
Fandi berhasil melepaskan genggaman tangan Nyonya Citra. Dengan sekuat tenaga Fandi berlari mengejar Sheena. Fandi pun berhasil menghalau Sheena. Fandi berdiri di hadapan Sheena dengan merentangkan kedua tangannya.
“Minggir, Fan!”
“Jelaskan padaku, Sheena. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku tidak ingat apa-apa.” Kata Fandi dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak ada apapun yang terjadi Fan. Tolong pergi karena calon suamiku sudah menunggu.” Ucap Sheena penuh dengan penekanan.
“Apa kamu meninggalkanku demi pria yang lebih kaya? Apa iya Sheena?”
“Maafkan aku, Fandi. Fokuslah pada keluargamu. Kita hanya teman biasa saja. Kamu, aku dan Olivia kita hanya teman biasa. Kamu tadi hanya salah dengar saja. Jadi tolong beri aku jalan.” Mendengar apa yang dikatakan Sheena, Fandi dengan lemas bergeser memberi Sheena jalan.
“Asal kamu tahu Sheena, aku sampai detik ini belum pernah menyentuh Olivia sebagai seorang istri.” Pekik Fandi saat langkah Sheena semakin jauh. Tentu saja Sheena mendengar apa yang dikatakan oleh Fandi. Namun Sheena terus melanjutkan perjalanannya. Dengan mata sedikit sembab, Sheena segera menuju mobil.
“Pak Roni, kita beli makan siang untuk Tuan dulu ya?”
“Siap Nona.” Jawab Pak Roni tanpa banyak bertanya. Padahal Pak Roni tadi melihat keributan antara Sheena dam Fandi. Sheena kemudian mampir sebentar ke restoran Jepang untuk membelikan Arsen makan siang. Setelah itu Sheena segera menuju kantor Arsen.
“Fan, seharusnya kamu bisa mencintai Nona Olivia. Sekarang semuanya sudah berbeda, Fan. Aku mohon jangan cari tahu tentang masa lalu kita lagi. Karena hal ini bisa menyakiti perasaan banyak orang,” gumam Sheena dalam hati.
Sesampainya di kantor, Sheena segera menuju ruangan Arsen namun ruangan Arsen tampak kosong.
“Sepertinya Arsen masih meeting. Sebaiknya aku tunggu saja.” Ucap Keira seraya duduk di sofa. Perasaan Sheena hari ini benar-benar kacau. Kini dalam benaknya ada nama Fandi dan Arsen. Tak bisa di pungkiri ada sisa rasa dalam lubuk hati Sheena untuk Fandi. Melihat Fandi seperti itu Sheena juga merasa kasihan. Fandi tersiksa karena sikap orang tuanya sendiri. Sedangkan Arsen, meskipun menyebalkan tapi Arsen sudah banyak berkorban untuknya. Namun ada sesuatu yang beda di ruangan Arsen. Disebuah sudut ruangan dekat kursi kebesarannya, ada sebuah rak susun kayu. Dan disana ada foto-foto kebersamannya bersama Arsen. Sheena tersenyum melihat pigura foto berjajar disana. Sheena kemudain beranjak dan melihat foto-foto itu.
“Astaga sudah lama tidak ke kantor, rupanya dia sudah memajang foto kebersamaan kita. Sejak kapan dia mencetaknya? Seorang Arsen tentu saja bisa melakukan apapun. Dia memang pria yang unik dan penuh kejutan.” Sheena kemudian melihat kearah meja Arsen dan diatas meja juga ada pigura kecil foto dirinya. Namun sayang ekspresi foto Sheena seperti orang bengong.
“Kenapa foto seperti ini di taruh disini sih? Arsen sungguh menyebalkan. Bisa kan memilih foto yang cantik. Rupanya diam-diam dia mengintaiku. Awas saja nanti kalau dia kembali.” Ucapnya dengan kesal. Sheena kemudian kembali ke sofa. Ia yang lelah lalu merebahkan tubuhnya. Hingga akhirnya Sheena pun terlelap.
Tepat jam 4 sore, Arsen baru kembali ke ruangannya. Arsen terkejut melihat Sheena yang terlelap disana.
''Sheena? Sejak kapan dia disini. Kenapa dia tidak memberi kabar kalau mau datang kemarin?'' gumam Arsen.
''Sheena, bangunlah.'' Kata Arsen sambil membelai wajah Sheena. Belaian tangan Arsen pun membangunkan Sheena. Ia mengerjapkan matanya, melihat sosok pria tampan ada di hadapannya.
''Arsen,'' ucap Sheena pelan. Sheena lalu bangkit dari di tidurnya.
''Sejak kapan kamu disini?''
__ADS_1
''Sudah tadi. Aku membawakanmu makan siang. Maaf ya aku ketiduran.''
''Kenapa tidak memberiku kabar kalau mau ke kantor? Kamu pasti sudah menunggu lama.''
''Memang ini jam berapa?'' tanya Sheena.
''Jam empat sore.''
''Apa? Jam 4 sore? Aku berarti sudah terlalu lama tidur. Kamu sudah makan?''
