
''Brian, kenapa aku gugup ya?'' ucap Gea begitu sampai di halaman kantor.
''Santai saja Gea. Hanya wawancara biasa saja kok. Ayo, aku antar kamu ke ruangan HRD.''
''Terima kasih.''
''Semangat ya Gea! Aku yakin kamu bisa. Masa seorang pembalap pemberani takut di wawancara.''
''Bukannya takut tapi gugup. Rasanya lebih gugup ini daripada balap motor.''
''Ya udah masuk yuk!" Ajak Brian. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruangan HRD. Setelah mengantar Gea masuk ke dalam, Brian segera menuju ruangannya. Sebenarnya Brian juga gugup walaupun sebenarnya ia juga tahu kalau Gea akan diterima. Apalagi itu saran dari kedua orang tuanya.
Setelah melakukan beberapa tes dan interview, Gea akhirnya keluar dari ruangan itu dengan perasaan lega. Apalagi keputusan diberikan saat itu juga.
''Aku harus mencari Brian. Dia harus tahu kalau aku diterima.'' Gumamnya dengan penuh rasa bahagia.
Namun saat Gea hendak menemui Brian, tidak sengaja ia menabrak seorang office boy yang membawa sebuah nampan berisi secangkir kopi.
''Maaf Mas, saya tidak sengaja.'' Ucap Gea seraya membantu memungut pecahan cangkir itu.
''Tidak apa-apa Mbak, saya juga yang salah tadi.''
''Aduh maaf sekali ya, Mas. Saya salah, soalnya saya jalannya buru-buru. Biar saya bantu pel ya? Dimana pel-nya?''
''Tidak usah, Mbak. Biar saya saja.''
''Jangan Mas. Sebaiknya Mas buat ulang kopinya saja, biar saya yang membersihkannya. Pasti itu untuk atasan Mas kan?''
''I-iya Mbak. Tuan Keenan sudah terbiasa setiap pagi harus ada secangkir kopi.''
''Tuan Keenan? Apa pemilik perusahaan ini?''
''Iya Mbak.''
''Ya sudah, Mas segera ke pantry biar saya bantu bersihin ya. Nanti atasan Mas bisa marah.''
''Ya sudah Mbak kalau begitu, terima kasih ya Mbak.''
''Iya Mas, santai saja.''
Gea lalu memanggil alat pel dan segera membersihkannya. Brian yang juga keluar ruangannya untuk mencari Gea, terkejut melihat Gea sedang mengepel lantai.
''Gea, kamu sedang apa?'' tanya Brian.
''Yang kamu lihat apa Brian? Masa iya nyuci.''
''Iya maksudnya kenapa kamu malah ngepel lantai? Apa sudah selesai interviewnya?''
''Iya sudah selesai. Ini tadi aku tidak sengaja menabrak office boy sampai membuat kopi untuk atasannya tumpah. Makanya aku bantu bersihkan.''
''Ya ampun Gea, seharusnya kamu tidak perlu melakukannya. Memang sudah tugas mereka untuk membersihkannya.''
''Ya udahlah, ini juga sudah selesai. Sebentar ya aku taruh alat pel-nya di tempatnya dulu.'' Ucap Gea seraya berlalu.
''Gea, Gea, kamu memang luar biasa. Kapan kamu membuka hati kamu untuk aku?'' gumam Brian dalam hati. Tak lama kemudian Gea kembali menemui Brian.
''Oh ya gimana hasilnya?'' tanya Brian dengan wajah penasaran.
''Mmmmm aku di terima, Brian.''
''Serius kamu diterima?''
__ADS_1
''Iya. Dan kita satu ruangan.'' Kata Gea melonjak bahagia.
''Syukurlah, aku senang sekali mendengarnya. Lagi pula semua nilai mapel kamu bagus, Ge.''
''Semua ini berkat kamu, Brian.'' Saking bahagianya Gea lalu memeluk Brian. Namun saat bersentuhan dengan Gea, membuat jantung Brian berdebar sangat kencang.
''Ini karena usaha kamu juga, Gea.'' Ucap Brian.
''Bagaimana kalau nanti aku traktir kamu makan malam? Aku akan masak untuk kamu.''
''Memangnya kamu punya uang untuk belanja bahan masakan?''
''Hari ini adalah hari gajianku di mini market jadi aku akan mengambilnya sekarang, sekaligus aku pamit keluar.''
''Terus kamu naik apa? Aku antar ya?''
''Tidak usah, Brian. Kamu harus kerja. Memang perusahaan ini punya Ayah mu apa? Kamu mau keluar masuk dengan bebas,'' ucap Gea dengan terkekeh.
''Hehehe iya ya, aku harus kerja. Aku terlalu khawatir denganmu Gea.''
''Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu ya.''
''Eh, setelah dari mini market kamu mau kemana?''
''Aku mau belanja lah dan mau memasak untukmu.''
''Baiklah kalau begitu, aku akan pulang cepat nanti.'' Kata Brian.
''Oke. Selamat bekerja ya Brian, semangat!"
''Kamu hati-hati ya Gea.''
''Iya Brian. Daaaa..." ucap Gea seraya berlalu. Brian menunggu Gea menghilang dari pandangannya sebelum ia kembali keruangannya. Namun tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
''Halo Pah, ada apa?''
''Kamu bisa keruangan Papa sekarang?''
''Iya Pah, Brian kesana sekarang.'' Nut nut nut, panggilan berakhir.
...****************...
''Pah, ada apa?''
''Duduklah dulu, Brian. Papa ingin bicara denganmu.'' Tuan Keenan lalu mengajak putranya duduk di sofa.
''Oh ya? Hyung sudah berangkat ya?''
''Sudah Brian. Makanya kamu kerja yang serius, kasihan hyungmu kalau mengurus semuanya sendiri.''
