
Malam harinya, Naynay sudah sembuh. Terbukti dengan tubuhnya yang tidak lagi panas seperti sebelumnya. Dan sekarang bumil itu sedang duduk selonjoran di sofa sambil memakan kentang goreng yang dimasak oleh Pak Hen. Bumil ini selain suka merepotkan Ryan, dia juga suka berbuat demikian dengan Pak Hen.
Afif, lelaki itu pergi ke pesta yang diadakan oleh teman almarhum papanya dulu. Dia akan selalu memenuhi undangan jika teman-teman Rendra dulu mengadakan pesta. Sebenarnya dia tidak mau datang, tapi Naynay memaksanya agar tetap pergi.
Setelah menghabiskan kentang goreng itu, Naynay masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Tak lupa dia juga menyiapkan air hangat untuk Afif mandi nanti. Setelahnya dia masuk ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan baju tidur kesukaan Afif.
Selesai dengan baju tidur, Naynay pergi ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sana. Guling yang selalu menjadi korban kekerasan Afif juga sudah dia peluk dengan kakinya.
Baru saja Naynay menutup matanya, terdengar suara pintu terbuka dan disusul suara langkah kaki. Naynay bergerak ingin duduk tapi terhenti karena suara Afif.
"Tetap pada posisimu! Aku akan mandi, tapi kau jangan tidur dulu!" ujar Afif sambil berjalan tergesa-gesa memasuki kamar mandi.
"Kenapa sih?" gumam Naynay dengan kening mengernyit bingung. Dia kemudian merebahkan kepalanya yang sempat terangkat. Naynay memutuskan untuk memainkan hpnya sambil menunggu Afif selesai mandi, dia juga menutupi kaki sampai dadanya dengan selimut.
Tak lama kemudian, Afif keluar melalui pintu kamar mandi hanya dengan memakai handuk di pinggangnya saja. Dia duduk di belakang Naynay yang berbaring menyamping sambil menonton video Araa yang dikirim oleh Yasmin.
"Seharusnya aku tidak datang ke sana?" dumel Afif sambil membalikkan tubuh Naynay menghadap ke arahnya.
"Kakak kenapa?" tanya Naynay bingung dan meletakkan hpnya di samping bantal.
"Mereka menahanku di sana berjam-jam hingga meninggalkanmu begitu lama," ujar Afif dengan nada kesal yang kentara. Dia memindahkan hp Naynay ke atas nakas dan berbaring di samping istrinya itu.
'Hanya dua jam, jangan berlebihan!'
Naynay merapatkan selimut pada tubuhnya ketika menyadari Afif hanya memakai handuk saja. Dia bisa melihat tatapan dengan kabut gairah di mata Afif yang menatapnya. Apa laki-laki itu akan mengulangi aktivitas semalam lagi?
"Kenapa? Kau takut?" tanya Afif dengan jemarinya yang bergerak pelan di leher Naynay. Bumil itu segera menahan tangan suaminya itu agar rasa geli yang dia rasakan hilang.
Afif ikut masuk ke dalam selimut dan membenamkan wajahnya di dada Naynay. "Sudah aku katakan, aku suamimu dan pastinya berhak atas semua yang ada padamu."
Mendengar itu, Naynay mendadak gugup. Mengingat sensasi yang dia dapat dari perlakuan Afif semalam memang membuatnya ketagihan. Bagaimana Afif memperlakukannya dengan lembut dan sentuhan-sentuhannya masih bisa Naynay rasakan. Dan Naynay juga sadar bahwa Afif adalah laki-laki normal yang pastinya tidak bisa menahan jika ada wanita yang halal untuk dia gauli.
Mendapati Naynay bengong, Afif membawa tubuh Naynay duduk saling berhadapan. Dia mengelus lembut pipi Naynay sambil tersenyum tampan yang membuat Naynay oleng.
"Aku rasa tidak perlu untuk menjelaskan tentang kewajiban seorang istri padamu, aku yakin kau tahu. Nay, aku mencintaimu dan membutuhkan pelayananmu. Apa masih ada yang membuatmu tidak nyaman? Perlakuanku atau apa?" tanya Afif penuh pengertian dengan menggengam tangan Naynay.
