My Perfect Husband

My Perfect Husband
Kekhawatiran Afif


__ADS_3

Perut Naynay yang semakin membesar, membuat bumil itu tidak bisa bergerak bebas lagi. Mudah sesak napas walau hanya berjalan dari kamar ke dapur saja. Afif sudah merealisasikan ucapannya dulu untuk pindah ke kamar di lantai bawah. Awalnya mau memakai lift saja untuk naik-turun, tapi Naynay yang tidak mau.


Setiap malam pun, Naynay juga tidak bisa tidur nyenyak. Dia rindu tidur terlentang dan tengkurap, tapi keadaan tak membolehkan. Dia juga sering buang air kecil di malam hari, bahkan sampai sepuluh kali.


Dan kehamilan yang sudah memasuki minggu 36 ini, benar-benar membuat Afif siaga. Menurut HPL, tiga minggu lagi anaknya akan lahir. Afif juga sudah tidak ke kantor lagi sejak Naynay selesai belanja keperluan bayi mereka dulu.


Setiap malam, saat melihat Naynay meringis tidak nyaman ketika tidur, membuat Afif menangis dalam diam. Tidak tega melihat istrinya mengatakan tidak nyaman pada pinggulnya, kadang pinggangnya juga sakit, dan kaki yang membengkak.


Jika seperti ini saja dia sudah menangis, bagaimana ketika persalinan Naynay nanti...


"Aku antar," ucap Afif sambil turun dari tempat tidur. Dia menggandeng Naynay dengan hati-hati menuju kamar mandi. Begitu setiap malam dan setiap Naynay ingin buang air kecil, Afif selalu mengantarnya ke kamar mandi.


Naynay keluar dan Afif kembali menggandengnya menuju tempat tidur. Kemudian memberikan Naynay air putih yang selalu tersedia di atas nakas, ini agar istrinya itu tidak dehidrasi karena sering mengeluarkan cairan.


"Sudah, tidur lagi, ya." Afif memperbaiki cepol rambut Naynay yang sudah tidak serapi menjelang tidur tadi.


"Iya," balas Naynay singkat dan membaringkan tubuhnya miring ke kiri, berhadapan dengan Afif. Usapan lembut di punggungnya membuat Naynay merasa nyaman.


"Kak, kenapa udah nggak pernah jenguk dedeknya lagi?" tanya Naynay sambil menatap tajam Afif. Biasanya Afif mana tahan tidak menyentuhnya lebih dari dua hari, namun sekarang sudah lebih dari dua minggu dia puasa.


Afif tercengang mendengar pertanyaan Naynay. Mata belo yang menatap tajam padanya itu, membuatnya sedikit terkejut. Tampaknya istrinya itu mulai nethink padanya.


"Melihat kau susah tidur saja aku tidak tega, apalagi menidurimu. Jangan berpikiran buruk, Nay!" balas Afif sambil mengusap kepala Naynay.


"Tapi kata dokter harus sering-sering jenguk dedeknya," ucap Naynay lagi. "Supaya persalinannya lancar, emang Kakak mau, Nay diinduksi? Sakit lho kata orang-orang."


Afif terdiam, memang benar yang dikatakan Naynay. Dokter Melisa juga mengatakan hal serupa padanya ketika USG beberapa waktu lalu. Tapi masalahnya dia tidak tega harus menggauli Naynay saat ini. Tapi jika tidak, ada kemungkinan jika Naynay harus diinduksi nantinya.


"Bagaimana kalau kau operasi saja? Aku tidak tega melihatmu kesakitan," ucap Afif pelan sambil mengelus pipi chubby istrinya.


Naynay menepis kasar tangan Afif dari pipinya, dia duduk dan turun dari tempat tidur. Kaki yang sering membengkak itu berjalan keluar dari kamar. Afif segera menyusul istrinya itu yang sedang menuju dapur.

__ADS_1


"Nay," panggil Afif sambil mengikuti langkah Naynay yang duduk di kursi meja makan. Dia berlutut di depan Naynay yang sedang duduk tersebut.


"Kenapa lagi, hhmm?" tanya Afif sabar.


"Jangan pernah bilang operasi lagi. Kalau bisa normal, Nay mau lahiran normal!" ujar Naynay menatap Afif sendu. Kenapa harus operasi jika bisa normal?


"Tapi, Nay...." Afif mendesah kesal.


"Kak, kalau Kakak cemas Nay ngerasain sakit, lebih sakit lagi pasca operasi. Sembuh luka sayatannya lama, apalagi kalau salah gerak dan kebuka lagi. Jika nanti Nay tidak memungkinkan untuk lahiran normal, nggak apa-apa kalau operasi. Tapi jangan bilang itu sekarang, Nay berharap bisa lahiran normal nantinya." Naynay menatap Afif penuh harap.


"Kalau Kakak nggak mau dampingin Nay, ada mama yang pastinya mau," imbuh Naynay dengan bibir bergetar saat mengatakannya.


