My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 146 Macau


__ADS_3


Sheena kini sudah berada di dalam pesawat bersama Pak Roni. Atas perintah Nyonya Dira, Pak Roni pergi menemani Sheena. Apalagi ini pengalaman pertama Sheena naik pesawat dan juga ini pengalaman pertamanya pergi ke luar negeri.


''Terima kasih ya Pak sudah menemani ku pergi. Jujur saja sebenarnya aku nekat karena aku kesal Arsen tidak membalas pesan ku dan malah memotret gadis lain lalu ia jadikan story.'' Sheena akhirnya menjadikan Pak Roni sebagai tempat curhatnya.


''Jadi Nona dan Tuan ada masalah?''


''Iya Pak. Tapi aku terpaksa berbohong pada Mama dan Papa. Karena aku tidak ingin membuat mereka kepikiran juga. Salah saya sendiri juga sih, Pak. Oh ya aku mau tanya sama Pak Roni, kalau istri bapak teringat mantannya, bapak kesal tidak?''


''Kalau ditanya kesal ya pasti kesal Nona. Kita kan sudah punya kehidupan masing-masing jadi masa lalu ya biarlah tidak perlu diingat-ingat lagi.'' Ujar Pak Roni.


''Aku sudah membuat Arsen terluka dan marah. Bahkan dia langsung pergi ke Macau tanpa pulang terlebih dahulu.''


''Pantas saja tadi Tuan ngamuk-ngamuk di kantor. Dia tidak setenang biasanya. Semua orang kena amukannya.''


''Masa sih Pak?''


''Iya Nona. Tapi memang Tuan ke Macau karena ada masalah di pabrik tekstilnya. Makanya Tuan langsung pergi.''


''Aku juga kesal sama Pak Soni. Dia aku telepon jawabannya Tuan sibuk tidak mau di ganggu. Sepertinya dia juga dibawah tekanan Arsen.'' Kesal Sheena.


''Itu sudah pasti Nona. Kadang di posisi kami serba bingung juga harus menurut pada siapa.''


''Iya juga sih Pak, aku juga mengerti itu. Makanya aku sampai nekat menyusul ke sana. Arsen sungguh membuatku kesal. Bukannya membalas atau mengirim pesan padaku eh malah buat story gadis bule.''


''Tapi Nona, saya tidak melihat Tuan membuat story itu.'' Ungkap Pak Roni.


''Yang bener Pak? Di aku kok ada ya?'' Sheena mulai merasa bingung. Pak Roni kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan story Arsen.


''Hari ini bahkan sejak tiga hari lalu Tuan pergi, Tuan tidak menulis story apa-apa Nona.''


''Lalu ini apa Pak?'' Sheena menunjukkan story Arsen pada Pak Roni. Pak Roni kemudian tertawa melihat itu.


''Kok Pak Roni malah tertawa?'' Sheena menaikkan satu alisnya heran.


''Sepertinya Tuan sedang mengerjai anda, Nona. Percayalah Nona, Tuan itu adalah seorang laki-laki berprinsip yang sangat teguh, Nona. Tuan tidak mudah mendua apalagi melirik wanita lain. Sepertinya Tuan sengaja membuat anda kesal.''

__ADS_1


''Menyebalkan sekali. Kita sudah ada di pesawat lagi. Apa kita batalkan saja ya, Pak. Kita putar balik aja deh. Nanti dia bisa besar kepala.''


Lagi-lagi Pak Roni tertawa mendengar ucapan Sheena. ''Nona ini lucu sekali. Kita sedang naik pesawat Nona, mana bisa kita putar balik. Kalau naik mobil baru bisa.''


''Hehehe iya ya, Pak. Maklum lah Pak, saya kan dulu orang kampung jadi benar-benar kampungan sekali.''


''Nona tidak kampungan tapi Nona sangat baik. Untuk pertama kalinya saya duduk berdua dengan Nona besar. Sekalipun Nona sekarang adalah seorang putri Tuan besar tapi Nona tetap sederhana dan mau membaur dengan saya.''


''Sebenarnya kita semua sama kan, Pak? Manusianya sendiri saja yang sering mengkotak-kotakkan diri mereka sendiri.''


''Iya anda benar Nona tapi tidak semua orang punya pemikiran seperti Nona.''


''Jangan berlebihan, Pak. Aku bisa besar kepala. Oh ya nanti apa yang harus aku lakukan saat bertemu Tuan?''


''Kenapa Nona malah tanya saya? Ikuti kata hati Nona. Yang jelas Tuan Arsen pasti akan sangat senang kalau anda menyusulnya. Apalagi tadi Nona bilang sudah membuatnya marah dan terkuka. Jadi datanglah sebagai obat untuk Tuan.'' Jelas Pak Roni.


