My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 123 Sisi Lain


__ADS_3

Acara syukuran itupun berjalan lancar, kini para tamu sedang menikmati hidangan dan juga hiburan yang telah disiapkan. Alunan musik klasik semakin menambah mewah dan megah suasana di dalam ballroom.


“Arsen, aku mau ke toilet sebentar.” Bisik Sheena pada Arsen.


“Aku antar ya?”


“Tidak usah. Aku sebentar saja.”


“Baiklah hati-hati.” Pesan Arsen. Sheena kemudian beranjak dari duduknya dan pergi menuju toilet. Beberapa menit kemudian, Sheena keluar dari toilet. Namun Sheena yang belum terbiasa memakai heels hampir saja terpeleset. Namun tiba-tiba ada seseorang yang menangkap Sheena dalam pelukannya. Sheena seketika terkesiap melihat siapa yang ada dihadapannya saat itu. Wajah keduanya sangat dekat hanya berjarak beberapa senti saja. Tangan pria itu melingkar kuat pada pinggang Sheena.


“Fandi,” gumam Sheena dalam hati. Toilet pria dan wanita yang berdampingan, membuat Fandi melihat Sheena yang hampir saja terpeleset saat itu. Lalu Fandi dengan sigap menangkap tubuh Sheena.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Fandi dengan senyum hangatnya.


“I-iya.” Mendadak Sheena menjadi gugup. Perlahan Fandi melepaskan tangannya dari pinggang Sheena.


“Maaf kalau aku tidak sopan. Aku hanya berusaha menolongmu saja.”


“Tidak apa-apa, terima kasih. Bagaimana kabarmu? Kamu sudah bisa berjalan lagi?”


“Iya. Aku sudah membaik dan aku sudah bisa jalan lagi. Senang rasanya bisa menggunakan kaki ini untuk berpijak.”


“Syukurlah, aku senang sekali melihatnya. Ap-apa kamu juga sudah mengingatku?”


“Mengingatmu? Bukankah kamu temannya Olivia?”


“I-iya.”


“Selamat ya untuk rencana pernikahanmu dan juga atas syukuran ini, kamu bisa berkumpul kembali dengan keluargamu.” Kata Fandi sambil mengulurkan tangannya pada Sheena.


“Iya terima kasih.” Kata Sheena seraya membalas uluran tangan Fandi.


“Baiklah, aku masuk dulu. Sekali lagi terima kasih.”


“Iya sama-sama. Kita masuk saja sama-sama.” Kata Fandi. Fandi kemudian mengekor Sheena dari belakang.


“Ternyata ingatan Fandi masih belum pulih.” Gumam Sheena dalam hati.


Arsen yang merasa Sheena lama, hendak menyusulnya namun saat Arsen baru beranjak dari duduknya, ia melihat Sheena masuk dan diikuti oleh Fandi dari belakang.


“Sheena, Fandi, apa yang mereka berdua lakukan?” gumam Arsen dalam hati. Arsen merasa marah dan kesal melihat Sheena yang bersama Fandi.


“Kenapa lama sekali?” ketus Arsen saat Sheena sudah berada bersamanya.


“Namanya juga di toilet.”


“Lalu, kenapa bisa bersama Fandi?” selidik Arsen.


“Tadi aku hampir terpleset dan dia membantuku.”

__ADS_1


“Apa? Berarti dia menyentuhmu?” hati Arsen semakin panas.


“Iyalah. Kalau dia tidak menangkapku, aku sudah jatuh, Arsen. Ternyata dia masih amnesia.”


Arsen merutuk dalam hati. “Syukurlah masih amnesia dan lebih baik seperti itu. Enak saja menyentuh istriku.”


“Makanya sudah aku bilang ingin aku antar tapi tidak mau. Sudah tahu belum terbiasa pakai heels.” Ketus Arsen.


“Iya-iya maaf. Sudahlah jangan berlebihan.”


 


Sementara di meja lain, Arthur dan Belinda saling menatap kesal. Keduanya saling membisu.


“Pasti kamu yang merencanakan ini kan?” kata Arthur yang membuka obrolan.


“Aku? Hello? Aku sudah punya pacar. Dia pria bule, matanya biru dan dia sangat tampan. Jadi sorry to say, seperti tidak laku saja aku ini sampai meminta di jodohkan denganmu.” Ucap Belinda sambil menjetikkan jarinya berkali-kali tepat di depan wajah Arthur.


“Hhhh sombong sekali,” sinis Arthur.


“Jangan-jangan dirimu yang memaksa minta di jodohkan denganku? Secara aku cantik, pintar, baik hati, kaya dan punya segalanya. Siapa yang bisa menolakku? Tidak aka nada yang bisa menolakku. Satu kedipan mataku, mampu membuat pria jatuh cinta.”


“Sudah, jangan menghalu. Kecantikanmu bagiku biasa saja. Nothing special!” ucap Arthur dengan nada mengejek.


