My Perfect Husband

My Perfect Husband
Gamaliel Cavin


__ADS_3

Naynay sudah dipindahkan ke ruangan VVIP di lantai teratas rumah sakit ini. Dia baru saja selesai menyusui bayi gemoynya yang kemudian digendong oleh Yasmin.


"Wajahnya Afif semua, Nay," ujar Yasmin ketika melihat wajah cucunya itu yang begitu mirip dengan Afif. Apalagi alis yang melengkung sempurna bak bilah pedang itu.


Naynay mengangguk setuju. "Iya, Nay cuma kebagian bibirnya doang."


Afif yang duduk di samping Naynay itupun tertawa dan mengusap pucuk kepala Naynay. Memang hanya bibir istrinya saja dituruni anak mereka dan selebihnya menurun darinya.


"Kalian sudah memutuskan nama yang tepat?" tanya Hendrayan yang sedang menggendong Araa.


"Gamaliel Cavin!" jawab Afif dan Naynay serentak. Mereka sudah menyiapkan nama itu sejak beberapa bulan yang lalu. Satu nama laki-laki dan satu nama perempuan, dan yang terpilih adalah Gamaliel karena dia laki-laki.


Kenapa bukan Gamaliel Cavin Alvarendra? Afif mempunyai alasan tersendiri. Baginya, cukup dia saja yang memakai nama almarhum Rendra di nama belakangnya. Jika ketika anaknya lahir dan Rendra masih hidup, maka Afif juga akan memakai nama Alvarendra di nama belakang Gamaliel. Alvarendra akan dipakai jika nanti Gamaliel sudah memegang perusahaan.


Setelah puas dari sore sampai malam di sana, akhirnya Hendrayan dan Yasmin pamit pulang karena mereka meninggalkan Araa bersama pelayan di rumah. Besok mereka akan kembali dan mengajak Araa juga.


Selepas kepergian kedua mertuanya, Afif menggendong Gamaliel dan menciumi pipi gembul merah pria kecil itu. Rasanya masih tidak percaya kalau dia sudah menjadi orang tua saja. Setelah puas cium-cium, dia meletakkan Gamaliel ke dalam box bayi kembali.


"Nay udah dilupain," ujar Naynay mengerucutkan bibirnya menatap Afif yang naik ke atas ranjang besar yang dia tiduri.


Afif tertawa dan menciumi semua bagian wajah Naynay hingga gelak tawa terdengar. Mana mungkin dia melupakan istri imutnya ini, dia hanya sedang bersemangat saja menggendong Gamaliel.


"Masih sakit?" tanya Afif setelah berhenti menciumi Naynay. Dia mengusap pipi Naynay dengan lembut. Masih teringat di otaknya bagaimana beberapa jam yang lalu Naynay berteriak kesakitan.


"Ngilu dikit," balas Naynay dan memeluk Afif dan mendusel di dada bidang hangat itu.


Afif tidak percaya, dia bisa mendengar desisan lirih saat istrinya itu berganti posisi. Dia juga tahu kalau Naynay mengatakan itu agar dia tidak panik lagi.

__ADS_1


"Kau tidak hebat dalam berbohong!" balas Afif sambil tersenyum dan mengusap kepala Naynay.


"Kalau Nay bilang sakit, nanti Kakak bawa ke luar negeri buat berobat," balas Naynay tak mau kalah. Beberapa hari yang lalu Afif mengatakan akan membawa Naynay ke luar negeri untuk berobat agar tidak merasakan sakit lagi. Lebay memang, tapi Afif sama sekali tidak bercanda.


"Itu karena aku tidak bisa melihatmu kesakitan, Nay." Afif melepaskan pelukan mereka dan menggenggam kedua tangan Naynay.


"Nggak lama lagi sembuh kok, nggak usah khawatir, ya." Naynay tersenyum dan menghadiahi kecupan di bibir Afif.


"Kakak bisa tahan 40 hari, 'kan?" tanya Naynay menanyakan kesanggupan suaminya itu untuk menahan hasratnya.


Afif tertawa dan memegang dadanya. "Aku pasti kuat," ucapnya dengan wajah dibuat serius hingga membuat Naynay tertawa.


"Baiklah, ayo tidur." Afif membantu Naynay merebahkan tubuhnya dan dia pun ikut berbaring. Tak lupa menyelimuti tubuh mereka.


*****


Tengah malam, di jam makan Naynay ketika hamil, Gamaliel menangis. Naynay yang mendengarnya pun terbangun. Ternyata Afif juga terbangun, dia segera turun dari tempat tidur dan menggendong Gamaliel.


"Sekarang aku harus berbagi dengannya," ucap Afif dengan wajah tidak rela hingga mendapat cubitan keras dari Naynay di lengannya.


"Mesum," ucap Naynay kesal.


Afif tertawa sambil mengusap lengannya yang terasa perih karena cubitan Naynay tadi.


Naynay beralih ke Gamaliel yang masih sibuk mengemut sumber makanannya, jemari kecilnya menggenggam telunjuk Naynay yang baru saja selesai mencubiti Afif.


"Kita bakalan sering bangun tengah malam," ucap Naynay menatap Afif.

__ADS_1


"Tidak masalah, ini akan menjadi cerita terbaik dalam hidup kita nantinya." Afif mencium pipi Naynay dan lanjut ke pipi Gamaliel.


Setelah Gamaliel selesai menyusu, Afif kembali meletakkannya di box bayi.


Afif naik kembali ke tempat tidur dan duduk di samping Naynay. Dia meraih kedua tangan Naynay dan menciuminya.


"Terima kasih untuk semuanya, terima kasih telah melahirkan Gama untukku. Aku tidak bisa merangkai kata-kata, tapi kau dan Gama adalah hadiah terbaik dari Tuhan untukku. Aku mencintaimu," ucap Afif panjang lebar kemudian memeluk erat Naynay.


"Aku baru mengatakannya sekarang karena..."


"Malu sama papa dan mama," potong Naynay sambil tertawa.


"Bukan malu, hanya tidak mau membuat mereka melihat kemesraan kita saja!" kilah Afif yang sebenarnya malu mengakui hal itu.


"Hhmm... Terima kasih juga sudah bertanggung jawab atas Gama. Terima kasih sudah menjadi suami yang sempurna dan semoga selalu menjadikan kami prioritas. Sayangi Nay, Gama, dan Araa selamanya! Nay juga cinta sama Kakak." Naynay mempererat pelukan mereka.


"Jangan lupa juga kasih Nay uang cash, mau beli cilok besok pagi," imbuh Naynay yang sukses membuat Afif tertawa keras.


"Iya, besok aku belikan."


.


.


Vote, yaaaa...


Sekitar 10 episode lagi mungkin

__ADS_1


.


.


__ADS_2