
Drrt drrt drrt ponsel Brian bergetar di dalam sakunya. Sebuah pesan dari Arsen.
(Brian, ke ruanganku sekarang.)~ Hyung.
(Oke Hyung.)~ Brian.
''Siapa?'' tanya Gea yang berdiri disamping Brian.
''Bukan siapa-siapa. Pemberitahuan aplikasi saja.'' Jawab Brian.
TING! Pintu lift terbuka.
''Gea, kamu ke ruangan dulu ya. Mendadak perutku mulas.'' Brian beralasan.
''Ya udah kalau gitu.''
''Oke.'' Setelah memastikan Gea masuk ke ruangan, Brian kembali masuk lift menuju ruangan Kakaknya.
Tok tok tok! Brian mengetuk pintu ruangan Arsen.
''Masuk!" sahut Arsen.
''Bagaimana kondisi Gea?'' tanya Arsen.
''Menyuruhku kesini hanya untuk menanyakan Gea?'' ucapnya seraya duduk di hadapan Kakaknya.
''Iya. Memastikan dia tidak trauma lagi.''
''Dia baik hyung.''
''Aku dengar dari Papa dan Mama kalau kalian sudah jadian ya?'' selidik Arsen.
''Hehehe iya, baru dua hari yang lalu sih.''
''Sebaiknya kamu pulang ke rumah, Brian.''
''Jangan sekarang Hyung. Besok aku mau pergi ke rumah Gea. Dan aku mau minta tolong lagi.''
Arsen menghela. ''Bantuan apa lagi? Aku sudah berbohong pada Papa dan Mama soal masalah itu.''
''Iya aku tahu Hyung. Tolong siapkan mobil berkedok travel ya. Daripada naik kendaraan umum, panas dan berdesakan. Soalnya aku sudah bilang sama Gea kalau mau pesan mobil travel.''
''Iya-iya. Jam berapa berangkatnya?''
''Jam 4 subuh stand by di depan kontrakan ya.''
''Makanya cepat ajukan proposal bisnismu pada Papa supaya kamu diberi kekuasaan. Dan juga secepatnya katakan pada Gea tentang siapa kamu sebenarnya.''
''Iya Hyung, aku mengerti. Aku juga sedang berpikir begitu. Enaknya bisnis apa Hyung? Bagaimana kalau klub dan hiburan malam?''
''Jangan aneh-aneh. Bisa saja namau di coret dari KK dan ahli waris.''
''Aku kan bisa membukanya di London.''
__ADS_1
''Brian, masih banyak bisnis yang lain. Bisnis seperti itu sulit mendapatkan ijin operasi. Kamu ini generasi muda pikirannya sama sekali tidak fresh. Mentang-mentang kamu suka dugem terus mau buka bisnis itu, iya? Yang ada Papa dan Mama ngamuk.''
''Ya terus apa dong?''
''Ya, kamu pikir saja sendiri. Di imbangi dong, antara bekerja dan mengejar cinta. Kamu punya saham, kamu bisa memulainya dengan itu. Aku dulu memulai on clean juga dengan uang saham yang aku miliki. Dan perkembangannya di luar ekspetasi ku.''
''Ya, hyung memang hebat dan brilian.''
''Kamu terlalu santai. Sudah saatnya belajar serius Brian. Siapa lagi kalau bukan kita?''
''Iya Hyung, aku mengerti. Terus aku harus bagaimana?''
''Selesaikan satu persatu masalahmu, terutama masalahmu dengan Gea. Jangan terlalu lama membohonginya.''
''Aku takut kalau dia tahu semuanya, dia bakal marah dan ninggalin aku, Hyung.''
''Beri dia penjelasan. Ajak dia bicara dari hati ke hati. Dia pasti mengerti, meskipun dia akan marah di awal nanti.''
''Terima kasih Hyung.''
''Ya sudah, aku hanya ingin bicara itu. Dan kamu juga sudah sehat kan?''
''Hmmmm telat. Kalau aku tidak sehat, aku tidak akan duduk dihadapnmu.'' Kesal Brian. Arsen terkekeh, senang sekali menggoda adik bungsunya ini.
''Ya sudah, kembali kerja sana.''
''Eh satu lagi Hyung...,''
''Apalagi?''
''Itu urusan gampang lah. Sekarang kembali selesaikan pekerjaanmu.''
''Baiklah Hyung. Makasih ya hyung ku.'' Brian kemudian berlalu meninggalkan ruangan Kakaknya.
......................
Brian dan Gea sedang duduk berdua menikmati semangkok ramen berdua di rooftop. Terpaan angin malam membuat keduanya justru semakin hangat.
''Benar ya apa kata kamu. Disini indah banget kalau malam.'' Ucap Gea.
''Iya dong. Mana pernah aku bohong. Maaf ya Ge, aku hanya bisa melakukan ini untukmu. Tidak bisa membawamu ke restoran mewah.'' Ucap Brian.
''Tidak apa-apa. Begini saja aku sudah sangat bahagia. Lebih romantis dibandingkan di restoran.''
''Terima kasih ya sudah menerima ku apa adanya.''