“Sialan!” Belinda yang kesal lalu menendang kaki Arthur.


“Auw!” rintih Arthur.


“Sakit sekali, Bel. Gadis kasar sepertimu, siapa yang mau?” seloroh Arthur semakin kesal.


“Banyak. Kamu saja yang menutup matamu. Rasanya malas sekali memanggilmu Kakak.” Ketus Belinda.


“Aku juga tidak peduli,’’ sinis Arthur. Rupanya sedari tadi ada sepasang mata yang mengamati Arthur dan Belinda yang tampak tidak akur.


“Kenapa Kak Arthur dengan Nona sombong itu seperti tidak akur ya?” gumam Sinta dalam hati. Sinta kemudian beranjak dari duduknya dan berinisiatif mendekati Arthur.


“Hai Kak Arthur.” Sapa Sinta.


“Ha-hai,” jawab Arthur tergagap.


“Boleh duduk disini?” tanya Sinta. Belinda memutar bola matanya dan tersenyum sinis melihat Sinta datang. Belinda sangat kesal melihat Sinta, sudah pasti karena sikap Sinta yang tidak baik pada Sheena. Belinda sudah mendengar semua cerita tentang Sheena dari Nyonya Dira, Mamanya.


“Silahkan saja.” Jawab Arthur sambil memaksa senyumnya.


“Kak Arthur sedang sibuk apa?” tanya Sinta.


“Sedang duduk disini saja. Kamu lihatkan?” kata Arthur dengan senyumnya. Mendengar jawaban Arthur, Belinda berusaha menahan tawanya. Sedangkan Sinta justru merasa kesal mendengar jawaban Arthur.


“Mmmm Kak Arthur kan Kakak kandungnya Kak Sheena, berarti aku adiknya Kak Arthur juga kan?”

__ADS_1


“Maaf ya, tentu saja beda. Kan kita tidak sedarah.” Celetuk Arthur yang semakin membuat Sinta menahan dongkolnya.


“Kalau begitu kita menjadi teman bagaimana?” Sinta masih terus berusaha menganggu Arthur.


“Sekali lagi maaf ya, aku sedang butuh teman. Aku permisi ke toilet,” ucapArthur seraya berlalu. Sinta mengeratkan giginya merasa kesal dengan sikap dingin Arthur. Belinda menatap sinis kearah Sinta yang tidak tahu malu.


“Hhhh dasar tidak tahu malu,” celetuk Belinda.


“Memang salah, hanya bekenalan saja?”


“Berkenalan atau merendahkan diri?” ucap Belinda. Sinta kesal sekali mendengar ucapan Belinda yang begitu pedas dan terlalu sakit jika didengar.


“Sepertinya Kak Arthur juga tidak mencintaimu.”


“Mencintaiku atau tidak, memangnya apa urusanmu?” ucap Belinda.


“Sebaiknya kembali ke tempatmu sana. Ini bukan tempatmu.”


“Dasar sombong!” sinis Sinta.


“Aku memang sombong karena memang ada yang aku sombongkan. Sedangkan dirimu? Miskin tapi sombong.”


Sinta benar-benar tidak tahan dengan hinaan yang di lontarkan oleh Belinda. Sinta lalu mengangkat tangannya dan hendak melayangkan tamparan pada wajah Belinda namun Pak Damar menahan tangan Sinta.


“Sinta, jaga sikapmu! Kamu jangan membuat kekacauan disini.” Tegur Pak Damar sambil mencengkeram tangan Sinta.


“Ayah tapi dia menghinaku.” Sinta mencoba membela diri.


“Kamu juga yang memulainya. Menggoda calon suami orang lain dihadapan calon istrinya langsung.”


“Ayah, memang tidak pernah sayang padaku.” Kesal Sinta sambil berlalu meninggalkan meja Belinda.


“Nona Belinda, maafkan atas sikap Sinta ya.” Ucap Pak Damar dengan begitu sungkan.


“Tidak apa-apa kok, Pak.”


“Sekali lagi maaf sekali.” Kata Pak Damar sambil mengatupkan kedua tangannya. Belinda lalu menggenggam tangan Pak Damar dan menurunkan tangan Pak Damar . Karena bagi Belinda, tidak seharusnya Pak Damar melakukan itu hanya untuk putrinya yang memang kurang ajar.


“Pak Damar tidak perlu meminta maaf karena Pak Damar tidak salah. Pak Damar silahkan duduk kembali dan nikmati acara ini. Karena eonni Sheena pasti ingin Pak Damar disini sampai acara selesai.”


“Iya Nona Belinda. Saya permisi ya.”


“Iya Pak.” Pak Damar lalu kembali ke mejanya. Dari kejauhan Arthur melihat sikap Belinda.


“Dia bisa sopan juga kepada orang tua dan bisa lembut juga ternyata. Dan tumben juga tidak jijik,” gumam Arhur dengan senyum miringnya.


Visual Fandi


__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2