Melahirkan secara normal tentu harapan banyak ibu, termasuk Naynay. Dia ingin merasakan bagaimana perjuangan miliaran wanita lainnya saat melahirkan buah hati mereka ke dunia. Rasa sakit, jangan pedulikan itu. Setelah mendengar tangis dan melihat wajah bayi, rasa sakit itu langsung sirna rasanya.


Tapi bukan berarti orang yang melahirkan secara caesar gagal menjadi seorang ibu. Ketika hamil, semua wanita merasakan hal sama. Morning sickness, ngidam, pinggang sakit, kontraksi palsu, semuanya merasakan. Cuma bedanya, Tuhan menggariskan takdir bahwa mereka harus dioperasi. Semua ibu itu juga sama di mata Tuhan, tidak membedakan mana yang lahiran normal dan mana yang operasi.


Afif berdiri setelah tercipta keheningan yang cukup lama, dia menangkup kedua pipi Naynay dengan telapak tangannya. "Maaf, ya, aku tidak akan membahas tentang hal itu lagi."


Naynay mengangguk dan memeluk pinggang Afif, pipinya mendusel di perut kotak-kotak yang tertutupi piyama itu.


"Nggak," balas Naynay singkat dan berdiri dari posisinya sebelumnya.


Afif segera menarik tangan Naynay, membawanya kembali ke kamar. Duduk di pinggir ranjang dan memangku tubuh Naynay.


"Mau coba main?" tanya Afif sambil tersenyum tampan. Dibalas anggukan oleh Naynay sambil tersenyum lebar.


"Baiklah, katakan jika kau merasa tidak nyaman."


Naynay mengangguk sebelum bibirnya disambar oleh Afif, ciuman lembut itu akan menjadi awal sisa-sisa malam yang panjang dihabiskan dengan mengarungi surga kenikmatan.


Ohh... Ada berita baik, Rosi ternyata hamil. Sekarang sudah berusia 12 minggu. Joan sering sekali curhat pada Afif tentang Rosi yang hobi marah-marah padanya. Ya itu salahnya sendiri karena suka menolak permintaan Rosi yang ngidam.

__ADS_1


*****


"Belum ada laporan mengenai kedatangan tuan muda ke perusahaan, Nyonya."


Wanita berusia sekitar 50 tahun yang sedang duduk di sofa berwarna gold di ruangan mewah itu meletakkan majalah yang berada di tangannya. Dia memandang wanita muda yang tadi memberinya informasi.


"Keluar!" ucapnya singkat dan informan itu segera keluar dari ruangan.


Wanita itu mulai berdiri dan berjalan menuju dinding yang terdapat satu foto keluarga berukuran super besar.


"Rendra, Ga Eun, anak kalian masih belum memaafkan Mama," lirihnya sambil mengusap bingkai foto tersebut.


Wanita itu mengusap air mata yang menetes, kesalahannya 19 tahun lalu membuatnya dibenci oleh cucunya. Dia kemudian beralih ke foto lain yang tidak sebesar foto keluarga tadi, foto Afif dengan Naynay ketika makan di restoran.


"Semoga kalian selalu bahagia," ucapnya pelan sambil tersenyum masam pada foto Afif dan Naynay itu.


Andai saja dia tidak terobsesi untuk merebut Rendra dari Ga Eun dulu, mungkin dia bisa menghabiskan waktu dengan cucu dan cucu menantunya yang sedang hamil itu sekarang.


Aiko, wanita asal negara J itu merupakan ibu tiri Rendra. Aiko yang dinikahi oleh ayahnya Rendra itu begitu terpana saat melihat Rendra pertama kali. Sifat tamaknya membuat dia nekat melakukan semuanya demi merebut Rendra, bahkan sampai membuang Afif yang saat itu berumur 5 tahun. Dan sekarang penyesalan yang dia dapatkan.


Dan kejadian itu masih teringat jelas oleh Afif, otaknya menolak untuk melupakan kisah kelam itu. Di mana dia ditinggalkan di hutan belantara dan menjadi bulan-bulanan anjing liar. Jika tidak ada pemburu yang menolongnya, mungkin dia sudah menjadi santapan anjing-anjing itu.


Aiko keluar dari ruangan kerja almarhum suaminya itu dengan masih berlinang air mata. Dia sangat ingin mendapatkan maaf dari cucunya itu, tapi tampaknya tidak ada kesempatan untuknya.


Naecho Jew, perusahaan berlian miliknya dia alihkan ke nama Naynay sebagai hadiah untuk calon cicitnya. Perusahaan itu dia dirikan sejak rasa menyesalnya ingin merusak rumah tangga anak tirinya. Dan sejak itu pulalah Rendra dan Ga Eun pindah ke rumah utama sekarang, membawa Afif pergi agar mimpi buruk yang selalu menganggu tuan muda itu tidak hadir lagi. Afif juga punya trauma, pada Aiko, hutan, dan anjing.


.


.


Vote, tolongg😭😭

__ADS_1


.


.


__ADS_2