
''Hmmmm rasanya menyenangkan sekali. Pulang kerja, di layani terus di masakin seperti ini. Rasanya seperti di layani istri.'' Kata Brian pada Gea yang sibuk menuangkan nasi, lauk dan sayuran ke dalam piringnya.
''Sudah Brian, jangan banyak menghalu.''
''Siapa memang yang halu? Aku serius dengan ucapanku. Apa kamu tidak ingin menikah?''
''Semua orang pasti ingin menikah lah tapi tidak untuk saat ini, Brian. Aku masih belum bisa membahagiakan orang tuaku. Kamu juga fokus masa depanmu. Kamu saja baru merintis karir, jangan sejauh itu mikirnya.''
''Iya Nona Gea. ''
''Sebaiknya fokus makan saja dan habiskan.''
''Terima kasih ya.''
''Sama-sama Brian.''
''Kenapa ya rasanya susah sekali mendapatkan hati Gea? Dia benar-benar berbeda, sangat sulit untuk di taklukan. Aku harus bagaimana ya?'' gumam Brian dalam hati.
''Oh ya besok kita berangkat sama-sama ya?'' kata Gea.
''Oke. Mau boncengan atau bawa motor sendiri?''
''Nebeng boleh kan? Besok pembeli motorku akan datang.''
''Serius mau kamu jual?''
''Iya Brian. Setengah dari uang penjualannya mau aku berikan padamu.''
''Kamu berikan untuk apa Gea?''
''Brian, kamu sudah mengeluarkan banyak uang untuk membantuku. Kamu membantuku juga meminjam uang dari kantor kan? Setidaknya kalau aku membayar, hutangmu juga tidak terlalu berat, Brian. Meskipun sisanya aku mencicil.''
''Gea, aku melakukan semua itu tulus untuk kamu. Aku mau berkorban apapun untuk kamu. Aku sama sekali tidak keberatan. Sekalipun kamu belum memiliki perasaan untukku.''
''Brian, aku tidak tahu harus bahagia atau bagaimana. Aku masih takut saja untuk memulai sebuah hubungan baru. Aku tahu kamu tulus, aku juga tahu kamu pria yang baik. Tapi aku butuh waktu untuk meyakinkan perasaanku sendiri,'' gumam Gea dalam hati.
''Brian, apa yang membuatmu menyukai ku? Aku ini, bukan wanita yang anggun dan elegan. Aku heran saja denganmu Brian.''
''Gea, cinta tidak butuh alasan untuk mencintai.'' Sebuah kalimat yang begitu mengena di hati Gea.
''Tapi aku tidak akan memaksa kamu, Gea. Aku akan berjuang sampai hati kamu benar-benar terbuka untukmu. Percayalah, aku bukan pria brengsek seperti mantan kekasihmu itu.'' Lanjut Brian. Gea hanya terdiam sambil mengunyah makanan namun batinnya bergejolak, berusaha memahami perasaannya sendiri pada Brian.
-
Sementara itu di lain tempat, disebuah restoran, Erick sedang menikmati makan malam bersama Belinda.
__ADS_1
''Terima kasih ya Bel, akhirnya kamu mau makan malam bersamaku juga.''
''Sama-sama Erick. Maaf ya kalau aku baru bisa menepatinya.''
''Tidak apa-apa, aku tahu kamu sibuk. Oh ya apa kamu mau mengajakku jalan-jalan setelah ini?''
''Kemana? Palingan ada life music di alun-alun kota.''
''Itu ide yang bagus sepertinya, Bel. Setelah ini kita kesana ya?''
''Baiklah.''
Setelah selesai makan malam, Belinda dan Brian menuju alun-alun kota menikmati life music. Keduanya larut dengan alunan gitar akustik dengan suara penyanyi yang mendayu-dayu.
Rupanya sepasang mata sedari tadi mengawasi gerak-gerik Belinda dan Erick. Siapa lagi kalau bukan Arthur. Akhir-akhir ini Arthur selalu memantau perkembangan hubungan Belinda dan Erick. Saat mendengar rencana makan malam Erick dan Belinda, Arthur pun sudah memantau dari kejauhan di kontrakan Belinda.
''Apa aku benar-benar gila? Untuk apa aku mengikuti Belinda sama sejauh ini? Tapi ini amanah Om Keenan. Om Keenan sudah meminta aku untuk menjaga Belinda. Ya, ini pasti alasan utamaku.'' Gumam Arthur pada dirinya sendiri.
Selesai melihat life music, Erick mengajak Belinda menjauh dari kerumunan. Erick lalu meraih kedua tangan Belinda. Belinda bingung dan merasa tidak nyaman dengan sikap Erick itu.
''Bel, aku ingin jujur padamu.''
''Jujur soal apa?''
''Feeling? What do you mean?''
''That feeling is love.''
''Love?'' Belinda tidak menyangka jika Erick akan mengungkapkan perasaannya.
''Yes. Aku tidak tahu kapan rasa ini datang, yang jelas saat pertama kali melihatmu, aku merasakan sesuatu yang beda. Aku menyukai diri kamu apa adanya Bel. Aku bahkan akan menemui kedua orang tuamu untuk meminta restu. Aku tidak mau pacaran lagi. Aku ingin secepatnya menikah dan aku akan membawamu tinggal bersamaku di luar negeri.''
''APA? MENIKAH?'' Mata Belinda seketika membulat sempurna.
