian.
“Apa yang terjadi?”
“Gea.” Hanya satu kata yang keluar dari bibir Brian. Arsen pun paham dengan satu nama yang disebutkan oleh Brian.
“Ya sudah, ayo ikut kerumah.” Ajak Arsen.
“Aku mau menyusul Gea.”
“Biarkan Gea sendiri. Dia butuh waktu. Percuma kalau kamu memaksa. Sebaiknya kita pulang dulu.” Mendengar ucapan Kakaknya, Brian menurut. Arsen dan Sheena lalu mengajak Brian ke rumah mereka. Sesampainya dirumah Arsen, Brian berlalu begitu saja menuju kamar. Brian ingin sendiri. Ia bahkan mengunci pintu kamarnya.
“Apa dia akan baik-baik saja sayang?” tanya Sheena yang begitu khawatir.
“Iya, dia akan baik-baik saja. Biarkan dia sendiri. Kita ke kamar saja. Aku akan menelepon Papa."
“Iya sayang.” Mereka berdua pun juga bergegas ke kamar.
“Halo Pah, apa yang terjadi?” tanya Arsen lewat sambungan telepon.
__ADS_1
“Terjadi apa Arsen?”
“Aku melihat Brian jalan sendirian di jalanan seperti orang gila.”
“Hah? Serius kamu? Terus dimana dia sekarang, Arsen?” sahut Nyonya Dira yang bersama Tuan Keenan.
“Aku mengajaknya pulang, Mah. Dia sudah di kamar. Apa Gea sudah tahu semuanya?”
“Iya Arsen. Barusan mereka berdua datang ke rumah tapi ya seperti dugaan kita semua, Gea kecewa karena merasa di bohongi.” Jawab Nyonya Dira.
“Ya sudah, kamu biarkan saja dia dulu. Nanti juga baik-baik sendiri.” Tuan Keenan menimpali.
“Lalu apa yang akan Papa dan Mama lakukan?” tanya Arsen.
“Kita lihat keadaan keduanya bagaimana Arsen. Kalau memang adik kamu serius, Papa dan Mama akan menemui orang tua Gea.” Ujar Tuan Keenan.
“Baiklah Pah kalau begitu. Biarkan dia disini saja. Papa dan Mama istirahat ya, selamat malam.”
“Iya Arse, selamat istirahat untuk mu dan Sheena.” Tuan Keenan mengakhiri panggilannya.
“Serumit itu ya sayang?” sahut Sheena.
“Kita belum mendapat penjelasan dari Brian. Kita tunggu besok saja ya. Sekarang kita istirahat.”
“Usap punggung ku ya, rasanya lelah.” Ucap Sheena dengan manja.
“Iya sayang, manja sekali kamu ini.”
“Brian, makanlah dulu.” Kata Arsen.
“Aku tidak lapar,” jawabnya ketus.
“Astaga, seperti anak kecil saja. Masa iya playboy galau sih,” ledek Arsen.
“Aku kan juga manusia,” bantahnya.
“Ceritakan pada ku, apa yang sebenarnya terjadi. Siapa tahu hyung bisa bantu. Kalau kamu loyo gini, keburu Gea pindah ke lain hati.” Mendengar ucapan Kakaknya, Brian akhirnya bangun.
“Astaga, matamu bengkak.” Kekeh Arsen.
“Semalaman kamu nangis rupanya?” imbuh Arsen dengan kekehan yang menjadi. Brian tertunduk sedih. “Hyung, aku harus bagaimana? Gea semalam minta putus.”
“Apa? Gea minta putus?” Arsen pun terkejut.
“Iya. Padahal aku sudah menjelaskan semuanya. Dia bilang kita berbeda. Apa yang harus aku lakukan hyung?”
Arsen menghela. “Rumit juga ya. Terus Gea sekarang dimana?”
__ADS_1
“Aku tidak tahu. Dia memblokir nomorku.”
“Brian, justru inilah perjuangan kamu yang sesungguhnya. Lebih baik sekarang kamu makan, mandi dan cari Gea. Apalagi Gea trauma kan dengan masa lalunya? Siapa tahu Gea memutuskan pisah karena takut suatu saat kamu akan menyakitinya karena dia sudah tahu siapa kamu sebenarnya. Jadi kamu harus yakinkan dia.”
“Apa yang hyung katakan ada benarnya juga.” Brian kembali bersemangat.
“Ya sudah, mandi sana dan makan. Dan ini , semua fasilitas yang telah disita Papa, aku kembalikan padamu. Kamu bebas menggunakannya lagi.”
“Serius hyung? Kok ada sama hyung?”
“Sebenarnya sudah lama Papa memberikan ini kepadaku. Papa meminta aku memberikannya disaat yang tepat dan inilah saat yang tepat. Kamu sudah dewasa dan belajar banyak hal. Mobilmu juga ada dirumahku. Kuncinya aku simpan di laci ruang tengah. Aku mau ke kantor dulu.”
“Terima kasih hyung.” Brian lalu memeluk Kakaknya.
“Sekalian cek hyung, apakah hari ini Gea masuk atau tidak.”
“Iya, nanti secepatnya aku kabari.”
“Terima kasih ya hyung.”
“Ya sama-sama. Baru kali ini lihat playboy nangisin cewek. Biasanya cewek yang nangisin kamu. Itu namanya karma.”
“Sudahlah hyung, jangan meledekku. Aku semalam juga introspeksi diri kok.” Ucap Brian memelas. Arsen hanya tersenyum kecil melihat tingkah adik bungsunya itu. Arsen kemudian kembali ke kamar untuk mengambil tas kerjanya.
“Bagaimana Brian sayang?”
“Sudah berhasil aku bujuk.”
“Syukurlah kalau begitu. Oh ya sayang, antar aku ke rumah Mama sofi sekalian ya. Saat pulang kantor, kamu jemput aku.”
“Iya sayang. Oh ya konsep acara empat bulan kandungan kamu bagaimana?”
“Yang biasa saja sayang. Cukup mengundang anak yatim ke rumah dan doa bersama.”
“Baiklah kalau begitu mau kamu. Ya sudah, ayo berangkat.”
“Iya sayang.”
Sementara itu, setelah sarapan dan mandi, Brian bergegas menuju kontrakan Gea.
“Gea! Kamu di dalam kan?” teriak Brian sambil menggedor pintu rumah Gea. Tapi tidak ada jawaban. Brian terus mencobanya namun masih tetap sama tidak ada sahutan dari Gea. Ponsel Brian bergetar dalam sakunya, sebuah pesan dari Arsen.
Brian, aku menerima surat pengunduran diri dari Gea.~HYUNG ARSEN~
Hyung, aku akan pergi ke rumah Gea. Aku yakin dia pasti pulang kerumahnya.~BRIAN~
Ya baiklah, hati-hati dan tetap berusaha tenang. Utamakan keselamatan.~HYUNG ARSEN~
__ADS_1
Iya hyung.~BRIAN~
Setelah mendapat pesan dari Arsen, Brian langsung menuju kontrakannya. Mengambil ransel dan beberapa pakaian. Ia tidak akan pulang sebelum membawa Gea kembali. Perjalanan yang jauh Brian tepuh seorang diri. Tidak peduli seberapa terjal jalanan yang ia lalui. Demi wanita yang dicintai, luasnya laut dan samudra pun akan ia sebrangi.