''Terima kasih juga karena kamu sudah mencintai semua kekuranganku.'' Keduanya untuk sejenak saling memandang. Gea lalu mengambil tisu di tasnya, melihat bibir Brian belepotan.
''Makan mie saja belepotan.'' Ucap Gea sambil menyeka bibir Brian. Brian membeku, merasa jantungnya berdebar dengan sangat cepat. Brian lalu menahan tangan Gea. Brian lalu mengecup punggung tangan Gea dengan lembut. Membuat jantung Gea berdegup dengan sangat hebat. Diakui Gea, Brian sejauh ini pria yang sopan dan tidak pernah pernah bersikap kurang ajar padanya.
''Mmmm bagaimana kalau kita berdansa?'' tawar Brian.
''Aku mana bisa, Brian.''
__ADS_1
''Aku juga tidak bisa. Kita coba saja. Aku putar musik dulu di ponselku.'' Brian lalu mengajak Gea berdiri. Gea tertawa kecil.
''Bagaimana Brian?''
''Mmmm lingkarkan kedua tanganmu di leherku. Dan aku lingkarkan kedua tanganmu di pinggangmu.'' Ucap Brian sambil mengarahkan tangan Gea ke lehernya.
''Kalau sudah, kita tinggal gerakkan kaki kesamping kanan dan kekiri. Mudah kan?'' sambungnya sembari mencontohkannya pada Gea. Gea mengangguk. Dan keduanya larut dalam suasana malam dingin itu. Hanya ada alunan melodi romantis yang berasal dari ponsel Brian. Keduanya hanya saling menatap melakukan eye contact lebih intens. Saling menyelami perasaan masing-masing dan mengagumi ketampanan serta kecantikan satu sama lain.
"Gea," lirih Brian.
"Hmmm?"
"Gea, kamu satu-satunya wanita yang bisa membuat jantung ku berdebar kencang seperti ini. Dan kamu satu-satunya wanita yang mau menerima aku yang begini ini."
"Brian, kamu juga satu-satunya pria yang membuatku melupakan trauma ku. Maaf kalau aku membuatmu sedikit lama."
"Seribu tahun pun akan aku tunggu, Gea. Aku tidak mau yang lain. Aku hanya mau kamu. Kalau tidak ada kamu, lebih baik aku mati saja."
Gea langsung menutup bibir Brian dengan telunjuknya. "Ssstttttt! Jangan bicara seperti itu. Karena aku tidak akan pernah meninggalkan kamu."
"Janji ya Ge?"
"Janji apa?"
"Janji, apapun yang terjadi jangan pernah tinggalin aku."
"Iya, aku janji. Begitu juga dengan kamu."
"Sudah pasti aku akan menepati janjiku. Oh ya Gea, kalau kita punya banyak uang, enaknya kita buka usaha apa? Tidak mungkin kan kita menjadi karwayan terus? Aku ingin kita merintis bersama."
"Sebenarnya kalau aku lebih memilih ke pertanian."
"Pertanian? Bukannya kamu suka otomotif?"
"Otomotif itu hobi. Aku lebih suka terjun kesana. Coba deh kamu bayangin, kalau generasi kedepan tidak ada yang mau jadi petani? Bagaimana nasib kita semua? Kita tahunya beras jadi langsung diolah jadi nasi. Sedangkan prosesnya untuk menjadi beras? Tidak semua orang tahu caranya."
"Iya juga ya. Lalu rencana kamu apa?"
"Di desaku aku punya tanah yang subur. Ingin sekali rasanya aku membeli sawah yang banyak disana. Aku ingin punya lumbung padi yang besar dan jadi juragan beras. Sekaligus aku ingin memberdayakan para petani disana dan membuat desa agro wisata. Aku ingin memajukan desaku, Brian. Dan membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya untuk warga disana. Para petani harus tetap ada. Aku ingin mengedukasi anak-anak muda juga. Besok deh kamu lihat sendiri. Kalau kamu sampai disana, kamu pasti punya pikiran yang sama denganku." Brian tidak menyangka Gea mempunyai pikiran sejauh itu. Bahkan ia juga memikirkan orang lain, bukan hanya dirinya.
"Hanya itu saja usaha yang kamu inginkan?"
"Selain ingin mensejahterakan pangan, aku ingin sekali membuka online shop."
"Online shop? Kamu tertarik bisnis disana??"
"Iya. Karena aku ingin memudahkan orang belanja tanpa harus pergi ketempat tujuan. Apalagi di desaku cukup jauh dari kota, Brian."
Brian tersenyum. "Mmmm menurutku kamu cocok menjadi bupati atau gubernur saja. Supaya semua warga sejahtera."
"Aku tidak mau! Apalagi terjun ke politik. Untuk membantu sesama tidak harus menjadi pejabat kan?"
"Yes, kamu benar sekali. Makin cinta deh sama kamu." Brian lalu mengecup kening Gea. Mereka lalu saling berpelukan.
__ADS_1
Bersambung.... Yukkkk like, komen dan votenya ya, makasih... Gimana kalau kita buat sekuelnya Brian dan Gea di novel baru? Kayaknya seru deh? Khusus untuk mereka, hehehe...