''Sama sekali belum. Aku meeting sejak pagi dan sekarang baru selesai. Sudah selesai belanjanya?''
Sheena terdiam. Ia tadi bahkan belum sempat membeli apa-apa.
''Mmm maaf ya, aku belum sempat belanja. Tadinya mau ke supermarket terus aku teringat kamu, jadinya langsung kesini. Setelah ini aku akan belanja.'' Sheena berbohong.
''Tidak masalah Sheena. Nanti kamu tidur saja ya tidak usah menungguku. Aku nanti juga makan di luar. Lalu sudah makan siang?''
''Belum juga Arsen.''
Sheena mengangguk. Arsen lalu menyuapi Sheena dan mereka saling berbagi makanan.
''Oh ya sejak kapan ada fotoku di ruanganmu?''
''Sejak kita jadian.''
''Lalu kenapa di mejamu ada fotoku yang jelek itu?''
''Justru foto itu penambah imunku. Kalau aku lelah dan melihat fotomu, seketika aku menjadi semangat.''
''Seharusnya kan bisa memilih foto yang bagus.'' Kesal Sheena.
''Memang sengaja,'' Arsen terkekeh.
''Menyebalkan sekali,'' ucap Sheenaa sambil memukul lengan Arsen.
Setelah selesai makan bersama, Sheena kemudian pamit. Namun Arsen menahan Sheena dalam pelukannya.
__ADS_1
''Aku pasti akan merindukanmu, Sheena.''
''Ya ampun Arsen, kamu nanti juga pulang. Seperti kita akan berpisah lama saja.''
''Sheena, kenapa aku merasa hari ini hatimu berbeda ya?'' kata Arsen yang seolah tahu kalau hati Sheena sedang gamang.
''Berbeda bagaimana?'' tanya Sheena tergagap. Tak dipungkiri pertemuannya dengan Fandi membuatnya menjadi sedikit luluh.
''Berbeda saja seperti setengah hati.''
''Apaan sih Arsen? Masa iya baru berpisah beberapa jam saja kamu bilang seperti itu.''
''Sheena dengarkan aku. Aku tulus mencintaimu Sheena. Aku mencintaimu bukan karena kamu adalah anak Om Darwin. Aku mencintaimu sebagai Sheena si gadis dekil yang menyebalkan dulu. Jangan pernah kecewakan aku ya.''
''Iya Arsen, tidak akan. Aku juga mencintaimu sebagai Arsen mister sok bersih. Lagi pula apa yang membuatmu ragu? Kamu saja sudah menodai aku dengan jejak merah di tubuhku. Ternyata kamu bisa buas juga.'' Kata Sheena dengan senyum lebarnya.
''Aku bisa lebih buas dari itu, Sheena.''
''Arsen, kapan pun kamu menginginkannya aku siap. Karena aku adalah istrimu sudah sewajarnya aku memenuhi tugasku untuk melayanimu.'' Ucap Sheena. Apa yang Sheena katakan semata karena perasaannya kini sedang gamang. Ia ingin menghibur Arsen supaya Arsen tidak berprasangka buruk padanya. Pertemuannya dengan Fandi, benar-benar mengganggu suasana hati Sheena.
''Iya Sheena, aku pasti akan mengatakannya. Maaf juga ya kalau aku belum bisa memberikan itu padamu.''
''Tidak masalah Arsen. Aku pergi dulu ya.'' Ucap Sheena.
''Iya tapi berikan aku ciuman lagi. Supaya aku semangat lembur.'' Pinta Arsen. Sheena lalu menangkupkan kedua tangannya pada wajah Arsen. Sheena lalu melu...mat lembur bibir Arsen. Arsen pun membalas lembut luma...tan yang Sheena berikan. Semakin dalam, semakin menuntut dan semakin nikmat. Arsen lalu membawa Sheena kearah sofa untuk memperdalam aksi ciumannya itu. Arsen membuka resleting depan dress yang Sheena kenakan. Masih ada jejak merah yang ia tinggalkan. Arsen kembali menyusu seperti seorang bayi yang kelaparan. Membuat tubuh Sheena semakin panas. Kenikmatan yang Arsen berikan, sesaat membuat Sheena lupa akan pertemuannya dengan Fandi. Sheena selalu dibuat basah oleh Arsen tanpa pernah merasakan pelepasan juga. Karena Arsen melakukannya tidak sampai tuntas. Setelah puas mencumbu area atas tubuh Sheena, Arsen kembali merapikan pakaian Sheena. Ia membantu Sheena untuk bangun dari sofa. Kemudian sebuah kecupan kembali mendarat di kening Arsen.
''Kamu hati-hati ya. Sampai ketemu nanti malam.''
''Iya. Kamu juga semangat kerjanya.''
''Pasti Sheena.''
Sheena kemudian berlalu meninggalkan ruangan Arsen.
''Sheena kenapa kamu tidak jujur kalau Fandi mengejarmu?'' gumam Arsen dalam hati. Karena sebelum masuk ruangan, Pak Roni menceritakan apa yang terjadi di supermarket. Jadi Arsen pun tahu kalau Sheena berbohong dan mencoba menutupi apa yang terjadi.
Bersambung....
__ADS_1