
Afif mengusap tangan Naynay yang ada di genggamannya. Istrinya itu langsung tertidur ketika jet pribadi itu bertolak menuju tujuan selanjutnya, bumil itu merasa pusing setelah turun dari helikopter yang membawa mereka keluar dari pulau pribadi Afif itu.
"Apa perasaanmu pada adik sepupuku masih sama?" tanya Afif tanpa menatap orang yang dia ajak bicara. Afif lebih tertarik untuk menatap wajah imut Naynay yang tertidur bersandar pada bahunya. Bumil itu menolak untuk dibawa ke kamar tadi.
Ryan tersenyum tipis dengan mata yang tak lepas memandangi langit biru dengan lautan awan melalui jendela. "Kisah lama biarlah terlupakan oleh waktu, Tuan Muda."
"Aku menanyakan tentang perasaanmu!" balas Afif kesal karena Ryan memberi jawaban tidak nyambung itu.
"Masih sama, mungkin akan selamanya tetap sama, Tuan Muda." Ryan membalas tatapan tajam Afif dengan tatapan tenangnya, di kondisi seperti ini dia akan tetap santai menghadapi seorang Afif.
Afif tersenyum mengejek ke arah sekretarisnya itu dan melempar hpnya ke kursi di seberangnya. Setelah itu dia memperbaiki tidur Naynay agar tetap nyaman.
Ryan menatap kesal hp Afif yang tergeletak tak berdaya di sana. Dia mendesah kesal dan memilih memejamkan matanya, kedua tangannya bersidekap di depan dada.
*****
Bandara terlihat begitu ramai, reporter bertebaran di setiap sisi. Berita kedatangan Afif ke negara tersebut bocor hingga mereka rela menunggu sejak matahari bahkan belum terbit hingga langit mulai berubah gelap sekarang ini. Hal sekecil apapun, jika itu menyangkut Afif, maka itu akan sangat berharga. Apalagi semua jagat raya begitu penasaran dengan sosok sang istri Tuan Muda tersebut.
Naynay memeluk erat tangan Afif, bibir pucatnya tertutupi dengan masker hitam andalan yang dipakainya. Terkejut dan takut, itulah yang dirasakan Naynay ketika puluhan kamera dengan flash yang begitu menyilaukan itu menyambutnya di sana. Sambil memegangi perutnya, Naynay menyembunyikan wajahnya di belakang bahu Afif.
Afif segera menarik tubuh Naynay dengan pelan dan memeluknya. Diusapnya punggung istrinya itu agar tenang. Mata Afif menatap Ryan yang mulai berjalan menuju kerumunan itu dan mengangkat sebelah tangannya. Sedetik kemudian, suasana langsung sunyi senyap.
"Kalian diperbolehkan mengambil gambar dan video sesuka hati kalian. Tapi ingat, jangan pernah membuat Tuan Muda dan Nona Muda merasa tidak nyaman!" ujar Ryan begitu tegas dengan raut wajah datarnya yang mengintimidasi.
__ADS_1
Naynay yang tidak lagi mendengar suara berisik dari puluhan orang itupun mengangkat sedikit kepalanya dan menoleh ke arah kerumunan. Kamera tetap menyorot ke arah mereka, tapi para reporter itu tidak lagi riuh seperti sebelumnya melaporkan pada saluran berita mereka masing-masing.
"Tidak apa-apa, ayo jalan!" Afif mengusap kepala Naynay dan menggandeng istrinya itu berjalan keluar menuju mobil yang sudah terparkir berjejer. Mereka segera masuk dan mobil secara berurutan keluar dari kawasan bandara.
Afif mengelap keringat di dahi Naynay yang duduk di sampingnya. Setelah itu dia mengusap perut istrinya itu dan membisikkan kata-kata menenangkan.
Menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di tujuan. Kali ini Afif tidak mengusung tema privat lagi, dia membawa istrinya ke rumah mewah miliknya yang ada di negara tersebut. Sudah puas dia menghabiskan waktu seminggu penuh dengan Naynay, sekarang dia akan memberikan Naynay waktu untuk berkeliling kota yang indah ini.
"Aaaaa... Kangen!!" pekik Naynay setelah turun dari mobil. Dia berjalan cepat menghampiri Yasmin yang menggendong Araa di depan pintu masuk.
"Istirahat dulu, Nay! Kamu baru sampai, sana!" ujar Yasmin memutar tubuhnya dari Naynay yang ingin menggendong Araa. Dengan perut sebesar itu dia sudah tidak bisa leluasa menggendong Araa lagi.
Naynay mengerucutkan bibirnya dan mengangguk terpaksa. Dia mencium tangan kedua orang tuanya sebelum dibawa Afif masuk dan pergi ke kamar. Barang mereka sudah lengkap di sana karena Pak Hen sudah lebih dulu berangkat ke sini dan menyiapkan semuanya.
"Yakin hanya tidur, hhmm?" tanya Afif memegang pinggang Naynay dan mengarahkan wajahnya ke leher istrinya tersebut.
Naynay mencubit perut Afif lumayan keras dan mendorong pelan kepala yang masih menempel di lehernya itu. "Nay capek, dedeknya juga nendang keras banget." Mengarahkan sebelah tangan Afif ke perutnya.
Afif berlutut dengan posisi wajah yang berhadapan dengan perut buncit Naynay, dia mengelusnya dengan lembut. "Anak baik, jangan keras-keras nendangnya! Apa kamu mau Papa jenguk sekarang?"
Naynay langsung mundur setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan Afif pada malaikat kecilnya. Otak suaminya itu memang kurang waras sejak malam dia kabur dulu, isi otaknya hanya 'jenguk anak kita' melulu.
"Mau tidur doang, susah...." dumel Naynay dan bergerak naik ke atas tempat tidur. Dia berbaring membelakangi Afif yang sudah berdiri di samping tempat tidur.
__ADS_1
"Nay..." panggil Afif sambil melempar bajunya yang sudah dia buka dan ikut naik ke tempat tidur.
"Sayang, kau marah? Aku hanya bercanda...." ucap Afif dan memeluk Naynay dari belakang. Dikecupnya tengkuk putih istrinya itu beberapa kali. Nada dan gaya bicaranya sudah seperti laki-laki bucin cap Neptunus yang kelewat jauh.
Naynay hanya dia, tapi dia memutar tubuhnya dan memeluk Afif begitu erat. Laki-laki ini adalah guling paling nyaman di dunia bagi bumil itu.
"Elus kepala Nay!" ujar Naynay sambil mengarahkan tangan Afif ke atas kepalanya.
"Hhmm..." balas Afif tersenyum lebar dan mengelus kepala istrinya itu sampai terdengar dengkuran halus dari bibir mungil nan menggoda itu.
"Besok, kau tidak bisa menolaknya." Afif mencium jidat Naynay bertubi-tubi.
.
.
Segini dulu, ya.... Aku sibuk banget ini...
Jangan lupa vote dan kasih hadiah bunga atau kopi yang banyak, yaaaa....
.
.
__ADS_1