''Untung saja ya perginya sama Pak Roni jadi ada temannya. Apalagi Pak Roni bisa menjadi tempat curhat yang begitu menyenangkan. Membuatku tenang dan malah membuatku jadi merindukan Ayah.''


''Saya juga senang menemani Nona pergi.''


''Oh ya Pak Roni tidak bilang pada Arsen kan, kalau aku menyusulnya?''


''Terima kasih ya, Pak.''


''Sama-sama Nona.''


Tujuh jam sudah Sheena mengudara di atas awan. Sesampainya di negara tirai bambu itu, Sheena di buat takjub. Ia tidak menyangka akan menginjakkan kakinya di negara itu.


''Pak, aku benar-benar ada di luar negeri?'' ucap Sheena dengan penuh rasa tidak menyangka dan takjub.


''Iya Nona.''


''Pak Roni sudah pernah kesini?''


''Sudah berkali-kali Nona.''


''Wah enak ya jadi Pak Roni bisa keluar negeri. Saya 24 tahun baru kali ini ke luar negeri.''

__ADS_1


''Kalau bukan karena bekerja dengan Tuan, saya mungkin juga tidak akan ke luar negeri Nona.''


''Baiklah Pak, sebaiknya kita makan malam dulu. Pak Roni pasti sudah hafal jalanan disini jadi hari ini Pak Roni jadi tour guide ya.''


''Apa tidak langsung ke apartemen saja Nona?''


''Ayolah Pak, aku juga ingin jalan-jalan sebentar. Lagi pula ini baru jam 8 malam.'' Paksa Sheena.


''Baiklah Nona.''


Setelah selesai makan malam dan puas berkeliling kota, Sheena kemudian menuju apartemen Arsen.


''Ini adalah apartemen Tuan, Nona. Silahkan anda masuk. Sepertinya Tuan juga belum kembali.''


''Lalu Pak Roni bagaimana?''


''Nona tidak usah memikirkan saya, saya bisa tinggal bersama Soni karena Tuan disini memiliki dua apartemen. Tapi kamar ini yang selalu Tuan tempati.'' Jelas Pak Roni.


''Baiklah kalau begitu, Pak. Terima kasih ya Pak, sudah menemani sampai disini.''


''Sudah menjadi tugas dan kewajiban saya untuk menemani Nona. Silahkan Nona masuk, saya akan pergi setelah Nona masuk.''


''Iya Pak terima kasih.'' Sheena lalu menempelkan cardlock dan pintu pun terbuka. Pak Roni pun berlalu setelah memastikan Sheena sudah aman di dalam.


''Wah, dimanapun tempatnya dia memang selalu rapi,'' gumam Sheena. Sheena kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


''Hmmmm rasanya nyaman sekali. Awas saja kalau dia kembali, aku akan menghukumnya. Sebaiknya aku mandi saja dulu.'' Sheena kemudian beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Sheena merendam tubuhnya di dalam bathup.


''Oh nyaman sekali, segar sekali. Rasanya 7 jam lebih di dalam pesawat sungguh lelah dan membosankan.''


Disaat yang bersamaan, Arsen baru saja tiba di apartemennya. Arsen buru-buru mengecek ponselnya, melihat apa yang terjadi pada Sheena seharian ini.


''Kenapa dia tidak mengirim pesan untukku? Sebaiknya aku cek dia sedang apa. Jangan-jangan dia menemui Fandi.'' gumam Arsen seraya duduk di kursi ruang tamu. Saking fokusnya dengan kabar Sheena, Arsen tidak melihat koper Sheena yang tergeletak tidak jauh dari ruang tamu. Setelah memeriksa cctv, Arsen melihat Sheena mengemasi pakaiannya. Tidak ada dialog apapun yang bisa Arsen dengar.


''Dia mau kemana? Kenapa membawa koper segala? Apa dia marah lalu meninggalkan rumah?'' kini Arsen menjadi panik dan khawatir. Ia takut kalau Sheena benar-benar pergi dari rumah. Namun Arsen melihat Sheena pergi dengan Pak Roni.


''Mau kemana dia? Kenapa mengajak Pak Roni? Kenapa Pak Roni tidak melapor padaku?'' ucap Arsen penuh tanda tanya.

__ADS_1


''Sebaiknya aku telepon Pak Roni saja. Kalau aku meneleponnya, dia bisa besar kepala.'' Saat mencoba telepon Pak Roni, ponsel Pak Roni tidak bisa di hubungi. Karena batre ponsel Pak Roni habis. Arsen kini bingung apa yang harus ia lakukan.


Bersambung....


__ADS_2