''Mati deh aku. Kenapa Erick to the point sekali? Aku harus menjawabnya apa? Dia memang baik dan tulus tapi jodohku sudah diatur oleh Papa. Dan lagi bagaimana dengan Arthur? Kita bahkan sudah berciuman. Aduh, aku bingung. Sebentar lagi juga hari pertunanganku. Kalau sampai Papa dan Mama tahu, mereka pasti kecewa. Tapi aku juga tidak tahu bagaimana perasaan Arthur padaku. Sampai detik ini aku bahkan belum mendengar penyataan cintanya. Seandainya dia gerak cepat seperti Erick, aku juga pasti akan menjawabnya. Aku juga tidak mau membuat Erick sakit hati.'' Ucap Belinda dalam hati dengan segala kegundahannya.
''Bel, kenapa diam? Aku sungguh-sungguh Bel?'' kata Erick.
''Apa? Erick menyatakan perasaannya, bahkan ingin mengajak Belinda menikah? Sepertinya aku tidak bisa tinggal diam. Bagaimana kalau sampai Om Keenan tahu? Arthur, kamu ini cemburu. Cepat akui perasaanmu itu.'' Gumamnya dalam hati dengan segala kekesalannya.
''Ummmm.....," Belinda tidak tahu harus menjawab apa dan tiba-tiba ponselnya berdering. Ada panggilan dari Arthur. Mata Belinda membulat melihat nama Arthur di layar ponselnya.
''Arthur? Gawat! Rasanya aku seperti sedang selingkuh saja.'' Gumamnya dalam hati. Belinda kemudian menerima telepon dari Arthur.
''Halo, ada apa?'' sapa Belinda tergagap.
__ADS_1
''Kamu dimana Bel? Aku dirumah kontrakanmu bersama Papa Keenan.''
''APA?'' Belinda kali ini dibuat terkejut setengah mati.
''I-iya aku kesana sekarang.'' Belinda lalu mengakhiri panggilannya.
''Kenapa Bel? Sepertinya ada sesuatu.'' Tanya Erick.
''Maafkan aku Erick, aku harus pergi dulu. Temanku butuh bantuanku, '' bohong Belinda.
''Ya sudah aku antar ya?''
''Tidak usah, aku pergi sekarang. Maafkan aku ya Erick.'' Belinda dengan langkah terburu meninggalkan Erick dan segera mencari taksi.
''Aduh, gimana ini? Aku haru bilang apa sama Papa?'' gumam Belinda penuh dengan segala kecemasannya. Sementara Arthur sudah perjalanan sejak tadi menuju rumah Belinda. Karena jalanan tidak terlalu ramai, membuat Arthur bisa menambah kecepatannya.
''Aku harus sampai di kontrakan Belinda, sebelum dia sampai duluan.''
Dan akhirnya Arthur sampai juga di rumah Belinda. Ia kemudian duduk di teras sembari menunggu Belinda. Setelah menunggu dua puluh menit, akhirnya Belinda sampai juga di rumahnya. Ia segera berlari menghampiri Arthur yang duduk di terasnya.
''Kak, mana Papa?'' tanya Belinda dengan segala rasa paniknya.
''Memangnya kamu darimana saja hah? Jangan lupa hari pertunangan kita tinggal beberapa hari. Papa meminta kamu untuk kembali ke rumah dan tidak usah menyamar lagi.''
Mendengar ucapan Arthur, Belinda seperti seorang burung yang dibebaskan dari sangkarnya.
''Apa? Sungguh? Kakak tidak bercanda kan? Terus mana Papa?''
''Papa baru saja pulang. Memangnya kamu dari mana? Hah?'' tanya Arthur dengan wajah sinisnya.
''Mmmm aku habis makan malam bersama Erick.'' Kata Belinda sambil menunduk.
''Apa? Bersama Erick? Bagaimana kalau Papa Keenan dan Mama Dira tahu? Pertunangan di depan mata kamu malah mesra-mesraan dengan pria lain?'' marah Arthur. Belinda lalu membuka pintu rumahnya, di ikuti oleh Arthur. Belinda lalu menutup pintunya kembali, kemudian ia menumpahkan segala kekesalannya pada Arthur. Belinda maju satu langkah lebih dekat dengan Arthur.
''Terus kamu sendiri bagaimana dengan Grace? Kamu bahkan memilih menghabiskan makanannya daripada makanan yang aku buat. Setiap bertemu selalu cipika-cipiki dan itu kamu lakukan di depan aku. Belum lagi gelagatnya yang sok manja sama kamu dan cara berpakaiannya yang seolah menggoda kamu. Kamu dengan Grace sangat mesra bahkan di hadapanku. Apa kalian punya hubungan spesial? Hah? Kalau memang iya, katakan saja. Aku yang akan bilang pada Papa dan Mama untuk membatalkan semua ini.'' Cerocos Belinda panjang lebar dengan segala kekesalannya sambil berkacak pinggang.
''Dia sahabatku, Bel. Hubungan kami tidak lebih dari teman. Memangnya kenapa? Kamu cemburu?''
''Iya, aku cemburu!" celetuk Belinda tanpa sadar. Arthur terkejut sekaligus senang mendengar jawaban Belinda.
''Apa? Aku tidak salah dengar tadi?'' tanya Arthur.
''Aduh, keceplosan.'' Gumam Belinda dalam hati sambil memukuli bibirnya.
...Bersambung.... Apakah yang akan terjadi selanjutnya???? ...
__ADS_1