
Keesokan harinya Arsen dan Sheena sedang sarapan bersama.
''Kamu semalam pulang jam berapa?''
''Jam 11." Singkat Arsen sambil mengunyah makanannya.
''Kenapa tidak membangunkanku?''
''Kamu sudah tidur jadi aku tidak tega membangunkanmu.''
''Kamu baik-baik saja kan? Aku merasa kamu beda.''
''Ya, aku kecapekan saja. Oh ya semalam aku tidak sengaja membaca pesan dari nomor tak di kenal di ponselmu.''
''Nomor tak dikenal? Siapa? Aku belum memeriksa ponselku sama sekali.''
''Mantan kekasihmu.'' Celetuk Arsen. Sheena terkejut mendengar apa yang Arsen katakan.
''Maksudmu Fandi?'' tanya Sheena tergagap.
''Siapa lagi? Apa sebelumnya kalian bertemu di belakangku?'' selidik Arsen.
Sheena terdiam beberapa saat sebelum menjawabnya.
''Maafkan aku. Kemarin saat di supermarket, aku bertemu dengan Tante Citra. Aku berusaha menyapanya. Saat itupun aku tidak tahu jika Tante Citra datang bersama Fandi. Dan seperti biasa Tante Citra selalu melontarkan kalimat yang pedas dan menyakitkan kepadaku. Intinya Tante Citra menyangkut pautkan masa laluku dengan Fandi. Dan ternyata Fandi mendengar itu semua, Arsen. Aku kemudian pergi tapi Fandi mengejarku, ingin mendapat penjelasan atas perselisihan itu. Aku tidak bermaksud menyembunyikan hal itu padamu. Hanya saja bagiku itu tidak penting. Toh kita juga sudah punya jalan hidup masih-masing. Sekali lagi maafkan aku.''
''Apa itu juga yang membuatmu tidak jadi belanja?''
''Iya. Dan akhirnya aku memilih pergi ke kantormu saja. Sekali lagi maafkan aku, Arsen.''
Arsen menghentikan makannya. Ia menatap dalam mata Sheena. ''Sheena, bagaimana kalau ingatan Fandi pulih? Apa kamu akan meninggalkanku dan kembali kepadanya?'' tanya Arsen dengan tatapan nanarnya.
''Aku berharap dia akan amnesia selamanya. Aku tidak mau Fandi semakin terluka dengan keadaan ini. Kehidupan ini sudah berbeda. Sekalipun dia ingat, sekalipun aku tidak denganmu saat ini, aku tidak akan pernah kembali padanya. Karena aku tidak mau menjalin hubungan dengan melawan restu. Bagiku restu orang tua adalah segalanya, Arsen.''
__ADS_1
''Lalu bagaimana perasaanmu pada Fandi sekarang Sheena? Katakan saja yang sejujurnya.''
''Jujur saja, hatiku selalu lemah saat melihatnya. Tidak di pungkiri rasa itu masih membekas di hatiku Arsen. Apalagi hubungan kami tidak pernah memiliki masalah apapun selain restu orang tua. Dia juga selalu memperlakukan ku dengan baik. Dia satu-satunya pria yang menganggapku sebagai wanita yang spesial. Namun aku sebenarnya kasihan dengan Fandi. Keegoisan orang tuanya membuatnya seperti ini. Memanfaatkan amnesia anak dengan menikahkan dengan wanita yang tidak pernah di cintai. Aku merasa dia adalah pria yang malang. Sekalipun rasa itu masih membekas tapi aku ingin sekali melihat Fandi bahagia. Aku bahkan sudah sangat ikhlas melihatnya bahagia bersama Nona Olivia. Aku berharap Nona Olivia mampu merebut hati Fandi. Tapi sungguh aku tidak pernah berpikir akan kembali padanya, sekalipun ingatannya pulih. Karena sekarang bagiku kamu adalah duniaku, Arsen. Kita saling membenci, mencaci, mengolok tapi sekarang justru sebaliknya. Kita menjadi saling mencintai, saling memuji daj saling membutuhkan. Aku harap kamu tidak berpikir sejauh itu.''
''Apa kamu bahagia hidup denganku? Apa kamu masih terpaksa melakukan hubungan ini? Jujur saja aku khawatir jika hatimu lemah dan kembali padanya.''
''Aku bahagia denganmu, Arsen. Aku tidak terpaksa menjalani hubungan ini. Kamu bisa memegang ucapanku, kalau aku tidak akan kembali lagi padanya. Hatiku memang lemah saat melihatnya tapi bukan berarti aku akan kembali padanya. Aku merasa lemah karena teringat semua ketulusannya. Dan yang jelas kecelakaan itu terjadi karena aku. Karena aku menjatuhkan mentalnya, mengakhiri hubungan secara sepihak dan menolak lamarannya bahkan aki memutuskan berhenti untuk berjuang. Mungkin itu yang membuatku lemah saat melihatnya, Arsen. Tapi sudahlah kita jangan membahas ini.''
Arsen menghela. ''Sheena kalaupun kamu memang ingin mundur, aku akan terima. Sebelum semuanya semakin dalam.''
Mendengar ucapan Arsen, membuat Sheena gemas dan menyentil kening Arsen. Arsen mengaduh sambil mengusap keningnya.
''Dasar bodoh! Kamu pikir pernikahan ini mainan apa? Memangnya kamu ingin bukti apa supaya kamu percaya denganku, hah?'' kesal Sheena.
