My Perfect Husband

My Perfect Husband
Romantisme di rumah utama


__ADS_3

Suara hewan malam terdengar bersahutan, lampu-lampu sudah menyala di semua sudut rumah mewah ini. Afif berjalan menuju tempat tidur dan membaringkan tubuh Naynay di sana dengan hati-hati. Dikecupnya kening istrinya itu sebelum masuk ke kamar mandi.


Rencana liburan seminggu bersama keluarga besar mereka terpaksa disudahi sampai di sana. Naynay menangis minta pulang karena dia merasa tidak aman di sana, jadi Afif langsung menyuruh Pak Hen pulang terlebih dahulu bersama pelayan yang lainnya untuk mengurus kebutuhan di rumah.


Hendrayan dan Yasmin juga langsung pulang ke rumah mereka, bersama Araa tentunya. Afif sudah meyakinkan mertuanya itu bahwa Naynay sudah aman dan mengurus orang yang ingin melukai Naynay dulu.


Afif keluar dari ruang ganti dengan memakai piyama dan berjalan menuju tempat tidur. Jari panjangnya mencolek-colek pipi Naynay guna membangunkan istrinya tersebut.


"Ganti bajumu dulu," ucapnya ketika Naynay sudah membuka matanya.


Naynay meringsut merapatkan tubuhnya dengan Afif. "Bantuin."


"Jika aku membantumu, maka kau akan kehilangan beberapa jam waktu tidurmu. Setuju?" tanya Afif dengan mengerlingkan sebelah matanya.


"Tapi Kakak juga akan kehilangan 50 juta satu ronde. Setuju?" tanya Naynay balik sambil menaikturunkan kedua alisnya. Jiwa matre memang melekat di rahimnya sekarang.


Afif duduk dan berlari ke luar kamar memakai jurus naruto yang sempat dia tonton ketika bosan beberapa minggu yang lalu. Beberapa menit kemudian, dia kembali ke kamar dengan membawa tas persegi berwarna hitam. Dia duduk di samping Naynay yang tengah bersandar di headboard tempat tidur.


"500 juta, puaskan aku dan kau boleh ambil semuanya." Afif menepuk-nepuk koper uang itu beberapa kali.


Naynay menggeleng dan bersidekap dada. "Ganti cara ngomongnya! Nay berasa jadi wanita panggilan kalau kayak gitu!"


Afif menepuk bibir laknatnya itu beberapa kali sebelum tersenyum nakal menatap Naynay. "500 juta untukmu, Sayang." Afif merevisi kata-katanya.


"Setuju," ucap Naynay girang sambil meraih koper uang itu dan membawanya ke ruang ganti. Dia memberi kode pada Afif agar menunggunya di sana.

__ADS_1


Setelah meletakkan koper itu di atas meja berisi koleksi jam tangan dan dasi Afif, Naynay masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit, dia keluar hanya dengan menggunakan handuk saja. Tidak jadi minta bantuan pada suaminya itu untuk mengganti baju.


Afif yang sedang duduk di tepi tempat tidur dengan bertelanjang dada pun terperangah melihat Naynay berjalan ke arahnya. Rambut tergerai yang sedikit basah dan senyum manis menggoda itu langsung membuat nafsu laki-laki itu bangkit.


"Ayo kita mulai," ucap Afif dengan suara berat dan memegang bahu Naynay yang terbuka ketika istrinya itu sudah duduk di sampingnya.


"Nggak kuat kalau sepuluh kali," cicit Naynay yang teringat akan uang berjumlah 500 juta tadi. Bisa mati dia kalau harus bercinta sebanyak itu ketika hamil begini.


Berarti kalau nggak lagi hamil, kuat dong, ya?....


"Lima kali," balas Afif dengan wajah serius. Istrinya ini hobi sekali menunda-nunda kegiatan ini dengan berbagai pernyataan aneh.


"Oke, ayo!" Naynay langsung menarik tengkuk Afif hingga bibir mereka bertemu.


