My Perfect Husband

My Perfect Husband
Sekretaris CEO


__ADS_3

Karena semalam sempat menangis karena senang, pagi ini mata Naynay sedikit membengkak. Berkas adopsi Araa sudah dia berikan kepada Yasmin untuk disimpan.


Araa sedang bermain dengan Hendrayan dan Yasmin di taman belakang. Sedangkan Naynay sedang mengidam makan nasi padang. Dia gelisah karena pagi-pagi seperti ini belum ada restoran yang buka.


"Kau ikut aku ke kantor saja, di dekat sana ada restoran padang." Afif meniup mata Naynay yang sedang memakaikannya dasi.


"Tapi Nay pengin tiduran aja habis itu," ujar bumil itu lemas.


"Kau bisa tiduran di sana kan? Sekalian, temani aku bekerja." Masih berupaya agar istrinya mau diajak ke kantor.


Naynay memiringkan kepalanya seraya berpikir. "Nay ikut." jawabnya akhirnya.


Afif tersenyum lebar dan mengecup bibir Naynay. Bibir yang sejak bangun tidur tadi sudah dia nikmati itu memiliki rasa yang bertambah manis menurutnya. Ketagihan sampai tidak sadar sudah gigit-gigit dan istrinya merengek ingin lepas.


"Kakak jahat ihhh." Naynay mengipas-ngipas bibirnya yang terasa sedikit perih dan lebih merah dari biasanya.


"Satu lagi." Satu gigitan besar di pipi istrinya.


Naynay mengusap pipinya dengan bibir yang mengerucut kesal. "Kakak curang, Nay nggak bisa balas karena Kakak tinggi banget."


Afif menundukkan tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan wajah Naynay. "Nah, kau bisa balas sekarang."


Naynay tersenyum dan mendekatkan wajahnya. Satu gigitan kecil dia hadiahkan di hidung mancung Afif. Setelah satu gigitan di sana, sekarang beralih ke dagu Afif yang membuatnya gemas. Puas gigit-gigit, Naynay tertawa dengan senangnya.


"Puas?" tanya Afif sambil mengelus perut buncit istrinya yang masih tertawa itu.


"Nay ganti baju dulu, ya." Bumil imut menggemaskan itu berjalan masuk ke ruang ganti.


Membuka lemarinya, Naynay memegang satu per satu pakaian formalnya. Setelah menemukan yang cocok, dia langsung mengganti pakaiannya. Naynay sudah mandi tadi karena diancam oleh Afif. Kalau tidak diancam, mana mungkin dia mandi pagi.


"Untung size celananya agak gede." Naynay memutar tubuhnya di depan cermin. Dia memakai kemeja putih dengan renda di bagian dada. Dan dilapisi stelan jas wanita berwarna hitam dengan aksen putih di bagian tepi kerah dan sakunya. Karena sedang hamil, jadi dia memakai flat shoes senada dengan stelannya.


Setelah itu Naynay keluar dan merias wajahnya yang sedikit sembab. Dengan riasan simple, bumil itu tampak semakin imut. Selesai berdandan, Naynay membuka laci dan meraih satu masker hitam dari dalam kotak.


"Jangan dipakai!" seru Afif yang duduk di tepi tempat tidur. Risih karena tidak bisa melihat wajah imut istrinya.


"Nay mau pake," ucap Naynay sambil menggelengkan kepalanya, tidak mau menuruti titah suaminya.

__ADS_1


"Nay." Nada mulai dingin.


"Nay nggak jadi ikut." Nahh, bumil mulai mengeluarkan jurus ngambek versi halus.


Afif menghela napasnya perlahan, memiliki istri remaja memang butuh kesabaran extra. "Baiklah, ayo kita berangkat."


Naynay meraih tasnya dari atas meja dan memasukkan hpnya. Menghampiri Afif, tangannya langsung digandeng oleh suaminya itu. Naynay selalu menyukai rasa hangat dari genggaman tangan besar itu, dia tersenyum.


"Kita sarapan dulu, aku tidak mau kau kelaparan." Afif menuntun istrinya menuju meja makan. Menu sarapan hari ini adalah nasi goreng, menu kesukaan semua orang. Naynay makan disuapi oleh Afif, dipaksa sebenarnya.


Setelah sarapan, mereka segera berangkat ke kantor. Seperti biasa, Ryan lah yang selalu menjadi sopir. Afif memang tidak mau disopiri sembarangan orang, hanya Ryan saja yang dia percaya. Gelar sopir yang biasanya dipandang rendah, akan menjadi kedudukan tinggi jika yang dilayani adalah Afif Cavin Alvarendra.


