My Perfect Husband

My Perfect Husband
Tetap sahabat


__ADS_3

Setelah mendapat telepon dari Rania, Naynay lanjut menelepon suaminya yang sedang bekerja di sana. Drama dulu sebelum dapat izin untuk pergi bertemu dengan Rania.


"Makasih, Suami." Tanpa sadar, Naynay mengucapkan itu sebelum memutuskan sambungan telepon.


Sedangkan suaminya di sana sudah kegirangan sampai punya niat untuk segera pulang. Tapi untungnya Ryan segera mensehati tuan mudanya itu untuk membiarkan Naynay jalan-jalan bersama temannya. Dengan sedikit cerita tentang bumil yang dilebih-lebihkan, akhirnya Ryan berhasil membujuk Afif.


Kembali lagi pada Naynay yang sudah berganti pakaian dengan dress hitam ditaburi mutiara di bagian leher. Entah kenapa dia sekarang sangat menyukai dress yang memperjelas perut buncitnya. Naynay merasa bahwa malaikat kecilnya yang masih di dalam sana ingin dia memperlihatkan pada dunia bahwa dia sedang hamil.


Setelah siap, Naynay keluar dari kamar dan menuruni tangga. Pak Hen sudah menantinya di bawah sana. Naynay berharap agar tidak bertemu dengan dua gadis pencari masalah tadi.


Tapi sayangnya, dua orang yang tidak ingin Naynay temui itu sudah berdiri di belakang Pak Hen. Dengan menghela napas kasar, Naynay berjalan melewati mereka.


"Sering banget keluar rumah, keluyuran mulu!" ujar Qiara sarkas sambil menatap kukunya yang dipoles.


"Kerjain kerjaan rumah dong." Silla juga mulai cari masalah.


Naynay berhenti dan memutar tubuhnya. "Lalu gunanya pelayan apa?"


Kedua gadis itu hanya diam karena merasa salah mencari alasan untuk memojokkan Naynay. Ya kali rumah ini nggak ada pelayan, puluhan banyaknya.


Naynay melanjutkan langkahnya kembali, di luar sana sudah ada mobil yang akan mengantarnya. Sebelum pergi, dia pamit dulu kepada Pak Hen. Tujuan pertamanya adalah rumah Hendrayan, dia akan membawa Araa untuk bertemu Rania.


Setibanya di rumah orang tuanya, Naynay segera masuk ke dalam. Ternyata Araa sedang bermain bersama Yasmin di ruang keluarga. Mereka berbaring di atas sofa yang diubah menjadi lebih luas.


"Anaknya Bubu...." pekik Naynay sambil berjalan cepat dan membawa Araa ke pelukannya, pipi gembul bayi itu juga dia cium.


"Hoby banget datang nggak ngabarin," cibir Yasmin yang masih tiduran.


"Mau bawa Araa main, sama Rania juga."


"Ke mana?" tanya Yasmin.

__ADS_1


"Ke cafe tempat biasa kita kumpul."


Yasmin mengangguk mengerti. Naynay segera membawa Araa ke kamarnya untuk ganti baju. Dia selalu memakaikan baju yang warnanya sama kepada Araa, agar seperti mereka benar-benar ibu adan anak. Tak lupa bandana putih dipasangkan di kepala Araa.


Setelah semua keperluan Araa siap, mereka pamit kepada Yasmin dan berangkat ke tempat di mana Rania sudah menunggu di sana. Di dalam mobil, Naynay berfoto bersama Araa dan mengirimkan satu kepada Afif. Entah kenapa dia melakukan itu, rasanya pengin saja.


Setelah sampai di Cafe tempat mereka janjian, Naynay segera masuk. Kedatangannya sedikit mencuri perhatian orang-orang yang ada di sana. Mungkin karena Naynay yang masih muda tapi sudah memiliki anak, ditambah lagi dia sedang hamil.


Rania yang susah datang lebih dahulu pun melambaikan tangannya. Naynay tersenyum, namun perlahan memudar karena melihat Rania tidak hanya sendiri. Ada dua orang lainnya yang sebisa mungkin tidak dia temui untuk beberapa hari. Tapi dia sudah terlanjur datang dan dilihat oleh Rania, mau tidak mau Naynay berjalan mendekat.


"Duduk di sini, aku pengen pangku Araa!" ujar Rania semangat.