Naynay menunduk karena menyadari kesalahannya yang tidak melayani Afif di ranjang. Sudah tiga bulan menikah dan mereka baru sekali melakukannya, dan itu pun baru kemaren.
"Maaf," cicit bumil itu dengan masih menunduk menatap tangannya yang digenggam Afif.
Afif mengangkat dagu Naynay hingga dia bisa melihat wajah istrinya itu. "Kau percaya padaku, bukan?"
__ADS_1
"Hu'um..." balas Naynay dengan mengangguk kecil yang terkesan begitu imut hingga Afif mencubit pipinya.
Perlahan Afif mendekatkan wajahnya hingga akhirnya bibirnya bertemu dengan bibir lembut Naynay yang menjadi candunya. Bibirnya mulai bergerak mencecapi rasa manis bibir sang istri. Lidahnya juga tidak tinggal diam, benda lunak tak bertulang itu membelit lidah Naynay yang juga bergerak membalas.
Tangan Afif masuk ke baju tidur tipis yang Naynay pakai dan mengusap punggung mulus itu. Perlahan tapi pasti, tangan Afif mengangkat baju Naynay dan membukanya dengan perlahan hingga tubuh polos menggoda istrinya itu terpampang jelas.
Sekarang giliran dirinya, Afif membuka handuk di pingangnga dan membuangnya ke lantai. Naynay mengalihkan pandangannya dengan wajah memerah ketika melihat sesuatu yang sudah memasukinya tadi malam itu.
"Sudah siap?" tanya Afif dengan suara serak sambil meraih dagu Naynay. Istrinya itu membalas dengan anggukan kecil.
Afif tersenyum sebelum kembali mencium bibir Naynay. Dengan pelan, dia merebahkan tubuh Naynay dan mengukungnya. Sebelah tangannya bergerak menyusuri semua permukaan kulit halus Naynay dengan gerakan menggoda.
Afif melakukan pemanasan yang membuat Naynay mengelinjang nikmat disertai desahannya. Bibir laki-laki itu sekarang menggantikan tangannya tadi yang menyusuri kulit lembut Naynay. Dia menciumi semua yang dia mau hingga Naynay semakin mendesah hebat.
Suara Naynay itu membuat Afif semakin bergairah, dia membuka kaki Naynay dengan lebar dan mulai memposisikan sesuatu yang menggila ingin dipuaskan. Tapi sebelum itu mencium perut Naynay untuk memberitahu anaknya bahwa dia akan datang menjenguk.
"Kita mulai, Sayang." Afif berbisik di telinga Naynay sambil perlahan memasuki bagian inti istrinya itu.
Terdengar desisan panjang dari bibir Naynay hingga sesuatu yang keras itu masuk sempurna ke dalam tubuhnya. Berganti dengan ******* ketika Afif mulai memompa tubuhnya. Cakaran-cakaran kembali Afif terima di punggungnya hingga nama di antara sayap besar itu tergores.
Setengah jam berlalu dan pergulatan mereka baru selesai, napas yang memburu menjadi bukti bagaimana panasnya permainan itu. Afif menciumi wajah Naynay, mencurahkan rasa cinta dan sayangnya pada wanita yang sedang mengandung anaknya itu.
"Terima kasih," ucap Afif setelah merebahkan tubuhnya dan memeluk sang istri. Naynay hanya mengangguk lemas dengan wajah memerahnya.
"Aku ingin bertanya," ucap Afif sambil mengelus punggung Naynay tidak tertutupi selimut.
"Kakak mau nanya apa?" tanya Naynay mendongakkan kepalanya menatap Afif.
"Boleh aku tahu, apa alasanmu tidak menggugurkan anak yang sedang kau kandung?" tanya Afif sambil memberi sedikit jarak tubuh mereka.
"Kau boleh tidak mejawabnya," imbuh Afif yang melihat raut wajah Naynay berubah murung. Tapi tak diduga, Naynay menjawab pertanyaannya.
"Dia anak Nay juga, kan?" ujar Naynay pelan.
"Di luar sana banyak yang belum diberi kepercayaan untuk memiliki seorang anak, lalu ketika Nay diberi kepercayaan itu, maka Nay nggak pantas mengugurkannya. Walau hadirnya dia karena kejadian tak diinginkan, tapi dia berhak hidup karena Tuhan menitipkannya pada Nay." Naynay mengatur napasnya agar tidak menangis, dia masih saja sedih jika mengingat kejadian buruk yang dialaminya.