''Sheena, aku menginginkamu.''
''Maksudmu?'' ucap Sheena tergagap.
''Aku ingin menjadikanmu milikku seutuhnya. Apa kamu mau menjadi milikku seutuhnya?''
''Bukan itu maksudku, Sheena.'' Arsen semakin gugup.
''Lalu apa Arsen maksudmu?''
''Mmmm itu Sheena.'' Kata Arsen sambil mengadu dua jari telunjuknya.
''Apa Arsen? Aku tidak mengerti.''
''Itu Sheena adegan dalam film itu. Level 4.'' Ucap Arsen tergagap. Mendengar apa yang Arsen katakan Sheena terkekeh.
''Maksudmu making love?'' tanya Sheena dengan tatapan selidik.
''Yes.'' Ucap Arsen pelan.
__ADS_1
''Are you ready?'' Sheena berusaha meyakinkan Arsen.
''Bagaimana kalau kita mencobanya dengan menonton film itu membangkitkan gairah?''
''Lalu pekerjaanmu di kantor?''
''Aku akan cuti untuk hari ini.'' Arsen meraih ponsel di hadapannya. Ia kemudian mengirim pesan pada Soni dan Mega untuk mengurus semua pekerjaannya hari ini.
Arsen : Mega, aku hari ini cuti. Jangan ganggu aku dan urus semua pekerjaanku. Aku tidak mau di ganggu walau hanya satu menit.
Mega : Siap Tuan!
Arsen : Soni, urus semua pekerjaanku. Jangan ganggu akau hari ini. Pastikan kondisi di kantor berjalan sebagaimana mestinya. Ingat Itu.
Soni : Siap Tuan Arsen. Aku akan menjalankan perintah dengan sungguh-sungguh.
"Aku sudah mengirim pesan pada Soni dan Mega. Jadi semuanya beres. Sebaiknya kita ke kamar."
"Aku akan bereskan meja makan dulu ya."
"Tidak usah. Biarkan saja disini."
"Tumben?" Sheena terheran.
"Sekali-sekali berantakan sedikit," ucap Arsen sambil mengerlingkan matanya. Arsen kemudian menggendong Sheena dan membawanya kekamar. Sesampainya di kamar, Arsen menurunkan Sheena dari gendongannya.
"Aku nyalakan televisinya ya?" kata Sheena.
"Tidak usah!" kata Arsen. Arsen lalu meraih tengkuk Sheena dan mengecup bibir Sheena. Arsen lalu merapatkan tubuh Sheena dan memperdalam ciumannya. Sheena semakin tenggelam dalam lum...atan Arsen. Kedua tangannya sudah melingkar pada leher Arsen. Tangan Arsen mulai bergerak aktif membuka resleting belakang baju Sheena. Tangannya mengusap lembut punggung mulus Sheena. Sheena semakin bergairah merasakan sentuhan lembut tangan Arsen. Sembari terus berpagut, Sheena membuka kancing kemeja milik Arsen satu persatu. Arsen tak menolaknya dan membiarkan Sheena melakukannya. Sheena melepaskan pagutannya saat melihat dada bidang dengan perut sixpack milik Arsen. Sheena tersenyum lalu merabanya dan mengecup dada bidang itu dengan halus. Arsen mendesis merasakan sensasi luar biasa yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Tangan Arsen bergerak kembali menurunkan dress Sheena, hingga tinggal menyisakan bra dan cd warna merah milik Sheena.
Sheena kemudian menatap Arsen. ''Lakukanlah Arsen, kalau dengan ini bisa membuktikan bahwa cintaku sepenuhnya untukmu. Jangan ragu-ragu Arsen.''
Sheena kemudian melingkarkan tangan pada pinggangnya, lalu bergantian Sheena yang me..lu..mat bibir Arsen. Arsen menikmati ciuman Sheena yang semakin memanas itu. Tanpa ragu-ragu Arsen melepas pengait bra milik Sheena. Sedangkan tangan Sheena sudah bergerak melepas ikat pinggang milik Arsen. Dan kini keduanya saling menatap, melihat tubuh telanjang satu sama lain. Untuk pertama kalinya Arsen melihat tubuh seorang wanita tanpa sehelai benangpun di hadapannya. Begitu pula dengan Sheena, untuk pertama kalinya melihat pria telanjang di hadapannya. Apalagi tubuh Arsen yang begitu sempurna. Apalagi si junior yang sudah menegak sempurna di tempatnya, membuat Sheena merasa malu, pipinya memerah. Arsen menjadi salah tingkah melihat tubuh Sheena tanpa pakaian, apalagi ia sendiri yang menelanjangi Sheena. Melihat setiap sudut bagian tubuh Sheena. Terlihat sebuah lembah dibawah sana yang tampak mulus dan bersih. Sebuah daerah keramat milik wanita yang tampak begitu indah. Pikiran Arsen tentang Sheena yang dekil pun hilang sudah. Dekil tentu saja saat Sheena masih kecil. Namun setelah dewasa, Sheena tentu berusaha merawat dirinya. Tubuhnya begitu bersih. Tentu saja karena gen kulit putih yang di warisi dari keluarganya. Keduanya masih terdiam, saling terpaku dan masih saling menatap tubuh satu sama lain. Belum ada pergerakan antara Arsen dan Sheena.
__ADS_1
Bersambung... Lalu apakah yang terjadi? Lanjut unboxing atau pakai baju lagi ya kira-kira? hehehehe