Sampai di kantor, Ryan segera membukakan pintu untuk pasutri itu. Kali ini Afif mau pamer, jadi dia masuk melewati lobi yang pastinya ramai. Sama seperti kejadian menggendong Naynay yang tertidur dulu, itu juga didasari mau pamer. Walaupun dia merasa aneh setelah melakukannya.


"Anda sudah seperti sekretaris Tuan Muda, Nona!" ucap Ryan ketika mereka baru memasuki lobi.


"Emangnya Kak Iyan mau kalau gelar sekretaris Nay ambil?" balas Naynay jenaka. Senyum imut yang tertutupi masker hitam itu membuat Afif cemburu.


"Tidak masalah, Nona." Ryan menahan tawa karena melihat raut wajah Afif yang menatap tidak suka.


"Awas kalau kau lepas tanganmu!" bisik Afif di telinga Naynay ketika pintu lift terbuka.


Naynay tertawa tanpa suara, moodnya sedang bagus hingga sering tertawa. Dengan dagu ditumpu di dada Afif, Naynay melangkah mundur mengikuti langkah suaminya itu keluar dari lift.


Staff di lantai istimewa itu menatap aneh tingkah pasutri itu. Sedetik kemudian, mereka mengulas senyum terbaik ketika Naynay tersenyum ke arah mereka. Sekarang mereka berpikir kalau istri CEO itu ingin dimanja. Padahal kan ini karena CEO tampan itu cemburu.


Sedangkan di lobi, para karyawan di sana heboh menerka-nerka siapa wanita yang berjalan bersama dua orang besar itu. Yang wanita sudah menggosip dengan membuat beberapa kelompok. Pasalnya kedua orang berpengaruh itu tidak pernah terlihat dekat dengan perempuan mana pun. Sejenak, kejadian saat Naynay digendong dulu juga trending kembali.


Sedangkan yang menjadi bahan gosip sedang duduk di sofa ruangan Afif dengan laptop di depannya. Bumil itu begitu fokus dengan drakor yang ditontonnya di laptop suaminya itu.


"Permisi, Tuan dan Nona." Ryan masuk dengan membawa sesuatu yang langsung membuat mata Naynay berbinar.


"Makasih, Kak Iyan!" Begitu senang ketika Ryan meletakkan kantung plastik dengan logo rumah gadang di depannya.


"Sama-sama, Nona." Berlalu keluar setelahnya.


Naynay berjalan cepat ke kamar mandi untuk mencuci tangannya. Tidak epic jika makan nasi padang pakai sendok, kan. Dengan langkah yang sama cepatnya juga, bumil itu keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Kakak mau?" tanya Naynay setelah membuka bungkusan nasi padang di depannya.


Afif menoleh. "Apakah enak?"


"Sini dulu, cobain." Mulai menyuap nasi ke dalam mulutnya.


Karena penasaran, Afif akhirnya menghampiri istrinya yang kembali menyuap nasi ke mulutnya itu. Dia duduk dan mencubit pipi Naynay dulu sebelum membuka mulutnya minta disuapi.


Naynay menyuapi suaminya yang manja itu. Dia terpekik saat mendapat gigitan di jemarinya yang menyuapi Afif. "Usil ihh."


Afif tertawa dan membuka mulutnya kembali. Ternyata nasi padang enak juga,pikirnya. Maklumlah, belum pernah sekali pun memakan makanan legendaris itu.


Setelah menghabiskan nasi padang itu berdua, mereka menyandarkan tubuh di sofa.


"Kau mau menjadi sekretarisku sehari ini?" tanya Afif tiba-tiba membuat Naynay menoleh.


"Kak Iyan?"


"Dia akan tetap ikut, hari ini kau akan menjadi sekretaris keduaku."


Naynay mengangguk semangat. Dia sangat ingin tahu seperti apa menjadi sekretaris seorang CEO.


"Baiklah, sekarang kau boleh santai dulu. Kita ada jadwal makan siang dengan salah satu kolegaku nanti." Afif mencium pipi Naynay sebelum berjalan menuju meja kerjanya. Kembali bergelud dengan tumpukan berkas di sana.


Naynay merebahkan tubuhnya setelah beberapa menit menonton drakor. Rasa malasnya dan kantuk kembali menyerangnya.


.


.


.


.


.


Dukung dengan tekan like di setiap bab nya, ya...

__ADS_1


__ADS_2