
''Kak, senang sekali bisa melihatmu di kantor lagi.'' Ucap Brian seraya memeluk Kakaknya. Ya, Brian sengaja menunggu kedatangan Arsen dan bergegas menyusul Arsen ke ruangannya.
''Kamu ini ada apa sih? Pakai acara pelukan segala.'' Arsen merasa risih dan melepaskan pelukan adiknya itu. Pandangan Arsen mengedar, melihat setiap sudut ruangan. Memastikan bahwa tidak ada fotonya di ruangan Arsen.
''Kamu ini cari apa sih? Celingak-celinguk.'' Kata Arsen.
''Aku hanya memastikan kalau di ruangan Kakak tidak ada fotoku.''
''Untuk apa aku menyimpan fotomu. Disini hanya ada fotoku dan juga Sheena.''
''Huft syukurlah. Jangan sampai mereka semua tahu penyamaranku. Rambut belah tengah, ikal, berantakan dan kacamata tebal ini sepertinya sudah terlalu sempurna untuk penyamaranku. Aku khawatir saja kalau ada fotoku. Di ruangan Papa aman kan Kak?''
''Kalau itu, sepertinya ada. Biasanya juga foto keluarga kan.''
''Papa hari ini ke kantor tidak?''
''Papa dan Mama pergi ke Lombok lagi untuk meresmikan resort dan beach club. Baru saja mereka berangkat karena peresmiannya besok.''
''Kak, tolong ya lihat di ruangan Papa. Tidak mungkin kan aku masuk ke sana. Jangan sampai ada yang tahu. Kakak kan tahu aku sedang mendekati Gea. Karena ada orang yang curiga padaku.''
Arsen menghela. ''Kamu ini pagi-pagi sudah membuat orang ikut panik saja. Iya-iya nanti aku keruangan Papa. Lagi pula tidak akan ada yang berani keruangan Papa selain aku.''
''Ya jaga-jaga saja, Kak. Aku khawatir kalau ada OB yang mengenali aku juga. Please Kak.'' Ucap Brian sambil mengatupkan kedua tangannya.
''Iya Brian. Sebaiknya kembali ke ruanganmu dan bekerjalah.''
''Terima kasih ya Kak. Aku kembali dulu.''
''Iya-iya sana ah. Berisik kamu ini.'' Kesal Arsen. Brian keluar dengan senyum lega.
-
''Ge, makan siang yuk!" ajak Brian.
''Mau makan dimana?''
''Terserah kamu saja.''
''Aku ikut ya." Sahut Fani.
''Kita mau makan di emperan. Masih mau ikut?'' tanya Gea meyakinkan.
__ADS_1
''Iya dong.'' Jawab Fani dengan gaya genitnya.
''Maaf ya Fan, aku hanya ingin makan berdua saja dengan Gea.'' Kata Brian.
''Memangnya kenapa aku tidak boleh ikut?'' kesal Fani.
''Ya sudahlah Brian, ajak saja dia.'' Kata Gea.
''Gea-Gea, aku hanya ingin makan denganmu, bukan dengan Fani,'' gerutu Brian dalam hati.
''Makasih ya Gea.'' Ucap Fani. Dan akhirnya dengan sangat terpaksa, Brian mengijinkan Fani untuk ikut. Sebenarnya Gea sendiri merasa risih dengan sikap Fani yang kecentilan itu tapi mau bagaimana lagi, dengan statusnya sebagai karyawan baru, Gea harus tetap bersikap ramah.
Akhirnya Gea memilih untuk makan di warung tenda pinggir jalan yang tidak terlalu jauh dari kantor.
''Brian, kamu mau apa?'' tanya Gea.
''Samakan saja denganmu, Ge.'' Jawab Brian.
''Oke.'' Gea kemudian memesankan dua porsi ayam bakar dan dua gelas es jeruk manis.
''Gea, kenapa kamu tidak menawari aku?'' sahut Fani.
''Kamu kan bisa pesab sendiri Fan,'' sahut Brian.
''Sama saja deh, ayam bakar.'' Jawab Fani.
''Oke.'' Ucap Gea.
''Fani ini kenapa sih? Sejak pertama aku masuk, dia ngintilin melulu. Jangan sampai dia tahu rahasiaku.'' Gumam Brian dalam hati.
Ketiganya pun mulai makan bersama. Untung saja Brian sudah terbiasa makan menggunakan tangan secara langsung. Fani memperhatikan cara makan Brian, sampai membuat Brian merasa risih.
''Kamu kenapa Fan? Lihat makananmu, jangan aku.'' Ketus Brian.
''Wajahmu seperti tidak asing Brian. Coba buka kacamata mu dan potong rambutmu.'' Kata Fani.
