
Hanya karangan semata...
_____
Sudah hampir satu bulan Naynay ditangani oleh Naomi yang merupakan psikolog-nya. Banyak perubahan yang terjadi pada sikap bumil imut menggemaskan itu. Ketakutannya sudah hampir sepenuhnya hilang. Setidaknya ketika Afif bertindak agresif, dia tidak lagi histeris.
Entah metode apa yang diterapkan Naomi hingga bumil tersebut sembuh secepat itu. Tapi memang begitulah aku mengarang cerita ini agar Naynay sembuh hanya dalam kurun waktu satu bulan lebih sedikit dalam penanganan si dokter sinting itu.
Sore ini Naynay sedang belajar di ruang kerja Afif, berperang dengan tumpukan buku karena besok adalah ujian terakhirnya sebelum lulus. Aku tuh udah nggak ingat ujian-ujian kelas 3 itu kayak apa. Maklumlah, udah lama lulus. Itupun aku nggak pernah belajar sama sekali. Benar-benar tidak ada persiapan sama sekali. Itu kalau aku, ya. Oleh karena itu, aku hanya menjadwalkan Naynay ujian terakhirnya itu satu bulan sebelum kelulusan. Maklum, yaa....
Sambil membaca dan memahami isi dari tumpukan buku di atas mejanya, Naynay mengelus perutnya yang membuncit itu. Usia kandungannya sudah tiga bulan, sebentar lagi akan memasuki empat bulan. Karena bumil yang satu ini hoby makan yang dingin-dingin dan berminyak, perutnya sedikit lebih besar dari yang seharusnya.
Hpnya yang berada di samping laptopnya bergetar, terdapat panggilan video dari mood booster-nya yang super tampan. Naynay mengangkat panggilan itu dan wajah Afif yang sedang tersenyum muncul di di layar hpnya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Afif seraya menyisir rambutnya dengan jemarinya.
"Nay lagi belajar, besok kan ujian terakhir." Dia menunjukkan satu buku yang sedang dia baca, tak lupa dengan senyumnya yang imut.
Afif mangut-mangut dan membuka dua kancing teratas kemeja hitamnya. "Aku akan pulang larut malam lagi, jangan tidur kemalaman!" ucapnya memperingati.
"Boleh nitip sesuatu? Nay pengin banget Kakak yang beliin!" Mata Naynay mengerjap-ngerjapkan dengan binar yang menyejukkan hati Afif.
"Kau mau apa?"
"Martabak telor plus dagingnya banyakin!" Semangat sekali mengatakannya.
"Ada lagi?" tanya Afif sambil tertawa kecil.
Naynay mengetuk-ngetuk jidatnya dengan telunjuknya, memikirkan apa lagi yang dia inginkan. "Nggak ada, Nay cuma mau itu aja."
"Baiklah," ujar Afif singkat.
"Kalau nanti Naynay ketiduran, Kakak bangunin, ya!"
__ADS_1
"Aku tidak yakin kau bisa tidur sebelum memakan apa yang kau idamkan."
"Nggaka ada yang jamin kalau Naynay nggak bakal ketiduran," balas Naynay tidak mau kalah.
"Iya iya. Jangan matikan panggilannya, aku ingin melihat wajahmu sampai aku selesai kerja!" ujar Afif memperingatkan dengan memasang wajah dan nada bicara tidak bisa dibantah.
Naynay mengangguk dan mulai fokus dengan buku-bukunya kembali. Begitupun dengan Afif, dia juga kembali sibuk dengan berkas-berkas yang akan membuatnya lembur malam ini. Sesekali dia akan melirik hpnya yang menampilkan wajah Naynay yang sibuk membolak-balik lembaran bukunya.
Hingga satu jam setelahnya, Naynay sudah selesai dengan buku-bukunya. Dia merapikan kembali semua buku dan peralatan belajarnya.
"Kak, Nay udah selesai belajarnya." Naynay mendekatkan wajahnya pada layar hpnya. Melihat Afif yang fokus pada map yang dipegangnya.
Mendengar suara Naynay, Afif mengambil hpnya yang dia sandarkan tadi ke vas bunga. "Kembali ke kamar, abis itu langsung mandi!"
"Iya, Kak." Mengangguk patuh.
"Baiklah, aku matikan dulu. Ingat, kau harus mandi!" ingat Afif sambil menatap penuh ancaman pada Naynay.