Dimulai dengan gerakan pelan yang lama-kelamaan semakin bergairah. Afif yang ternyata sudah polos tanpa sehelai benang itu pun mulai membuka sehelai handuk yang dipakai Naynay. Tangan besar laki-laki itu mengusap perut buncit Naynay sebelum akhirnya turun ke bawah.


"Hhmmhh...." Erangan kembali terdengar saat bagian inti mereka menyatu sempurna. Gerakan-gerakan tubuh Afif yang pelan membuat Naynay begitu semangat menggoda suaminya itu. Tangan lentik mungilnya mengusap dada bidang itu, lalu berangsur turun ke perut kotak-kotak bak roti sobek.


"Ingin lebih cepat, Hhmm?" tanya Afif yang mulai mengubah posisinya untuk memuaskan sang istri.


"Hu'um." Naynay mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya.


Afif tersenyum dan kembali mencium bibir Naynay dengan lembut, namun gerakan tubuhnya mulai berangsur cepat. Suara-suara mereka teredam oleh kamar yang didesain kedap suara ini.


Afif menenggelamkan wajahnya di leher Naynay untuk meredam suaranya yang mulai tak terkontrol. Suara mereka semakin mengeras seiring cepatnya gerakan pergulatan itu. Hingga akhirnya semburan bibit unggul dari Afif itu menjadi pertanda ronde pertama selesai, menghabiskan waktu sekitar 15 menit.

__ADS_1


"Kenapa kau imut sekali? Rasanya aku ingin terus mengerjaimu sepanjang malam." Afif mencium pipi chubby Naynay karena gemas. Tawa kegelian Naynay membuatnya semakin semangat mencium semua bagian wajah istrinya itu.


"Udah, ihh.." keluh Naynay dan mendorong pelan kepala suaminya itu menjauh dari wajahnya.


Afif tertawa dan menjatuhkan tubuhnya di samping Naynay, dia berguling ke tepi ranjang untuk mengambil selimut yang tergeletak di lantai. Setelah dapat, dia menutupi tubuh mereka berdua.


"Kak, Nay mau nanya," ucap Naynay sambil melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Afif.


"Apa, hhmm?"


"Laki-laki itu, kenapa dia ngincar Naynay sama anak kita?" tanya Naynay sedikit ragu. Dia masih bergidik ngeri ketika mengingat pisau dengan kilatan tajam itu.


Afif melorotkan tubuhnya hingga berhadapan langsung dengan wajah sang istri. Diciumnya sebelah pipi kenyal itu beberapa kali sebelum berbicara. "Dia ada hubungannya dengan kejadian di hotel dulu, anak dari salah satu pengusaha yang ikut andil menjebak kita. Dia termakan hasutan orang tuanya hingga menyusul kita sampai ke negara itu untuk melukaimu."


Naynay mengangguk kecil tanda mengerti, resiko menjadi anak dan istri pengusaha tersohor memang seperti ini. Ketika status Naynay saja sudah disembunyikan, kejadian buruk tujuh bulan lalu masih bisa menimpanya. Apalagi jika status Naynay sebagai anak tunggal keluarga Pradipta, ditambah berstatus istri dari CEO Cavin Group, entah kejadian apa yang akan terjadi.


"Sudah, jangan dipikirkan! Lebih baik kau pikirkan bagaimana nasibmu sekarang." Afif kembali mengukung tubuh Naynay.


"Masih ada empat ronde lagi," bisiknya di telinga Naynay hingga bumil itu tertawa.


"Melayani Anda dengan senang hati, Tuan Muda." Naynay tersenyum nakal dan tangannya kembali beraksi di tubuh berotot Afif.


.


.

__ADS_1


Ini dulu, ya. Otakku lagi nggak bisa mikir jalan cerita selanjutnya karena dedeknya udah lahir tgl 14 Juni jam 13:00 WIB kemaren. Sedangkan di sini masih jauh lahirannya. Aku harap kalian nggak bosa😭😭😭


Vote, tolooooong......


__ADS_2