''Iya Pah, Brian juga serius kok kerjanya. Ada apa sih Pah?''
''Bagaimana Gea? Apa sudah diterima?''
''Sudah Pah. Terima kasih ya Pah, sudah membantunya.''
''Sama-sama Brian. Dari hasil beberapa tes, nilainya sempurna. Dan dari tes psikologinya, dia mempunyai karakter watak yang sama dengan Mama kamu. Keras di luar tapi dalamnya lembut.''
''Hmmm Papa ini ada-ada saja.''
''Dan terbukti pagi ini dia lolos ujian dari Papa.''
__ADS_1
''Ujian apa Pah? Papa jangan aneh-aneh ya.''
''Kamu khawatir sekali. Tadi Papa meminta office boy untuk menguji rasa kepeduliannya, Brian. Dan dia memang peduli dengan siapapun, dia baik dengan siapapun.''
''Astaga, jadi sampai ngepel tadi karena ulah Papa ya?''
''Iya Brian. Papa ingin melihat reaksinya bagaimana. Apakah dia akan marah-marah atau malah sebaliknya? Tapi ternyata dia memang baik. Kamu tidak salah pilih, Brian.''
''Tapi Pah, Brian di tolak.'' Kata Brian menunduk lesu.
''Hah? Di tolak? Mustahil Brian. Keturunan Papa ini tidak ada yang gagal lho. Bisa-bisanya Gea menolak kamu. Apa karena kamu miskin?''
''Tidak Pah. Gea tidak menolak secara langsung, hanya saja dia belum siap untuk memulai sebuah hubungan. Dia pernah mengalami trauma Pah.''
''Trauma apa?''
''Jadi dulu dia pernah menjalin hubungan dengan anak orang kaya, Gea sempat menolak tapi laki-laki itu terus mengejar Gea sampai akhirnya Gea luluh. Tapi saat Gea luluh, Gea justru di manfaatkan bahkan sampai hampir di perkosa. Jadi dia takut Pah, apalagi dengan laki-laki dari kalangan orang kaya.''
''Astaga, bejat sekali laki-laki itu. Kasihan juga Gea.''
''Sejak saat itu Pah, dia tidak pernah membuka hati lagi. Mungkin Gea masih trauma dan takut kalau diperlakukan seperti itu lagi. Apalagi Gea sadar, kalau dia hanya gadis miskin saja. Dia bersikap galak dan jago berantem, supaya dia menjadi gadis yang kuat dan tidak lemah seperti dulu.''
''Oh begitu ceritanya. Ya sudah, kamu dekati saja dia pelan-pelan.Buat dia membuka hatinya untukmu. Pasti kalau kamu sedang suka sama seseorang, kamu pasti mengejarnya terus kan?''
''Ya iyalah Pah, namanya suka juga pasti di kejar. Papa ini aneh. Namanya juga playboy Pah, hehehe.''
''Dasar kamu! Jadi playboy saja bangga.'' Kesal Tuan Keenan seraya menjitak kepala Brian.
''Sakit Pah!" rengek Brian sambil mengelus kepalanya.
''Habisnya kamu, makan masih minta orang tua saja sok-sokan jadi playboy.''
''Maaf Pah. Kembali ke topik tadi Pah, apa yang harus Brian lakukan?''
''Oke, kembali ke topik. Biasanya kan kamu mengejar dia, membantu dia bahkan selalu ada untuk dia. Nah, coba perlahan kamu menjauh dulu dari Gea. Saat dia mengajak kamu kemana atau apa, kamu sesekali menolaknya. Dengan cara itu, kamu tahu Gea punya perasaan yang sama atau tidak sama kamu.''
''Aduh Pah, yang ada Gea malah menjauh. Brian mencoba menciumnya saja dia menolak. Sampai Brian di dorong dan kecebur ke danau.''
Lagi-lagi Tuan Keenan menjitak kepala putranya. ''Bodoh!"
''Pah, kok dijitak lagi?''
''Karena kamu bodoh. Makanya jangan nyosor melulu kamu. Sudah tahu Gea punya trauma, malah mau di cium. Dengarkan Papa, kalau kamu perlahan menjauh, disana Gea akan mulai merasa kehilangan kamu. Akhirnya perlahan Gea akan menyadari perasaannya sama kamu. Gea akan sadar kalau dia sudah jatuh cinta sama kamu dan tidak bisa jauh dari kamu. Bahwa kamu sangat penting untuknya. Papa jamin, Gea nanti yang akan mengatakan cintanya sama kamu. Percaya deh sama Papa.''
''Wah, ide Papa brilian juga ya. Tapi gimana kalau Gea malah menjauh dari Brian?''
''Ya, kamu cari wanita lain sajalah. Itu artinya dia bukan jodoh kamu.'' Kata Tuan Keenan dengan entengnya.
''Papa, Brian ini cuma mau sama Gea. Tidak mau yang lain.''
''Ya, makanya kamu harus optimis. Atau kamu coba deket sama cewek lain lah, bikin dia cemburu. Cewek kalau cemburu kan ketahuan banget gelagatnya.''
''Hahaha itu Brian suka juga, Pah. Papa memang pakar dari segala pakar.''
''Iya dong. Sudah keluar empat masa iya Papa tidak paham urusan seperti itu. Tapi Papa ini setia, bukan playboy macam kamu.''
''Namanya masih muda. Wajarlah happy-happy, hehehe.''
''Ya sudah, kembali kerja sana. Ingat pesan Papa tadi.''
''Iya Pah, siap. Makasih ya Pah.'' Anak dan Ayah itupun lalu berpelukan. Brian kemudian berlalu meninggalkan ruangan Papanya.
__ADS_1
... Bersambung... Yukkk like, komen dan votenya ya, makasih...