Afif tersenyum dan melambaikan tangannya sebelum memutuskan sambungan video tersebut.
Naynay berdiri dan berjalan keluar dari ruang kerja Afif, dia ingin ceapt-cepat mandi dan tidur. Kalau Afif tidak memberikan perintah dengan wajah menyeramkan seperti tadi, mungkin dia akan mandi malam-malam lagi.
Baru saja dia berbalik setelah menutup pintu, tubuhnya ditabrak seseorang hingga hpnya jatuh lumayan keras dan case-nya sampai terlepas. Naynay menghela napas panjang setelah melihat siapa yang dengan sengaja menabraknya. Naynay memungut hp beserta case yang terpisah cukup jauh dan pergi meninggalkan gadis yang tadi menabraknya.
Qiara memandang sinis kepergian Naynay dengan tangan terlipat di depan dadanya. Dia melanjutkan kembali langkahnya, tapi matanya menangkap sesuatu di lantai. Dia membungkuk dan memungut benda yang terlihat seperti kertas tersebut.
"Dia hamil?" Qiara terbelalak ketika membuka lipatan kertas itu yang ternyata adalah hasil USG Naynay bulan lalu ketika memeriksa detak jantung si dedek bayi.
Mata Qiara memerah ketika melihat tanggal dan usia kehamilan yang tertera pada hasil USG tersebut. "Bukankah mereka baru menikah selama dua bulan? Tapi kenapa di sini sudah berusia tiga bulan? Ini juga hasil pemeriksaan bulan lalu."
"Dia hamil di luar nikah," gumam Qiara marah. "Dia membohongi kakak." Dia berpikir kalau Afif tidak tahu kalau Naynay hamil.
Gadis itu memandang marah pada hasil USG di tangannya. Dia tidak mau jika kakaknya mempunyai istri seperti Naynay yang dia kira bermuka dua itu. Terlihat polos tapi liar. Dia juga tidak ingin mempunyai keponakan yang tidak memiliki darah keturunan keluar Cavin sedikit pun. Lebih tepatnya anak haram.
__ADS_1
"Wanita murahan! Kau kira kau bisa memiliki kakakku? Aku akan memberimu pelajaran karena telah membohongi kami semua!" gumam Qiara geram dan memandang pintu kamar utama rumah itu dengan mata memerah marah.
*****
Naynay turun ke bawah menuju dapur karena ingin bertemu Pak Hen. Dia ingin meminta pria tua itu untuk membuatkannya jus mangga yang merupakan minuman kesukaannya. Lupa kalau di kamar ada intercom yang biasa digunakan oleh Afif.
Tapi sebelum dia sampai dii dapur, langkahnya dihadang oleh Qiara yang menatap tajam padanya. Mata gadis itu sangat mirip dengan mata elang milik Afif.
"Ada apa?" tanya Naynay malas, gadis di depannya ini pasti akan mencari gara-gara lagi.
"Santai saja, apa kau mengidam sesuatu?" tanya Qiara sinis dengan mata yang masih menatapnya tajam.
Naynay terbelalak mendengar pertanyaan Qiara? Apa gadis itu sudah tahu kalau dia sedang hamil?
"Apa yang kau bicarakan?" Naynay berusaha tenang dan santai.
"Aku hanya bertanya, apa kau mengidam sesuatu? Sepertinya bayi di perutmu banyak tingkah, ya!" Qiara berjalan memutari tubuh Naynay dan menepuk pelan perut buncit Naynay yang ditutupi baju kaos kebesaran.
"Jangan harap kau bisa diterima di rumah ini. Wanita busuk sepertimu tidak pantas untuk kakakku. Kelihatannya saja polos, huh! Wanita liar, entah anak siapa yang kau kandung itu !!" hardik Qiara dengan kejamnya dan pergi begitu saja.
Naynay memegang perutnya dengan tangan bergetar, hatinya begitu sakit mendengar caci maki dari bibir adik iparnya tadi. Karena Naynay belum sembuh sepenuhnya, dia kembali merasa tertekan. Dia menjambak rambutnya sendiri karena kepala yang mendadak sakit. Setelahnya, semuanya menjadi gelap.
.
.
.
.
.
Mohon maaf, ingkar janji karena ada kerjaan mendadak🙇🙇
__ADS_1