Naynay mendudukkan tubuhnya di samping Rania, sofa yang mereka duduki saling berhadapan. Naynay berhadapan dengan Rosi dan Rania dengan Ezriel. Ya, ada Rosi dan Ezriel juga di sana. Naynay merasa canggung, seharusnya mereka tidak perlu bertemu dulu untuk beberapa hari atau minggu, mungkin.


Joan yang dulunya sudah janji menemani Rosi pun tidak terlibat. Lelaki itu tiba-tiba ada keperluan mendesak hingga dia meminta Ezriel yang menemani Rosi. Joan melakukan itu agar tidak ada kesalahpahaman di antara mereka di kemudian hari.


Tatapan Ezriel masih sama, ada cinta tapi juga ada kekecewaan di sana. Apalagi ketika dia melihat perut Naynay yang tercetak jelas di balik dressnya. Kalau saja Naynay belum menikah, maka Ezriel yang akan maju dan bertanggung jawab atas anak itu.


Rania membawa Araa ke atas pangkuannya, untungnya bayi itu tidak rewel. Naynay memberikan mainan khusus untuk Araa gigit, gigi bayi itu sudah terlihat sedikit di bagian tengah gusi bawahnya.


"Bubu...." Araa memegang tangan Naynay, tidak mau melapaskannya. Walaupun dia sering digendong oleh Rania, tapi Araa kurang suka dengan gadis perawan itu karena sering diusili.


"Sama Onty Rania dulu, ya, Sayang." Naynay melepas lembut tangan mungil Araa yang memeganginya.


"Itu anak kamu, Nay?" tanya Rosi membuka percakapan di antara mereka yang masih merasa canggung.


"Iya, walaupun dia anak angkat, tapi aku sayang banget sama dia." Naynay menatap Rosi sebentar sambil tersenyum.


"Bentar lagi punya adek dong," ucap Rosi lagi dan diangguki Naynay.


Rosi tiba-tiba berdiri dan berpindah duduk di samping Naynay. Secara tiba-tiba juga dia memeluk Naynay. "Kamu itu bikin jantungan tau nggak? Habis ujian udah nggak ketemu lagi, eh pas ketemu udah bunting aja."

__ADS_1


"Maaf," ucap Naynay sambil membalas pelukan Rosi. Untunglah tempat mereka duduk ini luas dan dibatasi sekat, sehingga tidak ada yang mendengar tangis kedua wanita yang sedang berpelukan ini.


"Kenapa nggak cerita aja sih, Nay? Kamu pikir aku bakalan ngejauhin kamu kalau kamu bilang dari awal?" marah Rosi setelah melepas pelukannya. Dia melupakan kekesalannya pada sahabatnya itu.


"Aku nggak siap kalau kamu bakalan marah-marah sambil ngatain aku," balas Naynay sambil menghapus air matanya dengan tisu yang tersedia di meja.


"Bodoh banget!" cibir Rosi sebal.


"Aku sepintar ini kamu bilang bodoh." Naynay sebal juga karena dikatain bodoh.


Ezriel dan Rania hanya bisa diam mendengar perdebatan dua wanita itu. Araa yang awalnya anteng-anteng saja, tiba-tiba menangis. Naynay segera memutar tubuhnya menghadap Rania dan mengambil botol susu dari tasnya.


"Jangan nangis lagi dong, Sayang." Naynay membaringkan tubuh Araa di atas pangkuannya dan meminumkan susu yang dibuat sebelum pergi ke sini.


Sifat keibuan Naynay seperti itu membuat dada Ezriel berdenyut. Rasanya dia menjadi laki-laki yang rugi karena terlambat bertemu dengan Naynay. Andai saja, andai dia yang lebih dulu bertemu dengan Naynay, mungkin yang menjadi ayah dari dua anak itu adalah dirinya.


"Kak, maafin Nay, ya. Mungkin cara Nay jujur waktu itu melukai hati Kakak, tapi Nay terpaksa karena Kakak nggak juga nyerah walau udah sering Nay tolak. Kakak bisa kok dapat perempuan yang lebih baik," ujar Naynay kepada Ezriel setelah Araa tertidur. Rasanya dia perlu meminta maaf atas ketidakjujurannya dari awal.


"Santai aja, Nay. Sekarang kamu udah aku anggap adik sendiri," balas Ezriel dengan senyum tampan yang dipaksakan agar terlihat natural. Sedangkan hatinya sekarang sedang berdarah saking sakitnya.


Setelah pembicaraan itu, mereka memesan makan berat. Naynay yang masih memangku Araa itu pun disuapi oleh Rania.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Aku ngambek kalau likenya nggak seimbang pas UP double atau triple 😑😑


__ADS_2