Afif kembali membawa Naynay ke dalam pelukannya. Terharu dengan penjelasan istrinya yang begitu sabar setelah kejadian itu menimpanya. Afif akan membuat orang-orang yang menyebabkan kejadian itu benar-benar hancur. Walau sudah menghancurkan bisnis mereka, tapi Afif belum puas. Dia merasa semua yang dia lakukan pada orang-orang brengsek itu belum sepadan dengan trauma yang dialami istrinya.
"Aku punya sesuatu untukmu," ujar Afif tersenyum untuk menghibur istrinya itu.
"Apa?" tanya Naynay.
__ADS_1
"Tunggu di sini!" Afif turun dari tempat tidur dengan tubuh polosnya hingga Naynay memejamkan matanya. Laki-laki itu kemudian meraih handuk yang tadi dia buang dan memakainya sambil berjalan menuju ruang ganti di mana tasnya berada. Setelah menemukan apa yang dia cari, Afif keluar dan naik kembali ke atas tempat tidur.
"Ini untukmu," ucapnya sambil menyerahkan map coklat pada Naynay yang duduk bersandar.
Naynay mengambil map itu dengan ragu dan membukanya. Butuh beberapa menit untuknya bisa memahami setiap bait kata yang tertulis di sana. Mulutnya menganga setelah otaknya berhasil memroses maksud dari kertas-kertas tersebut.
"Nay nggak mau," tolak bumil itu menyodorkan kembali berkas yang merupakan surat-surat pengalihan setengah harta yang Afif punya.
"Itu sudah atas namamu, aku tidak akan mengubahnya kembali." Afif melipat kedua tangannya di depan dada, memasang sikap santai atas penolakan Naynay.
"Pokoknya Nay nggak mau nerima, Kakak ambil kembali!" Naynay masih menolak dan meletakkan surat-surat itu di atas selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"Ya sudah, berikan kepada anak kita nantinya." Afif menyikapinya dengan santai tanpa menatap surat-surat itu.
Naynay mengacak rambutnya sendiri, dia mengambil surat-surat penting itu dan memasukkannya kembali ke dalam map. "Kakak aja yang nyimpan," ucapnya menyerah. Afif jika sudah berbuat sesuatu yang besar, maka tidak akan bisa ditolak ataupun ditawar.
Afif tersenyum dan mengambil map itu. Dia meletakkannya di atas nakas dan menghambur kembali ke samping Naynay.
"Karena aku sudah memberimu hadiah, maka kau juga harus membalasnya." Afif tersenyum miring membuat Naynay berfirasat tidak enak.
"Nay mau tidur," ucap bumil itu sambil merebahkan tubuhnya dan merapatkan selimut.
"Aku akan menidurimu." Afif melempar handuknya kembali ke lantai dan mengerjai Naynay sampai dia puas.
.
.
.
Plis... Ngertiin aku gitu. Di kehidupan real aku punya banyak banget kewajiban yang harus aku kerjain. Dan sebelum lebaran juga aku ada masalah besar yang sakitnya mungkin nggak akan ilang-ilang.
Aku udah pernah bilang kalau aku bakalan up terus, tapi nggak rutin. Novel ini tanggung jawab aku, pastinya aku kerjain juga gitu.
Itu yang bilang sebel sama aku, lebih sebel aku sama kalian yang bahkan nggak mengapresiasi karya aku. Banyak yang dukung, tapi banyak juga yang enggak gitu.
Aku itu dalam satu bab selalu nulis lebih dari 1000 kata, cuma dua bab yang kurang dari seribu. Tolong, yang bilang pendek segala macem, apa perlu aku nyuruh kamu ngitung berapa kata di setiap babnya?
Sedih kayak gini, ketika kalian minta up 3 bab sehari, aku turutin. Tapi kalian nggak ngehargain sama sekali, ada yang ngehargain, tapi banyak yang sekedar cuma baca doang.
__ADS_1
Like dan komen baik kalian itu adalah support bagi para penulis. Bab ini gak aku revisi typo atau semacamnya karena udah capek banget, kalian bisa lihat di foto itu jam berapa aku up...