''Berhenti menanggap seperti dirimu mengenalku, Fani. Aku ini hanya Brian, orang kampung yang sedang merantau di kota mengadu nasib. Wajah seperti diriku ini banyak. Bukankah kita katanya memiliki tujuh kembaran di dunia ini?'' bantah Brian.
''Ya iya sih. Oh ya Gea, kamu sudah lama mengenal Brian?''
''Iya lumayan. Kontrakan kita sebelahan. Jadi aku tahu lah siapa dia juga. Ya, dia memang Brian anak kampung yang sedang merantau seperti diriku ini.''
__ADS_1
''Oh begitu. Oh ya Gea, kamu kan hanya lulusan SMA ya, kenapa bisa masuk di perusahaan? Apalagi satu tim dengan kami. Sedangkan di tim kami semua rata-rata S1. SMA itu hanya untuk helper atau OB saja.'' Ucap Fani penuh selidik.
''Memangnya kenapa Fan kalau Gea hanya lulusan SMA? Dia memang pintar dan punya skill kok. Dia tidak kuliah, karena memang tidak ada biaya. Dia juga mendapat tawaran beasiswa di luar negeri tapi dia tolak karena tidak mau menyusahkan kedua orang tuanya. Mungkin kuliah gratis tapi biaya hidup di luar sana kan juga tidak murah. Kamu ini sebenarnya ingin menjadi teman kami atau malah sebaliknya?'' Brian benar-benar kesal mendengar ucapan Fani.
''Kenapa kamu yang sewot sih? Aku kan tanya Gea. Wajarlah aku tanya begitu.'' Kata Fani.
''Pertanyaan kamu sudah di jawab oleh Brian, Fan.'' Sahut Gea.
''Maaf ya Gea, aku hanya ingin tahu saja. Karena masuk di perusahaan Dirgantara juga bukanlah hal yang mudah. Ya, siapa tahu ada orang dalam yang membantu kamu.''
Gea tertawa kecil. ''Tidak ada sama sekali, Fan. Aku hanya melamar saja atas informasi dari Brian. Aku saja tidak menyangka bisa masuk. Tapi aku bisa membuktikan kalau kinerjaku bagus.''
''Baguslah! Semangat ya Gea.''. Kata Fani dengan semangat. Brian hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Fani. Selesai makan, mereka pun segera membayar. Namun kali ini Brian tidak membawa dompet.
''Gea, aku pinjam ya. Dompet aku ketinggalan.''
''Yaelah, santai aja lagi. Iya, aku bayarin.'' Ucap Gea.
''Ya ampun Brian, nggak modal banget sih. Alasan saja tidak membawa dompet. Udah cupu, kere lagi. Gea-Gea, mau-mauan sih temenan sama Brian ini.'' Ucap Fani.
''Dia baik banget kali, Fan. Kita sudah biasa gantian kok.''
''Melihat penampilannya, sepertinya dia memang bukan generasi keempat Dirgantara Group. Tidak mungkin lah seorang penerus tahta mau dandan seperti ini. Apalagi desas-desus yang aku dengar, generasi terakhir ini seorang casanova. Jadi tidak mungkin lah. Lagian di Brian ini cupu dan miskin, mana mungkin iya. Sadar Fani, dia bukan seseorang yang sedang kamu cari. Apalagi kabarnya dia di London kan? Jadi tidak mungkin juga. Melihat tampang Brian, emang kerenya natural sih.'' Gumam Fani dalam hati dengan segala prasangkanya.
Selesai makan dan membayar, mereka kembali ke kantor dengan naik taksi. Naik taksi pun Gea dan Fani yang patungan membayar. Dan itu benar-benar membuat Fani sangat kesal.
''Aduh, kapok banget pergi sama Brian.'' Gerutunya seraya berlalu. Brian menunduk sedih.
''Kenapa? Tersinggung dengan ucapan Fani?'' tanya Gea.
''Tidak juga. Hanya saja aku beruntung di pertemukan denganmu, Gea.'' Kata Brian.
''Aku juga beruntung di pertemukan denganmu, Brian. Masuk yuk! Kita harus semangat kerja, oke.''
''Kamu tidak marah dengan ucapan Fanu tadi?''
''Marah? Untuk apa? Buang-buang energi saja. Sebenarnya aku juga malas mengajaknya tapi tidak enak juga apalagi aku karyawan baru. Masa iya mau mentang-mentang.''
''Berarti pikiran kita sama. Aku juga kesal dengannya.''
''Apa kamu tidak tertarik padanya?'' goda Gea.
__ADS_1
''Tidaklah Ge. Berat di ongkos,'' selorohnya seraya tertawa.